Minggu, 31 Desember 2017

Komentar Netizen Tanggapi Dongeng Kompas Terkait Siswa SMA 30 lamongan yang Surati Ahok


Kompas dot com memang ahli dalam mendongeng atau berkhayal kepada publik. Tanpa sadar bualan mereka jadi viral terkait surat siswa SMA 30 lamongan yang minta bantuan seorang napi kasus penistaan agama Ahok agara ijasahnya bisa di tebus karena tak punya uang. Dan kegilaan itu di ikuti oleh buzzer- buzzer mereka di media sosial.

Ajaib memang, ijasahnya yang mandek bisa di tebus, padahal ini baru akhir semester pertama ( ganjil ) dan lebih anehnya lagi ternyata SMA 30 Lamongan belum ada alias masih di alam ghaib.

Menanggapi kegilaan para penyembah napi Ahok ini beragam komentar netizen, ada yang merasa lucu dan kasihan melihat tingkah para ahoker dan cebong yang sudah mulai tak waras semenjak sesembahan mereka masuk bui karena ulah mulut kotornya sendiri.

Kejadian yang sebenarnya baca;  Fakta Investigasi Lapangan SMA 3 lamongan Yang Diputarbalikan Ahokers










Jumat, 29 Desember 2017

Tuan Syech Silau Laut Nasab Keluarga Ustadz Abdul Somad Lc MA


RIWAYAT HIDUP DAN PERJUANGAN SYEKH HAJI ABDURRAHMAN SILAU

Nama lengkapnya Syekh Haji Abdurrahman Urrahim bin Nakhoda Alang Batubara. Berdasarkan buku catatannya, ia di lahirkan di kampung Rao Batubara (sekarang desa Tanjung Mulia kecamatan Tanjung Tiram Batubara) pada tahun 1275 H setara dengan 1858 M.

Fakta Membuktikan Ustadz Abdul Somad Adalah Ulama Pewaris Nabi Dibanding KH. Said Aqil Siraj


Abdul Somad dan tentunya Said Aqil Siradj adalah tokoh yang sama-sama mempunyai latar belakang keilmuan dan keduanya juga sama-sama diakui ummat. 

Cirikhas menyolok dari keduanya sudah terlihat jelas di depan mata dan menjadi fakta. Tatkala Said Aqil Siradj yang dituduh Syiah (pendukung Syiah) oleh kelompok fundamentalis Islam dan Abdul Somad yang dituduh sebagai pembawa isu khilafah (pendukung khilafah) oleh gabungan kelompok yang memusuhi Islam dan elemennya. 

Said Aqil Siradj yang dikenal merupakan "ulamanya pemerintah" selalu membawa pesan ataupun risalah "agama pemerintah" dalam kepentingan negara. Sedangkan Abdul Somad dikenal tegas menyuarakan Islam yang bersyariat Islam (bukan Islam bersyariat Sekuler-Liberal). Kedua-duanya mendapat porsi perhatian ummat yang lebih.

Secara otomatis Said Aqil Siradj pasti didukung oleh koalisi ummat di bawah binaannya dengan segala macam kontroversi di dalamnya. Akan tetapi Abdul Somad sama sekali tidak berkoalisi dengan politik praktis, namun suara murni untuk Abdul Somad dan dukungan pasti ummat yang sudah paham dengan segala macam tantangan syariat Islam bagi pemeluknya.

Publik ummat Islam sudah melek dengan dengan upaya kriminalisasi dan usaha-usaha persekusi ulama, salah satunya yang terkini adalah menimpa Ustadz Abdul Somad, Lc. MA. 

Jika hanya indikator Said Aqil Siradj tak pernah mengalami variabel kriminalisasi dan persekusi, maka probabilitas Abdul Somad sebagai ahli waris nabi sangat pantas disematkan kepadanya. 

Karena Ustadz Abdul Somad telah memiliki kredit poin sebagai bukan ulama pencari jabatan, dia bukan ulama pembawa pesan Fir'aun, Abdul Somad juga bukan bampernya ormas liberal, Somad juga bukan hashtagnya negara sekuler, dan Ustadz Abdul Somad terbukti tidak gampang menyatakan yang bathil menjadi haq, dan yang haq dipaksakan jadi bathil. 

Ustadz Abdul Somad kini dan seterusnya akan menghadapi yang namanya ujian pada nabi-nabi terdahulu. Ustadz Abdul Somad akan senantiasa mengahadapi tantangan seperti halnya cobaan-cobaan yang menimpa pewaris nabi-nabi sebelumnya pada zamannya.

Ummat Islam yang setia pada pewaris risalah nabi akan selalu mengawal, menjaga dan mendoakan kebaikan dan keselamatan Ustadz Abdul Somad dalam kiprahnya sebagai ulama pada zaman revolusi mental kebablasan. 

Semoga Ustazd Abdul Somad bukan ulama su'u di antara sekian banyaknya ulama gampangan, ulama karbitan, ulama gadungan, ulama-ulama bayaran penjual akidah dan ayat-ayat Tuhan dan ulama-ulama munafik.
Insya Allah Uztadz Abdul Somad selalu istiqamah sebagai pewaris risalah para nabi-nabi di jalan syariat Islam. 

"Sejarah sudah mencontohkan semuanya. Dan waktu telah membuktikan semuanya. Satu per satu Ulama Pewaris Risalah Nabi dikualifikasi kompetensi kapasitas keilmuan dan kapabilitas Ulamanya. Saksinya adalah Allah Swt, dan buktinya ada pada manusia ciptaan-Nya. Layak atau tidaknya, semua pasti akan mendapat ganjaran-Nya"

Sorong, 28 Desember 2017
By: Aji Latuconsina

[Dikutip dari Kompasiana dengan judul; Abdul Somad dan Said Aqil Siradj, yang Manakah Termasuk Ulama dan Ahli Waris Nabi?]


Ustadz Abdul Somad Jauh Lebih Matang Dibanding Said Aqil Siraj - DR. Moeflich Hasbullah


Lelaki muda Riau kurus ini, kini sudah jadi fenomena. Fenomena dalam gerakan Islam Indonesia kontemporer. Bisa dikatakan, ia fenomena baru pasca Habib Rizieq. Bedanya, Rizieq pemimpin pergerakan (FPI) dan penggerak massa, Abdul Somad pendakwah, da’i, mubaligh. Kedua-duanya ulama berkharisma. Rizieq seorang habib, Abdul Somad bukan. Dua-duanya berwatak keras, bersuara lantang, ucapannya tegas dan wawasan keislamannya luas. Kelebihan Abdul Somad dari Rizieq adalah penguasaan sumber kitab-kitab klasiknya lebih lengkap.

Sabtu, 23 Desember 2017

Menjalin Ukhuwah Dewan Ulama Thareqah ASEAN ( DUTA ) Persatuan Ulama Tarekat Asia Tenggara

dewan ulama thareqah asean

Kedah, 21 Desember 2017

Melalui undangan Syekh H. Drahman bin Muhammad Amin, selaku Penasihat DUTA dari Malaysia, sejumlah ulama Thariqah se-ASEAN hadir dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw  bertempat di Pondok Madrasah Taqribul Ikhwan fi Futuhir Rahman (MATIF), Kedah Malaysia (21/12/2017). Hadir dalam kegiatan ini, selain Syekh H. Drahman bin Muhammad Amin dari Negeri Serawak Malaysia, juga antara lain:
1. Baba Ismail Sepanjang Al Fatani dari Thailand
2. Syekh Dr. Khalil Ismail Ilyas, Malaysia
3. Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, pimpinan Pondok MATIF
4. Buya Zulkifli Sukma, Khalifah TQH ( Tarekat Qodiriyah Hanafiah )  Indonesia
5. Buya Mahyuzil Khalifah TQH,  Indonesia
6. Buya Dr. Zubair Ahmad, Sekjen DUTI sekaligus Khalifah TQH  Indonesia,
7. Habib Abdurrahman bin Janas, wakil khusus TQH untuk urusan hubungan dalam dan luar negeri.

Penasihat DUTA Malaysia menekankan pentingnya menjalin hubungan persatuan bagi seluruh umat Islam di Nusantara ini (Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunei, dan Piliphina) demi bangkitnya Islam. “Kita orang-orang Melayu ini adalah umat akhir zaman yang disebut-sebut  dan dibangga-banggakan oleh Rasulullah Saw, padahal mereka belum pernah jumpa dan mendengar suara beliau” katanya.  Sementara itu Buya Zulkifli Sukma mewakili Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Al Quthub ar Rabbani dan menyampaikan salam beliau kepada hadirin, sekaligus menjelaskan cita-cita bersama mewujudkan umat Islam kembali kepada jadi dirinya yang sebenarnya, cinta Allah dan Rasulullah.

Selaku Sekjen DUTI, Dr. Zubair Ahmad menguraikan sejarah, visi, misi, dan tujuan dari Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) dan Dewan Ulama Thariqah ASEAN (DUTA). Ia juga menyampaikan pesan Rais Mustasyar DUTI/DUTA tentang perlunya menguatkan ukhuwah Islamiyah bagi pengamal Thariqah di ASEAN. Ukhuwah ini tidak hanya dalam pembinaan ilmu agama, tetapi juga dalam semua bidang terutama di bidang ekonomi karena umat Islam saat ini telah dikuasai oleh orang kafir. Sementara itu, Buya Mahyuzil berfokus pada penanaman rasa rindu kepada Rasulullah saw dan rasa cinta kepada Allah. Hal itu dilakukan dengan mengajak para jamaah untuk berpikir dan bersalawat. Selain itu, Habib Abdurrahman memecah suasana dengan lantunan zikir munajat dan lagu berjudul ‘Insan Rabbani’. Acara ditutup dengan hiburan nasyid dan qasidah dari para santri.


Madrasah Taqribul Ikhwan fi Futuhir Rahman

Madrasah yang populer dengan Pondok Bukit Birut ini memang posisinya di atas bukit di tengah hutan karet sekitar 2 km dari jalan raya.  Ia berada di wilayah Kuala Pegang,  Baling,  Kedah,  Malaysia. Pondok ini sangat unik karena hanya belajar ilmu  agama Islam saja, dan tidak memiliki jenjang pendidikan sebagaimana sekolah formal. Usia tidak menjadi syarat untuk menjadi santri, sehingga santainya ada yang masih anak-anak, remaja dan dewasa. Keistimewaan lainnya adalah bahwa semua santri tidak dipungut bayaran. Menurut Pak Ngah, selaku pengelola pondok yang mendampingi Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, pondok ini dibangun sekitar 5 tahun lalu dan saat ini mendidik santri sekitar 200 orang, separuh warga Kamboja dan sisanya warga Malaysia. “Orang menyebut kita sebagai orang gila karena membangun pondok di tengah hutan di atas bukit dengan fasilitas seadanya,” kata Pak Ngah.

Pondok MATIF ini mirip dengan Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani yang dipimpin oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah al Quthub Ar Rabbani di Kasiak, Sumani, Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Awalnya hanya gubuk sederhana, bahkan pimpinannya sampai saat ini masih tinggal di gubuk kecil dan sangat sederhana.

Menurut Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, dengan adanya kegiatan Silaturahim Ulama Thariqah se-ASEAN ini, kiranya kita dapat bersama-sama membangun umat dan membela negara masing-masing dari pengaruh dan cengkraman orang kafir asing. “Mohon doanya agar pondok ini selanjutnya terus berkembang dan bisa menyiapkan generasi penerus perjuangan Rasulullah Saw,” pintanya kepada semua pihak yang hadir.

Sumber: http://dewanulamathariqah.org

Jumat, 22 Desember 2017

Manhaj Ustadz Abdul Somad Tentang DIMANAKAH ALLAH dan Perbedaannya dengan Paham Salafi

dimanakah allah?

POLEMIK TENTANG DI MANA ALLAH ?

(Perbedaan Pandangan Dengan Ustad Abdus Shomad, Antara Dalil Naqli dan Gejolak Logika)

Kamis, 21 Desember 2017

Tabligh Akbar Ustadz Abdul Somad di Payakumbuh Dihadiri Puluhan Ribu Jamaah

abdul somad payakumbuh

Ribuan Kaum Muslimin Menghadiri Tabligh Akbar Al-Mukharram Ustadz Abdul Somad, Lc, MA Di Kota Payakumbuh"

Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1439 H dan Memperingati Hari Ulang Tahun (HUT) Kota Payakumbuh ke 47 Pemerintah kota Payakumbuh mengadakan Tabligh Akbar dengan mendatangkan tuan guru Al-Mukharram Ustadz Abdul Somad, Lc, MA Da'i Nasional dari Kota Pekanbaru Riau yang sangat viral belakangan ini.

Dalam sambutannya, Walikota Payakumbuh Bapak H. Riza Falepi, ST, MT mengatakan bahwa sangat banyak warga kota Payakumbuh yang meminta agar Bapak Walikota Payakumbuh berkenan mendatangkan Ustadz Abdul Somad ke Payakumbuh, Alhandulillah siang ini permintaan dan harapan warga kota Payakumbuh sudah terkabul.

Tabligh Akbar bersama Ustadz Abdul Somad dilaksanakan pada Rabu, 20 Desember 2017 di Lapangan Gor M. Yamin Kel. Kubu Gadang Kota Payakumbuh, pukul 13.00 - 15.30 WIB.

Antusias kaum muslimin untuk menghadiri Tabligh Akbar bersama Ustadz Somad sangat tinggi, diperkirakan tidak kurang sekitar sepuluh ribu kaum muslimin dari berbagai daerah di Sumbar hadir guna mendengarkan langsung tausiyah dari Ustadz Somad dengan Tema Mentauladani Akhlak Nabi Muhammad SAW.

Selama lebih kurang dua jam menyampaikan tausiyah dan menjawab pertanyaan demi pertanyaan yang diajukan jama'ah, terasa waktu berlalu sangat pendek sekali.

Meskipun sempat turun hujan sejenak saat ustadz Abdul Somad memberikan tausiyah, namun semangat kaum muslimin tidak sedikitpun kendor dalam mendengarkan nasehat keagamaan yang disampaikan.

Ustadz Abdul Somad menyampaikan tausiyah begitu jelas, cerdas dan lucu, sehingga jama'ah sering tersenyum. Halbini menjadikan tausiyah terasa begitu enak untuk di dengar. Bahkan beberapa lagu nasyid dinyayikan ustadz Somad dalam tausiyah sehingga menambah semangat jama'ah dan menjadi hiburan tersendiri bagi jama'ah. Masya Allah...

Dalam Tabligh Akbar tersebut, Panitia juga melaksanakan penggalangan dana untuk Palestina, sebagai bentuk rasa kepedulian dengan saudara muslim Palestina.

Ustadz Abdul Somad, Bapak Walikota Payakumbuh dan Panitia mengajak kaum muslimin untuk ikut menyumbang.

Diperkirakan sekitar seratus juta rupiah dana infak untuk Palestina terkumpul dalam acara tersebut. (Jumlah pasti Panitia Penggalangan dana yang lebih tahu).

Dengan pelaksanaan kegiatan Tabligh Akbar tersebut, atas nama warga Kota Payakumbuh dan masyarakat Sumbar kami mengucapkan terima kasih banyak kepada Ustadz Abdul Somad, Lc, MA yang telah berkenan hadir memberikan nasehat untuk kami semua meskipun jadwal ustadz Somad sangat padat dan kesibukan sangat tinggi.

Kepada Bapak Walikota, Bapak Wakil Walikota, DPRD Kota Payakumbuh dan semua Pihak yang terlibat kami mengucapkan jazakumullah khairan katsiran. Semoga Allah swt menerima kebaikan Bapak menjadi amal shaleh yang akan memperberat timbangan kebaikan di akhirat kelak.

Kepada masyarakat Payakumbuh, khususnya kaum muslimin yang menghadiri tausiyah Ustadz Abdul Somad mari kita berjuang dengan sungguh-sungguh mengamalkan kajian yang disampaikan oleh ustadz Abdul Somad, sehingga apa yang menjadi tema Tabligh Akbar yakni mentauladani akhlak nabi Muhammad SAW dapat kita amalkan dalam kehidupan kita sehari-hari. Maka dengan demikian kita yakin Kota Payakumbuh yang kita cintai akan menjadi Baldatun Thayyibatun Warabbun Ghafur.

Aiahnyo janiah, ikannyo jinak, sayaknyo landai yang menjadi istilah bagi Kota Biru ini dapat terus kita jaga dan kita bela selamanya. Amin...

Allahu Akbar...

By: Muhammad Shiddieq





Sekte Sex LGBT Gerakan Sistematis yang Sedang Berkembang Ancam NKRI


LGBT SEBUAH SEKTE SEX BARU Melalui GERAKAN PENULARAN SEDUNIA

( By : Prof. Sarlito Wirawan Sarwono )

Mungkin ada yang heran bertanya, kenapa saya begitu keras terhadap perilaku Lesbianism, gay, bisexual and transexualism (LGBT).
Saya seakan penuh murka dan tak memberikan sedikitpun ruang toleransi bagi pengidapnya.

Mungkin saya perlu klarifikasi bahwa saya tidak sedang bicara tentang pelaku, orang dan oknum.
Terhadap oknum, orang dan pelaku LGBT, kita harus tetap mengutamakan kasih-sayang, berempati, merangkul dan meluruskan mereka.

Dan saya juga tidak sedang bicara tentang sebuah perilaku personal dan partikular. Saya juga tak sedang bicara tentang sebuah gaya hidup menyimpang yang menjangkiti sekelompok orang.
Karena saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN !!!

Ya, saya sedang bicara tentang sebuah GERAKAN : ORGANIZED CRIME yang secara sistematis dan massif sedang menularkan sebuah penyakit !!! Sekali lagi, bagi saya ini bukan semata perilaku partikular, sebuah kerumun, bahkan bukan lagi semata-mata sebuah gaya hidup, tapi sebuah harakah : MOVEMENT !!! Terlalu paranoidkah kesimpulan ini ???

Saya telah mengumpulkan begitu banyak kesaksian di kampus-kampus tentang mahasiswa-mahasiswa normal kita yang dipenetrasi secara massif agar terlibat dalam LGBT dan tak bisa keluar lagi darinya.
Perilaku mereka sangat persis seperti sebuah sekte, kultus atau gerakan-gerakan eksklusif lainnya : fanatik, eksklusif, penetratif dan indoktrinatif.
Ya, ini telah berkembang menjadi sebuah sekte seksual.

Kenapa mereka perlu menjadi sebuah gerakan ?

Karena target mereka tak main-main : mendorong pranata hukum agar eksistensi mereka sah secara legal.
Dan untuk itu mereka membutuhkan beberapa prasyarat :

Pertama, jumlah mereka harus signifikan secara statistik, sehingga layak untuk mengubah asumsi, taksonomi dan kategorisasi

Kedua, keberadaan mereka telah memenuhi persyaratan populatif, sehingga layak disebut sebagai sebuah komunitas

Ketiga, perilaku mereka telah diterima secara normatif menurut persyaratan kesehatan mental dari WHO.

Untuk memenuhi ketiga hal ini, maka organisasi ini harus mampu menularkan penyimpangannya secara eksponensial kepada lingkungannya.

Mereka telah mempelajari hal itu dari keberhasilan “perjuangan” saudara-saudara mereka di Amerika Serikat.
Mereka sadar, pertumbuhan jumlah mereka hanya bisa dilakukan lewat penularan, mengingat mereka tak mungkin tumbuh lewat keturunan.
Mereka sadar, tanpa penularan mereka akan punah !!!

Kenapa harus menyasar mahasiswa ?

Sebenarnya yang ingin mereka sasar ada dua : Pertama, mahasiswa; dan yang kedua, institusi akademik.

Mereka menyasar mahasiswa, karena mahasiswa adalah generasi galau identitas dengan kebebasan tinggi dan tinggal di banyak tempat kost.

Sedangkan institusi akademik perguruan tinggi mereka butuhkan untuk menguatkan legitimasi ilmiah atas “kenormalan” mereka.

Mereka bergerilya secara efektif, dengan dukungan payung HAM dan institusi internasional.

Per 1 Januari 2015, tercatat ada 17 negara yang undang-undangnya telah melegalkan perkawinan sesama jenis.
Dan akan menyusul belasan negara lain.
Trend dukungan atas perkawinan sesama jenis terus bertambah.

Silahkan tanya ke politisi negeri ini, apakah mereka akan melegalkan perkawinan sesama jenis di Indonesia ?

Sekarang sih saya yakin jawabannya: TIDAK.
Tapi 20-30 tahun lagi, tergantung situasinya.
Jika itu membuat mereka terpilih, akan banyak politisi yang bersedia menyetujuinya.

Saya tidak berlebihan. Itu rasional sekali.
Silahkan cek di negara-negara lain.

Tahun 1950, tidak ada satupun negara yang melegalkan perkawinan ini, tapi dunia berubah sangat cepat, kelompok pendukung kebebasan semakin besar, kelompok yang tidak peduli, “i dont care” semakin banyak, sistem demokrasi mempercepat legalisasi perkawinan sesama jenis.
Syah. Atas nama kebebasan.

Semua agama melarang perkawinan sesama jenis.
Tapi demokrasi tidak mengenal kitab suci.
Kalian tahu, bahkan homo kelas berat, masih santai pergi ke gereja, ke tempat-tempat ibadah.
Mereka hanya mengenal suara terbanyak.

Saya kasih contoh Brazil, Mei 2011 mereka melegalkan perkawinan sesama jenis.
Apakah orang Brazil tidak beragama ?
90% penduduk mereka beragama, lantas apakah tidak ada disana yang keberatan dengan legalisasi ini ?
Jawabannya sederhana : mayoritas tutup mata.
“I don’t care”. Urus saja (urusan) masing-masing. Saya tidak mau recok. kamu jangan rese. Yang sesama cowok mau ciuman di tempat umum pun, bodo amat. Toh, mereka tidak mengganggu saya.

Dulu, Brazil itu sangat religius. Lantas kenapa sekarang jadi berubah sekali ? Bagaimana mungkin politisi mereka meloloskan UU itu ? Apakah rakyatnya tidak keberatan ?

Itulah kemenangan besar paham kebebasan.
Mereka masuk lewat tontonan, bacaan, menumpang lewat kehidupan glamor para pesohor.
Masyarakat dibiasakan melihat sesuatu yang sebenarnya mengikis kehadiran agama.
Awalnya jengah, lama-lama terbiasa, untuk kemudian apa salahnya ?

Di sisi lain, eksistensi agama dipertanyakan. Tuh lihat, toh yang beragama juga bejat, tuh lihat, mereka juga menjijikkan.

Fobia agama dibentuk secara sistematis, dimulai dari pemeluknya sendiri, untuk kemudian, orang-orang dalam posisi gamang, mulai mengangguk, benar juga.
Orang-orang jadi malas mendengarkan nasehat agama, buat apa ? Urus sajalah urusan masing-masing.

Rumus ini berlaku sama di seluruh dunia. Apapun agamanya.
Bahkan termasuk dalam kasus, tidak ada agama di suatu tempat, hanya ada nilai-nilai luhur–yang pasti juga akan melarang pernikahan sesama jenis.

Fasenya sama persis. Strateginya juga sama.
Dekatkan mereka dengan materialisme dunia, jauhkan mereka dari nilai-nilai luhur.
Gunakan teknologi untuk mempercepat prosesnya. Internet misalnya, itu efektif sekali menyebarkan berita, propaganda, dan sebagainya.

Apakah Indonesia juga akan begitu ?

Silahkan tunggu 20-30 tahun lagi.
Jika tidak ada yang membangun benteng-benteng pemahaman bagi generasi berikutnya, tidak ada yang membangun pertahanan tangguh, malah sibuk saling sikut berkuasa, sibuk berebut urusan dunia, sibuk dengan urusan duniawinya, 20-30 tahun lagi, kita akan menyaksikan pasangan cowok bermesraan di tempat-tempat umum.
Tetangga sebelah rumah kita adalah pasangan sesama jenis, dan mereka dilindungi oleh UU, karena sudah dilegalkan.
Ketika masa itu tiba, kalian bisa kembali mengeduk catatan ini.

Pedulilah, hidup ini bukan cuma urusan pribadi masing-masing.
Hidup ini tentang saling menjaga, saling menasehati, saling meluruskan.

Pedulilah, Kawan, ikut menyebarkan pemahaman baik, lindungi keluarga, teman, remaja, dan semua orang yang bisa kita beritahu agar menjauhi perilaku melanggar aturan agama, nilai-nilai kesusilaan.

Selanjutnya:

Ulama Thariqah dan Jihad Menepis Tuduhan Kesesatan Tasawuf


Tahukah kalian kenapa tassawuf dituduh sesat?

ULAMA THARIQAH DAN JIHAD

Selasa, 19 Desember 2017

Surat Perjanjian Ustadz Yazid Jawas dengan Ustadz Arifin Ilham di Masjid Az-Zikra


Heboh Ustadz Yazid Abdul Qadir Jawas mengisi ceramah atau tabligh akbar di masjid Az-Zikra Milik Ustadz Arifin Ilham. Ustadz Yazid yang berseberangan paham dengan ust. Arifin memohon untuk memakai masjidnya karena masjid Yazid di Bogor telah di " nonaktifkan" oleh Pemkot Bogor. 

Ustadz Yazid Jawas diperbolehkan oleh ust. Arifin Ilham dengan syarat dan membuat perjanjian agar ceramahnya tidak mengandung unsur unsur perpecahan seperti yang selama ini diperbuatnya dalam setiap ceramahnya.

Ustadz Yazid Jawas(Salafy Wahabi)  menandatangani perjanjian yang isinya;

1. Tidak membahas khilafiyah
2. Menjaga ukhuwah islamiyah
3. Menghormati kelompok dan Madzhab
4. Bersedia dibubarkan apabila melanggar kesepakatan atau perjajanjian

Kita berharap semoga kedepan ustadz Yazid Jawas tidak lagi provokatif dan merasa paling benar lagi dalam setiap ceramhnya. Jika umat islam bersatu, saling menghargai perbedaan dan mahzab tentu musuh Islam akan takut dan gentar, sehingga untuk mewujudkan NKRI damai dan bersatu akan lebih mudah.
Inilah isi dari surat perjanjian Ustadz Yazid Jawas di Masjid Az-Zikra dengan Ustadz Arifin Ilham;






Yazid Jawas di Masjid Az-Zikra Ust. Arifin Ilham " Zikir Berjamaah Tak Bid'ah lagi?"


TOKOH “SALAFI” USTAD YAZID JAWAZ TABLIGH AKBAR DI MASJID AZ-ZIKRA, SENTUL ??

Masih ingat dengan USTAD YAZID BIN ABDUL QADIR JAWAZ? Penulis buku “Mulia Dengan Manhaj Salaf”. Tokoh panutan Salafiyun Rasmiyyun Kokohiyyun...? Yang juga beredar video potongan ceramah beliau untuk menyuruh warga palestina Hijrah dengan membawakan fatwa yang di salahfahami dari Syaikh Al-Albani ? Masih ingat bukan ?

Senin, 18 Desember 2017

Menag Lukman Hakim Saifudin " Tidak Ada Agama yang Mentolerir LGBT "


Yogyakarta (Kemenag)-- Viral di media sosial bahwa Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin memberikan apresiasi atas adanya event pemberian penghargaan kepada LGBT. Menag membantah keras penilaian tersebut.

Menag menegaskan bahwa apa yang telah ia sampaikan sebelumnya, bukan berarti ia menyetujui tindakan LGBT. "Tidak ada agama yang mentolerir tindakan LGBT," tegas Menag usai membuka Gebyar Kerukunan dan Launching E-Government di Yogyakarta, Senin (18/12).

Menurutnya, semua agama tidak menyetujui tindakan atau perilaku LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Penolakan terhadap LGBT bahkan sudah menjadi kesepakatan bersama dalam hukum positif kita dan tidak ada keraguan lagi.

"Persoalannya adalah bagaimana kita menyikapi mereka-mereka yang memiliki orientasi seksual seperti itu, menyenangi sesama jenis misalnya atau memiliki orientasi seksual yang biseksual atau tergolong transgender," ujar Menag Lukman.

Menag menjelaskan, di tengah-tengah masyarakat, muncul beragam pandangan mengenai latar belakang penyebab terjadinya LGBT. Keragaman pandangan ini tidak hanya terjadi di kalangan pemuka agama, tapi juga para akademisi, para ahli baik ahli kejiwaan, kesehatan, maupun ahli sosial.

Menurutnya, ada yang mengatakan bahwa itu terjadi karena penyimpangan, karena masalah sosial, oleh karenanya dianggap perilaku menyimpang. Ada juga yang mengatakan bahwa ini kutukan Tuhan. Tapi, ada juga yang mengatakan itu sebagai takdir.

Meski demikian, Menag mengatakan bahwa masing-masing pandangan harus dihargai dan dihormati. "Yang penting adalah bahwa kita tidak mentolerir tindakan seperti itu. Itu tindakan yang semua agama tidak mengakuinya," tegasnya lagi.

Bahkan, lanjut Menag, norma hukum positif di Indonesia pun tidak melegalkan LGBT. Undang-Undang Perkawinan menyatakan bahwa sahnya perkawinan jika dilakukan oleh mereka yang berbeda jenis kelamin menurut ajaran agama.

"Tinggal cara kita adalah bagaimana agar mereka yang melakukan tindakan perilaku tersebut, terlepas apa pun penyebabnya, bisa kembali kepada ajaran agama," imbau Menag.

"Menurut hemat saya, mereka harus dirangkul dan diayomi, bukan justru dijauhi dan dikucilkan. Justru kewajiban kita para penganut agama, bahwa agama itu adalah mengajak. Kalau kita menganggap hal tersebut adalah tindakan yang sesat, maka kewajiban kita untuk mengajak kembali mereka ke jalan yang benar," tandasnya.

Sumber: https://kemenag.go.id/berita/read/506467/menag-tidak-mendukung-lgbt

Heboh: Ustadz Wahabi Yazid Jawas Tausiyah di Masjid Az-Zikra Ust. Arifin Ilham


Aksi Bela Palestina - Yahudi Bangsa Penakut dan Hidup Dalam Kegelisahan ( True Story )

aksi bela palestina

Perjalanan kedua kami ke Palestina, kami menginap di kawasan Yahudi , bukan di Kawasan Muslim. Hotel yang kami tinggali pun kebanyakan di huni oleh wisatawan Yahudi dan Nasrani. Resikonya... Memang jauh dari masjidil Aqsa, jika naik Taxi, setidaknya kami harus membayar 15 USD, atau sekitar 200ribu rupiah-an. Namun harga yg pantas untuk bisa merasakan "KEREN"nya menjadi seorang muslim.

Keren, karena bisa melihat bagaimana PENAKUTnya para penjajah itu.

Tiap masuk Lift, dan berpapasan dengan orang orang Yahudi (dengan ciri khas topi kecil dan cambang curly nya) , aku ( yg sepertinya satu satunya yang berjilbab di hotel itu)..
bisa melihat bagaimana orang Yahudi selalu menghindariku.. tAkut!
Bahkan pernah seorang anak Yahudi lari terbirit birit ketika pintu Lift terbuka, dan ada kami di dalamnya , mungkin dia sudah di doktrin.. jika ada wanita berjilbab... larilah nak!

Saat naik Taxi pun, baru sekali kami naik Taxi milik Yahudi, itupun, sebelum kami naik, mas supir menghubungi kantor polisi setempat, dan membuat GPS nya terkoneksi dengan petugas... sampai kami tiba di lokasi Masjid.

" Aku hanya ingin memastikan bahwa aku mengantar kalian ketempat yang benar.. ". Dalihnya ketika kutanya mengapa harus menghubungi petugas.

Lucunya, dia memberhentikan kami bukan di pintu utama Kota Tua, lokasi dimana Masjidil Aqsa berada.

" Kami tidak berani melewati Gerbang Herodes, karena itu kampung Arab ".

Dengan wajah pucat ia bersikeras menurunkan kami di tempat yang jauh dari gerbang terdekat, yaitu gerbang Herodes di kampung arab (muslim)

Di lain kesempatan...
Suatu sore.. beberapa tentara Israel berlarian ke arah pintu masuk, saat kami hendak meninggalkan Kota Tua.

Aku sempat was was juga.. karena kami akan melewati Gerbang Damascus itu, gerbang dimana Polisi Israel paling sering melakukan penembakan karena panik..

Bahkan pernah kejadian, seorang gadis kecil 10 tahun menodongkan garpu, dan langsung diberondong puluhan peluru...
Demi anak kecil dengan garpu !
Betapa paranoidnya!

Ada apakah di Gerbang Damascus sehingga polisi Israel tampak berkumpul dengan wajah gelisah sore itu. Ternyata... terjawab sudah.

Serombongan pria berbadan tegap dengan bendera Turki dan bendara palestina masuk dengan santai, kalem namun penuh percaya diri.

Aha..

Mereka takut...

Mereka ingin show off..

Badan kurus kecil ringkih para polisi israel yang kebanyakan hanya sekelompok anak muda yang sedang "magang" alias wajib militer..

Tentu saja akan keder dengan keren kerennya Orang Turki yang memang terkenal dengan tatapan dingin dengan Jas gelapnya....🤣🤣 mungkin jg takut karena film KING of Turkey Valley of the Wolves

Begitulah Yahudi kawan...

Mereka hanyalah sekelompok penjajah yang menang di OTAK dan UANG.. namun kelebihan itu tak membuat mereka mengagumkan...

Hidup mereka gelisah... penuh ketakutan...

Jadi, salah satu alasan kita BERKUMPUL dan MENUNJUKKAN KEKUATAN kita untuk #MembelaPalestina hari ini..adalah untuk mengetarkan hati mereka..

Untuk membangunkan jiwa jiwa pecundang dalam darah para penjajah seperti mereka..

Kamu muslim?
Dan tak sepakat?

Hanya kuminta satu hal...

Diam saja ya!

Kuhargai jika kamu mendoakan..

Jikapun menurutmu kami yg TURUN KE JALAN ini tidak syarí dan berbuat salah...

Doakan kami ya!

Karena memang kami selalu selalu salah, dan kamu benar!

Doakan kami,
Sebagaimana kamu selalu mendoakan ulil amri..

Kecuph dari jauh

By: Michael Wibowo

Minggu, 17 Desember 2017

Nasehat Serba Empat dari Imam Syafi'i Dalam Kitab Adabus Syar'iyyah


SERBA EMPAT DARI IMAM SYAFI'I RA

Dinukil dari kitab Adabus Syar'iyyah Syaich Muhammad bin Muflih al Muqoddasi

وَقَالَ الشَّافِعِيُّ : أَرْبَعَةٌ تُقَوِّي الْبَدَنَ ، أَكْلُ اللَّحْمِ ، وَشَمُّ الطِّيبِ ، وَكَثْرَةُ الْغُسْلِ مِنْ غَيْرِ جِمَاعٍ ، وَلُبْسُ الْكَتَّانِ .

Empat perkara bisa menguatkan badan:
1. makan daging.
2. mencium wewangian.
3. memperbanyak mandi tanpa jima'.
4. memakai pakaian dari katun.

وَأَرْبَعَةٌ تُوهِنُ الْبَدَنَ : كَثْرَةُ الْجِمَاعِ وَكَثْرَةُ الْهَمِّ ، وَكَثْرَةُ شُرْبِ الْمَاءِ عَلَى الرِّيقِ وَكَثْرَةُ أَكْلِ الْحَامِضِ ،

Empat perkara bisa melemahkan badan :
1. banyak jima'.
2. banyak bersedih.
3. banyak minum air pada ludah
4. banyak makan yang rasanya kecut.

وَأَرْبَعَةٌ تُقَوِّي الْبَصَرَ : الْجُلُوسُ حِيَالَ الْكَعْبَةِ ، وَالْكُحْلُ عِنْدَ النَّوْمِ ، وَالنَّظَرُ إلَى الْخُضْرَةِ وَتَنْظِيفُ الْمَجْلِس

Empat perkara bisa menguatkan pandangan:
1. duduk disekitar ka‘bah
2. bercelak ketika akan tidur.
3. melihat hijau-hujauan.
4. membersihkan tempat duduk.

وَأَرْبَعَةٌ تُوهِنُ الْبَصَرَ : النَّظَرُ إلَى الْقَذَرِ وَإِلَى الْمَصْلُوبِ وَإِلَى فَرْجِ الْمَرْأَةِ وَالْقُعُودُ مُسْتَدْبِرَ الْقِبْلَةِ ،

Empat perkara bisa melemahkan pandangan :
1. melihat kotoran.
2. melihat salib.
3. melihat farjinya perempuan.
4. duduk membelakangi qiblat.

وَأَرْبَعَةٌ تَزِيدُ فِي الْعَقْلِ : تَرْكُ الْفُضُولِ مِنْ الْكَلَامِ ، وَالسِّوَاكُ ، وَمُجَالَسَةُ الصَّالِحِينَ ، وَمُجَالَسَةُ الْعُلَمَاءِ .

Empat perkara bisa menambah ‘aqal :
1. meninggalkan banyak omong.
2. bersiwak.
3. berkumpul dgn orang-orang sholih.
4. berkumpul dengan ‘ulama’

Wallohu a’lam semoga bermanfaat.

Oleh: Sayyid Syarif ( FB )

Jumat, 15 Desember 2017

Ustadz Abdul Somad dan Sosmed, Tak Perlu ke Riau Untuk Mendengarkan Ceramahnya


SOMAD DAN SOSMED

Oleh: Tb Ardi Januar

Pepatah lawas berkata, setiap zaman ada orangnya dan setiap orang ada zamannya. Begitu juga dalam dunia syiar agama. Meski zaman sudah berbeda, selalu saja ada nama ulama terkemuka yang muncul dalam lini kehidupan kita. Abdul Somad salah satunya.

Ya, nama Abdul Somad belakangan ini begitu sering menghiasi mata dan singgah di telinga kita. Ceramahnya selalu meramaikan dunia maya, kajiannya kerap menjadi obrolan di dunia nyata. Buka Youtube ada dia, buka Facebook ada dia, buka grup Whatsapp ada dia juga. Siapa sangka, lelaki berusia 40 tahun ini menjadi idola baru lintas usia.

Kerempeng tubuhnya, menggelegar suaranya, ringan tapi berbobot isi ceramahnya, luas referensi ilmunya dan sesekali dia selipkan bumbu jenaka. Itulah kesan hampir semua orang kepada lelaki yang bernama asli Abdul Somad Batubara.

Saya berusaha mencari tahu latar belakang dia. Baru menulis kata “Ustadz” di Google, langsung muncul secara otomatis sejumlah kata. Pertama “Ustadz Abdul Somad”, kedua “Ustadz Abdul Somad Terbaru”, dan yang ketiga “Ustadz Somad”. Selebihnya baru nama-nama ustadz lainnya. Luar bisa, dia saat ini menjadi pendakwah yang paling banyak dicari warga di dunia maya.

Bagi saya fenomena Abdul Somad melahirkan dua rasa. Rasa bahagia sekaligus berduka. Bahagia karena ternyata banyak sekali warga net yang ingin mendalami ajaran agama. Berduka karena dari sekian banyak pemuka agama di Indonesia yang luas ilmunya belum mendapat kadar ketenaran yang sama seperti dia.

Dalam tulisan ini saya tidak mau mengulas atau mendebat tentang ajaran yang disampaikannya, apa alirannya, ataupun apa mazhabnya. Terlalu berat bagi saya. Saya mah apa atuh, Juz Amma saja banyak yang lupa. Yang menarik bagi saya adalah metode dakwahnya yang modern dan berbeda. Suka tidak suka, di era digitalisasi perbedaan dan keunikan menjadi semacam syarat agar bisa dilirik banyak mata.

Abdul Somad begitu massif menyebarkan isi ceramahnya ke dunia maya. Dari mimbar ke mimbar dia sampaikan dengan beragam tema. Dia seperti sadar masyarakat modern tak punya banyak waktu untuk belajar agama. Faktor sibuk bekerja adalah alasan klasik yang menjadi salah satu penyebabnya. Somad pun menjemput bola dan menyapa warga via sosial media. Ceramahnya bisa didengar kapan saja kita suka. Saat hendak memejamkan mata atau saat bermacet ria di jalan raya.

Tak perlu pergi ke Riau untuk mendengar paparannya. Tak perlu juga mengadakan tabligh akbar untuk menyimak tausiyahnya. Cukup membuka internet saja, dan sederet tema pun sudah tersedia. Mulai dari tema etika, riba, hingga persoalan rumah tangga ada di sana.

Selain itu, gaya Abdul Somad berceramah juga sedikit berbeda. Dia tidak monolog dan kerap membuka dialog. Dia sadar banyak jamaah yang ingin bertanya dan memiliki persoalan berbeda-beda. Dia menjawab sebisanya tentu harus dengan referensi Kitab Suci atau Hadits Nabi.

Tulisan ini tidak bermaksud mempromosikan. Saya bukan orang yang rajin ke pengajian. Saya hanya ingin para pendakwah dan pemuka agama dapat lebih melek dengan zaman dan berdamai dengan perubahan. Saya ingin konten-konten internet diisi dengan hal-hal kebaikan dan mencerdaskan.

Sebuah penelitian menyebutkan Indonesia menjadi negara yang warganya banyak mengakses situs dewasa. Begitu banyak tindakan kejahatan dan kekerasan yang bersumber dari sana. Sosial media dihantui banyak konten berbahaya. Dan salah satu betuk perlawanan terhadap konten negatif adalah memperbanyak konten positif di dunia maya.

Para mubaligh zaman now perlu mengubah cara berdakwah dan menyampaikan pesan. Jangan hanya menunggu undangan panggilan, tetapi juga harus bisa manfaatkan kecanggihan zaman. Semakin banyak pemuka agama yang syiar di dunia maya, semakin baik pula pembentukan norma bagi generasi muda. Abdul Somad mungkin tidak sempurna. Mari kita ambil sisi positifnya.

Sekian...

Kamis, 14 Desember 2017

Video Ustadz Abdul Somad di Youtube Akan Dihapus Oleh Google?

video uas akan dihapus google

Google Polling Indonesia

Semakin banyaknya laporan yang mengatakan bahwa video di youtube yang berisi tayangan Ustad Abdul Somad, telah melanggar aturan (salah satunya berisi muatan kebencian).

Oleh karena itu, kami melaksanakan polling ini untuk mengetahui respon audiense di Indonesia.

Cek di: http://www.googlepolling.gdn/2017/12/video-ustad-abdul-somad-akan-dihapus.html

Mari kita bantu jangan sampai kebenaran kalah oleh kezhaliman. Jika semua video Ustadz Abdul Somad di hapus dari internet, Youtube maupun media sosial berarti kegelapan akan menang, kaum intoleransi akan bertepuk tangan, jangan sampai ini terjadi.

Mari kaum muslimin kita pertahankan ulama kita #savevidoeUAS dari serangan kaum liberal, komunis, talafi dan perusak kerukunan umat lainnya.

Penampakan polling yang setuju dari kaum munafik, cebong liberal dll. Dan yang tak setuju pasti dari kaum muslimin dan pembela kebenaran. Mainkan jemari dan mouse anda sebelum polling berakhir 20 Desember 2017!

Baca: SKYLIVE TV Chanel Tivi Yang Tayang Video Ceramah Ustadz Abdul Somad Setiap Hari


Tragedi Abu Janda Ustadz Yang Dibuang Oleh Banser NU Setelah ILC 212


Setelah ditunggu cukup lama, akhirnya Abu Janda Al-Boliwudi muncul di forum terbuka. Kehadirannya di sebuah acara debat di salah satu stasiun televisi swasta menjawab banyak pertanyaan yang meliputi sosoknya di dunia maya yang sangat kontroversial. Sebagian besar orang sampai pada kesimpulan yang sama, yaitu bahwa citra intelektual yang telah dibangun selama ini oleh Abu Janda sama palsunya dengan nama yang ia gunakan.

Di dunia maya, Abu Janda dikenal karena penampilannya yang nyentrik, cengengesan dan terkesan meremehkan orang lain. Para ulama dikritiknya, ajaran Islam yang sudah mapan diobrak-abriknya, dan ia melakukannya dengan cara yang (diniatkan) lucu. Bahkan ia pernah merekam video di Masjidil Haram, dan kemudian selalu mengaitkan dirinya dengan Banser NU, bahkan belakangan tidak pernah lupa mengenakan jaket resminya.

Betapa pun Abu Janda hendak mengidentikkan dirinya dengan NU, namun imej itu runtuh begitu saja ketika ia mengatakan bahwa otoritas hadits diragukan, sebab (menurutnya) hadits baru dibukukan 200 tahun setelah Rasulullah saw wafat. Tentu saja NU, yang dibangun oleh para ulama dan berbasis pesantren, tidak mungkin menerima pernyataan Abu Janda yang menafikan otoritas hadits. Kalau hadits tidak bisa diyakini kebenarannya, lalu buat apa para kyai dan santri bergelut dengannya setiap hari?

Seandainya Hadhratus Syaikh Kyai Hasyim Asy’ari masih hidup, tentu ia akan tersinggung mendengar orang yang mengaku-ngaku NU meragukan otoritas hadits. Sebab, Kyai Hasyim sendiri adalah seorang ulama yang memiliki spesialisasi dalam bidang hadits, di antara ilmu-ilmu lainnya yang beliau kuasai. Dari sekian banyak gurunya, beliau menerima ijazah untuk mengajar Kitab Shahih Bukhari dari Syaikh Muhammad Mahfudz at-Tarmasi, ulama asli Indonesia yang secara khusus mengajar kitab tersebut di Mekkah.

Apa yang dikatakan oleh Abu Janda sendiri, yaitu bahwa hadits baru dibukukan 200 tahun setelah Rasulullah saw wafat, bukan pemikiran baru, apalagi orisinil. Opini itu adalah delusi yang dipertahankan oleh kaum orientalis sejak lama. Disebut delusi, sebab pandangan ini telah habis dibantah oleh Prof. Dr. Muhammad Musthafa al-A’zhami dalam disertasinya yang telah beredar di tanah air dengan judul Hadis Nabawi dan Sejarah Kodifikasinya. Menariknya, disertasi ini dibuat di Universitas Cambridge dan isinya membantah dua orientalis terkemuka, yaitu Ignaz Goldziher dan Joseph Schacht. Sampai sekarang, disertasi ini belum ada yang mampu membantahnya. Akan tetapi, kalangan liberalis di tanah air, seperti Abu Janda juga, masih dengan fanatiknya mempertahankan keyakinan yang sama.

Melengkapi segala kekonyolan yang telah diperbuatnya, Abu Janda kemudian menyatakan bahwa dirinya bukan ustadz, meskipun seluruh dunia tahu bahwa ia sendiri yang menyebut dirinya sebagai ‘Ustad Abu Janda Al-Boliwudi’. Sebagian merasa tidak heran, karena sejak lama meyakini bahwa ia bukan ustadz betulan, sebagian masih mempertahankan delusinya (disebut delusi, tentu saja, karena merupakan keyakinan yang irasional), dan tidak sedikit yang kecewa.

Untuk melengkapi semua kekonyolan ini, bagaikan menumpahkan cuka di atas luka, ramai-ramailah orang berlepas tangan dari Abu Janda. Dalam akun Facebook-nya, Yaqut Cholil Qoumas, Ketua Umum GP Ansor, menyatakan bahwa Abu Janda hadir dalam acara debat mewakili pribadi, bukan mewakili Banser, dan bahwa Abu Janda hanya mengikuti pendidikan kader yang paling dasar sebagai syarat keanggotaan di Banser. Akun Twitter @ridlwanjogja, yang dikenal sangat vokal dalam urusan politik sejak Pilpres 2014, seolah berteriak getir:

Gimana kalau abujanda, denisiregar dkk itu deklarasi saja mendukung capres selain Jokowi. Habis itu, ngetwit apa aja, monggo. Gimana?

Apa yang terjadi bukan hanya tragedi untuk Abu Janda seorang, melainkan tragedi yang terjadi pada umat dan bangsa ini. Manusia memang pelupa, namun kita hidup bersama untuk saling mengingatkan, sehingga yang lupa bisa diingatkan oleh mereka yang tidak lupa. Sayangnya, apa yang terjadi pada masyarakat Indonesia nyaris bisa disebut sebagai ‘lupa berjamaah’.

Umat Muslim di negeri ini telah lupa dengan kebesarannya sendiri, sehingga kita meributkan masalah-masalah yang ‘telah selesai’. Apa yang sudah diterima sebagai sebuah khilaf di kalangan ulama hendak dipaksakan untuk sepakat, sedangkan yang sudah jelas-jelas ijma’ malah hendak didiskusikan ulang. Umat disibukkan dengan perdebatan yang itu-itu lagi, mulai dari status doa Qunut dalam Salat Subuh hingga urusan panjang celana. Sementara itu, kalangan intelektual palsu sibuk mencari-cari dalil untuk membenarkan homoseksualitas. Sementara itu, para oknum di perguruan-perguruan tinggi Islam seolah berusaha mencari sensasi dengan mengkaji hal-hal yang merusak; di Surabaya mereka berseru, “Tuhan membusuk!”, di Medan mereka menggelar seminar “Jejak Pelacur Arab dalam Seni Baca Al-Qur’an”, dan di Semarang sejak jauh-jauh hari mereka telah menerbitkan Jurnal Justisia yang salah satu edisinya diberi judul sangat fantastis: “Indahnya Kawin Sesama Jenis”! Umat yang kebingungan kini menjadi korban di tengah-tengah pertengkaran sengit yang memperdebatkan apakah bumi itu bulat atau datar.

Bangsa ini sudah lupa dengan kegemilangan para ulama masa lampau. Tak banyak lagi yang mengenang Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Imam Masjidil Haram asal Bukittinggi, atau mempelajari secara serius warisan ilmu dari Syaikh Nawawi al-Bantani, yang dijuluki Sayyidul ’Ulama (ulama terbesar) di Hijaz pada masanya. Banyak yang lupa bahwa KH. Ahmad Dahlan dan KH. Hasyim Asy’ari itu bersahabat lekat, bahkan berguru kepada tokoh-tokoh yang sama di dalam dan luar negeri. Banyak yang hanya kenal nama Buya Hamka, tapi asing dari pemikiran beliau, tak pernah membaca Tafsir Al-Azhar, apalagi mengetahui sosok ayahnya yang juga ulama besar, yaitu Syaikh Abdul Karim Amrullah atau Haji Rasul.

Kita telah berjarak terlalu jauh dari sejarah kita sendiri, sehingga tak lagi mengenal dengan baik para ulama besar dan sumbangan pemikirannya. Mereka telah membahas hal-hal besar, namun kini kita sibuk dengan yang kecil-kecil. Terlalu lama kita tenggelam dalam perdebatan dan (sengaja atau tidak) memupuk kesombongan dan ashabiyah (fanatisme) dalam jiwa, sehingga kita lupa untuk belajar, apalagi saling belajar. Karena gengsi, kita pura-pura tidak tahu bahwa saudara kita memiliki kelebihan, sehingga kita sibuk menjelek-jelekkannya, dan tidak mengambil ilmu sedikit pun darinya.

Sudah terlalu lama kita melupakan para ulama besar karena menyibukkan diri dengan hal-hal yang tak penting. Dan kini, kita disibukkan oleh yang sekelas Abu Janda. Belumkah tiba waktunya untuk bangkit dari tempat berpijak kita yang teramat rendah ini?

wassalaamu’alaikum wr. wb.

Sumber: http://malakmalakmal.com/tragedi-abu-janda-tragedi-kita-semua/


Rabu, 13 Desember 2017

Sebutan KAFIR Lebih Baik dari NON MUSLIM, Pilih Mana?- KH. Tengku Zulkarnain


Kontroversi kata KAFIR yang dipermasalahkan oleh sebagian orang yang tak paham dan tak mau belajar dijelaskan secara gamblang dan tepat oleh KH. Tengku Zulkarnain Wakasekjen MUI. Mereka ngotot bahwa kata kafir  itu sangat menyakitkan, kasar dan termasuk ujaran kebencian. Hal itu benar bagi orang yang tak mau belajar dari ulama tentang tafsiran yang benar tentang kata atau sebutan kafir bagi umat diluar Islam. Kebanyakan mereka hanya terbawa perasaan ( baper ) dengan kata kafir tersebut,.

Kafir artinya menutupi, bahasa Inggrisnya Cover yang maksudnya adalah menutupi. Jadi Kafir dalam Islam artinya menutupi hidayah, menutupi hadirnya Muhammad SAW, menutup diri dari Islam, dari kalimat Lailahaillalah. Sebutan Kafir bagi umat diluar Islam sudah sangat cocok karena mereka tidak menerima Islam dan menutup diri dari Ajaran yang dibawa oleh nabi Muhammad. Ini adalah biasa dan tidak akan menimbulkan gesekan dengan umat lain, sebab umat agama lain juga punya istilah atau sebutan bagi umat diluar agama mereka yang tak mengakui keyakinan agama yang mereka anut.

Istilah non muslim jauh lebih kasar dan bernada negatif. Non artinya tidak, muslim artinya selamat atau golongan yang selamat. Jika digabung non muslim artinya tidak selamat atau golongan yang CELAKA! Nah, jika ada ada orang atau kelompok tertentu yang lebih suka, adem ayem dengan sebutan non muslim daripada kafir sudah bisa dipastikan dia itu orang yang gagal paham, tak mengerti dengan kata yang di sukainya ( non muslim )

Islam adalah agama rahmatanlilalamin, rahmat bagi keseluruhan alam baik yang menerimanya atau yang tidak menerimanya. Kami umat Islam ingin menghargai umat diluar keyakinan kami dengan sebutan kafir karena itu sudah toleransi dan sesuai dengan kitab suci kami. Kami tidak menggunakan istilah non muslim karena bagi mereka yang mengetahui artinya pasti akan tersinggung dengan istilah tersebut. Selanjutnya terserah anda pilih sebutan KAFIR atau NON MUSLIM.

Penjelasan KH. Tengku Zulkarnain tentang sebutan kafir atau sebutan non muslim bagi orang diluar Islam, pilih mana?



Senin, 11 Desember 2017

Persekusi Ustadz Abdul Somad dan Persekusi dr Fiera Lovita Dimata Hukum Jaman Now

persekusi ustadz abdul somad lc

Terilhami oleh Cuitan KH. Tengku Zulkarnain.

Doeloe, di Solok Sumatera Barat ada seorang dokter yang menyebarkan ujaran kebencian, kemudian didatangi warga untuk minta klarifikasi atau penjelasan dan berakhir dengan maaf, dan si dokter malang tersebut mengakui kesalahannya. Tapi sesampainya di Jakarta masalah yang sudah selesai tersebut ajaib langsung berubah menjadi PERSEKUSI. Dan wow, berita tersebut digoreng sedemikian rupa oleh cebongers dan ahokers, ditampung berminggu-minggu oleh Metro Tivu dan Kompor TV hingga gosong. Pihak kepolisianpun cepat tanggap bak Superman membela kebohongan dokter yang akhirnya jadi cebong beneran tersebut. Dan tersiar kabar di media internet dan medsos bahwa Kapolresta Solok diberhentikan karena berkaitannya dengan sandiwara Persekusi bohong tersebut.

Sekarang, Ada seorang ulama yang pengabdiannya kepada NKRI didaerah terpencil sudah tak diragukan lagi, seorang dosen, diundang ceramah ke Bali di demo oleh beberapa ormas preman masuk kedalam hotel sambil membawa senjata tajam, berteriak-teriak, berkata kasar, menghardik serta menuduh ulama tersebut sebagai radikal, anti NKRI, PKI, harus di cuci otaknya...Dan parahnya lagi memaksa sang ulama untuk mencium bendera merah putih, menyanyikan lagu Indonesia Raya tanpa legalitas dan otoritas. Padahal ulama tersebut Ustadz Abdul Somad tidaklah seperti yang mereka tuduhkan, lalu apakah ini bukan persekusi namanya?

Kita salut dengan kepolisian yang super tanggap dengan kisah drama persekusi dr Fiera Lovita walaupun itu hanya sandiwara, dan kita berharap untuk persekusi asli ini pihak kepolisian cepat tanggap juga seperti kasus dokter tersebut.

Cuitan KH. Tengku Zulkarnain menyinggung kisah persekusi dr. Fiera dan di bandingkan dengan kisah persekusi Ustadz Abdul Somad LC MA


Tantangan Debat Kebangsaan Untuk Laskar Bali dari Intelektual Riau DR. Moris Adidi Yogia














Laskar Bali GANASPATI dan ormas Hindu Bali lainnya yang merasa lebih NKRI dari Ustadz Abdul Somad serta menuduh UAS sebagai anti Pancasila di tantang debat terbuka bertemakan kebangsaan dari seorang akademisi Riau DR. Moris Adidi Yogia. Gerombolan nasi bungkus tersebut telah menuduh UAS sebagai radikal dan pemecah belah persatuan, dan lebih parahnya lagi malakukan pemaksaan kehendak kepada UAS hingga Ustadz Somad merasa didikte dan di persekusi oleh Ormas Hindu Bali yang tak punya legalitas tersebut.

Tantangan ini tentu bermula dari aksi persekusi Laskar Bali dan ormas nasi bungkus lainnya terhadap Ustadz Abdul Somad di Hotel Aston Denpasar hingga ada seseorang yang mencabut pisau dan berteriak kasar memaki-maki UAS. Hal ini yang " Mengilhami " seorang intelektual Riau untuk mengajak tokoh Hindu Bali tersebut untuk dialog kebangsaan di Riau.

Undangan DR. Moris Adidi Yogia kepada tokoh Hindu Bali tertutama kepada I Ketut Ismaya sebagai Sekjen Laskar Bali untuk dialog kebangsaan, beranikah mereka menjawab tantangan ini;




Laskar Bali Mulai Ngeles Setelah Kebrutalan Mereka Viral Hingga Malaysia


Laskar Bali mulai ngeles setelah perlakuan tidak senonoh mereka viral dan menuai kecaman dari LAM ( lembaga Adat Melayu ). Serta selentingan kabar yang bersilewaran di sosmed tentang Persekusi Ustadz Abdul Somad di Bali telah merembet ke Malaysia dan terdengar oleh ASKAR PERKASA Laskar Islam Melayu Malaysia, dan melakukan sweping terhadap penduduk Bali yang ada di Malaysia.


Shahih atau tidaknya berita dari Malaysia ini yang jelas Laskar Bali dan gengnya yang telah menodai persatuan dan toleransi di Bali serta harus bertanggung jawab terhadap kelakuan kasar mereka terhadap ulama. Laskar Bali memaksa Ustadz Abdul Somad untuk mencium bendera tapi UAS menolak, kenapa karena menurut UAS mereka tak punya LEGALITAS untuk itu, mereka ( LB ) tak punya wewenang untuk melakukan sesuatu yang bukan wilayah mereka. UAS hanya tak mau didikte oleh preman nasi bungkus ( LB ) yang tak punya hak untuk itu kata UAS setelah sampai kembali ke Pekanbaru Riau dalam keterangan persnya.

Inilah ngeles ala Laskar Bali setelah aksi persekusi mereka viral;

Salam NKRI ...!!! Saya ingin memperjelas masalah Ustad Somad agar semua tidak salah paham dan simpang siur berita yg di buat semakin panas oleh orang orang yg ingin menghancurkan NKRI dengan mengatas namakan AGAMA.

Saya Agama Hindu dan Mertua saya Muslim dan kakek buyut istri sy seorang KYAI HJ jadi sy sangat menghormati Agama Istri saya juga agama lainya yg ada di Indonesia , kejadian kemarin di HOTEL ASTON saya kesana bukan untuk Sweeping tapi mencari USTADZ SOMAD untuk ikut berdialog serta menanyakan apa maksud Pak Ustadz tidak mau mencium BENDERA MERAH PUTIH, karna tidak ketemu saya keliling jadinya mencari sambil berteriak orang yang tidak NKRI usir dari BALI kami tidak mau diadu domba, oleh USTADZ yang Kotbahnya mengacu ke Radikaliseme .. dan perlu sy pertegas kami tidak ada yg membawa senjata tajam seperti gambar yg viral di medsos yang dibawa anggota sy adalah Tongkat Komando saya berkepala SEMAR , dan yg menolak ada juga dari NU , Banser malah mengatakan sama sy harus di usir dari Bali jadi bukan umat Hindu saja Muslim juga ada yang dari Jawa juga ada mengatakan menolak dan mengusir Ustadznya, cuman sy tidak mau terpropokasi sebelum ketemu dan mendengar sendiri dari Ustadzny.
Setelah saya dipertemukan dengan Ustadz Somad dan beliau mengatakan NKRI serta mau mencium BENDERA MERAH PUTIH, saya terharu dan bangga dan penyampaian saya pada saat itu di salah satu ruangan Hotel Aston dengan saksi saksi :
1. Bapak Kapolresta Denpasar dengan jajarannya.
2. Bapak Dandim Badung dengan jajarannya.
3. Ustad Somad dengan Panitia Penyelenggara.
4. Ormas saya LASKAR BALI & perwakilan.
5. Muslim juga ada NU Banser yg menolak
6. Aliansi Peduli Bali tergabung ormas lainnya.

Pak Ustad kami bukan benci Agama Islam, yang kami dengar Ustadz bukan NKRI dengan tidak mau mencium bendera merah putih dan dakwah Ustadz memecah belah NKRI , karna itu sy datang kesini... dan kalau Ustadz sudah NKRI saya yg menjamin Ustadz bisa berdakwah dan aman di Bali, kalau ada yg berani menggangu Ustadz biar saya yg di hadapi . karna kami umat hindu di bali jumlahnya sedikit makanya dengan adanya umat agama lain di bali kami sangat senang karna keluarga kami bertambah jadi kami meminta pada Ustadz jaga kami satukan kami jangan dipecah belah itu penyampaian saya saat itu dan apa yg saya katakan bisa saya pertanggung jawabkan kepada hukum dan Tuhan sy apabila sy mengada-ada cerita ini . Setelah itu sy dengan Ustadz berpelukan Ustadz baru paham kenapa Bali marah, jadi mohon saudara kami umat muslim tidak ada maksud sy untuk mengusir tamu yg datang ke bali apa lg beliau seorang Ustadz ..

Demikian yang dapat saya sampaikan dan mohon maaf kepada Umat Muslim kalau ada saya salah dan penyampaian saya salah karna sy manusia biasa tidak sempurna tapi hati dan niat sy mulia ingin menjaga NKRI dan BALI tidak ada Niat untuk melecehkan Agama lain apalagi MUSLIM Agama terbesar dan terhebat di Indonesia. Kalau sy pencitraan Tuhan saya Ida Shang Hyang Widhi Wasa akan tau itu dan pastinya saya akan di hukum oleh beliau.

Jadi mulai hari ini saya minta jangan ada yg saling menghujat dan menghina, kita rakyat Indonesia Harus bersatu .. begitu juga bagi keluarga besar saya LASKAR BALI dan nyaman tiang semeton Bali.
Salam hormat kami sekeluarga .. terima kasih.

Ttd,

Ketut Ismaya
Sekjen LB.

Ini ada Poster yang kami bawa paginya sebelum Ustadz datang bisa dibaca.

Baca:
Persekusi Ustadz Abdul Somad dan Persekusi dr Fiera Lovita Dimata Hukum Jaman Now




Minggu, 10 Desember 2017

Tarekat Menurut Habib Lutfi bin Yahya, Thariqah dan Syariat Tidak Bisa Dipisahkan


Ma’rifat adalah “mengerti dan mengenal”. Mengerti belum tentu mengenal, tapi kalau mengenal sudah pasti mengerti. Jadi ma’rifat di sini adalah mengenal Allah Swt, seperti halnya kita mengetahui sifat-sifatNya, baik yang wajib, mustahil dan jaiz. Tapi pengenalan itu baru pondasi. Untuk mengenal lebih jauh kita harus sering-sering mendekati Allah Swt. agar Allah juga mendekat dengan kita.

Jumat, 08 Desember 2017

Cebong Bali Tolak Ustadz Abdul Somad Tapi Dirangkul KODAM IX Udayana Denpasar


" Bali " Menolak Ustadz Abdul Somad LC MA?

Apakah benar beliau seorang ustadz yang anti NKRI, anti kebhinnekaan, intoleran? sehingga ada segelintir cebong Bali yang menolak kedatangan UAS dengan alasan bodoh yaitu karena mengkafir-kafirkan orang diluar islam. Orang diluar islam  memang kafir, kalau tak mau disebut kafir masuk islam!
Alasan konyol lainnya yang diusung oleh kelompok intoleran Bali yang menolak Ustadz Somad tersebut adalah karena UAS mengusung ideologi Khalifah ala HTI. Artinya mereka tak pernah lihat video UAS di youtube, tak pernah mengikuti kajian UAS yang sekalipun tak pernah mengatakan ingin mengganti Pancasila sebagai ideologi negara.

KODAM IX Udayana kok mengundang ustadz yang intoleran dan anti Pancasila?

Jika tuduhan segelintir cebong Bali benar bahwa UAS adalah anti khebinnekaan, pengusung Khalifah ala HTI lalu mengapa TNI sebagai garda terdepan penjaga Pancasila malah memback-up UAS dan mengundang beliau untuk mengisi pengajian di mesjid Agung Sudirman komplek KODAM IX Udayana?

Ada apa ini, apakah TNI sudah anti NKRI, anti kebhinnekaan sehingga tega-teganya ngundang ustadz intoleran dan pengusung khalifah? Atau para pendemo di Hotel Aston Denpasar Bali tersebut yang tak paham arti kebhinnekaan sehingga menolak Ustadz jebolan Daarul Hadits Maroko tersebut,  dengan alasan lucu dan tak masuk akal. Atau mereka dibayar oleh kelompok atau ormas tertentu sehingga akal sehat mereka hilang.

Para perusak persatuan, kaum intoleran yang sesungguhya adalah merka yang demo didepan Hotel Aston Denpasar. Tak punya nalar sehatkah mereka? Jika ustadz Abdul Somad adalah Anti NKRI anti Pancasila tentu TNI-lah yang pertama sekali yang akan menolak kedatang UAS di Bali. Jadi kesimpulannya adalah " ada udang di balik bakwan, ada rupiah di balik demo. Itulah cebong!

Surat undangan pengajian Maulid Nabi Kodam IX Udayana Denpasar Bali 2017 dengan penceramah Ustadz Abdul Somad LC MA;