Minggu, 25 Februari 2018

Kisah Habib Rizieq dan Copet Dalam Bis Kota NKRI


Copet di Bis Kota

Di sebuah bus seorang copet mencoba mengambil dompet penumpang. Namun seorang lelaki rupanya melihat perbuatan itu. Ia langsung berdiri dan berteriak "copet..!!"

Tiba-tiba sebuah pukulan melayang di pipinya. Pemukul itu berteriak copet sambil memukulinya. Beberapa penumpang yang melihat itu langsung mengerubutinya.

Apes...!

Bermaksud menolong malah dituduh copet. Ia tahu bahwa pemukulnya adalah komplotan copet juga. Namun apa daya, sudah terlambat. Para penumpang terlanjur menuduhnya sebagai copet.

Itulah perumpamaan bangsa ini..!!!
Ketika aset negara di curi pelan-pelan oleh asing, seorang lelaki bernama Habib Muhammad Rizieq bin Husein Shihab bangkit dari tempat duduknya yang nyaman. Dengan lantang ia berteriak agar penumpang lain sadar dan selamat dari ulah para copet.

Namun sayang, komplotan pencopet langsung memukulinya. Para penumpang lain yang tidak mengerti pun mudah terhasut oleh komplotan copet. Bukan berterima kasih, sang habib yang malah di tuduh sebagai pencopet.

Namun sang habib bukan manusia biasa yang berhenti begitu saja. Ia terus berteriak lantang setiap hari agar penumpang lain selamat, meski resiko dan bahaya mengintai.

Ia laksana Nuh kecil yang tidak pernah kapok dihina
Ia laksana Ibrahim kecil yang gagah berani melawan penguasa
Ia laksana Daud kecil yang menantang raksasa
Ia laksana Musa kecil yang dibuang bangsa sendiri demi si asing.

Bagaimana dengan kita.?
Hanya melanjutkan rutinitas seolah tidak terjadi apa-apa..?
Tidak mau membela si pemberi tahu copet dengan kemampuan masing-masing..?
Tidak mau berdoa agar para musuh bangsa dan kafir perusak Islam di azab..?
Atau hanya sekedar membaca artikel ini tanpa mau meneruskan serta menyebarkannya kepada sahabat-sahabat yang lain..?

Bangkitlah wahai saudara...!
Kalau bukan kita yang mau menjaga keutuhan NKRI dan kemulia'an Islam saat ini, lalu siapa lagi..!
#savenkri & stop kriminalisasi ulama.

Kami umat muslim berada di barisan imam besar umat muslim nusantara, Habibana Muhammad Rizieq bin Husein Shihab

Hidup Mulia atau Mati Syahid.
Takbiiiirrr....!!!!!


Rabu, 21 Februari 2018

Syair Indah dan Kreatif yang Huruf Awalnya Nama USTADZ ABDUL SOMAD LC MA



Syair panjang Ustadz Abdul Somad Lc MA Datuk Seri Ulama Setia Negara kemaren sangat mempesona heboh dan sangat kreatif sekali. Tak disangka Ulama Riau pemersatu umat ini tak cuma handal di bidang hadits tapi bisa juga bersyair, memang begitulah orang melayu, kalau tak pandai berpantun atau bersyair berarti melayunya tak sah, begitulah kira-kira.

Untaian panjang syair sang datuk menghebohkan dunia maya, memancing para penyair lainnya. Termasuk seorang fans Ustadz Somad yang membuat balasan syair yang lebih keren dan kreatif. Fans ustadz Somad ini membuat sebuah syair yang diawali dengan huruf-huruf awalnya adalah urutan nama; U S T A D Z  A B D U L  S O M A D  L C  M A

Syair ciptaan Hendra Khoto ini sangat kreatif
mari kita simak

USTADZ ABDUL SOMAD LC MA adalah;

U lama muda dari melayu
Rendah hati tinggi ilmu
Profesi utama jadi guru
Sepatutnya digugu ditiru

S pesialisasi dalil hadist sunnah
Lulusan S2 darrul hassaniah
Selalu tegas dalam ceramah
Dikemas dalam retorika renyah

T iga poin dakwah utama
Pendidikan islam yg pertama
Ekonomi islam yang kedua
Politik islam yang ketiga

A manatnya untuk umat islam
Katakan hitam adalah hitam
Putih jangan disangka buram
Itu lah rahmat semesta alam

D ari beliau kita belajar
Beribadah dengan benar
Amar makruf nahi mungkar
Harus berjalan dengan sejajar

Z aman boleh terus berganti
Tiada suatu pun yang abadi
Ulama pun datang dan pergi
Sekarang UAS yang di hati

A lim tawadu pribadi yang taat
Kebanggaan dan dicintai umat
Penuntun jamaah ingat akhirat
Lurus di dunia akhirat selamat

B erbekal ilmu agama dalam
Mengajari umat yg masih awam
Dengan syariat agama paham
Hidup dan mati didalam islam

D akwah beliau mudah dicerna
Gampang diterima akal logika
Setiap kalimat penuh makna
Menguraikan hadist dan terjemahanya

U raian ceramah penuh hadist
Berbingkai kata yang humoris
Jamaah seolah terhipnotist
Belajar agama makin optimis

L ogat khas melayu asli
Selalu berkoko dan berpeci
Mari belajar mari mengaji
Untuk hidup yang islami

S etiap kali mengisi ceramah
Ataupun sekedar tausiah
Jamaah hadir melimpah ruah
Berharap ilmu dan barokah

O rasi beliau di atas mimbar
Dalam acara tabligh akbar
Lantang dan semangat berkobar
Sanggup membuat hati bergetar

M ateri dakwah selalu di nanti
Oleh jamaah di penjuru negeri
Baik siang malam dan pagi hari
Untuk menyirami jiwa dan rohani

A mal ibadah yang di syariatkan
Dikerjakan dengan tuntutan
Yang sesuai hadist dan Al Quran
Ceramah UAS menjabarkan

D ialah ustadz sejuta viewer
Difacebook instalgram dan twitter
Walau banyak para heather
Makin banyak pula para lover

L over UAS terus bertambah
Ditengah cibiran dan fitnah
Semoga beliau tetap tabah
Disetiap waktu istiqomah

C acian tak membuatnya tumbang
Sanjungan tak membuatnya melayang
Jamaah terus bertambah sayang
Sepanjang waktu terus terkenang

M ari kita jaga para ulama
Dari fitnah yg merajalela
Beliau penerus para anbiya
Dai sang pejuang aswaja

A kankah kita biar beliau sendiri
Di boikot di persekusi
Di ancam di intimidasi
Yang menjurus kriminalisasi


Selasa, 20 Februari 2018

Ponpes Muhammadiyah di Teror, Syafi'i Maarif Diam Saja Tanpa Aksi


Aneh, Aksi Pak Tuo Syafii Maarif kemaren yang cepat tanggap bak super hero melakukan aksi saat gereja Lidwina di serang kok tidak terjadi disaat Ponpes Muhammadiyah di serang oleh orang yang katanya gila? Setau saya Syafii Maarif itu dulu adalah Ketum PP Muhammadiyah, bukan pendeta kristen? Tapi kok beda ya perlakuannya?....

Sikap aneh dan tak wajar ini menjadi sebuah pertanyaan besar, mengapa di saat umat seagamanya yang kena musibah pak gaek ini aniang saja tanpa action. Tapi ketika umat yang diluar agamanya terkena musibah, ia gerak cepat, berkunjung, berkomentar serta mengutuk pelakunya.
" Ada apa ni pak tuo?" jangan-jangan....ah sudahlah!

MANTAN JENDRAL POLISI BERTANYA PADA SAFII MAARIP

Untuk pak Syafi'i Maarip

Maaafkan saya pak Syafi'i, saya sekedar bertanya, apakah bapak sudah mengutuk pelaku penyerangan terhadap pengurus Muhammadiyah kemarin siang itu? Beliau diserang saat mau sholat lho pak. Beliau ulama yang jadi guru bagi umat disekitarnya lo pak. Beliau pimpinan pesantren Muhammadiyah disana lo pak. Lagi pula bapak kan mantan ketum PP Muhammadiyah. Wajar ya kalau kami menanyakan hal ini.

Kok kami belum dengar berita kesigapan bapak untuk hal ini, seperti yangg bapak tunjukkan pada saat gereja Lidwina Jogjakarta diserang tempo hari ya? Kenapa pak?

Maafkan ya pak. Saya bertanya disini karena gak tahu nomor hp dan akun bapak. Semoga ada yang meneruskan pesan ini ke ybs.

Salam.
Irjen Pol (P) Drs Wisjnu Amat Sastro Kapolda Sumut 2011 - 2013


Untuk sekedar mengetahui siapa Syafii Maarif dimata orang Padang ( Sumatera Barat ) lihat video berikut;

Syafii Maarif Dimata Ustadz Zukifli M Ali ( Ustadz Akhir Jaman )


Senin, 19 Februari 2018

KYAHI SASMITA Keris Tuan Guru Abdul Somad Lc MA, Ini Penampakan dan Maknanya


KYAHI SASMITA Keris Tuan Guru ABDUL SOMAD

Oleh: Ustadz @salimafillah

Hadiah itu tanda cinta. Menghadiahkan hal yang dicintai pada orang tercinta adalah secinta-cintanya cinta. "Tahaaduu tahaabbuu", demikian sabda Nabi ﷺ.

Telah beberapa waktu, kami di Yayasan Mandat Mataram memikirkan keris apakah kiranya yang tepat untuk jadi tanda sih-katresnan ukhuwah bagi Tuan Guru @ustadzabdulsomad. Ketika ianya masih dalam rancangan, tetiba tim @tafaqquhonline menghubungi kami, menyatakan bahwa Tuan Guru memang menghendaki sebilah keris sebagai ageman untuk penganugerahan suatu gelar budaya bagi beliau.

Maka dalam waktu yang terbatas, kami coba untuk memenuhi harapan sesuai pesanan beliau, sekaligus juga mempersiapkan hadiah persaudaraan itu.

Hari ini, jadilah pesanan beliau. Keris Kyahi Sasmita, dipersembahkan oleh Yayasan Mandat Mataram kepada Tuan Guru Abdul Somad, Lc., MA. dengan harapan dan doa agar beliau senantiasa mewakili suara nurani yang memberi petunjuk pada ummat.

Makna "Sasmita" sesuai kepribadian beliau; luwes karena manthiq yang kokoh dan santun karena balaghah yang mantab khas fuqaha' Syafi'iyyah, faham perbandingan madzhab dan amat mengetahui variasi aqwal para 'ulama, ketat pada diri tapi membawa keluasan bagi ummat.

Dhapur (Bentuk Tampilan) keris ini disebut Sempaner atau Sempana Bener. Sempana artinya fathanah (cerdas cerdik), Bener artinya shiddiq (jujur dan lurus). Ini sesuai dengan pembawaan Tuan Guru sebagai da'i, yang dikenal masyarakat selama ini.

Pamor (Pola Hiasan Meteorit) pada bilahnya termasuk Wahyu Tumurun. Ini menggambarkan Al Quran yang nuzul sebagai bimbingan terus-menerus dalam kehidupan. Adapun Tangguh (Prakiraan Masa Pembuatan) keris ini mendekati ciri Mataram Sultan Agung (1613-1645).

Deder (Hulu Keris) terbuat dari Kayu Trembalo Jawa yang disungging. Warangkanya berbentuk Wulan Tumanggal (Bulan Sabit) sebagai lambang syiar Islam yang masuk ke Nusantara. Warangka ini populer pada masa Demak hingga masa Sultan Agung. Bahannya kayu Trembalo Jawa gandar iras (utuh), kayu istimewa untuk sarung pusaka.

Sunggingan pada sarung dan hulunya berpola hias Modang, maknanya nyala api yang tak pernah padam, menunjukkan semangat perjuangan yang terus hidup. Sunggingan ini berintikan lambang perjuangan pembebasan Masjidil Aqsha seperti permintaan Tuan Guru, agar beliau selalu ingat untuk bersumbangsih memperjuangkan kemerdekaan Baitul Maqdis.

Selamat mewangking dhuwung, penanda waspada dan hati-hati, Tuan Guru!

Sumber: https://web.facebook.com/UstadzAbdulSomad/


Kamis, 15 Februari 2018

Nasehat Habib Nabiel Kepada Wahabi yang Rayakan Valentine Day Tapi Larang Maulid Nabi


MENASIHATI SAUDARA-SAUDARAKU PARA PENENTANG MAULID NABI SAW..

Wahai saudaraku para penentang Maulid Sayyidina Muhammad SAW, selama ini aku menjaga lisanku dari berdebat dengan kalian..

Bukan karena aku tak mampu, bukan karena tak bisa menunjukkan dalil-dalil, dan bukan pula karena tak mau menunjukkan hujjah kebenaran diantara kita..

Tapi kutahan lidah dan pena ku, karena sayang pada kalian, karena kita adalah sama-sama ummat Sayyidina Muhammad SAW, dan karena persatuan ummat adalah di atas segala perbedaan..

Tapi setelah makin banyak vonis kau sebarkan, cacian syirik dan bid'ah kepada kami kau umbar, dan foto-foto serta video ulama kami kau lecehkan..

Maka tangan kami pun menengadah ke Yang Maha Penyayang, Yg Maha Mengetahui, Yang Maha Pembalas, dengan doa yang mirip dilakukan oleh Pemuda Ashabul Ukhdud : YAA RABB, balaslah tuduhan-tuduhan keji kepada kami dari mereka itu sekehendak-MU..

Maka Ar Rahman pun tidak tinggal diam, lihatlah sekarang vonis-vonis kalian itu telah kembali ke wajah-wajah kalian sendiri, sebagai bagian dari teguran ALLAAH SWT kepada kalian, apakah kalian mau sadar dan berhenti mencaci kami..?

Tahukah bahwa Hari Valentine itu adalah harinya Santo Valentine : "Valentine's Day, also called Saint Valentine's Day or the Feast of Saint Valentine,[1] is celebrated annually on February 14. Originating as a Western Christian feast dayhonoring one or two early saints named Valentinus, Valentine's Day is recognized as a significant cultural, religious, and commercial celebration of romance and romantic love in many regions around the world, although it is not a public holiday in any country." (Wikipedia)

Dan sekarang ulama-ulama kalian malah merayakannya..? Dan berkata bahwa; "Hari Valentine itu sesuai dengan etika kemasyarakatan yang dibolehkan dalam Islam, sepanjang tidak dicampuri dengan hal-hal yang melanggar aturan syariat.".. Inna liLLAAHi wa inna ilayhi raji'un.. Lalu bagaimana kalian menolak Maulid Nabi SAW tapi memfatwakan bolehnya Valentine Day..? Bagaimana kalian bisa menghalalkan sebagian dan mengharamkan sebagian..?

Fa'tabiru yaa ulil Abshar..!

Sumber: https://web.facebook.com/Nabiel.almusawa/posts/

PANCASILA vs AL-QUR'AN ( Skor 7:1 ) Pancasila Menang Al-Quran Kalah Telak


pancasila vs alquran


PANCASILA VS AL-QURAN (Skor 7 : 1)

Pancasila Menang Mutlak, Al-Quran Kalah Telak !

By Anonim

Pancasila memang sakti. Saking saktinya, negeri ini perlu setiap tahun memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Pancasila sakti. Saking saktinya, cukup teriak, "Saya Indonesia, saya Pancasila," anda tak akan dicap anti Pancasila meski anda koruptor, penjual aset negara, dsb.

Pancasila sakti. Saking saktinya, al-Quran pun berkali-kali dibikin keok. Wuihh! Hebat banget Bro! Gimana ceritanya? Kapan Pancasila vs al-Quran bertarung?!

Ga percaya?! Ini beberapa buktinya:

Pertama: 
Lihat saja hari ini, dimana-mana orang bicara Pancasila. Dimana-mana orang mengukur segala hal dengan Pancasila. Baik-buruk diukur dengan Pancasila. Halal-haram pun ditentukan oleh Pancasila. Dimana-mana orang bicara NKRI dan Pancasila harga mati. Yang bicara ya mulai orang awam, para pejabat, DPR, para menteri, Presiden, para politisi, pengamat politik, kaum intelektual bahkan hingga ulama, termasuk MUI dan banyak organisasi Islam.

Trus, al-Quran ditaruh dimana? Kapan bangsa yang mayoritas umat Islam ini bicara al-Quran? Kapan bangsa Muslim di negeri ini mengukur segala sesuatu dengan al-Quran? Kapan pula negeri yang penduduknya mayoritas umat Islam lantang berkoar-koar "al-Quran harga mati"? Ga ada.

Bahkan ulama pun banyak yang lebih lantang menyuarakan Pancasila daripada meneriakkan kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagaimana diperintahkan al-Quran. Mereka pun seolah lebih suka mengunakan tolok ukur Pancasila daripada tolok ukur al-Quran. Misalnya untuk menilai "halal-haram"-nya Khilafah, baik-buruknya kelompok yg berjuang menegakkan Khilafah, mereka menggunakan tolok ukur Pancasila, bukan al-Quran. Apa tidak sedih, Bro?!

Banyak pula orang lebih senang menuding pihak yang berseberangan dengan dirinya sebagai anti Pancasila daripada anti al-Quran. Seolah-olah anti Pancasila itu haram, tapi kalau anti al-Quran mah terserah elu! Emang gue pikirin!

Maka skor 1:0 untuk Pancasila alias 0:1 untuk al-Quran.

Kedua: 
Karena Pancasila menjadi satu-satunya standar, maka Islam pun diukur dengan standar Pancasila, bukan sebaliknya. Hebat kan, Bro?! Nah, jadi jangan aneh jika banyak ajaran Islam akan dituding tak sesuai dengan Pancasila. Contohnya ya Khilafah itu. Kok contohnya Khilafah lagi? Bukan apa-apa. Karena kebetulan aja istilah Khilafah lagi naik daun.

Coba Bro perhatikan. Al-Quran bicara Khilafah. Setidaknya itu yang dinyatakan oleh Mufassir terkemuka, Imam al-Qurthubi, saat menafsirkan ayat "Innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah" dalam surat al-Baqarah. Dalam as-Sunnah lebih banyak lagi Rasulullah saw. bicara Khilafah. Dalam kitab-kitab para ulama, khususnya ulama Aswaja, lebih banyak lagi Khilafah dibincangkan. Yang luar biasa, kewajiban menegakkan Khilafah telah menjadi Ijmak Ulama (yang mengaku Aswaja, silakan kaji kembali secara jujur kitab-kitab para ulama Aswaja tentang Khilafah) selain menjadi Ijmak Sahabat.

Meski demikian, di dalam UU Ormas yang baru disahkan tiga hari lalu, secara tersirat Khilafah--yang notabene ajaran Islam--dianggap sebagai bertentangan dengan Pancasila. Otomatis para pengusungnya (baca: HTI) dituding anti Pancasila sehingga layak dibubarkan. Jika begitu, ga salah kan jika Islam pun harus keok lagi di bawah Pancasila?!

Maka skor 2:0 untuk Pancasila alias 0:2 untuk al-Quran.

Ketiga: 
Sekarang kita bicara ideologi negara ini. Tentu Pancasila, bukan Islam yang landasannya adalah al-Quran. Sebab, kalau Islam ideologinya, pasti negara ini akan disebut Negara Islam. Faktanya, siapapun menolak jika dikatakan Negara Indonesia adalah Negara Islam. Lucunya, banyak orang kemudian menolak jika Negara Indonesia disebut negara sekular. Kata mereka, "Indonesia bukan Negara Islam, tapi juga bukan negara sekular." (Jadi, negara "bukan-bukan" dong, Bro?!).

Namun, banyak kalangan berdalih: tapi kan Pancasila digali dari nilai-nilai Islam. Ok, jika betul Pancasila digali dari nilai-nilai Islam, lalu mengapa Pancasila sering menuding kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan syariah Islam--termasuk di dalamnya Khilafah--sebagai anti Pancasila? Lho, kok ada ya sebuah ideologi yang digali dari nilai-nilai Islam tapi memusuhi syariah dan Khilafah Islam yang notabene bersumber dari al-Quran?! Lagi-lagi, dalam ranah ideologi, al-Quran keok saat bertanding dengan Pancasila.

Alhasil, skor 3:0 untuk Pancasila alias 0:3 untuk al-Quran. Hidup Pancasila!

Keempat: 
Sekarang, mari kita bicara ekonomi. Di negeri Pancasila ini riba halal. Artinya, Pancasila menghalalkan riba. Bahkan riba menjadi pilar ekonomi negara ini. Buktinya, utang berbasis riba (bunga) menjadi salah satu sumber utama pemasukan APBN kita. APBN kita jelas dong selamanya sesuai dengan Pancasila, tak mungkin bertentangan dengan Pancasila.

Padahal kita tahu, al-Quran secara tegas telah mengharamkan riba. Bahkan riba dinilai sebagai salah satu dosa besar. Kata Nabi saw., "Satu dirham riba sama dosanya dengan 36 kali berzina." Apa ga ngeri, Bro?!

Artinya apa? Artinya, lagi-lagi dalam ranah ekonomi pun Pancasila benar-benar jumawa sehingga mampu membuat al-Quran bertekuk lutut. Pancasila sanggup menghalalkan apa yang telah diharamkan al-Quran.

Maka skor 4:0 untuk Pancasila alias 0:4 untuk al-Quran.

Kelima: 
Sekarang kita bicara moral. Zina pun halal di negeri Pancasila ini (ga ada tuh pasal perzinaan dalam KUHP kita). Artinya, Pancasila menghalalkan zina. Buktinya, tak ada seorang pezina pun di negeri ini yang dihukum atau dipenjarakan. Apalagi jika zina dilakukan di tempat "resmi" seperti Lokalisasi. Yang penting suka sama suka, katanya (He..he..mana ada pasangan berzina salah satu atau dua-duanya benci zina). Makanya angka perzinaan selalu meningkat setiap saat karena banyak orang tak takut dihukum jika berzina (Ya, iyalah, hukumannya kan ga ada, Bro). Yang diharamkan Pancasila adalah perkosaan. Itu pun jika korban mengadukan masalahnya ke Polisi (artinya masuk delik aduan). Jika korban perkosaan merasa "nyaman"--meminjam kata Pa Nganu--ga layak kasusnya diadukan ke Polisi (Ada ya, Bro, wanita diperkosa, trus dia merasa "adem". Hi..hi..).

Padahal jelas, al-Quran telah secara tegas mengharamkan zina. Jangankan berzina, bahkan mendekatinya saja sudah diharamkan oleh al-Quran.

Itu baru zina. Belum termasuk pornografi, pornoaksi, LGBT, dll yang seolah dibiarkan saja keberadaannya di negeri Pancasila ini. Padahal semua itu jelas telah diharamkan al-Quran.

Dengan demikian, dibidang moral pun lagi-lagi al-Quran tidak berdaya di hadapan Pancasila.

Alhasil, skor 5:0 untuk Pancasila alias 0:5 untuk al-Quran.

Keenam: 
Sekarang kita bicara hukum. Al-Quran menegaskan: hukuman bagi pezina dicambuk seratus kali atau dirajam (berdasarkan ketentuan as-sunnah), pencuri dipotong tangan, koruptor bisa dihukum mati, dst.

Faktanya, Pancasila menetapkan hukum yang berbeda dengan ketetapan al-Quran. Pezina tak dihukum, pencuri sekadar dipenjara, para koruptor yang merugikan triliunan uang negara acapkali dihukum ringan, bahkan sering bebas. Lalu kemana ketetapan hukum al-Quran? Tentu dibuang jauh-jauh.

Alhasil, satu poin lagi untuk Pancasila sehingga skor 6:0.

Ketujuh: 
Sekarang kita bicara kedaulatan (hak membuat hukum). Al-Quran tegas menyatakan, "Inil hukmu illaa lilLaah" (Membuat hukum adalah hak Allah). Faktanya, Pancasila menetapkan bahwa hak membuat hukum ada pada kewenangan Pemerintah dan DPR. Itulah demokrasi. Tak pernah sedikitpun Pemerintah dan DPR punya kewajiban merujuk pada al-Quran saat melegislasi hukum. Mereka tak peduli apakah berbagai produk hukumnya nanti bertentangan dengan al-Quran. Bagi mereka, yang penting tidak bertentangan dengan Pancasila. Padahal faktanya, banyak produk hukum--UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Listrik, UU Minerba, dan banyak produk hukum lain--bernuansa sangat liberal (Apakah berarti Pancasila mengadopsi liberalisme?) Akibatnya, banyak produk hukum yang menginjak-injak hukum Allah SWT yang telah digariskan dalam al-Quran.

Alhasil, skor 7:0 untuk Pancasila alias 0:7 untuk al-Quran. (Apa ga bikin sedih dan nangis, Bro?!)

Sebetulnya jika diurai lebih jauh, masih banyak fakta yang menunjukkan kemenangan mutlak Pancasila dan sebaliknya kekalahan telak al-Quran.

Pertanyaannya: Lalu dari mana poin satu (dari skor 7:1, sebagaimana dinyatakan dalam anak judul di atas) yang diperoleh al-Quran?

Tidak lain dari ibadah-ibadah ritual (shalat, shaum, zakat, haji, zikir baca al-Quran, dll) umat Islam yang masih merujuk pada al-Quran, tak mungkin merujuk pada butir-butir dari sila-sila Pancasila (Ya kan, Bro?!)

Kekalahan al-Quran vs Pancasila juga mungkin bisa menjadi lebih tipis (skor menjadi 7:2) jika dikaitkan dengan kematian. Maksudnya? Begini. Meski mengklaim paling Pancasila, saat mati, jika dia Muslim, masih dibacakan ayat-ayat al-Quran, bukan dibacakan ayat-ayat konstitusi (meski bagi sebagian orang ayat-ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat-ayat suci, katanya).

Semoga pula tak ada seorang Muslim pun (saat mati) yang mengklaim paling Pancasila sekalipun--entah Presiden, menteri, anggota DPR, dll--mau dan rela dibacakan Pancasila di sisi kuburannya. Jika ada, tentu dia adalah orang yang super hebat! Mengapa? Karena dia telah sangat berani menggenapkan skor kekalahan al-Quran vs Pancasila menjadi sangat telak 7:1 !

Udah ya, Bro.

Terakhir, bagi yang mengaku paling Pancasila, mari kita teriakan: "Saya Indonesia, saya Pancasila!"

Jangan lupa, jargon yang sama di atas diteriakkan juga di hadapan Mahkamah Ilahi di Akhirat nanti, jika berani.
Setuju, Bro?!

Video pembacaan PANCASILA saat sa'i ketika umroh oleh seorang bapak yang sangat " Pancasila "



Sanad Guru dan Keilmuan Jamaah Tabligh ( JT ) Sampai ke Rasulullah


Apakah yang dimaksud dengan sanad dan sebatas manakah pentingnya sanad ( Ulama ) ?

Muzakarah Ust. Yazid Jawas Bogor Ditunda Karena Permintaan Pihak Yazid Sendiri


Pernyataan Resmi MUI Kota Bogor Tentang Mudzakarah dengan Ustad Yazid Jawas

Rabu (14/02)-Juru bicara Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Bogor untuk kasus Masjid Imam Ahmad bin Hanbal (MIAH), Ustad Khotimi Bahri, S.Ag, M.P, memberikan pernyataan resmi atas nama MUI kota Bogor tentang kronologis mudzakarah MUI kota Bogor dengan Ustad Yazid bin Abdul Qodir Jawas.

“Kronolgis ini perlu kami sampaikan untuk menghindari kesimpangsiuran opini di media sosial” Kata Wasekjen Komisi fatwa MUI Kota Bogor

Baca:
MUI Kota Bogor Undang Yazid Jawaz Untuk Muzakarah Atas Tuduhan Sesat Kepada Asy'ariyyah Suffiyah

Berikut Kronologisnya:

MUI Diminta Menjadi Saksi Ahli.

Jumat, 05 Februari 2018, MUI Kota Bogor diminta menjadi saksi ahli di PTUN Bandung, karena salah satu rekomendasi pendirian MIAH adalah MUI Kota Bogor. Sehingga pengadilan perlu mengklarifikasi apakah MUI memiliki kewenangan untuk memberikan rekomendasi. Kemudian, MUI Kota Bogor menjelaskan bahwa MUI tidak memiliki kewenangan untuk memberikan rekomendasi, karena rekomendasi hanya dimiliki oleh Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) dan Kementrian Agama (Kemenag). Oleh karena itu, ada atau tidaknya surat rekomendasi dari MUI tidak mempengaruhi pendirian rumah ibadah tersebut.

Dalam pengadilan, pertanyaan terus berkembang. Hingga muncul pertanyaan, apa yang telah MUI lakukan untuk melihat perkembangan di lapangan, terutama penolakan pembangunan masjid dari masyarakat sekitar? Kemudian MUI menjelasan, berdasarkan laporan dan pemantauan di lapangan bahwa ada ketersinggungan terhadap apa yang disampaikan oleh Ustad Yazid bin Abdul Qadir Jawas. Ustad Yazid jawas mengatakan bahwa sufi (pengamal ilmu tasawuf), asya’irah (pengikut Imam Abu Hasan al-Asy’ari), dan maturidiyah (pengikut Imam Abu Mansur al-maturidy) adalah sesat dan kafir. Sebenarnya tiga poin itu yang menjadi permulaan konflik di MIAH.

MUI Diminta Memfasilitasi Mudzakarah dengan Ustad Yazid Jawas.

Menanggapi hal itu, Majelis Hakim meminta kepada tergugat apakah bisa membuktikan pernyataan tersebut. Tergugat membawa bukti berupa rekaman video dan buku berjudul “Mulia dengan Manhaj Salaf”. Dalam rekaman video dan buku tersebut, ditemukan terdapat pernyataan bahwa sufi, asya’irah, dan maturdiyah adalah sesat dan menyesatkan. Oleh karena itu, MUI diminta untuk memfasilitasi pertemuan semacam mudzakarah dengan Ustad Yazid jawas untuk mengklarifikasi pernyataan tersebut.

Selasa, 6 Fabruari 2018, MUI Kota Bogor mengirimkan surat undangan mudzakarah kepada Ustad Yazid Jawas di sekretariat Masjid Imam Hanbal. Surat tersebut diantarkan langsung oleh ketua pelaksana mudzakarah MUI Kota Bogor, Kang Dzoelkarnain. Kang Dzoel menuturkan bahwa sebelum menerima surat tersebut, pihak penerima surat naik ke lantai dua dan berkomunikasi dengan berbagai pihak. Akhirnya, pihak MIAH menerima surat tersebut yang ditandatangi oleh Bapak Arief Cahyo Utama.

Rabu, 7 Februari 2018, Acara mudzakarah dijadwalkan bertempat aula bawah Pusat Pengembangan Islam Bogor (PPIB) pukul 13.00 WIB. Namun jam 12 lebih, datang utusan dari MIAH membawa surat permohonan penundaan mudzakarah dari tim kuasa hukum MIAH pada tanggal 13 februari 2018 yang sebelumnya akan dikonfirmasi kembali.

Ada beberapa catatan dalam surat permohonan penolakan tersebut:

Surat mudzakarah dilayangkan secara khusus kepada Ustad Yazid Jawas, karena beliau yang mengungapkan pernyataan sufi, asya’irah dan maturidiyah sesat baik di buku Mulia dengan Manhaj Salaf ataupun video yang diunggah di youtube. Namun dalam surat tersebut yang memberi balasan tim kuasa hukum MIAH. Jadi surat ditujukan pribadi kepada Ustad Yazid, namun balasan mengatasnamakan tim kuasa hokum MIAH.
Dalam surat tersebut, pihak MIAH mengusulkan mudzakarah tanggal 13 Februari 2018, namun diberikan dalam kurung “sebelumnya akan kami”
Mudzakarah tersebut ingin membahas buku dan ceramah Ustad Yazid tentang kesesatan sufi, Asya’irah, dan Maturidiyah. Namun, dalam surat permohonan pengunduran tersebut, justru topik yang dibahas adalah tuduhan ketua MUI Kota Bogor yang menuduh wahabi keluar dari Ahlussunnah Waljamaah. Padahal ketua MUI Kota Bogor tidak menyampaikan hal itu, namun beliau hanya menyampaikan hasil mukhtamar Ahlussunnah Waljamaah di Chechnya. Justru Ketua MUI menyanpaikan bahwa wahabi adalah saudara kami, namun keluar dari Aswaja menurut mukhtamar Aswaja di Chechnya.
Dalam surat tersebut, pihak MIAH meminta penundaan mudzakarah yang diinisiasi MUI, namun mereka minta yang menyelenggarakan adalah Pemerintah Kota Bogor.

Pemerintah Kota Bogor Mengadakan Mudzakarah yang Tertunda

Pemkot Bogor mengagendakan mudzakarah hari Selasa, 13 februari 2018 yang bertempat di Ruang Rapat 1 pukul 11.00 WIB. Dalam udangan tersebut, terdapat  catatan yang diperkenankan hadir maksimal sebanyak 5 orang dari pihak MUI,  5 orang dari pihak MIAH, dan 5 orang dari perwakilan masyarakat yang tersinggung disekitar MIAH serta undangan khusus lainnya

Kenyataan yang dilapangan sangat berbeda. Sejak pagi hari, jamaah Ustad Yazid Jawas sudah berdatangan di Balai Kota. Acara diagendakan pukul 11.00 WIB, namun pukul 10.00 WIB ruang rapat 1 hampir sudah dipenuhi oleh jamaah masjid Imam Ahmad Bin Hanbal. Informasi kehadiran jama’ah ustad Yazid terdengar oleh masyarakat di sekitar Tanah Baru. Sehingga masyarakat yang tersinggung tersebut mulai berdatangan pukul 12.00 WIB, padahal tidak diagendakan sebelumnya. Jadi kedatangan masyarakat adalah reaksi dari ketidakpatuhan jamaah Ustad Yazid terhadap undangan Pemkot Bogor. Kemudian masyarakat menggelar dzikir dan sholawat di lantai bawah.

Dengan kondisi tersebut, Pemkot selaku penyelenggara mudzakarah menganggap suasana kurang kondusif. Kemudian Pemkot mengajak musyawarah di ruang rapat sekda. Rapat tesebut ingin membahas mudzakarah tersebut akan dilanjutkan atau tidak. Pemkot meminta saran kepada MUI dan MUI mengatakan lebih baik dilanjut mengingat sulitnya mencari waktu yang sama. Selain itu, forum ini adalah sifatnya silaturahum dan mudzakarah. Di samping itu, pihak warga sekitar yang disampaikan Bapak Haji Indra juga menyampaikan lebih baik dilanjutkan. Namun dari Tim Kuasa Hukum Ustad Yazid meminta penundaan waktu kembali. Bahkan, Ustad Yazid Jawas menyampaikan bahwa beliau adalah da’i nasional yang memiliki jadwal padat. Penundaan tersebut tersebut akan dikonfirmasi kembali oleh kuasa hukum MIAH.

Akhirnya Mudzakarah ditunda kembali dengan alasan suasana yang tidak kondusif dan permintaan penundaan dari pihak ustad Yazid Jawas. [santrimelinial.com]

Lihat; Video pernyatan resmi pihak MUI Kota Bogor



KH. Tengku Zulkarnain Menjawab Surat Terbuka Yusuf Muhammad Terkait Pembakaran Masjid Pangkalan Brandan



Menjawab Surat Terbuka Yusuf Dum Dum dan kawan Kawannya

Bermula dari twit yang dikirimkan dalam akun saudara Thomi Zayn Altair, melalui akun twiternya @zaynaltair. Dikirim tanggal 13/01/2018 pukul 22.52 isi twit nya antara lain:
"Ngutip @ustadtengkuzulkarnain bicara ada pembakaran masjid di Pangkalan Brandan di ILC_TvOnenews. Saya mau bilang :INI BOHONG!
Saya warga asli P. Brandan serta pengakuan teman2 tak ada pernah lihat SATUpun ada pembakaran masjid".

Demikian isi twit akun saudara Thomi Zayn Altair....

Twitan itu kemudian di Cc ke @GsamaraDKI, @ GunRomli @yusuf_dumdum#LCTerorPemukaAgama

Ingin saya berikan penjelasan sbb:

1. Saya tidak ada mengatakan ADA PEMBAKARAN MASJID "DI" PANGKALAN BRANDAN.
Saya katakan malam itu di ILC TV One adalah:"sebagai tambahan data yang ada pada kami (dan Forum Umat Islam Sumatera Utara), masjid masjid yang dibakar di Sumatera Utara yang penanganannya oleh Polisi tidak tuntas adalah :
1. Masjid Sabilillah Porsea, dua kali dibakar tidak musnah dan baru setelah yang ketiga kalinya dibakar masjid itu ludes terbakar. Kapolres saat itu mengumumkan akan mengusut pelaku pembakaran sampai saat ini tidak ada kabar lanjutannya.
2. Masjid Nur Hikmah, Asahan
3. Masjid Taqwa Asahan, yang jaraknya tidak begitu jauh dari Masjid Nur Hikmah dibakar pada malam bersamaan oleh satu pelaku yang kemudian menurut keterangan Kapolres saat itu adalah orang GILA.
4. Masjid DI dekat PANGKALAN BRANDAN(bukan masjid "DI" Pangkalan Brandan) juga dibakar orang(Masjid itu tepatnya di Desa Slamet, Kecamatan Besitang. Perlu diketahui umum bahwa Besitang adalah Kecamatan yang terletak setelah Pangkalan Berandan di Jalan menuju Propinsi Aceh, memang BERDEKATAN).
Itulah yang saya maksud dengan masjid yamg dibakar DEKAT Pangkalan Brandan itu(silakan pembacaa dengar ulang siaran ILC 13 Februari 2018).

Perlu diketahui Forum Umat Islam Sumatera Utara(FUISU) adalah Forum yang terdiri dari 14 Ormasy Islam yang selama ini sangat konsisten membela agama Islam terutama masjid masjid yang mengalami masalah di Sumatera Utara.

Inilah yang kemudian digoreng seolah olah saya mengatakan ada masjid DI PANGKALAN BRANDAN dibakar Orang. Kemudian isu itu berkembang sedemikian rupa di media sosial, bahkan sampai sampai Yusuf Dumu Dum menulis surat terbuka kepada saya mengatakan saya PEMBOHONG ditambah dengan menghina pribadi saya tentang jenggot dan jubah serta jabatan saya sebagai wakil sekjen MUI Pusat.
Semoga Allah merahmati Saudara Yusuf Dum Dum ini. Begitu juga beberapa orang lain di group groupmedia sosial.

Saudara Yusuf Muhammad...
Pengetahuan anda tentang permasalahan masjid masjid di Sumatera Utara pasti tidak ada artinya jika dibandingkan dengan kami dan 14 Ormasy Islam FUISU yang sudah mendata, berjuang membela masjid masjid umat Islam di sana. Jadi saya kira tidak usahlah menjadi Pahlawan Kesiangan yang mendadak turun ke Gelanggang Pertarungan bahkan terkesan membela musuh masjid Allah pula. Astaghfirullah....

Lagi pula isu masjid yang anda dkk goreng dekat Pangkalan Brandan terdata dalam file FUISU . Masjid itu adalah Masjid di desa Selamet, Kecamatan Besitang.
Sangat tidak elok jika anda memelintirnya menjadi peristiwa kebakaran di kota Pangkalan Brandan pada tahun 2017 hanya berdasarkan jejak digital pula.

Apalah artinya jejak digital yang anda posting di Surat Terbuka itu, dibandingkan dengan tindakan nyata yang sudah dilakukan oleh FUISU memantau, mendata dan mengadukannya ke Komnas HAM dan Polisi pula?

Apalah artinya data yang anda dapatkan dari twit seseorang dan data dari kutipan jejak digital, dibandingkan FUI Sumatera Utara yang sudah bertahun tahun berjuang membela masjid masjid di Sumatera Utara.

Sampai saat ini sudah ada 12 masjid yang musnah dibakar, digusur, dijual pihak tertentu atau bermasalah dengan pihak pengembang di Sumatera Utara. Apakah anda dan kawan kawan tidak merasa prihatin dan tergerak untuk mendapatkan keadilan dan pengusutan tuntas dari pihak berwenang atas semua masalah itu?

Saya hanya ingatkan anda wahai saudara Yusuf Dum Dum. Anda saya lihat sudah berkali kali mengirimkan cuitan yang kasar kepada ulama ulama ahlussunnah pembela yang HAQ di negeri ini,. Dan saya juga ingin ingatkan kepada saudara saudara yang lain yang sejenis dengan Yusuf Dum Dum dan Thomi Zayn dkk, agar berhentilah melontarkan tulisan dengan macam macam tuduhan yang tidak berguna bagi kemaslahatan umat Islam dan umat beragama.

Kami hanya ingin keadilan ditegakkan penganiayaan ulama dan tokoh Islam serta tokoh agama lainnya agar dihentikan dan diusut tuntas. Jangan dibiarkan mengambang tidak jelas seperti peristiwa yang kemarin kemarin. Dan, perlu dicatat besar besar kami ini semua cinta NKRI makanya kami menempuh jalur hukum dan masih percaya kepada penegak hukum.

Semoga Allah memberikan hidayah kepada anda semua dan kami semua.

Dan semoga NKRI aman sentosa dalam Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia.
Amin....

Jayalah NKRI....!

Sumber: https://web.facebook.com/tengkuzulkarnain.id


Rabu, 14 Februari 2018

Jokowi Kalah Pamor oleh Ustadz Abdul Somad di Tanah Sumatera


KETIKA PAMOR PRESIDEN DITANAH SUMATERA KALAH DENGAN USTADZ ABDUL SOMAD, DISITULAH TANDA UMAT SUDAH CERDAS DAN DEWASA

JOKOWI DI SUMBAR, UAS DI KEPRI

Tiga hari ini dinding FB di penuhi dengan dua berita fenomenal, dari dua tokoh nasional yang secara fisik sekilas hampir mirip sama-sama kurus dan tampilan sederhana.

Yang membedakannya adalah status jabatan di dunia. Yang satu bernama Jokowi dengan jabatan Presiden RI, yang satu lagi bernama Ustad Abdul Somad, LC. MA dosen PNS yang yang namanya lagi membumbung tinggi karena ceramahnya yang cerdas, lugas, berisi, bagaikan pelepas dahaga Ummat Islam Indonesia di tengah musim kemarau spritual pasca kriminalisasi Habieb Riziq Syihab.

Bukan maksud mencari perbedaan atau membandingkan tapi memang begitulah adanya, secara materi ilmu Political Marketing tampak dua pola sosialisasi media yang menarik dari dua tokoh bangsa ini.

Jokowi dengan power dan infrastruktur kekuasaanya dengan apik memainkan isu kedatangan ini jauh hari sebelum kedatangannya ke Sumatera Barat yang secara notabone nya beliau kalah telak di Pilpres 2014 yang lalu

Berbagai macam isu pemanasan di mainkan oleh media media mainstream, mulai dari cetak dan elektronik. Semua seragam dan terstrukturisasi sama bukti bahwa out put pemberitaanya memang terkondisikan ala istana ke presidenan.

Mulai dari isu pemberian gelar dari Istano Pagaruyuang (Selanjutnya tak jelas lagi keberlanjutannya), Jalan Tol Padang - Dumai, sertifikasi tanah ulayat, dan seterusnya. Jagad dunia pemberitaan di Sumbar di buat sibuk, tak ketinggalan akun akun robot masuk tak tahu saja entah dari mana ke group group lokal dan perantauan komunitas Minangkabau dengan gagah perkasa.

Dari beberapa manuver cipta kondisi strategi 'water test' ini lahirlah berbagai macam respon dari masyarakat Minangkabau yang tentu saja lebih mayoritas kontra dari pada pro dan tidak sedikit yang membully dan jadi gorengan kelakar 'cimeeh' ala khas urang awak yang bikin lucu dan ketawa

Setelah pusaran badai cipta kondisi media ini, maka sampailah akhirnya Sang Presiden datang dengan rombongan standar pengamanan VVIP RI-1. Jalan jalan di blokir, ratusan bahkan ribuan wartawan hadir (namanya saja HUT HPN), Ratusan Pengawal tegap dan sigap (dengan ciri khas berbaju batik, cepak, tegap, dan kabel kecil di telinganya) Bombardir media dimana mana dengan berbagai corak dan enggel photo.

Tak lupa seperti biasa, masyarakat bertumpuk di satu titik berbaris sambil teriak teriak memanggil nama Sang Presiden, photo di sawah sambil jalan kaki bawa payung di tengah hujan, terakhir hadiah sepeda bagi emak-emak yang membuat koment positif di FB nya tentang Presiden. Luaarrr biasa....

Semua pemberitaannya tertata rapi, terstruktur, seragam dimana intinya adalah seolah-olah ingin menyampaikan kepada rakyat Sumatera Barat, bahwa sudahlah Jokowi pada pilpres 2019 nanti adalah pilihan yang terbaik (sesuai cuap cuap manis kata sambutan ketua PWI Sumbar), lupakan masa lalu, lihatlah tampilannya yang sederhana dan paling berjasa buat masyarakat Minang dengan berbagai argumen 'Bungo bakarang' kuli tinta. Setidaknya demikian 'framing' media ciptakan.

Demikian hebbohnya berita, persiapan, atas kedatangan presiden ke Sumatera Barat, kita tak tahu entah berapa dana dan uang rakyat di pakai dan di hamburkan untuk sebuah prosesi ini.

Namun yang jelas, penulis simpulkan biaya yang di keluarkan sangat tidak sesuai dengan out put acara yang saji kan. Gempita isu yang di beritakan tidak sesuai dengan respon masyarakat real di lapangan. Semua jelas di paksakan dan penuh polesan lipstik pencitraan. Besar pasak dari pada tiang, angek tadah pado galeh. Yah begitulah...

Sangat jauh berbeda dengan kedatangan UAS di Kepri. Minim baliho. Minim spanduk. Apalagi cipta kondisi media mainstream cetak dan elektronik. Semua mengalir apa adanya. Di siapkan oleh panitia kecil apa adanya. Sosialisasi hanya di sosial media dan WA.

Satu bulan jadwal UAS sudah beredar entah dari mana sumbernya. Tapi semua seolah berlomba secara sukarela menyebar luaskan kedatangan Ustad fenomenal ini.

Puluhan ormas menyatakan diri siap jadi tameng pengawalan UAS. Para tokoh, pejabat,pengurus mesjid seolah ingin berlomba ingin melayani UAS dengan senang hati.

Hasilnya sama kita lihat sendiri. Jamaah yang hadir luar biasa membludak hampir di setiap titik kegiatan. Puluham ribu masyarakat tumpah ruah ingin mendengarkan ceramah Ustad jebolan Al Azhar dan Maroko ini. Baik shubuh, dhuha, khutbah jumaat, di Masjid, di lapangan, di Polda, bahkan di pulau pun antusias masyarakat seakan tak terbendung.

Sungguh dua fenomena yg sangat kontras dan unik. Tapi demikianlah apa adanya. Allah seakan memperlihatkan dua diaspora kehidupan nyata di hadapan kita.

Silahkan kita menilai, menelaah dari dua maksud tersembunyi dari dua kejadian ini. Silahkan gunakan mata batin kitauntuk membaca dengan jernih, demikianlah putaran kehidupan yg kita alami sekarang

Kita di hadapkan pada dua sisi kehidupan yang nyata. Silahkan kita akan berada di posisi yang mana.

Bersama penguasa yang penuh rekayasa dan tipu daya, atau bersama Ulama, ummat yang bersatu padu dalam bahasa cinta dan persaudaraan. Wallahu'alam.

Oleh: Anton Permana

Sumber: https://web.facebook.com/agus.santoso

Baca juga:

Selasa, 13 Februari 2018

Konglomerat Maling Besar di Indonesia Pencuri Triliunan Uang Rakyat, Inilah Mereka


Uang Negara yang lenyap ditangan konglomerat hitam...

Dalam catatan Harian Kompas edisi 2/1/2003, melansir sejumlah nama dan besarnya uang yang diterima dan kemudian dikenal dengan skandal BLBI, antara lain :

1) Sudono Salim alias Liem Sioe Liong sekitar Rp 79 triliun,

2) Sjamsul Nursalim alias Liem Tek Siong Rp 65,4 trilyun,

3) Bob Hasan alias The Kian Seng Rp 17,5 trilyun,

4) Usman Admadjaja Rp 35,6 trilyun,

5) Modern Group Rp 4,8 trilyun dan

6) Ongko Rp 20,2 trilyun.


Kemudian Andrian Kiki Ariawan, terlibat dalam korupsi BLBI Bank Surya.

Kerugian negara mencapai sekitar Rp 1,5 triliun. Proses hukum berjalan di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Kemudian Andrian kabur ke Singapura dan Australia. Pengadilan kemudian memutuskan melakukan vonis in absentia.

Eko Adi Putranto, anak Hendra Rahardja ini terlibat dalam korupsi BLBI Bank BHS.

Kasus korupsi Eko ini merugikan negara mencapai Rp 2,659 triliun. Ia melarikan diri ke Singapura dan Australia.

Pengadilan Negeri Jakarta Pusat menjatuhkan vonis in abenstia 20 tahun penjara.

Sherny Konjongiang, terlibat dalam korupsi BLBI Bank BHS bersama Eko Adi Putranto dan merugikan negara sebesar Rp 2,659 triliun.

Ia melarikan diri ke Singapura dan Amerika Serikat. Pengadilan menjatuhkan vonis 20 tahun penjara secara in absentia.

David Nusa Wijaya, terlibat dalam korupsi BLBI Bank Servitia. Ia diduga merugikan negara sebesar Rp 1,29 triliun.

Kasus tersebut sedang dalam proses kasasi, David melarikan diri ke Singapura dan Amerika Serikat.
Tapi ia tertangkap oleh Tim Pemburu Koruptor di Amerika.

Samadikun Hartono, terlibat dalam korupsi BLBI Bank Modern.

Dalam kasus ini ia merugikan negara sebesar Rp 169 miliar.

Kasus Samadikun dalam proses kasasi. Ia melarikan diri ke Singapura.

Total duit rakyat yang dikemplang tujuh konglomerat hitam dalam kasus ini Sekitar Rp 225 trilyun.


Selain itu, muncul lagi pengusaha yang membawa kabur uang dalam jumlah yang luar biasa besarnya.

Misalnya Hendra Rahardja alias Tan Tjoe Hing, bekas pemilik Bank Harapan Santosa, yang kabur ke Australia setelah menggondol duit dari Bank Indonesia lebih dari Rp 1 trilyun.

Hendra Rahardja tepatnya merugikan negara sebesar Rp 2,659 triliun. Ia divonis in absentia seumur hidup di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat.

Hendra meninggal di Australia pada 2003, dengan demikian kasus pidananya gugur.

Kemudian ada Sanyoto Tanuwidjaja pemilik PT Great River, produsen bermerek papan atas.

Sanyoto meninggalkan Indonesia setelah menerima penambahan kredit dari bank pemerintah.

Lalu Djoko Chandra alias Tjan Kok Hui, yang terlibat dalam skandal cessie Bank Bali, meraup tidak kurang dari Rp 450 miliar. Ketika hendak ditahan Djoko kabur keluar negeri dan kini dikabarkan menjadi warga negara Papua Nugini.

Maria Pauline, kasus pembobolan BNI.

Diperkirakan kerugian negara mencapai Rp 1,7 triliun. Proses hukumnya masih dalam penyidikan dan ditangani Mabes Polri, Maria kabur ke Singapura dan Belanda.

Anggoro Widjojo, kasus SKRT Dephut. Merugikan negara sebesar Rp 180 miliar. Dalam proses penyidikan ke KPK. Anggoro lari ke Singapura dan masuk dalam DPO.

Lesmana Basuki, yang terlibat dalam kasus korupsi Sejahtera Bank Umum (SBU). Dalam kasus ini diduga merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika. Lesmana divonis di Mahkamah Agung 14 tahun penjara. Ia melarikan diri ke Singapura dan menjadi DPO.

Tony Suherman, diduga terlibat dalam kasus korupsi Sejahtera Bank Umum (SBU). Dalam kasus ini diduga merugikan negara sebesar Rp 209 miliar dan 105 juta dollar Amerika. Tony divonis 2 tahun penjara. Ia melarikan diri ke Singapura dan menjadi DPO.

Dewi Tantular, terlibat kasus Bank Century. Kasus ini merugikan negara Rp 3,11 triliun. Kasus tersebut dalam penyidikan di Mabes Polri, tapi menurut ICW perkembangan kasus tersebut tak jelas. Ia dikabarkan lari ke Singapura.

Anton Tantular, terlibat kasus Bank Century. Kasus ini merugikan negara Rp 3,11 triliun. Kasus tersebut dalam penyidikan di Mabes Polri, tapi menurut ICW perkembangan kasus tersebut tak jelas. Ia dikabarkan lari ke Singapura.

Sukanto Tanoto, terlibat dalam dugaan korupsi wesel ekspor Unibank. Ia diduga merugikan negara sebesar 230 juta dollar Amerika. Ia lari ke Singapura.

Menurut ICW, Sukanto masih terduga namun diberitakan menjadi tersangka. Proses hukum tidak jelas. (Nama Sukanto Tanoto dicabut dalam daftar ini).

Pada 2010, mantan kepala ekonom konsultan McKinsey, James Henry, menerbitkan hasil studinya soal penyelewengan pajak di luar negeri (tax havens).

Menurut laporan tersebut, terdapat USD 21 trilyun (Rp 198.113 trilyun) pajak pengusaha di seluruh dunia yang seharusnya masuk kantong pemerintah, namun diselewengkan.

Sembilan diantara para pengusaha pengemplang pajak tersebut berasal dari Indonesia, seperti James Riady, Eka Tjipta Widjaja, Keluarga Salim, Sukanto Tanoto, dan Prajogo Pangestu.

Begitu banyak uang rakyat Indonesia yang jatuh ke tangan segelintir orang.

Sumber: Aksi Mahasiswa


Gatot Nurmantyo, Tuan Guru Bajang ( TGB ) Pasangan Pilihan Prabowo Pada Pilpres 2019



PRABOWO AKAN PASANGKAN GATOT DAN TUAN GURU BAJANG (TGB) PADA PILPRES 2019

Mereka adalah sosok idaman hampir seluruh rakyat Indonesia saat ini, mereka hadir untuk menjawab keluh kesah ibu pertiwi yang sudah hancur lebur oleh tangan-tangan aseng dan asing.  Duel Maut Gatot Nurmantyo dan Tuan Guru bajang ( TGB ) diyakini akan mampu membawa Bahtera Nusantara yang sudah jauh tersesat ke samudra tanpa arah untuk kembali ke posisinya semula yang saat ini di nahkodai oleh kapten kapal yang kurang mumpuni di bidangnya.

Kabar ini tersiar setelah Ketum Gerindra memberikan " sinyal " terhadap pasangan serasi ini.

Ketua Umum Partai Gerindra Prabowo Subianto mengisyaratkan akan memunculkan calon presiden alternatif sebagai penantang Joko Widodo di Pilpres 2019.

Prediksi itu disampaikan pengamat politik Sahirul Alem kepada intelijen (12/02). “Prabowo mengatakan akan melihat perkembangan, saat ditanya soal capres 2019. Ini meng-indikasikan mantan Danjen Kopassus akan memunculkan capres alternatif,” kata Alem.

Menurut Alem, tentunya Prabowo telah melihat berbagai hasil survei maupun situasi terkini sebelum menyatakan akan melihat “perkembangan”. “Realitasnya, posisi Jokowi sangat kuat, maka diperlukan capres alternatif,” papar Alem.

Alem memperkirakan, ada kemungkinan Prabowo menunjuk Gatot Nurmantyo sebagai capres di Pilpres 2019. “Walaupun dalam berbagai survei suaranya masih rendah, nama Gatot cukup bagus untuk dijual di Pilpres 2019,” jelas Alem.

Sedangkan cawapres, kata Alem, Tuan Guru Bajang (TGB) menjadi pilihan. “TGB dari luar jawa dan punya jaringan pesantren di seluruh Indonesia. Kalau ada survei di kalangan NU diminta suruh Jokowi atau TGB maka warga NU akan memilih TGB,” pungkas Alem.

Soal capres 2019, Prabowo belum secara jelas menyatakan kesediaannya untuk maju kembali sebagai capres, padahal kader Gerindra tetap menginginkannya.

“Saya selalu katakan bagi saya adalah pengabdian. Saya akan lihat perkembangan, saya akan lihat situasi, yang terbaik untuk bangsa itu yang saya jalankan,” ucap Prabowo usai acara HUT ke 10 Partai Gerindra di Kantor DPP Partai Gerindra, Jalan RM Harsono, Ragunan, Jakarta Selatan (10/02).

Minggu, 11 Februari 2018

Daftar Peristiwa "ORANG GILA" Di Pesantren yang Hebohkan Publik 2018



FENOMENA TEROR ULAMA DIBUNUH ORANG GILA BERPAKAIAN RAPI YANG TERENCANA DAN TERSTRUKTUR

Peristiwa Orang gila dalam 11 Hari:

1. Tgl 27 Februari 2018, Pemukulan Ust. KH. UMAR BASRI' Cicalengka oleh orang gila berpakaian rapi.

2. Tgl 30 Januari 2018, Penembakan mantan Deputi Operasi Basarnas Mayjen [Purn] TNI Tatang Zaenudin di Jl. Bukit Pasir No. 49 RT 001/RW 012 Depok oleh org gila tak dikenal.

3. Tgl 1 Februari 2018, Penganiayaan Ustadz Prawoto Komandan Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam [Persis] Cigondewah,Bdg.hingga meninggal, oleh orang gila berpakaian rapi partai anu.

4. Tgl.3 Februari 2018, santri pondok pesantren Al-Futuhat Garut, berinisial Abd alias Uloh diserang oleh 6 orang gila tak dikenal menggunakan senjata tajam.

5. Tgl 4 Februari 2018, Seorang pemuda yang bersembunyi di atas Masjid At Tawakkal 1 Kota Bandung, mengacung-acungkan pisau seraya berteriak-teriak 'ustadz bukan?! Ustadz bukan?!'

6. Tgl 5 Februari 2018,seorang perempuan mondar mandir selama dua hari di sekitar pondok, setelah di interogasi, didapati sajam dan sebilah plat besi di dalam tas. Sasarannya adalah pondok pesantren FajruIslam di daerah Sentul City Bogor.

7. Hari ini tanggal 8 Februari 2018, Ulama Bogor, Ust. Sulaiman di bacok orang gila di desa Cigudeg.

Rapatkan Barisan Kaum Muslimin...

Kami hanya mengingatkan peristiwa 'Ninja Banyuwangi' 1998.
Bahwa jumlah ulama korban Banyuwangi [masa itu] merilis 115 korban jiwa yang tersebar di 20 kecamatan. Sedangkan versi TPF Nahdatul Ulama korban meninggal dunia lebih banyak, 147 jiwa.

Viralkan agar design pembunuhan dan penganiayaan terhadap santri dan ulama oleh orang gila berpakaian rapi ini,.dapat membuat para ulama,santri dan pengurus masjid berhati-hati

Oleh: Mulyadi abuAyub

Jumat, 09 Februari 2018

Nasehat Gratis Untukmu Wahai Saudaraku PDIP, "Tobatlah Sebelum Terlambat!"


"PDIP HABISI HRS & FPI"s

Untuk Saudaraku, Warga PDIP
by: Asyari Usman, mantan wartawan senior BBC

Salut terhadap keimanan Anda pada slogan "tidak boleh ada agama apa pun yang mengklaim kepemilikan atas Indonesia." Dalam konteks terkini di Indonesia, tentu "agama" yang dimaksudkan oleh slogan ini adalah Islam. Begitu juga ketika Ibu Megawati Soekarnoputri menyebut keberadaan "ideologi tertutup" (dalam pidato ulang tahun PDIP ke-44), saya yakin sekali telunjuk Bu Mega waktu itu tertuju kepada Islam dan umat Islam.

Karena itu, mohon maaf, saya akan mendikotomikan PDIP vs Islam sepanjang tulisan saya ini. Anda tidak perlu malu-malu atau ragu bahwa setiap kali saudaraku PDIP menyebutkan lawan Anda, saya yakin 100% yang Anda maksud itu merujuk pada Islam dan umat Islam. Kalau Anda membantah, silakan buat sidang para saksi ahli bahasa, ahli politik, ahli psikologi dan ahli sejarah untuk menilai ke mana "telunjuk permusuhan" itu Anda arahkan.

Mungkin saja Anda akan berkilah, "Ah, yang kami maksudkan adalah orang Islam yang radikal, yang tidak toleran, dsb". Kalau yang diam-diam dan tidak mengganggu agenda Anda dan agenda-agenda para sekutu Anda, itu tidak masalah.

Anda akan mengatakan, "Orang seperti Habih Rizieq Shihab (HRS) dan gerbong FPI-nya, itulah yang akan kami sikat habis," seperti dikatakan oleh ketua PDIP Surabaya (silakan cari di YuoTube: pidato ketua PDIP Surabaya).

Jika Anda berpikiran seperti itu, saya khawatir Anda keliru, wahai saudaraku warga PDIP. Sebab, suka atau tidak suka, HRS dan gerakan FPI yang berkaitan dengan akai-aksi damai belakangan ini mendapatkan sambuatn langsung atau tidak langsung dari semua komponen umat Islam secara luas. Kita hitung saja, seberapa kuatkah FPI dan HRS untuk bisa mempengaruhi 3-4 juta umat Islam yang ikut dalam sejumlah aksi damai? Kalau umat secara luas tidak mendukung, kecil kemungkinan HRS bisa mengerahkan umat Islam sebegitu besar.

Dalam kajian psikologi massa dan kajian survei dengan random sampling, jumlah yang sebegitu besar semestinya mencerminkan basis dukungan yang sangat besar pula di kalangan umat Islam. Singkatnya, kalau Anda sekarang membidik HRS dan FPI, dan mengatakan bahwa Anda akan menghancurkan mereka, saya yakin 110% bahwa puluhan juta umat Islam di luar FPI merasa mereka juga adalah sasaran "sikat habis" yang Anda maksudkan.

Saudaraku, warga PDIP. Bagus sekali keinginan Anda untuk menjaga keutuhan NKRI. Itu juga yang ditekadkan oleh umat Islam. Tetapi, sebaiknya Anda merenung agak dalam sedikit apakah tidak ada "penumpang gelap" yang berlindung di balik slogan Anda itu? Tidakkah Anda melihat mereka yang berlindung di belakang Banteng PDIP sambil menjalankan agenda mereka sendiri, padahal mereka berpuraura-pura menjadi bagian dari PDIP dan perjuangan PDIP. Yaitu elemen yang berparasit di balik kekuatan politik PDIP, tetapi sesungguhnya mereka menjadikan Anda sebagai "mitra ecek-ecek" demi memperbesar pengaruh mereka dan memperkuat cengkeraman mereka di Indonesia melalui penguasaan mutlak sektor perekonomian dan keuangan negara ini.

Mudah-mudahan saja Anda tahu siapa mereka. Seandainya ada yang tidak tahu, sedih juga. Untuk yang belum tahu karena berbagai alasan, kami bantu untuk mengenali mereka. Mereka adalah orang-orang yang merasa Islam sebagai penghambat ambisi untuk menguasai negara ini. Mereka sangat senang dengan manuver PDIP yang siap menghabisi HRS dan FPI, yang berarti Anda pada akhirnya berhadapan frontal dengan umat Islam secara keseluruhan. Tidak hanya senang, mereka bahkan mungkin siap berkontribusi untuk itu. Tetapi apakah Anda, saudaraku warga PDIP, yakin bahwa mereka adalah sahabat yang bisa Anda percaya? Apakah Anda sangka mereka adalah orang yang senasib-sepenanggungan dengan Anda?

Saudaraku, warga PDIP yang saya hormati. Sudah pernahkan Anda uji orang-orang yang berlindung di kandang Banteng untuk mengetahui apakah mereka benar-benar "kawan setia" Anda, teman sehidup-semati, teman yang akan membantu orang-orang kecil yang selama ini Anda perjuangkan?

Sudah lupakan Anda, wahai saudaraku warga PDIP, bagaimana tempohari mereka menyalahgunakan dana BLBI semasa krisis moneter 1998? Jangan-jangan sebagian besar Anda tidak mendapatkan informasi yang utuh tentang BLBI (Bantuan Likuiditas Bank Indonesia), yaitu pinjaman dari Dana Monoter Internasional (IMF) yang disalurkan kepada 48 bank swasta di Indonesia, yang para pemiliknya adalah orang-orang yang sekarang mungkin, sekali lagi mungkin, mendukung Anda untuk menghabisi Habib Rizieq Shihab dan FPI. Mereka itu mengantungi dana BLBI sebesar Rp147 triliun untuk mencegah kebangkrutan karena ulah mereka sendiri; walaupun kemudian terbongkar bahwa mereka dengan lihainya menggelapkan dana BLBI itu untuk mereka sendiri. Tetapi, alhamdulillah, pinjaman IMF itu sudah dibayar oleh rakyat Indonesia yang sebagian besar adalah umat Islam.

Tahukah Anda berapa banyak orang Indonesia asli sebagai pemilik bank-bank swasta itu? Sudah lupakah Anda ketika mereka membawa lari uang rakyat ke luar negeri, memarkirkannya di Singapura, Hong Kong, Shanghai, dan di surga-surga penyimpanan uang lainnya? Pedulikah mereka dengan rakyat kecil? Pedulikah mereka dengan Anda, saudaraku warga PDIP?

Tidakkah Anda saksikan siapa-siapa sajakah yang memiliki konglomerasi dana dan kekayaan property di Indonesia ini? Berapa persenkah orang Indonesia asli yang bisa membeli apartemen supermewah di supercondo yang mereka bangun di kota-kota besar di Indonesia ini?

Tidakkah Anda terpanggil untuk memikirkan sejenak dampak buruk dari kepemilikan sebagian besar stasiun televisi swasta oleh mereka; yaitu dampak negatif terhadap pembentukan karakter dan akhlak generasi muda Indonesia?

Tahukan Anda bahwa rata-rata pengusaha yang berbeda kulit dengan Anda itu, menyekolahkan anak-anak mereka ke luar negeri dengan biaya mahal?

Sudahkah pernah Anda coba melamar pekerjaan senior di perusahaan-perusahaan milik mereka? Berapa banyakkah orang Indonesia asli yang bekerja sebagai staf senior di BCA, Sinarmas, Agung Podomoro, Summarecon, Lippo Group, Salim Group, dll?

Supaya tidak semakin panjang, satu lagi pertanyaan: apakah Anda, saudaraku warga PDIP, merasa lebih baik mencaci-maki dan mengancam HRS dan FPI, yang berarti juga mencaci-maki umat Islam pada umumnya, ketimbang ikut menegakkan keadilan hukum dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia?

Semoga Indonesia tetap damai dan tenteram. Mohon maaf jika ada yang tidak berkenan!


Kamis, 08 Februari 2018

Tarekat Muhammadiyah Al-Sanusiyah wal Idrisiyah Sulawesi Selatan ( Part II )


Sebagai mana yang pernah saya kuliahkan bahwa tarekat selalu menjadi issu krusial dan dihujat sebagai sarang bid’ah oleh sesama muslim. Berbagai perspektif bisa saja karena mungkin hanya memberi gambaran satu sisi seperti halnya menggambarkan bentuk gajah. Masing-masing disentuhnya, ada yang mengatakan gajah seperti mahkota, selainnya menyatakan bahwa gajah adalah bagai pipa air, ada pula berkata gajah seperti kipas dan gajah bagai tiang. Benar bahwa gajah seperti mahkota karena yang disentuhnya adalah bagian gadingnya, dikatakan bagai pipa air karena dia fokus pada belalainya atau hidungnya yang panjang. Dikatakan seperti kipas karena daun telinga gajah begitu lebar dan berkibar-kibar, atau dikatakan bagai tiang karena yang disentuhnya adalah sepasang kaki gaja tersebut dll.

Rabu, 07 Februari 2018

Ustadz Abdul Somad Jadi Target "ORANG GILA" Berikutnya Untuk Dihabisi? Save UAS



ORANG GILA
Banyak Orang Gila: Para Ulama, Ustad, dan Kiyai Harus Waspada!

Para ulama, ustad dan kiyai, mutlak harus meningkatkan kewaspadaan karena di tengah kita sekarang banyak “orang gila”. Mengapa tuan-tuan semua harus waspada? Karena sudah dua ustad yang dinyatakan korban penganiayaan “orang gila”. Yaitu, pertama, ustad R Prawoto di Cigondewah Kidul, Bandung, yang meninggal dunia pada 1 Februari 2018. Kedua, penyiksaan terhadap Ustad KH Umar Bishri di Cicalengka, Kabupaten Bandung, beberapa hari sebelumnya.

Kedua peristiwa ini mungkin saja kejadian yang berlangsung secara kebetulan, tetapi boleh jadi memiliki keterkaitan. Singkatnya, tidak bisa diabaikan begitu saja.

Sekali lagi, waspadalah. Orang gila tampaknya sedang berubah menjadi “waras” untuk memburu sasarannya, yaitu para ustad. Para ulama. Para kiyai. Jadi, tidak ada ruginya meningkatkan kewaspadaan.

Pertama, langsung saja kepada tim yang mengelola kegiatan harian *Ustad Abdul Somad*. Sewaktu beliau didemo di Bali, saya pernah menulis bahwa ustad asal Riau ini bisa jadi masuk dalam “target list” (daftar target). Sekali lagi saya anjurkan agar Anda semua selalu waspada dan meningkatkan kehati-hatian. Setiap saat dan di mana pun juga.

Jika Ustad Somad tak suka su’zon (bersangka buruk), tolong sampaikan kepada beliau bahwa sekarang ini terpaksa menghidupkan tombol itu. Biarlah su’dzon dulu tapi husnuzzon kemudian. Karena, di kalangan manusia ini ternyata banyak orang gila yang siap melakukan hal-hal yang tak terbayangkan. Nekad melakukan segala cara untuk mencapai tujuan.

Ustad Somad perlu dijaga secara fisik. Tentu saja beliau punya “penjaga gaib” dalam arti kepasrahan beliau yang bulat kepada Allah SWT yang disertai ketawakkalan yang kuat. Namun, tidak ada salahnya meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan niat jahat orang-orang yang sedang gila. Dengan gaya dan konten ceramahnya, Ustad Somad pastilah tidak disukai oleh orang-orang gila. Termasuk orang yang gila kekuasaan, gila duit, gila jabatan, dlsb.

Bukan Ustad Abdul Somad saja. Ustad-ustad lain yang selama ini membuat kelompok orang gila menjadi tambah gila, juga perlu semakin waspada. Sebutlah Ustad Zulkifli Muhammad Ali, Ustad Bakhtiar Nasir, Ustad Adi Hidayat, Ustad Felix Siauw, Ustad Salim Fillah, Ustad Khalid Basalamah, dan ribuan lainnya yang berada di seluruh pelosok negeri. Para ustad yang didengarkan dan dicintai rakyat, bahkan bisa membuat orang-orang waras menjadi gila.

Kedua, kematian Ustad Prawoto dan penyiksaan KH Umar Bishri tidak bisa kita tepiskan begitu saja. Sebab, para pelaku penyerangan dalam kedua kasus ini dinyatakan sebagai orang gila. Jadi, alangkah konyolnya kita semua kalau tidak waspada padahal kita sudah tahu sekarang ini banyak orang gila yang berkeliaran atau yang disuruh berkeliaran.

Ketiga, para ulama, ustad dan kiyai tidak boleh berhenti mengarahkan umat tentang situasi negara dan tentang kualitas para pemimpin. Tuan-tuan semua adalah benteng terakhir. Tuan-tuan tidak boleh kendur memberikan pencerahan walaupun banyak orang gila yang mengancam.

Orang-orang yang gila kekuasaan maupun orang-orang gila yang sedang berkuasa, harus dicegah supaya tidak lagi melanjutkan kesewenangan dan kezaliman mereka. Tahun ini dan tahun depan, kaum muslimin berpeluang untuk menghentikan kesewenangan para penguasa lewat bilik suara. Untuk menghentikan rencana jahat dan perbuatan durjana orang-orang gila.

Pilkada tahun ini, pileg dan pilpres tahun depan adalah ajang yang terbaik untuk mengakhiri berbagai macam kegilaan yang sedang mementas saat ini. Dengan pertolongan Allah ‘Azza wa Jalla, maka para ulama, ustad, dan kiyai pasti mampu mengarahkan umat agar memberikan mandat kepada orang-orang yang masih waras

Oleh: Asyari Usman, Wartawan Senior


MUI Kota Bogor Undang Yazid Jawaz Untuk Muzakarah Atas Tuduhan Sesat Kepada Asy'ariyyah Suffiyah



Setelah viral undangan Banser NU Lubuk Linggau kepada ustadz Khalid Basalamah untuk berdialog secara terbuka, sekarang ustadz Wahabi yang lain Yazid bin Abdul Qadir Jawaz diundang oleh MUI Kota Bogor untuk membuktikan ucapannya, Yang mana Ustadz Jawaz mengatakan bahwa Asy'ariyyah, Maturidiyyah, Shufiyyah, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dll adalah fikrah sesat, aliran menyimpang dari manhaz salaf.

Untuk itu ulama-ulama yang tergabung di MUI Kota Bogor mengundang sang ustadz untuk menjadi narasumber pada acara mudzakarah yang akan diadakan pada Rabu, 7 Februari 2018 di ruang rapat MUI Kota Bogor.

Kalau sekiranya Ustadz Yazid yakin akan pendapatnya bahwa selain ajarannya ( Wahabi ) adalah sesat, tentu ia akan berani datang walau untuk sekedar membuktikan bahwa ia bukan betina yang hanya berani ngomong di belakang, dan jika selain mereka ( wahabi ) adalah umat sesat maka kedatangan ustadz yazid tentu akan sangat berarti sekali untuk menasehati dan mengajak ulama-ulama MUI yang tersesat supaya segera bergabung dengan kelompok pemegang kunci syorga milik Yazid Jawaz.

Terbaru: Muzakarah Ust. Yazid Jawas Bogor Ditunda Karena Permintaan Pihak Yazid Sendiri

Komentar netizen perihal undangan MUI Kota Bogor kepada Ustadz Yazid Jawaz;

Mudah-mudahan Al-Mukarrom Al-Imam Al-Wali Youtube
Syaikh Kh. Yazid Jawaz
kali ini dapat hadir memenuhi undangan dialog di MUI Kota Bogor, untuk membuktikan tuduhannya kepada para Ulama-ulama ASWAJA, Asy'ariyyah, Maturidiyyah, Shufiyyah, Jama'ah Tabligh, Ikhwanul Muslimin dll yang beliau tuduh sesat.

Jika tuduhannya tidak terbukti benar, maka dia harus meminta maaf kepada seluruh Umat Islam dan Para Ulama yg telah dia sesatkan baik dalam ceramah2nya maupun tulisan2nya dan berjanji tidak mengulaginya lagi
demi persatuan ummat Islam Indonesia

Mudah-mudahan dengan adanya dialog dengan Ustadz Senior mereka ini,
maka para Juniornya, bisa lebih menjaga lisannya
dari membid'ahkan, mensyirikkan, menyesatkan
golongan diluar mereka.
Saling menghargai perbedaan akan lebih Indah.

Kami tunggu kehadirannya.
Shollu'alan Nabi. [Akun Neng Arisma]


Selasa, 06 Februari 2018

Makna dan Takwil" HUWA " atau " HU " Dalam Al-Quran Menurut Salafi Wahabi


Makna "HUWA" atau "HU" menurut kelompok Salafi Wahabi adalah "ILMU-NYA"
Betulkah demikian?

Dalam Qs. Al-Hadiid ayat 4 yang berbunyi :
"HUWA MA'AKUM AYNAMAA KUNTUM"
Yang artinya : "Dia (Allah) bersama kamu dimana saja kamu berada"..

Oleh umat Salafi Wahabi kata "HUWA" diartikan dengan "ILMU-NYA"

Jadi ayat yang berbunyi : "HUWA MA'AKUM AYNAMAA KUNTUM" menjadi : "ILMU-NYA" bersama kamu dimana saja kamu berada"

Pertanyaannya, apakah hanya dalam Qu'ran surah Al-Hadiid ayat 4 ini saja kata "HUWA" itu dimaknai dengan "ILMU-NYA".???

Dan bagaimana dengan ayat-ayat yang lainnya???

CONTOH : kata "HUWA" seperti yang terdapat dalam aya-ayat dibawah ini;
(ini hanya mengambil 5 ayat saja)

1. Qs. 57/1 : "HUWA" Aziizul Hakiim
"ILMU-NYA" Maha Perkasa, Maha Bijaksana"?

2. Qs. 57/2 : "HUWA" 'alaa kulli syai-in qodiir
 "ILMU-NYA" Maha Kuasa atas segala sesuatu.?

3. Qs.57/3 : "HUWA" Al-Awwalu wal Akhiru, wazh-Zhohiru wal Bathinu"
 "ILMU-NYA" Yang Awal dan Yang Akhir, Yang Zhohir dan Yang Bathin.?

4. Qs. 57/4 : "HUWA" Al-Ladzi kholaqos-samaawaati wal ardho"
 "ILMU-NYA" Yang menciptakan Langit dan Bumi.?

5. Qs. 57/6 : "HUWA" 'Aliim"
 "ILMU-NYA" Yang Maha mengetahui.?

Cocok atau semrawut?

Betulkah apa yang di takwil oleh jamaah nyentrik Salafi tersebut, mereka terkenal anti takwil tapi diam-diam mentakwil sembarangan kata HUWA atau HU tanpa ilmu yang cukup.

Jika mereka mentakwil kata HUWA atau HU di dalam Al-Quran, lalu mengapa ayat atau kata yang lain tak boleh di takwil? sedangkan sahabat nabi sendiri sudah mentakwil ayat-ayat Al-Quran yakni Ibnu Abbas RA yang di doakan oleh nabi supaya paham dalam tafsir dan takwil Al-Quran.


Senin, 05 Februari 2018

Tigor Silaban, Legenda Pedalaman Papua yang Tak Pernah Berkata " Jalan Menuju Kesana Berat "

legenda pedalam papua

Bagi bapak ini jalan atau akses menuju pedalaman bukanlah sebuah alasan klise yang dibuat-buat untuk menghindari tanggung jawabnya sebagai bangsa Indonesia untuk membantu derita penduduk pedalaman papua. Dia adalah legenda dipedalaman Papua yang tak pernah mengeluh sambil mengatakan " Jalan menuju kesana sangat berat!..." atau ucapan; " Kehidupan disana sangat berat!.." karena ucapan itu adalah sebuah pantangan bagi pemilik jiwa-jiwa besar seperti bapak Tigor Silaban.

Begitu lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 37 tahun lalu, ia sudah memantapkan hati untuk tidak membuka praktik di kota. Ia memilih bekerja di pedalaman Papua, langsung di Oksibil, Puncak Jaya di kawasan Jayawijaya. Untuk mencapainya, saat itu, hanya dengan berjalan kaki selama seminggu dari Wamena -- dan ia melakukan itu berkali-kali sejak pertama tiba.

Bukan medannya saja yang begitu sulit, daerahnya pun dicap merah: penembakan sporadis masih marak di sana. “Tapi saya sudah berjanji kepada Tuhan, kalau saya lulus, saya ingin bekerja di pedalaman Papua, jauh dari Jakarta. Saya ingin menorong orang, dan tidak ingin praktik,” katanya suatu ketika.

Baru bebepa bulan bertugas di Oksibil, ada dokter yang terbunuh. Ia pun diminta pindah, tapi warga setempat marah. Di Oksibil, ia satu-satunya dokter.

Begitulah. Selama puluhan tahun di pedalaman Papua itu, tak terbilang lagi perjalanan yang ditempuhnya berminggu-minggu lamanya sekali perjalanan, dari kampung ke kampung untuk menggapai rumah penduduk yang sakit.
Sampai hari ini, Tigor Silaban masih di Papua. Namanya menjadi legenda di pedalaman. Tidak heran, dalam dirinya mengalir darah legenda lain, arsitek kenamaan yang merancang Masjid Istiqlal -- Friedrich Silaban, ayahnya.

Biografi singkat Tigor Silaban

Tigor Silaban lahir di Bogor, 1 April 1953. Dia merupakan pensiunan PNS di Papua. Tigor merupakan alumnus dari SMA Kanisius Jakarta tahun 1978. Pendidikan kedokteran dia selesaikan di Universitas Indonesia. Sementara S2-nya dia mengambil ilmu Kesehatan Masyarakat di kampus yang sama.

Karir kedokterannya dia habiskan di Papua. Mulai menjadi dokter di kawasan pedalaman, sampai menjabat sebagai Kepala Dinas Kesehatan di Kabupaten Jayawijaya sampai tahun 1993. Selama karirnya sebagai dokter, dia sudah mengantungi 38 tanda jasa di bidang kesehatan. Tigor merupakan anak dari Friedrich Silaban, seorang wakil kepala proyek pembangunan Masjid Istiglal. Ayahnya merupakan salah satu tim arsitek Masjid Istiglal.


Minggu, 04 Februari 2018

Mutiara Nasehat Imam Syafi'i; Jangan Berdebat dengan Orang Bodoh


Imam Syafi’i adalah adalah seorang ulama besar yang banyak melakukan dialog dan pandai dalam berdebat. Sampai-sampai Harun bin Sa’id berkata :

“Seandainya Syafi’i berdebat untuk mempertahankan pendapat bahwa tiang yang pada aslinya terbuat dari besi adalah terbuat dari kayu niscaya dia akan menang, karena kepandainnya dalam berdebat”. (Manaqib Aimmah Arbaah hlm. 109 oleh Ibnu Abdil Hadi).

Boleh saja berdebat, baik dengan lawan ataupun kawan, namun semuanya harus dalam rangka nasehat dan mencari kebenaran, bukan kemenangan. Inilah salah satu adab mulia dalam dialog atau debat yang seharusnya kita perhatikan bersama, apalagi akhir-akhir ini semakin marak dialog dan debat di sana sini.

Imam Syafi’i berkata :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”
[Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar]

Namun, jika yang kita hadapi ternyata adalah orang-orang jahil, maka lain perkaranya. Bahkan Imam Syafi'i rahimahullah berkata :

"Aku MAMPU BERHUJAH dengan 10 orang yang BERILMU, tetapi aku PASTI KALAH dengan SEORANG YANG JAHIL, karena orang yang jahil itu TIDAK PERNAH FAHAM LANDASAN ILMU."

Maka dari itu, kita mending MENGALAH saja dengan orang yang jahil. Jika tidak, maka kita akan sama-sama TURUT JAHIL. Maka DIAM saja itu PENYELAMAT, daripada diteruskan saling berbantahan yang TIADA KESUDAHAN.

Imam Syafi’i berkata :

مَا نَاظَرْتُ أَحَدًا قَطُّ عَلَى الْغَلَبَةِ

“Aku tidak pernah berdebat untuk mencari kemenangan”
[Tawali Ta’sis hlm.113 oleh Ibnu Hajar]

ﺍِﺫَﺍ ﻧَﻄَﻖَ ﺍﻟﺴَّﻔِﻴْﻪُ ﻭَﺗُﺠِﻴْﺒُﻬُﻔَﺦٌﺮْﻳَ ﻣِﻦْ ﺍِﺟَﺎﺑَﺘِﻪِ ﺍﻟﺴُّﻜُﻮْﺕُ

"Apabila orang bodoh mengajak berdebat denganmu, maka sikap yang terbaik adalah diam, tidak menanggapi"

ﻓَﺎِﻥْ ﻛَﻠِﻤَﺘَﻪُ ﻓَﺮَّﺟْﺖَ ﻋَﻨْﻬُﻮَﺍِﻥْ ﺧَﻠَّﻴْﺘُﻪُ ﻛَﻤَﺪًﺍ ﻳَﻤُﻮْﺕُ

"Apabila kamu melayani, maka kamu akan susah sendiri. Dan bila kamu berteman dengannya, maka ia akan selalu menyakiti hati"

ﻗَﺎﻟُﻮْﺍ ﺳَﻜَﺖَّ ﻭَﻗَﺪْ ﺧُﻮْﺻِﻤَﺖْ ﻗُﻠْﺖُ ﻟَﻬُﻤْﺎِﻥَّ ﺍﻟْﺠَﻮَﺍﺏَ ﻟِﺒَﺎﺏِ ﺍﻟﺸَّﺮِ ﻣِﻔْﺘَﺎﺡُ

"Apabila ada orang bertanya kepadaku,“jika ditantang oleh musuh, apakah engkau diam ??”

Jawabku kepadanya : “Sesungguhnya untuk menangkal pintu-pintu kejahatan itu ada kuncinya.”

ﻭَﺍﻟﺼُّﻤْﺖُ ﻋَﻦْ ﺟَﺎﻫِﻞٍ ﺃَﻭْ ﺃَﺣْﻤَﻖٍ ﺷَﺮَﻓٌﻮَﻓِﻴْﻪِ ﺃَﻳْﻀًﺎ ﻟِﺼَﻮْﻥِ ﺍﻟْﻌِﺮْﺽِ ﺍِﺻْﻠَﺎﺡُ

"Sikap diam terhadap orang yang bodoh adalah suatu kemuliaan. Begitu pula diam untuk menjaga kehormatan adalah suatu kebaikan"

Lalu Imam Syafi'i berkata :

ﻭَﺍﻟﻜَﻠﺐُ ﻳُﺨْﺴَﻰ ﻟَﻌَﻤْﺮِﻯْ ﻭَﻫُﻮَ ﻧَﺒَّﺎﺡُ

"Apakah kamu tidak melihat bahwa seekor singa itu ditakuti lantaran ia pendiam ? Sedangkan seekor anjing dibuat permainan karena ia suka menggonggong ?"

Beliau rahimahullah menambahkan :

"Orang pandir mencercaku dengan kata-kata jelek
Maka aku tidak ingin untuk menjawabnya. Dia bertambah pandir dan aku bertambah lembut, seperti kayu wangi yang dibakar malah menambah wangi"
[Diwan Asy-Syafi’i hal. 156]

Maka : Tidak perlu kita berdebat dengan orang2 yang nantinya hanya akan menghinakan diri kita sendiri, bahkan bisa jadi juga menghinakan para ulama.

Untuk itu Imam Syafi'i berkata kepada orang jahil yang menantangnya berdebat :

"Berkatalah sekehendakmu untuk menghina kehormatanku, toh diamku dari orang hina adalah suatu jawaban. Bukanlah artinya aku tidak mempunyai jawaban, tetapi tidak pantas bagi Singa meladeni anjing"
[“Diwan As-Syafi’i” karya Yusuf Asy-Syekh Muhammad Al-Baqa’i]

Selanjutnya:

" AKULAH LAYLA" Cinta Adalah Balada Paling Bergemuruh dan Kesunyian Paling Mencekam


Di dalam kosmologi dan kepustakaan kaum sufi, cinta kepada makhluk merupakan sebuah sarana untuk melatih dan mengasah cinta yang transenden kepada Tuhan semesta alam. Alasannya jelas bahwa seluruh makhluk itu tak lain merupakan perpanjangan tangan dari kemahaan hadiratNya. Tidak ada satupun makhluk, dari yang paling besar sampai yang terkecil, yang tidak menyimpan "alamatNya."

Jatuh cinta kepada makhluk menjadikan seseorang melakukan migrasi secara sungguh-sungguh dan penuh dengan totalitas, yaitu dari dirinya sendiri yang dikungkung ego yang sumpek menuju kepada "kekasih tercinta" yang bertahta di seberang sana.

Ketika migrasi atas nama cinta itu telah mencapai "sempurna", maka seorang pecinta akan mengalami suatu hal yang sakral yang tidak pernah dialami sebelumnya. Yaitu, dia akan menjelma sebagai kekasih itu sendiri dan karena itu dia akan mengorbankan apa saja untuk "dirinya" yang telah mengalami metamorfosis secara sublim dan sempurna.

Itulah sebabnya ketika si gila Qais ditanya tentang siapa sesungguhnya Layla yang telah membuatnya mabuk kepayang dan menjadikannya mengorbankan apa saja demi gelegar cinta suci kepadanya, dengan tandas dia menyatakan: "Akulah Layla, akulah Layla."

Yang terjadi di sini bukanlah hanya jarak yang telah dilipat menjadi sebuah titik tumpu kesatuan, akan tetapi hal yang paling mengagumkan telah menjadi sebuah kenyataan: dua jiwa itu secara hakiki telah menjadi satu dalam sebuah tempayan cinta yang sungguh membahana. Getar nasib dan simfoni jiwa Qais telah bersemayam secara sublim dalam diri Layla. Demikian pula sebaliknya.

Kalau cinta yang terjadi di antara sesama manusia menjadi sedemikian membuncah, sedemikian fokus, sedemikian tulus, sedemikian suci, apalagi kalau cinta itu menghablur ke hadapan Tuhan semesta alam yang jelas-jelas merupakan asal-usul dan sumber dari segala cinta, pasti jauh lebih mengharu-biru, memabukkan dan menenggelamkan.

Di bawah naungan kebun cinta ilahiat, para sufi menyodorkan leher mereka masing-masing di hadapan pedang Ilahi atas cinta mereka kepada hadiratNya. Tidak ada setitik atom pun rasa ego yang tersisa pada diri mereka. Sebagai sungai-sungai yang rindu terhadap lautan, mereka telah menjadi sempurna bergabung dengan samudra maharaya yang merupakan asal-usul dari mereka itu sendiri.

Kita kemudian menjadi mengerti kenapa Nabi Zakariya tidak mengaduh setengah huruf pun ketika pedang cintaNya digorokkan di leher Sang Nabi itu lewat tangan-tangan mereka yang bangsat dan durja dari kalangan umatnya sendiri. Demikian pula ketika takdir yang perih itu ditikamkan kepada anaknya sendiri yang tak lain adalah Nabi Yahya.

Cinta ilahiat yang suci itu telah menjadikan mereka merasa tidak memiliki apapun, termasuk hidup dan mati mereka, kesedihan dan kebahagiaan mereka, juga segala sesuatu yang bertaut dengan mereka.

Allah yang tidak pernah mengecewakan siapapun yang berharap dan datang kepada hadiratNya, dengan sukarela dan penuh kasih-sayang juga mendekap dan bahkan "menjadi" mereka itu sendiri.

Tentang peristiwa sakral dan paling menggemparkan yang menimpa Nabi Zakariya itu, Allah Ta'ala berfirman: "Seandainya Zakariya itu merintih walau hanya sedikit, pasti akan Kubolak-balik langit dan bumi ini."

Kenapa sampai sedemikian mengerikan wahai gerangan? Bukankah Zakariya itu adalah kekasih, nabi dan sekaligus utusanNya?

Pertama, di dalam paradigma cinta ilahiat, erangan atau rintihan itu merupakan bagian dari ego yang masih tersisa dalam diri seorang pecinta. Tidak pantas rasanya kalau guyuran dan arus cinta yang transenden itu masih terhambat oleh sebutir ego yang paling kecil sekalipun.

Kedua, firman Allah Ta'ala di atas itu sesungguhnya merupakan sebuah pengandaian yang menunjuk kepada hal yang sebaliknya. Artinya adalah bahwa cinta suci Nabi Zakariya kepada hadiratNya itu sungguh sangat kukuh dan menawan sehingga tidak ada peluang sedikit pun untuk menolak tikaman cintaNya yang telah terbukti mematikan.

Ketiga, bagaimana mungkin Nabi Zakariya itu akan merintih kalau cinta sakral yang dimilikinya sesungguhnya sedang dikawal dan dibekingi oleh Allah itu sendiri.

Secara hakiki, ketika cinta Nabi Zakariya telah dimainkan dan diperankan oleh Allah Ta'ala sendiri, sebenarnya Dia itu sedang bercinta dengan siapa?

Setiap orang yang telah menyelami lautan makrifat dengan seksama pastilah tahu dan sadar bahwa sesungguhnya Allah Ta'ala itu tak lain mencintai diriNya sendiri. Bukankah secara substansial selain diriNya itu sebenarnya tidak ada dan tidak akan pernah ada?

Cinta dengan demikian tak lain merupakan ingar-bingar, merupakan musik paling rancak, merupakan balada yang paling bergemuruh pada satu sisi. Sementara pada sisi yang lain cinta merupakan kesunyian paling mencekam, merupakan orkestrasi tunggal, juga merupakan monolog belaka. Wallahu a'lamu bish-shawab.

"AKULAH LAYLA"
Oleh: Kuswaidi Syafiie