Selasa, 14 November 2017

Beda Antara Sufi dan ISIS Dalam Memperlakukan Tawanan Perang


ISIS Perkosa dan Jual Tahanan Wanita

Anggota kelompok bandit dan teroris Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS) menjual para perempuan muda Kristen Yazidi secara daring atau melalui sistem media jaringan.

Seorang pejuang ISIS menggunggah di laman Facebook-nya, foto budak seks Yazidi dan dia ingin menjualnya secara daring.

Abu Assad Almani menggunggah gambar pertama seorang gadis muda dengan keterangan sebuah sederhana, seperti dilaporkan oleh situs Al-Masdar News, Minggu (29/5/2016).

“Dia untuk dijual. Kepada semua bros (rekan-rekan sejawat) yang ingin membeli budak, yang satu ini seharga 8.000 dollar (AS),” tulis Almani di akun Facebook pribadinya.

Jika dikonversikan ke nilai rupiah pagi ini, maka 8.000 dollar AS setara dengan sekitar Rp 109,2 juta – kurs satu dollar AS terhadap rupah ialah Rp 13.645,35.

Gambar kedua, yang diunggah ke Facebook yang sama, ialah seorang gadis muda dengan wajah pucat dan mata merah, yang juga dijual dengan harga yang sama.

Dalam beberapa jam kemudian, dua foto gadis Yazidi itu hapus oleh Facebook, seperti dilaporkan oleh Daily Mirror. [tribun]

ISIS Bakar Tahanan Pria

Daulah Islamiyah atau lebih dikenal ISIS kembali mengeksekusi tawanan dengan cara dibakar. Kali ini, tawanan itu dua anggota militer Turki.

Hal itu terungkap dalam video yang diunggah media ISIS dan dilansir Arabi21.com pada Kamis (22/12). Kedua tentara itu ditawan di Suriah Utara pada akhir November lalu.

Seperti disebutkan dalam video, salah satu tentara Turki itu bernama Fathi Chahine dari kota Konya. Dia bekerja di satuan intelijen perbatasan. Tentara kedua bernama Saftar Tash (21), juga bertugas di perbatasan.

Kedua tentara itu dibakar dengan api yang secara perlahan menjilat tubuh mereka. Dua tawanan yang dirantai itu meronta-ronta saat seluruh tubuh mereka dimakan api.

Seorang pasukan ISIS kembali mengguyur mereka dengan minyak. Api pun kian membesar dan menghapuskan tubuh kedua tentara itu.

Sebagaimana diketahui, cara eksekusi seperti ini pernah dilakukan ISIS pada 2015 silam terhadap pilot Yordania, Muadz Kasasbeh. ISIS menawan pilot yang beroperasi di bawah koordinator pasukan koalisi AS itu setelah jet tempurnya ditembak jatuh. [kiblat.net]

Kisah Perlakuan Syeikh Abdul Qodir Al-Jazairi ( Mursyid Tareqat Qodiriyah ) Terhadap Tawanan Perang

Kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi terhadap tawanan perangnya tercatat rapi di berbagai tulisan orang-orang Barat. Kolonel Churchill menggambarkannya dengan, “almost unparalleled in the annals of warfare—hampir tak tertandingi dalam sejarah peperangan.” Ia memberikan kebebasan terhadap setiap tawanan perang untuk melaksanakan ajaran agamanya, bahkan ia pernah membebaskan semua tawanan perang Prancis dengan mengatakan, “without the food to properly feed them, Islam did not permit him to keep them as captives—tanpa makanan untuk diberikan dengan baik, Islam tidak mengizinkannya untuk menahan mereka sebagai tawanan.”

Kapan pun para tahanan perang berhadapan dengan Amir Abdul Qadir, mereka diperlakukan seperti tamu. Ia sering mengirimi mereka makanan dari dapurnya sendiri. Mereka diberikan pakaian yang baik untuk dikenakan. Salah satu bukti perhatian Amir Abdul Qadir terhadap kebebasan melaksanakan ajaran agama para tawanan perang, ia menulis surat kepada uskup Aljazair.

“Kirimkan seorang pendeta ke perkemahanku. Aku akan berhati-hati menghormatinya sebagai pelayan Tuhan dan wakil Anda. Ia akan berdoa dengan para tahanan setiap hari, menghibur mereka dan menjadi penghubung mereka dengan keluarga mereka. Dengan demikian, ia bisa menjadi sarana bagi mereka untuk mendapatkan uang, pakaian, buku, surat atau segala sesuatu yang mereka inginkan, agar dapat meringankan sukarnya hidup sebagai tahanan. Hanya saja, saat ia tiba di sini, ia tidak diperbolehkan menyinggung pergerakan militer dan keadaan perkemahan dalam surat-suratnya.” (Charles Henry Churchill, hlm 209).

Karena kemurahan-hatinya, beberapa kali para tawanan Prancis menyatakan diri hendak memeluk Islam, tidak sedikit dari mereka yang kemudian memilih Islam sebagai agamanya. Untuk memastikan bahwa tindakan mereka memilih Islam bukan karena ketakutan dibunuh, ia selalu menjawab:

“If you do so in good faith, well and good. But if you are needlessly alarmed at your present situation, you will do wrong. Though you are, and remain Christians, not a hair of your heads shall be touched. Consider rather what will happen to you should you return to your countrymen after having renounced your faith. "Would you not be treated as the most criminal of deserters? How can you hope to benefit by the occasion should an exchange of prisoners take place?—jika kau melakukannya karena iktikad baik, itu bagus. Tapi, jika kau melakukannya karena khawatir atas keadaanmu saat ini, kau salah. Meskipun kau orang Kristen dan tetap menjadi Kristen, tidak satupun rambut dikepalamu akan disentuh. Petimbangkanlah apa yang akan terjadi padamu jika kau kembali ke bangsamu setelah meninggalkan keyakinanmu. “Maukah kau diperlakukan sebagai penjahat paling kriminal? Bagaimana bisa kau berharap mendapatkan keuntungan dari hal itu ketika pertukaran tawanan perang terjadi?” (Charles Henry Churchill, hlm 209-210).

Suatu ketika ada seorang tawanan Prancis yang berbicara dengan berani di depan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Ia mengatakan, “I will never renounce my religion. You maycut off my head, but make me a renegade, never!—aku tidak akan pernah meninggalkan agamaku. Kau boleh memenggal kepalaku, tapi membuatku murtad, tidak akan pernah terjadi.”

Amir Abdul Qadir tersenyum dan berkata, “Be perfectly easy, your life is sacred with me, I like to hear such language. You are a brave and loyal man, and merit my esteem. I honour courage in religion more than courage in war—tenanglah, hidupmu aman denganku. Aku menyukai ungkapan semacam itu. Kau adalah seorang pemberani dan loyal, serta pantas dihargai. Aku lebih menghormati keberanian dalam agama daripada keberanian dalam perang.” (Charles Henry Churchill, hlm 210).

Ketinggian pekerti dan kelembutan hatinya membuat petinggi militer Prancis pusing. Mereka memerintahkan para tahanan Prancis yang dilepaskan oleh Amir Abdul Qadir tidak menceritakan keluhuran budinya kepada tentara Prancis lainnya. Jika ada yang melanggar, akan dihukum secara militer. Mereka telah dibuat pusing oleh kekuatan militer Abdul Qadir, ditambah tidak sedikit tentara Prancis yang beralih agama menjadi muslim.

Banyak sekali kisah keteladanan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. Keteladanan yang diakui seluruh dunia.Di Amerika Serikat terdapat kota yang mengabadikan namanya, kota Elkader di Iowa. Timothy Davis, John Thompson dan Chester Sage sebagai pendiri kota itumemilih nama Elkaderpada tahun 1846. Sebagai bentuk penghormatan atas keberanian, kemurah-hatian dan kemanusiaan Amir Abdul Qadir al-Jazairi. (www.elkader-iowa.com/Histroy).

William Makepeace Thackeray (1811-1863 M), seorang sastrawan Inggris, menulis puisi khusus untuk Amir Abdul Qadir al-Jazairi dengan judul The Caged Hawk at Touloun (Elang Terpenjara di Touloun) yang menggambarkan keberanian, ketenangan dan kemurahan-hati Amir Abdul Qadir al-Jazairi, serta kelicikan Prancis dalam menjebaknya hingga Ia ditangkap dan dipenjara di Touloun, Prancis. (William Makepeace Thackeray, The Works of William Makepeace Thackeray, vol 25, hlm 19). Bahkan Abraham Lincoln pernah mengirimkan hadiah sepasang pistol sebagai bentuk penghormatan kepadanya.

Apa yang dilakukan Amir Abdul Qadir al-Jazairi bukan tanpa dasar. Ia sedang mempraktikkan ajaran Islam yang luhur, yang dicontohkan oleh Nabi Agung Muhammad Saw. Berbeda dengan yang dilakukan ISIS, membunuhi para tahanan perang dan memperbudak mereka sejadi-jadinya. Bukankah al-Qur’an sendiri mengatakan:

وَيُطْعِمُونَ الطَّعَامَ عَلَىٰ حُبِّهِ مِسْكِينًا وَيَتِيمًا وَأَسِيرًا

“Mereka memberikan makanan yang disukainya kepada orang miskin, anak yatim, dan orang yang ditawan.” (Q.S. al-Insan [76]: 8). [nu.or.id]

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.