Minggu, 13 Januari 2019

Tiga Tingkatan Salik dalam Perjalanan Bertasawuf Menuju Tuhan

tingkatan salik dalam bertasawuf

RUJUKAN DALAM MEMBINCANGKAN PERJALANAN RUHANI ( Part I )
Ditulis oleh: DR. Zubair Ahmad, MA

Kajian Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Bintaro, 11 Januari 2018

Sebelum membincangkan hal berkaitan dengan perjalanan spiritual, kita perlu mengenal tingkatan atau kapasitas seseorang yang menceritakan atau mengekspresikan proses-proses dalam menuju kepada Allah. Kapasitas ini menjadi dasar bagi kita untuk menjadikan pernyataan atau ekspresinya sebagai rujukan atau dasar pemahaman. Mengapa demikian? Karena, masalah spiritual ini menyangkut pengalaman rasa, bukan berdasarkan dalil atau nash yang makna dan kandungan hukumnya bisa diperdebatkan. Hal ini penting agar tidak terjebak pada penilaian dan sikap mempertentangkan di antara ungkapan para salik atau sufi. Sebenarnya, hal-hal yang berkaitan dengan pengalaman rasa dalam menuju kepada Allah tidak patut untuk didiskusikan, terutama jika dilakukan dengan melibatkan pihak atau  tarekat yang lain, kecuali hanya kepada Mursyid sendiri. Berikut tingkatan orang bertasawuf:

  1. Salik yang baru sampai pada tahap merasa dekat dengan Allah. Orang seperti ini seperti orang buta yang mengandalkan indra rasanya sehingga masih meraba-raba. Jika yang dirabanya itu terasa bulat, maka yang disangkanya itu adalah bola. Orang yang seperti ini tidak bisa ditanya atau dijadikan rujukan dalam kaitannya dengan kajian tentang masalah ketuhanan. Sebab, orang ini masih dalam proses. Apa yang dikatakannya lebih banyak berdasarkan nalar dari hasil bacaannya.
  2. Salik yang sedang berada pada zona antara perbatasan antara hati dan nurani dimana ia dilanda mabuk dalam luapan rasanya. Tahap inilah yang sangat berbahaya dan proses ini pun yang tidak dapat ditebak berapa lama waktunya, bisa sebentar, bisa lama, bahkan ada yang sampai tua atau meninggal. Dia masih dalam proses meluap-luap rasanya. Di posisi ini tidak sekadar merasa dekat, tetapi di sana bercampur rasa rindu atau cinta, tetapi belum sampai tahap menyaksikan.  Kalau orang seperti ditanya pendapatnya tentang masalah ketuhanan maka dia akan menjawab bahwa tuhan dan dirinya itu adalah satu. Ketika dikatakan padanya bahwa Tuhan dan manusia itu berbeda, maka pasti dia membantahnya karena menurut pengalamannya bahwa Tuhan dan dirinya adalah satu, tidak ada bedanya. Dia akan mengatakan, “Dia adalah aku, dan aku adalah Dia.” Orang yang berada pada tahap seperti ini pun tidak bisa kita bantah atau lawan. Keadaan seperti ini banyak terjadi pada beberapa orang yang disebut mursyid. Banyak mursyid zaman sekarang, tahapannya baru sampai di sini. Kelemahan orang yang berada pada tahapan ini, jika tidak dibimbing dengan benar maka apa yang dikatakannya itulah yang dianggapnya benar (tuhan = hamba), tidak bisa ditaklukkan. Jika seorang mursyid baru pada tahap ini, maka bahayanya adalah semua yang dikatakannya akan ditelan bulat-bulat oleh muridnya. Tahapan ini dalam sejarah pernah dialami oleh al-Hallaj atau Syekh Siti Jenar. Makanya, Syekh Siti Jenar tidak pernah masuk dalam lingkup Wali Songo. Kita jangan salah paham dan menganggap Sunan Kalijaga atau para Wali Songo lainnya lebih rendah maqamnya daripada Syekh Siti Jenar! Padahal, yang benar adalah sebaliknya.  Mana yang lebih tinggi derajatnya antara al-Hallaj atau Syekh Abdul Qadil Jaelani? Tentu, yang lebih tinggi adalah Syekh Abdul Qadil Jaelani meskipun al-Hallaj dalam kisanya memiliki ungkapan yang menggambarkan dirinya telah menyatu dengan Allah, bahkan menyebut dirinya sebagai al-Haqq.
  3. Tingkatan seseorang yang telah sampai pada tahap penyaksian.  Tanda seseorang yang telah menyaksikan Allah, adalah dapat mengurai perbedaan antara benda dan bayangannya, mampu membedakan mana “AKU”nya tuhan dan mana “aku”nya hamba.  Dia akan kembali kepada makna kalimat syahadat, “Aku menyaksikan tiada tuhan selain Allah, dan aku menyaksikan Muhammad adalah utusan Allah”. Dia tidak akan terlepas dari syariat dan hukum yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw.
Kelemahan banyak pihak adalah menyangka bahwa orang yang merasa dirinya menyatu dengan Tuhan atau sebagai al-Hak lebih tinggi maqamnya dibandingkan dengan orang yang dapat membedakan mana Tuhan dan mana dirinya sebagai hamba. Atau, menganggap orang yang meninggalkan syariat karena merasa sudah sangat dekat dengan Allah lebih tinggi kedudukannya dibandingkan orang yang tetap menjalankan syariat agama. Ini adalah anggapan yang keliru.

Bersambung ke (Part II):

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.