Minggu, 13 Januari 2019

CINTA Adalah Maqam Tertinggi dalam Tasawuf Jangan Berhenti Untuk Meraihnya

cinta adalah maqam tertinggi

RUJUKAN DALAM MEMBINCANGKAN PERJALANAN RUHANI ( Part II )
Sambungan dari: Tiga Tingkatan Salik dalam Bertasawuf Menuju Tuhan

Kajian Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Bintaro, 11 Januari 2018

Sebenarnya, maqam tertinggi dalam bertasawuf itu adalah cinta dan tidak ada di atasnya. Kalau ada orang yang sampai pada tahap fana sehingga mabuk dalam rasa dekat maka sebenarnya itu adalah tahapan atau proses untuk menemukan cinta. Kalau sudah pada tahap maqam cinta, maka seseorang akan menemukan adanya yang mencintai dan yang dicintai, ada kamu dan ada aku. Kalau tidak dapat menemukan perbedaan itu, maka tidak akan ada cinta di sana. Makanya, dari awal sudah saya (Tuangku Syeikh M. Ali Hanafiah) kunci bahwa cinta itu adalah maqam tertinggi, sehingga orang yang bertasawuf tidak boleh berhenti berusaha menuju kepada Allah sebelum ia menemukan cinta yang sebenarnya. Jika baru menemukan rasa dekat bahkan mabuk dalam perasaan menyatu dengan Tuhan, maka jangan berhenti, tetapi teruslah berjalan hingga menemukan cinta. Jika berhenti pada maqam mabuk dalam rasa dekat Allah, maka akan menemukan banyak jebakan dan godaan setan di sana.

Jangan kita terpengaruh dengan sensasi-sensasi dari syathahat seorang sufi, sebab orang itu masih berada di tengah-tengah perjalanan. Dia masih dalam proses menuju cinta kepada Allah. Sebenarnya, jika seorang salik berada pada tahapan mabuk dalam rasa dekat sehingga keluar ungkapan-ungkapan seakan menyatu dengan Tuhan, maka ia tidak boleh berada di tengah-tengah orang awam. Bahkan, jika ia adalah seorang mursyid maka tidak boleh muncul di depan murid-muridnya. Sebab, ini akan menimbulkan fitnah dalam agama, dan bisa menyesatkan murid atau orang lain yang melihatnya.

Itulah sebabnya, Allah Swt memerintahkan agar seseorang dalam berusaha kepada-Nya jangan menggunakan nafsu. Bagaimana cara menuju Allah tanpa menggunakan nafsu? Jika kita punya keinginan dekat dan cinta kepada Allah, bagaimana melakukannya jika tidak menggunakan nafsu! Padahal, nafsu itulah yang memiliki keinginan yang dapat digunakan untuk berusaha! Ini kelihatannya  sesuatu yang mustahil, sebab kehendak menuju kepada Allah itu sendiri adalah bagian dari keinginan nafsu.

Caranya adalah bermursyid, atau berguru kepada seorang mursyid. Jika seseorang sudah berguru, lalu mengamalkan apa yang diajarkan dan diperintahkan oleh Mursyid maka ia telah terlepas dari kehendak dan keinginan nafsu pada dirinya. Itulah sebabnya, (jika ingin menuju kepada Allah tanpa bernafsu) wajib kita bermursyid. Kalau kita berjalan kepada Allah tanpa bimbingan seorang Mursyid maka itu 100% menggunakan nafsu. Namun, jika bermursyid maka apa yang kita lakukan itu menjadi tanggungjawab Mursyid. Jadi, jika ada kehendak kepada Allah dan itu merupakan hasil bimbingan Mursyid maka itu bukanlah kehendak nafsu kita, tetapi merupakan kehendak Allah melalui diri seorang Mursyid. Itulah sebabnya mengapa kita wajib berguru dalam menuju kepada Allah.

Tujuan dari berguru atau bermursyid adalah menundukkan ego. Prinsipnya, “Kalau itu sudah menjadi perintah guru, maka akan saya tempuh.” Kalau disuruh masuk ke api atau ke jurang sekali pun, jika itu adalah perintah guru maka seorang murid harus menempuhnya. Sebab, itu adalah perintah guru/mursyid meskipun di dalam diri sendiri ada keinginan untuk tidak melakukannya. Itulah salah satu fungsi baiat kepada guru, sebagai pertanggungjawaban Mursyid di hadapan Allah atas apa yang dia perintahkan kepada muridnya. Semua yang dilakukan murid jika atas perintah gurunya maka akan ditanggung oleh Mursyid. Berjalan menuju kepada Allah tidak bisa tanpa perahu, kita tidak bisa berenang sendirian kepada-Nya.

Ketika seseorang telah sampai pada tahap penyaksian dimana ia menyaksikan Allah maka dia sudah pasti akan jatuh cinta kepada-Nya. Mabuknya orang yang jatuh cinta berbeda dengan orang yang mabuk karena didorong oleh rasa dekat kepada Allah.  Mabuknya orang yang jatuh cinta, dia dapat membedakan antara dirinya di satu sisi dan Kekasihnya di sisi yang lain. Namun, jika mabuk karena rasa dekat, maka dia tidak dapat membedakan antara dirinya dengan Tuhan.  Karena itu, jika baru sampai pada tahapan mabuk dalam rasa dekat maka jangan berhenti tetapi teruslah berjalan hingga menemukan cinta setelah menyaksikan-Nya. Orang yang belajar tarekat tidak boleh lagi mundur atau berhenti di tengah jalan.

Orang yang baru sampai tahap mabuk dalam rasa dekat ibarat orang yang dapat memegang hidungnya tetapi tidak bisa melihat ujung hidungnya sendiri. Jika ujung hidungnya dicoret dengan ballpoint maka ia tidak dapat melihatnya, sehingga dibutuhkan orang lain yang dapat melihat coretan itu. Yang bisa melihat coretan itulah tugasnya Mursyid.

Yang paling penting adalah memperbaiki niat dalam bertarekat. Apa tujuannya bertarekat! Niatnya harus semata mencari ridha Allah. Dari niat baik itulah Allah akan menjaga kita. Jika kita sudah memiliki niat yang baik, maka jika dalam perjalanan kita tersesat, maka Allah akan memberikan petunjuk-Nya. Jangan pula takut tersesat selagi niatnya mencari ridha Allah, sebab banyak orang yang enggan bertarekat karena takut tersesat. Kalau pun tersesat masuk dalam satu kelompok, maka pasti ada saatnya Allah akan menyelamatkan.

Sumber: http://majelisrabbani.org

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.