Selasa, 03 April 2018

Tanggapan "Pedas" Untuk Puisi SARA Sukmawati; Nenek Konde dan Darurat Logika


NENEK KONDE DAN DARURAT LOGIKA

Dari sekian banyak tulisan saya, paling banyak adalah mengingatkan kalau Bangsa kita sedang menderita Darurat Logika.
Bangsa ini menderita Darurat Logika karena banyak anak bangsa yang tersesat buyar nalar khususnya mereka yang tinggal di Kolam, Selokan dan Comberan.

Ketika ada cacing berenang di Ikan Kaleng Kemasan, bukannya Ibu Menkes marah besar tanda perduli dan pertanggung jawabannya terhadap kesehatan rakyat, tapi beliau malah melakukan pembelaan absurd dengan mengatakan cacing sebagai salah satu sumber protein.
Untunglah para ahli kesehatan yang waras-pun bereaksi, cacing yang hidup sebagai parasit tetap berbahaya tanpa koma titik sebesar kepala.
Selesai !

Barisan Emak-emak Militan lebih sadis, mereka menuntut Bu Menkes untuk mencontohkan makan cacing bila perlu dengan seluruh anggota kabinet serta si Boss dan disiarkan secara live di televisi.
Emak-emak bahkan memberikan usulan tambahan menu sumber protein lain, tikus panggang dan Daging Sintetis penemuan ilmuawan Jepang yang berasal dari Kotoran.

Saya menunggu suara protes yang sama dari Barisan Emak-emak Munafik dari warga Kolam, Selokan dan Comberan yang dikomandoi Maria Kimpoi.
Hening...
Mungkin saja mereka sedang berpesta-pora makan sumber protein ala Bu Menteri

Giliran ada seorang wanita bercadar yang sesat nalar beranjing-ria, suara pujian dari warga Kolam, Selokan dan Comberan memekik setinggi langit.
Padahal belum kering ludah mereka meneriaki teroris wanita bercadar lain yang sedang mengumpulkan dana sumbangan dipinggir Jalan.
Belum kering juga tinta mereka menulis dukungan aturan yang melarang Mahasiswi bercadar justru diperguruan Tinggi Islam Negeri.

Ternyata yang mereka benci bukan cadarnya, tapi ketaatan si Pemakai cadar kepada syariat Islam.
Buktinya kalau cadarwomen-nya bego dan "gelo", ramai-ramai mereka puja dan puji serta diundang ke Tivi.

Saya menunggu sekuel-nya, kisah celana cingkrang, jenggotan dan jidat hitam memelihara babi.
Saya yakin kalau diambil dari sudut kamera yang tepat, maka celana cingkrang, jenggotan dan jidat hitam akan booming dan jadi idola baru mereka.
Tidak masalah kawan, karena dukung-mendukung sesama penderita sakit jiwa memang lumrah.

Kemarin dengan puisi-nya si Nenek Konde berotak setengah garis secara terang-benderang merendahkan syariat Islam.
Menuding cadar dan azan sebagai biang perpecahan.
Senyap...
Tidak ada suara protes dari warga Kolam, Selokan dan Comberan padahal banyak dari mereka yang beragama Islam.

Jangan bingung dan jangan heran kawan, karena logika warga Kolam, Selokan dan Comberan memang tinggal setengah tiang.
Naik-turun sesuai Bayaran dan Kepentingan.

Terakhir kalau ada Pemimpin yang sudah jelas gagal-total, hanya bisa cengengesan dan menari diatas mimpi.
Ngibul dengan seribu-satu janji tapi tidak ada yang bisa dia tepati.
Nilai Bahasa Indonesia-nya cuma lima, Nilai Bahasa Arab-nya tiarap dan Nilai Bahasa Inggris-nya tragis.
Namun tetap dipuja-puji oleh Warga Kolam, Selokan dan Comberan seakan-akan hanya dia manusia paling sempurna untuk memimpin Indonesia.
Bukankah Indonesia sudah Darurat Logika?

Mari kawan-kawan yang masih bisa berlogika dengan sempurna.
Kita luruskan shaf dan rapatkan barisan untuk menyelamatkan Indonesia.

Bergabunglah dengan saya di
#KODE_PRIbumi
(KOsong DElapan Presiden Republik Indonesia dan Bersama Untuk Menyelamatkan Indonesia).

Salam #KODE_PRIbumi

By: Azwar Siregar

Terkait:
Puisi Sukmawati Lecehkan Syariat Islam, Netizen; "Sudahkah Anda Gosok Gigi?"
Puisi BU SUK (Sukmawati Soekarnoputri) Untuk Sembunyikan Korupsi Puan Maharani?

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.