Jumat, 17 November 2017

Cara Lembut Ulama Sufi Dalam Mendidik Umat Sebagai Teladan Bagi Muslimin


Imam Abu Yazid Bustami

Salah satu kebiasaan Imam Abu Yazid (804-874 M) adalah sering berjalan-jalan di sekitar pemakaman. Suatu malam ketika kembali, ia berpapasan dengan seorang bangsawan muda yang sedang memainkan barbath (semacam kecapi). Imam Abu Yazid secara refleks mengatakan: “La haula wa la quwwata illa billahi” sebagai bentuk memohon perlindungan Allah.

Pemuda itu tengah mabuk dan memukul kepala Imam Abu Yazid dengan barbathnya, hingga barbathnya pecah. Kepala Imam Abu Yazid pun berdarah. Ia kembali ke tempatnya dan memanggil salah seorang temannya. Ia memberikan kepada temannya sebuah bungkusan yang dilipat rapi sembari mengatakan: Sampaikan maafku pada fulan dan berikan ini padanya serta sampaikan perkataanku ini:

“Uang dirham ini adalah kompensasi atas barbath tuan (semacam kecapi) yang hancur karena kepalaku, dan manisan ini untuk menghilangkan kesedihan tuan sebab (hancurnya barbath tuan) di saat memukulkannya (ke kepalaku).” (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 193).

Setelah pemuda bangsawan itu mengetahui, bahwa orang yang dipukulnya tadi malam adalah Imam Abu Yazid, ia terharu dan bergegas mendatanginya untuk meminta maaf dan bertaubat.

Akhlak Imam Abu Yazid ini mengandung dua dimensi, yaitu dimensi pembersihan hatinya sendiri dan dimensi dakwah. Dimensi pertama, ketika mengucapkan “la haula wa la quwwata illa billah,” ada seberkas prasangka bahwa dirinya lebih baik dari pemabuk yang sedang bermusik di jalanan. Amal ibadahnya selama ini membuka pintu ‘ujub dan takabbur dalam hatinya, seakan mengemukakan perkataan halus, “ana khairun minhu—aku lebih baik darinya.”

Karena itu, ia memandang pentingnya taubat dari keterjebakan ketaatan agar tidak seperti Iblis. Ia berkata: “Taubatun al-ma’shiyah wahidah, wa taubatun al-tha’ah alfu taubatin—taubat maksiat itu satu nilainya, sedangkan taubat taat itu seribu nilainya.” (Dr. Abdul Halim Mahmud, Abu Yazid al-Bistham, Kairo: Darul Ma’arif, tt, 111).

Imam Ahmad bin Khudriya

Dalam Tadzkirah al-Auliya’, Fariduddin Attar mencatat salah satu kisah sufi besar dari Balkh. Di kitab itu diceritakan:

Ada pencuri masuk di rumah Imam Ahmad bin Khudriya. Ia mencari ke setiap sudut rumah tapi tidak dapat menemukan apa-apa. Ia memutuskan pergi meninggalkan rumah (dengan kecewa), kemudian Imam Ahmad berkata kepadanya:

“Wahai pemuda, ambillah ember dan timbalah air dari sumur. Berwudulah, lalu laksanakan shalat. Tinggallah di sini. Jika Allah memberikan rizki kepadaku, akan kuberikan kepadamu, agar kau tidak keluar dari rumahku dengan tangan hampa.”

Pencuri itu mengikuti saran Imam Ahmad bin Khudriya. Di pagi harinya, datang seorang laki-laki membawa seratus dinar dan memberikannya kepada Imam Ahmad. Kemudian Imam Ahmad bin Khudriya berkata kepada pencuri itu:

“Ambillah ini. Sesungguhnya, ini adalah upah untuk shalatmu malam tadi.”

Pencuri itu terkejut kagum. Tubuhnya bergetar dan air matanya tumpah. Ia berucap:

“Aku telah mengambil jalan yang salah. Aku hanya bekerja satu malam untuk Tuhan, dan Tuhan memuliakanku dengan ini.”

Pencuri muda itu bertaubat dan kembali ke jalan Allah berkat kehalusan pekerti Imam Ahmad bin Khudriya rahimahu Allah. (Fariduddin Attar, Tadzkirah al-Auliya’, alih bahasa Arab oleh Muhammad al-Ashiliy al-Wasthani al-Syafi’i (836 H), Damaskus: Darul Maktabi, 2009, hlm 372).

Apa yang dilakukan Imam Ahmad, bukan hal mudah. Perbuatannya mengandung banyak arah kebaikan. Yang pertama, tidak dapat membantu orang yang membutuhkan adalah bercak hitam bagi keluhuran pekerti. Ia sering mengatakan: “man khadama al-fuqara’ ukrima bi tsalatsah al-asya’a, bi al-tawadlu’ wa husn al-adab wa sakhawah al-nafs—orang yang melayani orang-orang miskin pasti dimuliakan dengan tiga hal: ketawadluan, kebagusan pekerti dan kemurahan hati.” (Ibnu Mulaqqin, Thabaqat al-Auliya, Kairo: Maktaba al-Khaniji, 1994, hlm 37). Andai Ia gagal memuliakan pencuri yang membutuhkan itu, ia akan kehilangan tiga kemuliaan tersebut.

Kedua, menjanjikan pemberian dengan syarat tertentu,membuat pencuri itu merasakan ibadah di saat menanti anugerah. Apa yang dilakukannya berdasarkan kalkulasi yang jelas. Ia yakin betul akan mendapatkan rizki dari Allah, jika tidak hari ini, masih ada besok dan besoknya lagi.

Dengan membiarkannya tinggal di rumahnya, pemuda itu mendapatkan makanan darinya, melihat kehidupannya, dengan syarat Ia menjalankan shalat seperti yang diperintahkan Imam Ahmad. Hal ini mempermudah pemuda itu dalam membuka hatinya, menjamu kehadiran hidayah dari yang Maha Suci, Allah SWT.

Ketiga, tanpa rasa berat sedikit pun, Imam Ahmad bin Khudriya memberikan semua uangnya, seratus dinar. Hal ini membuat pencuri muda itu kaget sekaligus terharu. Tubuhnya gemetar dan air matanya mengalir deras. Wajah Imam Ahmad yang menampakkan keberlepasannya terhadap harta benda menjadi pembuka bagi keharuan pencuri itu.

Sumber: nu.or.id

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.