Minggu, 10 Februari 2019

Rahasia Tasawuf Rabi'ah al Adawiyah yang Tak Takut Neraka dan Tidak Ingin Surga

dimata sufi sorga dan neraka hanya permainan

TASAWUF CINTA
(Kajian Tasawuf Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani)

“Ya Ilahi... Andaikan aku beribadah kepada-Mu karna lantaran aku mengharapkan surga-Mu maka usirlah aku dan surga-Mu. Dan andaikan aku beribadah Iantaran takut akan neraka-MU maka masukkan aku kedalam neraka-MU. Namun bila aku beribadah hanya karna mengharap ridho-Mu maka dekatkan aku di sisi-Mu, “ Seuntai doa curahan hati hamba Allah Rabiah al Adawiah

Dengan kekuatan apa seorang Rabiah Adawiyah dapat mengungkapkan kata-kata yang melambangkan Neraka dan Sorga hanya gambaran sebuah permainan-Nya? Hingga tidak lagi menghiraukan panasnya Neraka maupun kemanisan Surga. Dan kenapa seorang perempuan yang lemah dapat menyentuhkan lidahnya ke dalam sanubari hati melampaui batas-batas kemampuannya sendiri. Sungguh suatu fenomena yang mengambarkan adanya suatu power terpendam kokoh dalam segumpal daging di dada manusia, yang masih banyak menyimpan Rahasia-Rahasia-Nya.

Keikhlasan di hati manusia adalah wujud kendaraan yang membawa ekstensi hamba kepada hati yang berpotensi cinta. Serta menggantikan kedudukan kewajiban sang hamba menjadi kebutuhan semata. Ibadah bukan lagi ambang kewajiban si hamba, namun sebagai wujud kebutuhan jiwa hamba terhadap Tuhannya. Iniah hakekat daripada suatu ayat Allah SWT berfirman;


وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْإِنْسَ إِلَّا لِيَعْبُدُونِ
 “Dan tak KU ciptakan jin dan manusia jikalau tidak untuk menyembah KU (Adz-Dzaariat ayat 56).

lbadah adalah kebutuhan hamba untuk menyembah Tuhannya. Tetapi sampai dimanakah sang hamba merasakan butuh terhadap ibadahnya? Karena untuk mencapai rasa butuh yang amat dalam tentunya melewati suatu hubungan yang amat akrab, yakni cinta. Sebab dengan kecintaan-lah membuat manusia tergantung dan butuh terhadap apa yang dicintainya.

Terbitnya cinta menjadikan ibadah suatu pertemuan yang penting bagi jiwa untuk berhubungan dengan Tuhan-nya otomatis terciptanya sumber-sumber keikhlasan dalam mengabdi kepada-Nya. Sesuai yang diriwayatkan Abu Hurairah bahwa Rosulallah SAW bersabda;

“Barang siapa mencintai pertemuan dengan Alah, maka Allah pun mencintai pertemuan dangan nya, dan barang siapa tidak mencintai pertemuan dengan Allah, maka Allah pun tidak mencintai pertemuan dangannya ".

Pentingnya cinta dalam diri hamba sama dengan pentinya jiwa dalam raga manusia. Apabila hati si hamba tak tersentuh, maka pengabdian dan penghambaannya hanya menjadi topeng dari pada ibadahnya. Yang kemudian ibadah hanya menjadi alasan dari pada kewajibannya semata.

Kesenangan pada kawan terletak di kasih sayang, kesenangan dan keindahan ibadah teretak pada kecintaan yang menuturkan lidah-lidah yang ikhlas menyebut kalimat-kalimat suci Tuhannya, seakan menyingkap kerinduan yang teramat lama dipendam. Dengan inilah Rabi'ah berdialog dengan Tuhannya, walaupun pernah ia dengar, namun cinta yang terhujam didadanya telah menjadi jawaban yang tak ternilai, dari pada kenikmatan di dunia ini.

Kecintaan merajut hati menjadi rindu, maka tiada hari yang dilewati tanpa ada kelezatan dalam pengabdiannya.

Jikalau hamba telah menghalau hatinya pada telaga cinta, maka ia telah memberi tarbiyah atau didikan kepada jiwanya untuk mengenal lebih jauh akan tujuan kehadirannya pada kehidupan ini, yang antara lain hanya mengabdi setulus-tulusnya pada Zat yang menciptakannya.

Kajian berikut:

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.