Selasa, 09 April 2019

Milad Majelis Rabbani Indonesia ke- 24 Bersama Opick di Ponpes Taruna Rabbani Solok

ziarah rambut nabi muhammad

Majelis Rabbani Indonesia (MRI) yang berdiri pada 2 April 1995 kemaren merayakan miladnya yang ke 24 (Minggu, 7/04/2019). Majelis kajian tasawuf dan ilmu ketuhanan ini didirikan oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Al-Qhutb Ar-Rabbani, dakwah beliau berpusat di Solok tepat di Pondok Pesantren Taruna Rabbani X Koto Singkarak.

Milad MRI yang ke 24 ini di hadiri oleh penyanyi religi Opick dari Jakarta, yang mana Opick adalah jamaah atau murid dari Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah. Opick, selain menghibur jamaah yang memenuhi Surau Suluk Rabbani juga memberikan tausiyah singkat tentang pentingnya bermursyid dalam menuju Allah SWT. Dalam rangkaian acara Milad MRI ini juga diadakan ziarah Rambut Suci Nabi Muhammad serta memandikannya.

Acara tahunan MRI ini dihadiri oleh ribuan jamaah dari berbagai daerah di nusantara baik dari dalam dan luar Sumatera yang memadati Surau Rabbani yang merupakan surau tarekat terbesar di Sumatera Barat.

Peringatan hari jadi MRI ini diisi dengan zikir halaqoh atau zikir lingkar dan tausiyah dari pimpinan Majelis Rabbani Indonesia Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani. Dalam tausiyahnya Tuangku mengingatkan kepada jamaahnya bahwa zikir halaqoh atau zikir tarekat dengan posisi lingkaran ini bukanlah sebuah ibadah, tetapi bagian dari riyadhoh atau latihan. Zikir Ibadah adalah perintah yang sudah ada aturan dan ketentuannya, sedangkan zikir riyadhah dimaksudkan untuk melatih hati dan jiwa untuk merasakan bahwasanya Allah itu tidak ada jarak dan perantara dengan kita.
Baca: 
Dalam tausiyahnya Tuangku juga menyayangkan banyaknya orang yang salah paham tentang amalan tarekat, disangkanya amalan tarekat itu adalah ibadah, contohnya amalan suluk. Ada yang mengatakan bahwa suluk adalah sebuah ibadah, padahal suluk  hanya sebuah riyadhah atau pelatihan dalam ajaran Tarekat Naqsyabandiyyah, Qodiriyah Hanafiah dan tarekat lainnya.



Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.