Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tasawuf. Tampilkan semua postingan

Jumat, 18 April 2025

Pertemuan Ulama Tarekat ASEAN 2025 di Ponpes Taruna Rabbani Solok

Pertemuan Ulama Tarekat ASEAN 2025 di Ponpes Taruna Rabbani Solok

Pertemuan Ulama Tarekat ASEAN 2025

Dewan Ulama Thariqah Indonesia DUTI  pada tahun 2025 ini kembali mengadakan acara pertemuan Ulama Thariqah se-ASEAN. Acara muzakarah dan silaturrahmi para mursyid, khalifah serta salik ini akan berlangsung pada tanggal 20 April 2025, yang bertempat di Pondok Pesantren Taruna Rabbani, Jorong Kasiak, Koto Sani Kabupaten Solok.

Acara akbar para pengamal tariqah kali ini akan dihadiri oleh bapak mentri agama Prof. Nazarudin Umar, Gubernur Sumbar, Kapolda, Danrem serta para pejabat lainnya. Juga akan dihadiri oleh Kakanwil Kemenag Sumbar beserta jajaran serta undangan lainnya.

Orang-orang Tarekat itu ibarat butiran-butiran emas. Butiran-butiran emas yang berada di antara butiran pasir. Apabila butiran-butiran itu dipanaskan, sekalipun dianya telah tercampur dengan pasir, maka butiran-butiran emas itu akan meleleh, kemudian menyatu satu sama lain. Itulah hakekatnya pengamal Thariqah.

Acara pertemuan ulama tarekat dan para salik kali ini diharapkan bisa menjadi mesin pemanas yang akan menghangatkan kembali rasa bertuhan para salik yang mungkin sudah mulai dingin, dan menghangatkan tali persaudaraan diantara sesama penempuh jalan thariqah.

Berita terkait:

Rabu, 16 April 2025

Ulama Thariqah SeASEAN Adakan Pertemuan di Solok Sumatera Barat 2025

Ulama Thariqah SeASEAN Adakan Pertemuan di Solok Sumatera Barat 2025


Dewan Ulama Thariqah Indonesia DUTI Akan menyelengarakan perhelatan besar yang akan diadakan di kabupaten Solok Sumatera Barat pada tahun ini (2025). Perhelatan yang insyaAllah akan dihadiri oleh seluruh ulama Thariqah/ Tasawuf se-Sumatera Barat dan Asia Tenggara. Acara perhelatan ini akan diadakan di Pondok Pesantren Taruna Rabbani, Koto Sani Singkarak Kabupaten Solok. 


Perhelatan Ulama Sufi ASEAN ini digagas oleh Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Arrabbani yang merupakan rais Mustasyar DUTI. Muzakarah ini merupakan ajang mempererat tali silaturrahmi antara Mursyid dan para salik, memperkokoh persaudaraan diantara para pengamal thariqah, yang mana ilmu tasawuf atau ilmu Ihsan pada saat ini sudah semakin asing dan aneh dimata umat Islam, padahal ajaran tasawuf/ ihsan adalah inti dari ajaran Islam itu sendiri.


Acara  silaturahmi seluruh ulama thariqah sufi se-Asia Tenggara, yang pada tahun ini juga insyallah akan dihadiri oleh mentri agama bapak Prof. Nazarudin Umar dan para pejabat terkait serta undangan lainnya.


Acara pertemuan dan muzakarah ulama thariqah ASEAN yang akan diadakan pada tanggal 20 April 2025 ini merupakan yang kedua kalinya semenjak diadakan muzakarah yang pertama pada April tahun 2017 lalu, yang dihadiri oleh mentri Agama bapak Lukman Hakim  Syaifudin dan para Mursyid serta Khalifah Thariqah se-Asia Tenggara.


Berita terkait:

Kamis, 03 November 2022

Dua Sudut Pandang Memahami Keberadaan Tuhan, Jauh atau Dekat?

Dua Sudut Pandang Memahami Keberadaan Tuhan, Jauh atau Dekat?

JAUH TAK BERJARAK DEKAT TAK BERSATU

JAUH TIDAK BERPERANTARA, DEKAT TIDAK BERSATU.
Kontraversi tentang keberadaan Allah SWT sudah terjadi ratusan tahun yang lalu, bahkan menjadi sebuah perbedaan dan tembok pemisah dalam komunitas global muslim dunia.

Padahal, jika mau mengendurkan sedikit "Ego keilmuan" kita, maka dengan jelas kita menyimpulkan, bahwasanya di dalam Al Qur'an yang Allah SWT turunkan terdapat dua sudut pandang cara memahami keberadaan Tuhan.

Pertama, cara pandang keberadaan Tuhan dengan memakai Akal, yakni dengan berlandaskan ayat الرَّحْمَٰنُ عَلَى الْعَرْشِ اسْتَوَىٰ
“(Yaitu) Yang Maha Pemurah, Yang bersemayam di atas ‘Arsy.” [Thaahaa: 5]

Pemahaman Allah SWT berada diatas ArsyNya dikuatkan lagi dengan peristiwa ketika salah seorang sahabat membawa seorang budak perempuannya dihadapan Baginda Rasulullah SAW, saat ditanya " Dimana Allah" dan budak tersebut menjawab " Di langit " maka ketika itu Rasulullah SAW menjamin keislaman budak perempuan tsb.

Ayat Thaaha : 5, dan peristiwa pertemuan Baginda Rasulullah dengan seorang budak, merupakan bentuk memahami keberadaan Allah SWT dengan memakai Akal. Dan pemahami seperti itu dibenarkan selagi tidak terjerumus dengan penyerupaan Allah SWT dengan makhlukNya, seperti menyamakan wujud Allah SWT dengan bagian tubuh atau wujud makhlukNya. Karena keterbatasan akal, maka cukuplah meyakini saja dan jangan sampai difikirkan apalagi dibayangkan bagaimana keberadaan Allah SWT duduk diatas ArasyNya, inilah sunnahtullah pemahaman yang Allah letakan kepada Akal manusia.

Pemahaman kedua, cara pandang keberadaan Allah SWT dengan Hati. Berdasarkan ayat " Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.’ Surah Qaf ayat 16.

Dengan memahami ayat diatas, Allah SWT sendiri menyatakan keberadaanNya yang begitu intim dengan hambaNya, bahkan lebih dekat daripada urat leher. Namun, sampai disini akal tidak lagi mampu mengurai arti kalimat " lebih dekat dari urat leher", sebab tidak satupun alat ukur yang dapat menghitung jarak yang begitu dekat. Maka disinilah peranan hati berfungsi untuk mencerna bahasa Tuhan, yang tentunya hanya dapat diterjemaahkan oleh rasa pada hati.

Kemampuan hati untuk menterjemaah bahasa Tuhan akan muncul ketika hati selalu dibersihkan dengan selalu berdzikir dan mengingatNya sebanyak banyaknya. Hanya dengan mengingatNya hati akan menjadi tenang, dan tenang hati bertanda hati mulai bersih, sedangkan hati yang telah bersih akan memiliki "Energi" dan mudah memahami arti kedekatanNya dengan menyelam lebih dalam ke Nuraninya. Dan disanalah seorang hamba akan paham arti dari kata " lebih dekat daripada urat lehernya ".

Nurani, Allah SWT sediakan di dalam hati manusia, sebagai wilayahNya yang dapat diakses oleh hamba kapan saja, menjadikan wilayah keTuhanan yang satu satunya ada di diri manusia.

Beruntunglah, orang orang yang selalu dapat menyelam kedalam nuraninya, ia setiap saat dapat bertemu "Wajah Tuhan" tanpa hijab dan dinding. Membuat ia jatuh cinta pada " Pandangan pertama" kepada Tuhannya setiap waktu.

Pemahaman keberadaan Tuhan dengan hati, hanya khusus kepada orang yang menyimpan rindu kepada Allah SWT. Ibarat orang yang menikmati hidangan yang lezat tapi menyimpan rasa penasaran untuk mengetahui resep hidangan tersebut hingga sampai bertemu dengan pencipta resep itu sendiri.

Akhirnya, bagaimanapun cara pandang kita terhadap keberadaan Allah SWT menjadi pilihan sendiri. Dan jangan sekali kali kita memaksakan cara pandang kita kepada orang lain apalagi mencemoohkan serta menyesatkan pemahaman orang lain. Sebab, setiap orang punya nyali yang berbeda, ada yang hanya ingin bermain ombak di pinggir pantai, dan ada yang berani menyelam dalam lautan dalam, pastinya bagi mereka yang menyelam wajib memiliki ilmu dan pelatih yang mumpuni dan berpengalaman, menjadikan mereka penyelam penyelam mahir yang dapat mengambil mutiara dikedalaman lautan rasa.
(Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani, Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Internasional )

Untuk lebih jelasnya silahkan disimak video kajian dibawah tentang makna TUHAN JAUH TAK BERPERANTARA, DEKAT TIDAK BERSATU


Rabu, 17 Juni 2020

Manusia Mencari Tuhan Ibarat Ikan Mencari Air

Manusia Mencari Tuhan Ibarat Ikan Mencari Air



"Suatu hari seorang ayah dan anaknya sedang duduk berbincang-bincang di tepi sungai. Sang Ayah berkata kepada anaknya, “Lihatlah anakku, air begitu penting dalam kehidupan ini, tanpa air kita semua akan mati”. 

Pada saat yang bersamaan, seekor ikan kecil mendengar percakapan itu dari bawah permukaan air, ikan kecil itu mendadak gelisah dan ingin tahu apakah air itu, yang katanya begitu penting dalam kehidupan ini. Ikan kecil itu berenang dari hulu sampai ke hilir sungai sambil bertanya kepada setiap ikan yang ditemuinya, “Hai tahukah kamu dimana tempat air berada? Aku telah mendengar percakapan manusia bahwa tanpa air kehidupan akan mati".

Ternyata semua ikan yang telah ditanya tidak mengetahui dimana air itu, si ikan kecil itu semakin kebingungan, lalu ia berenang menuju mata air untuk bertemu dengan ikan sepuh yang sudah berpengalaman, kepada ikan sepuh itu ikan kecil ini menanyakan hal yang sama, “Dimakah air?”
Ikan sepuh itu menjawab dengan bijak, “Tak usah gelisah anakku, air itu telah mengelilingimu, sehingga kamu bahkan tidak menyadari kehadirannya. Memang benar, tanpa air kita semua akan mati.”

Apa arti cerita tersebut bagi kita. Manusia kadang-kadang mengalami situasi yang sama seperti ikan kecil, mencari kesana kemari tentang kehidupan dan kebahagiaan, padahal ia sedang menjalaninya, bahkan kebahagiaan sedang melingkupinya sampai-sampai ia sendiri tidak menyadarinya.

Kamis, 17 Oktober 2019

3 Karakter Pemimpin Pilihan Tuhan yang Wajib Dimiliki

3 Karakter Pemimpin Pilihan Tuhan yang Wajib Dimiliki

karakter pemimpin pilihan Tuhan
3 ulama sufi; Syeikh Rohimudin, Tuan guru Batak, Tuangku Syeikh M Ali Hanafiah

Ada tiga karakter seorang pemimpin, leader atau amir yang mesti dimiliki oleh seseorang apabila ia betul betul dipilih oleh Tuhan. Tiga sifat yang harus melekat pada diri seorang pemimpin ini, apabila benar ia adalah pilihan Tuhan yang di amanahi untuk menjadi leader bagi umat, telah dijelaskan oleh Rais Mustyasar Dewan Ulama Thariqah Internasional Indonesia Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani.

Minggu, 01 September 2019

Dewan Ulama Thariqah Internasional Indonesia (DUTI-I) Membuka Pendaftaran Untuk Menjadi Pengurus

Dewan Ulama Thariqah Internasional Indonesia (DUTI-I) Membuka Pendaftaran Untuk Menjadi Pengurus


dewan ulama thariqah internasional indonesia DUTI-I

Orang-orang Tarekat itu ibarat butiran-butiran emas, butiran-butiran emas yang berada di antara butiran pasir. Apabila butiran-butiran itu dipanaskan, sekalipun dianya telah tercampur dengan pasir, maka butiran-butiran emas itu akan meleleh, kemudian menyatu satu sama lain. Itulah hakekatnya pengamal Thariqah
(Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Al-Qhutub Ar-Rabbani)

Selasa, 09 April 2019

Milad Majelis Rabbani Indonesia ke- 24 Bersama Opick di Ponpes Taruna Rabbani Solok

Milad Majelis Rabbani Indonesia ke- 24 Bersama Opick di Ponpes Taruna Rabbani Solok

ziarah rambut nabi muhammad

Majelis Rabbani Indonesia (MRI) yang berdiri pada 2 April 1995 kemaren merayakan miladnya yang ke 24 (Minggu, 7/04/2019). Majelis kajian tasawuf dan ilmu ketuhanan ini didirikan oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Al-Qhutb Ar-Rabbani, dakwah beliau berpusat di Solok tepat di Pondok Pesantren Taruna Rabbani X Koto Singkarak.

Jumat, 29 Maret 2019

Khusyuk dalam Shalat adalah Anugerah dan Bukan Karena Usaha Sendiri

Khusyuk dalam Shalat adalah Anugerah dan Bukan Karena Usaha Sendiri

kyusuk dalam shalat adalah anugerah
Apa makna dan maksud khusyuk dalam shalat yang sesungguhnya, bagaimanakah cara dan metode yang benar dalam meraih shalat khusyuk sehingga kita betul-betul merasakan nikmatnya shalat dalam menghadap dan berdialog dengan Tuhan.

Khusyuk dalam sholat adalah peberian Allah kepada hamba-Nya, barangsiapa yang telah merasakan manisnya khusyuk dalam shalat berarti Allah telah memberinya nikmat yang besar.

Jumat, 15 Maret 2019

Dewan Ulama Thariqah Mengutuk Aksi Teroris di Masjid Selandia Baru

Dewan Ulama Thariqah Mengutuk Aksi Teroris di Masjid Selandia Baru

ulama thariqah mengutuk teroris selandia baru

Aksi penembakan brutal yang terjadi di Masjid Al Noor di Christchurch New Zealand terus bertambah, kabar terakhir berjumlah 49 orang. PM Selandia Baru Jacinda Ardern secara resmi menyebut serangan ini sebagai serangan teroris dan mengecamnya.

Jumat, 01 Maret 2019

Shalat dalam Pandangan Sufi Ibadah yang Tak Boleh Ditawar

Shalat dalam Pandangan Sufi Ibadah yang Tak Boleh Ditawar

shalat sufi

Shalat Pengalaman Ruhani
Kajian Tasawuf Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani

لصلاة عماد الدين, فمن اقامها فقد اقام الدين ومن هدمها فقد هدم الدين
Shalat adalah tiang agama, barangsiapa yang mendirikan shalat
berarti mendirikan agama, dan barangsiapa meninggalkan shalat
berarti meruntuhkan agama
Shalat adalah salah satu bentuk penyembahan kepada Allah SWT. sebagai manifestasi dari rasa syukur kita kepada-Nya. Rasa syukur yang diungkapkan dalam shalat ini berupa bacaan ayat-ayat al-Qur'an, tasbih, tahmid, tahlil, dan takbir serta gerakan dalam bentuk berdiri tegak, ruku', sujud, dan duduk. Semua bentuk bacaan dan gerakan ini cukup untuk mewakili rasa syukur, ketundukkan, dan pengagungan kita kepada-Nya. Bahkan, semua bentuk penyembahan dan pengagungan yang pernah ada telah terangkum di dalam shalat seperti berdiri, ruku' dan sujud.

Senin, 25 Februari 2019

Keutamaan Belajar Tarekat Sufi daripada Membaca Seribu Kitab

Keutamaan Belajar Tarekat Sufi daripada Membaca Seribu Kitab

keutamaan belajar tarekat sufi

Lebih utama mana belajar seribu kitab sendiri daripada belajar kepada seorang ahli sufi (mursyid)?

Para sahabat nabi adalah orang-orang utama dalam islam, mereka belajar kepada nabi, melihat, mendengar dan menyaksikan langsung perbuatan, ucapan dan kehidupan sehari-hari nabi. Rasulullah adalah pembimbing atau mursyidnya para sahabat.

Rabu, 20 Februari 2019

Makna Ilmu Pengetahuan dalam Kitab Sufi Al Mawaqif wal Mukhotobat

Makna Ilmu Pengetahuan dalam Kitab Sufi Al Mawaqif wal Mukhotobat

BUKU 6

makna ilmu pengetahuan dalam kitab sufi

 8. ILMU  PENGETAHUAN

ILMU adalah merupakan satu upaya untuk mencapai sesuatu yang terdiri dari bagian-bagian dalam ulah lingkungannya, dan penempuhannya diperlukan adanya gerak dan perjalanan disertai tata tertib dan peraturan-peraturannya yang tertentu yang ada padanya; Yaitu ilmu pengetahuan yang membahas tentang ketentuan-ketentuan.
  • Bilmaqadir = tentang kadar banyaknya.
  • Alkammiyat = dan tentang hubungan-hubungannya
  • Al ‘ilaqat = Akan tetapi ilmu itu agak lemah terutama untuk mencapai teka-teki yang memerlukan pemecahan, “Apakah ini dan apakah itu (Almahiyat), dan pula untuk mencapai hakikat-hakikat yang ada taraf kesudahannya. Dan ilmu itu dalam persoalan ini kedudukannya tidak lebih dari alat yang kurang mempunyai kesempurnaan yang malahan kadang-kadang menyesatkan.

Al Imam An Nafri berkata :
“Ilmu itu sendiri merupakan tirai penutup atas apa yang sudah menjadikan pengetahuannya; yang seyogyanya tidak demikian halnya.
Seorang yang banyak berilmu (“Ulama) terdinding oleh kesadarannya sendiri, sama halnya dengan si dungu terdinding oleh kelengahannya. Sungguh pun begitu ilmu itu mencerai-beraikan  akal si alim, disebabkan karena ilmu itu terpetak-petak dalam beberapa bidang dan arah tujuan pemikiran”.

Ilmu itu sendiri memiliki jalan-jalan dan saluran-saluran, lalu sampai kepada cabang-cabang. Tiap-tiap cabang mempunyai jalan keluar sendiri-sendiri, sampai di sini tidak dapat dielakkan lagi akan terjadinya perselisihan, dan dari perselisihan menjurus ke arah kesesatan.

Akal, setelah mengetahui kesemuanya itu, lalu mengadakan penyaringan di antara pelbagai macam kemungkinan-kemungkinan, maka terperosoklah ia ke dalam aneka ragam kesimpang-siuran.”.

Dan Allah dalam seruan-Nya menyampaikan :
“Seorang yang berilmu masih dalam ikatan serba dua “Menyaksikan dan disaksikan”, begitu pula halnya seorang pengenal (Arifin) ... yang tidak... dan yang lain halnya... adalah seorang Waqif di Hadirat Ku (orang yang berdiri tegak di tempat penghentian pencapaian), ia adalah tunggal... karena dia telah sirna (fana) meniadakan ke serba-duaan lagi, menyadari dan kembali pada pribadinya sendiri dalam kesederhanaan dan kesatuannya (ringan lunglai terlepas dari daya tarik apappun dan senyawa-menyatu)”.

“Maka seharusnya puncak dari ilmu, akal dan pikiran itu mengembalikan pada kedudukan asalnya dari segi bagian-bagian dan kenyataan-kenyataan kepada Yang “SATU” ialah Allah Maha Penciptanya. Dari sini bertolak ke arah pengenalan (Makrifah) baru dapat disebut orang arif. Tetapi pandang pengenalan seorang sufi jauh dari kesemuanya ini, lebih tinggi menjulang dan tidak menilai ilmu, karena pengenalannya kepada Allah semata-mata, makrifat yang tunggal, mengenal ke Esaan-Nya, dalam sifat-sifat-Nya, Asma-Nya, Af-al-Nya, Taqdis-Nya dan ke Maha Sucian-Nya”.

Selanjutnya Allah berseru :
Hai hamba yang berilmu! “Bilamana ilmumu dapat melepaskan engkau dari ilmu mu, maka engkau akan tiba pada perjalanan pengenalan (Makrifat), tetapi kalau engkau menyatu dengan ilmu mu, maka ilmu itu akan menjadi penghijab bagimu; Dudukkan ilmu itu pada tempat yang seyogyanya menjadi penghantar ke arah makrifat dan bukan engkau yang menyatu dengan ilmu mu”.

“Setelah engkau tiba di ambang pintu makrifat, dan memasukinya, maka engkau akan terheran-heran dan menginsafi kebodohanmu di hadapan Zat Illahiat dan inti mula pertamanya.

(Kunhiha) serta apa sebenarnya DIA (Manhiat) terungkaplah di sini lunglainya pencapaian, itulah pencapaian dan kedunguan adalah puncak makrifat, maka terhujamlah dalam sanubarimu akan arti sebenarnya dari “ Tiada satupun yang menyamai-Nya”.

Seorang sufi mewejang : “Kebodohan, kedunguan adalah tirai penutup yang asli dan tak mungkin tersingkap tentang Zat Ilahiat, kecuali pada Hari Kebangkitan (Kiamat) kala seorang hamba dikehendaki-Nya untuk memandang dengan pandangan mata.

Adapun sebelum itu maka tiadalah mungkin melihat Allah dengan terang-terangan, dan apa yang dialami seorang abid ialah menyaksikan Allah pada sesuatu yang di dalamnya terdapat bekas dari tangan pembuatnya, ayat-ayat-Nya, hikmah-Nya, tadbir-Nya (yang diuraikan-Nya). Dan itu merupakan penglihatan akal serta matahati atau melihat Nur-Nya.
Adapun Zat, akan tetap tinggal terselubung oleh selimut gaib yang mutlak.

Dan di kala seorang abid mencapai puncak makrifat, maka ia menyadari akan kebodohannya di hadapan Zat itu; Dan menyadari pula akan kelemahan semua usaha-usaha dan cara-cara yang selama ini diandalkan; ia akan memulai perjalanannya kepada Allah dengan menempuh penyaksian. Maka akan keluarlah ia dari alam nyata selain Allah. Keluar dari ilmunya, amalnya, makrifatnya, sifatnya, namanya dan juga keluar huruf dan ibarat, dan apa saja yang diibaratkan oleh huruf dan oleh ucapan ibarat.

Dengan pelepasan, penanggalan segalanya itu tadi adalah pintu untuk mencapai “Penglihatan” serta jalan masuk menuju “Hadirat-Nya” dan penghentian jalan terakhir dari “penyaksian” maka ia masuk didorong oleh kekuatan cahaya yang menetap (tidak membiarkan dan tidak meninggalkan).

Yang demikian adalah, apa yang diuraikan dalam gambaran seorang sufi “Penglihatan hati (Ru’yah Qolbiah) terhadap Zat yang tertutup terselubung dan terhijab dengan Nur demi Nur-Nya; dan itu merupakan permulaan disertai kenyataan yang dikawani oleh poros tempat persembunyian segala sesuatu dan (dikawani) pula oleh keadaan dari kelenyapan yang sepenuh-penuhnya... tiada sesuatu... selain Nur itu.

Ketahuilah bahwa Nur itu bukanlah Zat, tetapi hanyalah suatu ayat (tanda bukti) dari sekian banyaknya tanda-tanda bukti, dan juga sebagai hijab dari sekian banyaknya hijab-hijab dan juga isim dari berbagai Asma-Nya (nama-nama-Nya) dan Asma adalah hijab atas yang bernama dan yang dinamai.

Dan ini bukanlah penyaksian pandangan mata. Dalam hal ini penyaksian pandangan mata tidak mungkin sama sekali selagi di dunia ini, dan tidaklah bagi insan yang memiliki bentuk jasad insani. Hal ini sebagaimana yang diungkapkan dari apa yang terjadi, dan apa yang dialami Nabi Musa As. Yang tidak memiliki daya kemampuan memandang, hingga jatuh pingsan; dan bukit yang dijadikan contoh tidak pula memiliki kemampuan tersebut hingga hancur lumat berbutir-butir,

Di dalam Al Qur’an surat Al A’raf 7:143 :
“Dan tatkala Musa datang di tempat yang telah ditentukan, dan Tuhannya berkata-kata dengannya, lalu berkatalah Musa :”Wahai Tuhanku! Perlihatkanlah diri-Mu padaku supaya aku dapat memandang-Mu”. Ia pun berfirman : “Tidak sekali-kali engkau dapat melihatk-Ku, tetapi pandanglah ke bukit itu; jika ia dapat tetap di tempatnya, maka engkau akan melihat pada-Ku”, Maka tatkala Allah “memperlihatkan diri” kepada bukit tadi, bukit itupun hancur luluh menjadi lumat dan jatuhlah Musa dalam keadaan tak sadar diri. Maka tatkala sadar, berkatalah Musa “Maha Suci Engkau! Aku taubat kepada-Mu, dan aku adalah orang pertama yang beriman kepada Mu”.

Perhatikan! Musa tidak jatuh pingsan karena melihat Zat Ilahy, tetapi ia baru melihat tajallinya Zat atas sesuatu yang lain, yakni bukit itu, baru tajalli-Ny saja, dapatkah engkau membayangkan betapa mungkin terjadi jika sekiranya Musa melihat Zat-Nya.

Dalam ilmu penegtahuan insani terdapat segi tantangan, karenanya setiap sesuatu tujuan pemikiran diiringi oleh pemikiran akal yang menguraikan kebalikannya. Demikian juga kejahilan insani, yang di dalam kejahilannya terdapat tantangan (dari kebalikannya). Tidak demikian halnya dengan ilmu pengetahuan Rabbani (Ilahy) yang Ladunni (Ilmu yang didapat langsung dari Alloh), maka ilmu yang demikian, begitu juga kebodohan yang berupa “pengetahuan ketidaktahuan”, maka ia adalah suatu kejahilan yang asli, yang tiada tantangan kebalikannya, karena kejahilan terhadap Zat Ilahiat adalah merupakan sampainya kepada hakikat yang terakhir, yang berkesudahan (nihaiyah), justru Allah itu Yang Maha Suci (Majhul al-Hawiyah) yang tak dapat diketahui karena tiada siapapun yang menyerupai-Nya (Dan itulah sifat Zatiyah).

Allah berseru kepada hamba-Nya :
“Keluarlah engkau dari ilmumu yang kebalikannya adalah kejahilan, keluarlah engkau dari makrifat yang kebalikannya adalah pengingkaran... niscaya engkau akan jinak terhadap apa yang engkau ketahui, Ilmu itu berseteru dengan kejahilan, dan kejahilan itu adalah huruf... kejahilan itu menjadi seteru ilmu dalam kejahilannya terdapat huruf”.

Keluarlah engkau dari huruf, niscaya engkau mengetahui ilmu yang tiada seterunya, yaitu Ilmu Rabbani (jika engkau sudah sampai ke taraf ilmu ini), maka engkau akan menjahili suatu kejahilan yang tiada lagi berseteru dengan kejahilan yang berupa pengetahuan. (Al Jahlul Irfani)”.

“Jika engkau telah mengetahui suatu ilmu yang tiada seteru, dan jika engkau menjahili kejahilan yang tiada bersetru pula, maka engkau bukan lagi tergolong dari penduduk bumi dan langit”.

“Jika engkau sudah bukan lagi menjadi penduduk bumi, maka Aku tidak akan membebani engkau pekerjaan ahli bumi; Juga kalau engkau tidak lagi menjadi peduduk langit, maka Akupun tidak lagi membebani engkau menjadi pekerja ahli langit”.

Pekerjaan-pekerjaan ahi bumi adalah keserakahan dan kerakusan, kelengahan dan menghambakan diri pada hawa nafsu dan kepada semua yang nampak di permukaan bumi ini, yang saling kejar mengejar memperebutkan aneka perhiasan. Sedangkan pekerjaan ahli langit adalah Zikir dan ta’dziem (membesarkan Nama Tuhan) dan itulah penghambaan ahli langit terhadap Tuhan, dan itulah yang menjadikan mereka jinak dengan ketenangan kepada Allah.

Dan penghambaan itu merupakan hijab yang terdekat, yang mana Aku dari balik-Nya berhijab pula dengan sifat keperkasaan; dan kelengahan itu pun suatu hijab yang jauh, yang mana Aku dari baliknya berhijab dengan semua dan apa-apa yang telah Ku ciptakan dari segala sesuatu saling pengaruh-mempengaruhi.

Rabu, 13 Februari 2019

Makna Arasy Allah Menurut Ulama Sufi

Makna Arasy Allah Menurut Ulama Sufi

makna arasy allah menurut ulama sufi

Dalam Alquran dikatakan bahwa Allah bersemayam diatas 'Arasy, dan hadits yang mengatakan 'Arasy Allah itu berada diatas Air. lalu bagaimanakah cara memaknai dan memahami hadits dan ayat Mutasyabihat ini? Kalau dimaknai secara dzahir atau tekstual maka akan berlawanan dengan Sifat Allah yang Maha Besar dan tak membutuhkan apapun juga, termasuk tak membutuhkan tempat.

Minggu, 10 Februari 2019

Rahasia Tasawuf Rabi'ah al Adawiyah yang Tak Takut Neraka dan Tidak Ingin Surga

Rahasia Tasawuf Rabi'ah al Adawiyah yang Tak Takut Neraka dan Tidak Ingin Surga

dimata sufi sorga dan neraka hanya permainan

TASAWUF CINTA
(Kajian Tasawuf Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani)

“Ya Ilahi... Andaikan aku beribadah kepada-Mu karna lantaran aku mengharapkan surga-Mu maka usirlah aku dan surga-Mu. Dan andaikan aku beribadah Iantaran takut akan neraka-MU maka masukkan aku kedalam neraka-MU. Namun bila aku beribadah hanya karna mengharap ridho-Mu maka dekatkan aku di sisi-Mu, “ Seuntai doa curahan hati hamba Allah Rabi’ah al Adawiah

Rabu, 30 Januari 2019

Download Kitab Risalah Al Ghautsiyyah Syeikh Abdul Qadir Jailani PDF

Download Kitab Risalah Al Ghautsiyyah Syeikh Abdul Qadir Jailani PDF

download kitab tasawuf risalah al ghautsiyyah

Download PDF kitab tasawuf karangan Sulthan Auliya Syeikh Abdul Qadir Jailani yang berjudul Risalah Al Ghautsiyyah. Risalah Al Ghautsiyyah adalah sebentuk dialog batiniah antara Allah SWT dan Syekh Abdul Qadir Al Jailani, yang diterima melalui ilham qalbi dan penyingkapan ruhani atau kasyf ma’nawi atau bisa disebut ilham yang khusus diberikan oleh Allah kepada para Wali-Nya.

Minggu, 13 Januari 2019

CINTA Adalah Maqam Tertinggi dalam Tasawuf Jangan Berhenti Untuk Meraihnya

CINTA Adalah Maqam Tertinggi dalam Tasawuf Jangan Berhenti Untuk Meraihnya

cinta adalah maqam tertinggi

RUJUKAN DALAM MEMBINCANGKAN PERJALANAN RUHANI ( Part II )
Sambungan dari: Tiga Tingkatan Salik dalam Bertasawuf Menuju Tuhan

Kajian Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Bintaro, 11 Januari 2018
Tiga Tingkatan Salik dalam Menuju Tuhan

Tiga Tingkatan Salik dalam Menuju Tuhan

tingkatan salik dalam bertasawuf

RUJUKAN DALAM MEMBINCANGKAN PERJALANAN RUHANI ( Part I )
Ditulis oleh: DR. Zubair Ahmad, MA

Kajian Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Bintaro, 11 Januari 2018
Biografi Tuan Guru KH Muhammad Bakhiet Ulama Tasawuf Kharismatik Kalimantan

Biografi Tuan Guru KH Muhammad Bakhiet Ulama Tasawuf Kharismatik Kalimantan

biografi kh muhammad bakhiet kalimantan

Awalnya kami mengenal Tuan Guru KH Muhammad Bakhiet adalah lewat Youtube. Video kajian syarah kitab Alhikam yang beliau paparkan sangat bagus dan menyentuh, bahkan video Alhikam Tuan Guru Bakhiet kami download semuanya termasuk kajian beliau yang lain. Karena pemaparan beliau pemahaman kami terhadap Alhikam Syeikh Ibnu Athaillah semakin bertambah.

Sabtu, 12 Januari 2019

Untuk Apa Zikir dengan Suara Keras Allah Tidak Tuli

Untuk Apa Zikir dengan Suara Keras Allah Tidak Tuli

Zikir dengan suara keras
Jamaah zikir Tarekat Qodiriyah Hanafiah

Fenomena Zikir Keras

Ada sebagian kelompok dalam islam yang selalu berzikir dengan suara keras bahkan sampai berteriak sekeras-kerasnya, dan ada juga sebagian yang zikirnya hanya dalam hati tanpa suara sedikitpun atau zikir sirr. dan ada juga kelompok ketiga yang membidahkan zikir keras dengan Alasan bahwa Allah tidak tuli, untuk apa berzikir dengan suara keras padahal Allah Maha Mendengar suara yang paling halus sekalipun.

Senin, 24 Desember 2018

Syarat Menuju Maghfirah Ampunan Allah adalah RINDU

Syarat Menuju Maghfirah Ampunan Allah adalah RINDU

syarat menuju ampunan Allah

SYARAT MENUJU PINTU MAGHFIRAH
(Tausyiah Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani, pada hari Sabtu, 15 Desember 2018 di Pondok Pesantren Rabbani, Solok)

FIRMAN ALLAH:

إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang bertobat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (QS. Albaqarah [2]: 222)

Ya ALLAH..., angkatlah tirai tipis ini hingga kami dapat menatap WAJAH-MU ya ALLAH...

ENGKAU tidak pernah membatasi DIRIMU untuk dikenal Ya ALLAH..., namun akal kamilah yang membatasinya Ya ALLAH...

ENGKAU tidak pernah menutup DIRIMU dengan KATA KATA-MU Ya ALLAH..., namun pendengaran kamilah yang tertutup Ya ALLAH...

ENGKAU tidak pernah berjarak jauh daripada kami Ya ALLAH... , namun ego kamilah yang membuat jarak Ya ALLAH...

Jadikanlah jasad kami penduduk bumi Ya ALLAH..., namun jadikanlah jiwa kami penduduk langit Ya ALLAH...

Yaa ALLAH Ya Rahmaan Yaa Rahiim..., ampunilah segala dosa dan kelemahan kami Ya ALLAH...

HU... ALLAH.

ALLAH Maha Tahu kelemahan kita. ALLAH Tahu kita mudah terjebak oleh sesuatu. Oleh sebab itu, ALLAH selalu membuka Pintu Maghfirah-NYA. Terbuka selalu Pintu Maghfirah-NYA sampai akhir hayat kita.

Namun ada syaratnya untuk masuk ke Pintu itu, untuk bisa diterima di Pintu Maghfirah-NYA. Kalau tidak membawa syarat ini, tidak akan sampai di depan Pintu itu, walaupun secuil apapun dosa itu.

Namun tidak semua orang yang diberikan kesempatan itu, karena banyak yang mempermainkan Kasih Sayang ALLAH.

Sekalipun dapat di akal akali, namun ALLAH Maha Tahu.

Apakah syarat itu?

HIDUPLAH DENGAN RASA RINDU SELALU KEPADA ALLLAH.

Mari kita lihat diri kita, adakah setiap diperdengarkan kalimat ALLAH, muncul rasa rindu kita?

Lalu bagaimana caranya agar muncul rasa rindu kepada ALLAH?
Yakni dengan mengharap Ridha ALLAH dalam setiap pekerjaan.

Jika kita tidak mengharap Ridha ALLAH dalam setiap pekerjaan, jangan harap muncul rasa rindu kepada ALLAH.

BIBIT RINDU ITULAH YANG AKAN MEMBAWA KITA PADA AMPUNAN ALLAH. SETIAP HARI.

Wahai hamba-KU:
"Barang siapa yang merasakan AKU sangat dekat kepada dirinya, maka bertanda AKU memperhatikannya. Dan barang siapa yang merasakan kerinduan kepada-KU, bertanda ia telah dicintai oleh AKU Kekasihnya. "

Firman ALLAH :

وَلَمَّا جَآءَ مُوسَى لِمِيقَاتِنَا وَكَلَّمَهُ رَبُّهُ قَالَ رَبِّ أَرِنِي أَنظُرْ إِلَيْكَ قَالَ لَنْ تَرَانِي وَلَكِنِ انْظُرْ إِلَى الْجَبَلِ فَإِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهُ فَسَوْفَ تَرَانِي فَلَمَّا تَجَلَّى رَبُّهُ لِلْجَبَلِ جَعَلَهُ دَكًّا وَخَرَّ مُوسَى صَعِقًا فَلَمَّآ أَفَاقَ قَالَ سُبْحَانَكَ تُبْتُ إِلَيْكَ وَأَنَا أَوَّلُ الْمُؤْمِنِينَ

Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan Kami) pada waktu yang telah Kami tentukan, dan Rabb telah berfirman (langsung kepadanya), berkatalah Musa:”Ya Rabbku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku, agar aku dapat melihat kepada Engkau”. Rabb berfirman:”Kamu sekali-kali tak sanggup untuk melihat-Ku, tapi lihatlah ke bukit itu, maka jika ia tetap ditempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku”. Tatkala Rabbnya menampakkan diri kepada gunung itu, dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musapun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata:”Maha Suci Engkau, aku bertaubat kepada Engkau dan aku orang pertama-tama beriman”. [Al A’raf :143]