Senin, 02 April 2018

Menimbang Pidato Prof. Yusril yang Menyentak Pada Kongres Umat Islam 2018


KETIKA SANG PAKAR MENAKAR NALAR

By: Azwar Siregar

Tiga kali pesan kawan-kawan berisi pidato Prof. Yusril masuk ke inbox-ku.
Pidato ciamik beliau tentang perlunya rakyat khususnya umat untuk perduli politik.

Saya sangat sepakat dengan istilah Bang Yusril, "Segudang kepintaran itu tidak ada artinya dibandingkan Segenggam kekuasaan".

Saya mengambil contoh Negara Turki, karena kalau diambil contoh dari dalam Negeri akan menyinggung yang mulia Mukidi dan membuat pemujanya kelompok anti jenggot akan kebakaran jenggot padahal tidak punya jenggot.
Kecebong memang ngga berjenggot, bukan?

Ketika kekuasaan Turki dipegang oleh si Mustafa Kemal Ataturk, sekejap Turki yang sebelumnya menjadi pusat peradaban dunia Islam beralih menjadi negara sekuler "anti Islam".
Deislamisasi terjadi di Turki, Jilbab dilarang diruang publik, azan dilarang memakai bahasa Arab dan Masjid menjadi tempat yang menyeramkan.
Sekuler bahkan menjadi "GBHN", Negara Turki.

Sebaliknya, lewat kekuasaan juga Presiden Erdogan bisa mengembalikan azan kembali berbahasa Arab, Masjid menjadi ramai tempat sholat dan hak-hak muslimah di Turki untuk berjilbab.

Dengan kekuasaan juga, dulu ada Gabener di Ibukota menggusur pemukiman warga miskin memakai pentungan dan alat-alat negara, bebas memaki dan mengancam rakyat jelata, melarang zikir di Monas, melarang pawai takbir tapi dilain pihak merencanakan sertifikasi lonte dan melindungi tempat prostitusi.

Sebaliknya dengan kekuasaan juga Anies-Sandi mampu menutup Alexis hanya dengan secarik surat, memperbaiki kerusakan Ibukota, menolak memberi izin reklamasi, memanusiakan serta memperjuangkan hak-hak rakyat miskin di Jakarta.

Dengan kekuasaan juga Bupati Aceh Besar mampu memaksa semua pramugari maskapai penerbangan yang melintasi udara Aceh Besar wajib berbusana muslimah.

Ternyata kekuasaan sangat berpengaruh terhadap semua sendi kehidupan, termasuk kehidupan sosial, kehidupan bermasyarakat dan kehidupan beragama.
Sementara kekuasaan itu didapatkan dari proses politik yang berusaha mereka jauhkan dari kelompok beragama dan agama.

Tapi tentu saja seruan dari Prof. Yusril dan juga dari saya sebagai ketua Partai Tirik Yaluk tidak akan mudah.
Karena doktrin yang menjauhkan Islam dari politik bukan hanya terjadi dari kemarin sore.
Doktrin ini sudah dimulai sejak jaman Penjajahan Belanda, karena Belanda tahu hanya dengan memisahkan Islam dari politik yang bisa membuat mereka melanggengkan kekuasaan penjajahan dan perbudakan atas negeri ini.

Alhamdulillah, Para Ulama dan para santri pada masa itu tidak bisa dibodohi oleh Penjajah Belanda, mereka bangkit dan berjuang sampai kita meraih kemerdekaan.
Andai doktrin Belanda berhasil, saya yakin Nusantara ini sampai sekarang belum merdeka.
Sayangnya diawal kemerdekaan, kelompok Belanda berkulit sawo matang hasil binaan penjajah kembali beraksi, dimulai dari penghapusan 7 kata di Piagam Jakarta, jadilah umat kembali dipinggirkan dan akhirnya tersingkir.

Sejak jaman Orde Lama, Orde Baru, Orde Reformasi sampai sekarang Orde Cebongisasi, doktrinisasi memisahkan Islam dari politik berhasil mereka lakukan dan terus dikampanyekan secara sistematis dan didukung dana yang tidak habis-habis karena disokong oleh kelompok penyembah Iblis.

Untuk menyesatkan pemikiran umat, mereka menciptakan istilah "Islam itu Suci dan Politik itu Kotor sehingga tidak boleh disatukan".
Mereka berulangkali menanamkan doktrin sesat dan menyesatkan ini dipikiran umat.
Sehingga banyak umat yang karena khawatir mengotori Islam, lebih memilih Parpol dan Pemimpin Sekuler.

Padahal faktanya, sampai sekarang Partai paling bersih secara keseluruhan adalah Partai Agama dan yang merajai grafik Parpol terkorup dari masa-kemasa justru Parpol Nasionalis dan Partai Sekuler (m.detik.com)

Lagipula kalau benar Politik itu kotor, justru butuh siraman agama untuk membersihkannya.
Jangan lupa, proses bernegara kita dijalankan oleh sistem politik.
Kalau percaya politik itu kotor, berarti kekuasaan yang mengelola sistem bernegara kita ini kotor. Pantas saja banyak pejabat yang menjadi koruptor.

Sejak Indonesia merdeka, rezim sudah silih berganti tapi Pemerintahan selalu dipegang oleh kelompok Nasionalis Sekuler.
Mulai dari Bung Karno, Pak Harto, BJ Habibie, Gusdur, Megawaty, SBY dan sekarang Jokowi.
(Khusus Gusdur agak unik, beliau kyai tapi lebih banyak kontroversi dan malah selalu dipuja dan menjadi rujukan kelompok sekuler).

Dari dahulu Partai-Partai yang berkuasa selalu dari partai Nasionalis dan Partai Sekuler (PNI, Golkar, PDIP, Demokrat dan mereka lagi...mereka lagi).
Hasilnya, Indonesia menjadi "The sick-man of Asia".
Bahkan dilevel Asean saja, Indonesia cuma dipandang sebelah mata terutama oleh Singapura dan Malaysia.
Wong rakyat kita banyak jadi pembantu rumah tangga dan kuli mereka.

Setelah 72 tahun Negeri ini merdeka, Partai Politik Nasionalis-Sekularis dan Pemimpin-Pemimpin Nasionalis-Sekularis yang berulangkali menjalankan roda Pemerintah ternyata gagal total.
Jadi menurut saya, sekarang waktunya rakyat memberikan kesempatan kepada Partai Politik dan Pemimpin Religius-Nasionalis.
Pilih Parpol Umat yang nyata-nyata membela kepentingan rakyat, bukan Partai Semangka apalagi Partai Penjilat Penguasa.

Kalau ada yang bertanya, apakah seorang Prabowo Subianto sosok pemimpin religius?
Cukup buka google dan cari tahu, kenapa beliau dianggap Jenderal Hijau dan karena hal itu beliau dihabisi oleh kelompok Penyembah Iblis. (nasional.kompas.com)

Bai de wei, Prabowo-Yusril juga mantap, semantap Prabowo-Aher maupun Prabowo-Anies, kayak ada manis-manisnya gitu...

Selamat Hari Minggu semuanya
Sekalian saya perkenalkan :
#TEAM KODE PRI-bumi ( Kosong Delapan Presiden Republik Indonesia -bersama untuk menyelamatkan Indonesia)


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.