Minggu, 29 Oktober 2017

Mursyid Lebih Mengetahui Dirimu Ketimbang Engkau mengenal Dirimu Sendiri


Ketika beliau membukakan Hakikat dan Rahasia bagi kalian, maka `Uhuud yang kalian buat pada Hari Perjanjian muncul satu demi satu, dan kita membuat banyak janji pada hari Yawm al-Alastu bi Rabbikum sesuai ayat tersebut, “Bagi setiap umat, ada seorang pembimbing bagi mereka." Kemudian mereka akan membawa kalian ke level-level Adab asy-Syari`ah yang berbeda-beda dan mereka akan memberi kalian rahasia yang ketika kalian membaca sebuah Hadits untuk menarik kesimpulan mengenai hal terkait Syari`ah, ia akan muncul dalam cara yang berbeda daripada yang dibaca dan dipahami oleh orang-orang awam. Kalian akan mulai masuk ke dalam inti dan rahasia dari Hadits tersebut dan mengetahui kapan Nabi (saw) menyebutkannya, dan dalam level apa Nabi (saw) menyebutkannya, karena beliau senantiasa dalam keadaan bermi'raj.

Mereka akan membukakan bagi kalian satu demi satu, hingga kalian akan menjadi `arifun billah, seorang yang berlevel tinggi, jadi at-tasliim wa ‘l-maqbuul `inda awliyaullah, berserah diri adalah yang dianjurkan oleh para awliyaullah kepada para pengikutnya, seperti halnya ketika seorang dokter memberi pasiennya sebuah pil, pasiennya tidak akan berkata, "Untuk apa aku minum pil ini?" Jadi, mengapa ketika Syekh berkata, "Lakukan ini," kalian mulai mempertanyakannya?

Mengapa kalian datang pada Syekh? Untuk merumuskan wirid yang tepat bagi kalian! Itu seperti ketika seorang dokter memberi kalian resep obat, dan kalian mengambilnya; apakah kalian sembuh atau tidak, itu lain soal. Ia memberi kalian tablet yang mungkin cocok untuk kalian, namun tidak untuk pasien lain. Dokter berusaha untuk memberi obat yang tepat bagi mereka, tetapi untuk seseorang, mungkin obat itu langsung bekerja karena ia mempunyai kepasrahan yang lebih kuat, sedangkan untuk orang lain memerlukan waktu yang lebih lama karena mereka mempunyai kepasrahan yang lebih rendah.

Beberapa murid mengalami kemajuan lebih cepat ketika Syekhnya mengatakan, "Lakukan ini," karena mereka mempunyai kepasrahan lebih tinggi dan tidak ragu. Murid lain diberikan wirid yang sama namun tidak mengalami kemajuan, meskipun itu adalah wirid yang sama, karena ia mempunyai keraguan dan kepasrahan yang lebih rendah, seperti pasien yang datang ke dokter dan ada yang sembuh dengan cepat, ada juga yang tidak.

Mengapa kalian mengeluhkan tentang mursyid kalian? Allah berfirman, "Untuk setiap orang, ada pembimbingnya." Ikutilah pembimbing itu, dan kalian akan mendapat petunjuk.

Mawlana Shaykh Hisham Kabbani
Nazimiyya Indonesia

Source: SufiLive.com

Jumat, 27 Oktober 2017

"Wahai Ustadz Tak Berjenggot" Abdul Somad LC MA Membuat Kejang Para Pembencinya



Semakin tinggi batang pohon, semakin kencang pula anginnya. Begitulah hal Ustadz Abdul Somad, LC MA saat ini. Ulama ahli hadits asal Riau yang lagi populer dikalangan Ahlussunnah Waljaamaah ini lagi gencar-gencarnya di cari-cari kesalahaannya oleh kelompok sebelah.

Tak ada gading yang tak retak, maju tak gentar, kira-kira seperti itulah semboyan perjuangan kaum TALAFI Indonesia saat ini untuk mencari kesalahan Ustadz Abdul Somad. Mereka menyerang Ustadz Somad, tapi anehnya serangan mereka bukan pada kajian atau ilmunya yang mumpuni, tapi lebih kepada fisiknya.

Hanya itulah kemampuan kaum TALAFI dan Komunis untuk menyingkirkan dakwah seorang ulama pewaris Nabi yang menghalangi langkah mereka untuk menghancurkan keutuhan dan kedamaian bangsa ini.

Karena ustadz Abdul Somad tak berjenggot, maka sasaran utama mereka adalah jenggot! Seolah-olah jenggot dimata kaum RUSUH ini adalah sebuah penentu final bagi keislaman sesorang dan nilai mutlak untuk mendapatkan tiket masuk syorga.

Salah seorang yang tak senang dengan dakwah sunnah ustadz Abdul Somad membuat surat terbuka yang secara tak langsung membuka kedok atas kedangkalan jangakauan ilmunya sendiri.

SURAT TERBUKA KEPADA USTAD ABDUL SHOMAD

Ya Ustadzinal Kiram.

Sungguh ceramah2mu sangat memukau.
Sangat mempesona penuh humor penuh joke.
Tema Akhlaq ubudiyah muamalah sungguh kusuka.
Politisasi agama sungguh berbahaya.
Seakan bersenda gurau ibarat ulama NU.
Tak terasa hadirin terhipnotis tercuci-otak.
Otak mereka tersengat menjadi radikal intoleran.

Wahai Ustad tak berjenggot.
Kau tabuh genderang perang terhadap tasyabbuh.
Padahal tidak berjenggot itu tasyabbuh.
Masjid tempatmu berceramah tidak ada pada jaman Rasul.
Jaman rasul masjid hanya bangunan persegi panjang sebagian tanpa atap.
Pada jaman rasul masjid tanpa kubah dan menara.
Hanya istana romawi dan persia yang berkubah dan bermenara waktu itu.

Kau serukan bulan sabit merah.
Sebagaimana turki telah lakukan.
Tidakkah kau tau jaman rasul tidak ada bulan sabit merah.
Tidakkah kau tau bulan sabit lambang pemujaan terhadap dewi artemis.
Dewi pujaan penduduk byzantion sebelum kristen.
Byzantion berubah jadi byzantine, byzantine berubah jadi konstantinopel, konstantinopel berubah jadi Istanbul.
Konstantinopel menambahi bintang di pelukan rembulan.
Bintang lambang Bunda Maria.

Bulan bintang.
Dewi Artemis dan Bunda Maria.
Kemudian jadi lambang kekaisaran.
Kekaisaran Turki Ottoman nan perkasa.
Seluruh jajahan Ottoman menggunakan bulan bintang sebagai lambang.
Tanpa tau sejarahnya.

Bahkan termasuk antum wahai Ustad abdul Shomad.

Ustad muda berbakat.
Mau kau apakan negara ini?!
Tolong jawab jujur.
Penonton Youtubemu,

Firman Syah Ali,
Admin Majelis NUsantara


Kamis, 26 Oktober 2017

Cak Nun; Penjajahan Atas Nama REKLAMASI


MENYEMBAH GURU BESAR DARI UTARA
Oleh: Emha Ainun Nadjib

Yang sedang berkuasa di negeri ini menyangka bahwa rakyat Indonesia adalah cacing-cacing yang terus menerus klugat-kluget di bawah tanah. Adalah batu-batu krakal yang bisa diinjak-injak selamanya. Atau kambing-kambing yang bisa disembelih kapan saja.

Mereka juga menyangka rakyat Indonesia hanyalah para pengumbar sesumbar di medsos. Para bintang film kelas menengah yang berpose di depan spotlight. Atau sejumlah segmen yang kebetulan terlihat oleh mata kuda lembaga-lembaga survey.

Lebih dari itu, para penguasa negeri ini, setelah melakukan riset komplit dan komprehensif dengan metodologi paling advanced: mereka menetapkan kesimpulan bahwa Tuhan kurang tepat mendisain bumi, daratan dan lautan. Bahkan Tuhan gagal paham terhadap manusia. Tuhan kurang move-on.

Maka diipilihlah pucuk pimpinan dan Pemerintahan Indonesia yang mantap dan kapabel memperbaiki kelemahan disain Tuhan di Indonesia. Kalau pakai bahasa Medsos: supaya Tuhan tahu bahwa konsumsi kuliner manusia bukan hanya tambang dan korupsi. Manusia juga sangat gemar makan bumi dan lautan. Dan itu mereka belajar dari Guru Besarnya.

Baik ketidaktepatan proporsinya, prosentasenya, maupun berbagai fungsi lainnya. Terdapat sejumlah konsep yang kurang relevan, kurang proporsional dan kurang memenuhi ekuilibrium sosial ekonomi untuk hajat hidup ummat manusia, utamanya bangsa Indonesia. Maka ditetapkan oleh para Khalifah di tanah Nusantara itu sebuah keputusan besar: Reklamasi.

Daratan harus diperluas, karena disain asli dari Allah dulu kurang futurologis, tidak memperhitungkan eskalasi deret hitung atau ukur populasi penduduk Indonesia. Apalagi Indonesia ini berhati lapang, berjiwa besar, membuka pintu bagi tetangga-tetangganya yang kekurangan tempat hunian. Kalau perlu para makhluk dari planet Mars atau Jupiter atau luar tatasurya, silahkan masuk Indonesia tanpa visa.

Mungkin Indonesia sudah lama mempelajari dengan seksama bahwa Tuhan memang kurang perfect. Makanya pilihan managemen-Nya adalah evolusi kreatif. Bikin makhluk, kurang matang, lantas dimatangkan pada tahap berikutnya. Bikin manusia, kurang sempurna, lantas disempurnakan pada era berikutnya. Sampai akhirnya evolusi itu tiba pada disain Adam, dan diuji-coba sampai hari ini.

Berkali-kali anak turun Adam juga ternyata ‘malpraktek’. Sehingga Tuhan menghancurkan mereka berkali-kali dengan gempa besar, gunung meletus, banjir bandang, badai es. Lantas dibikin regenerasi. Di abad 21 ini tampaknya sudah mendekati sempurna, dengan Indonesia sebagai modelnya.

Mayoritas penduduk Indonesia punya Panutan Agung yang pernah menasehati: “Carilah ilmu sampai ke Negeri Cina”. As-Shin diterjemahkan = Cina. Itu dipenuhi dengan sepenuh-penuhnya oleh para murid. Bangsa dari Negeri itulah Guru Besar bangsa Indonesia. Mereka takdhim luar biasa kepada beliau-beliau. Hati mereka membungkuk, akal pikiran mereka patuh, dan salah satu yang dilakukan dalam rangka kepatuhan itu adalah program Reklamasi.

Sebagaimana lazimnya murid, apa saja yang terbaik yang ia miliki dipersembahkan kepada Guru Besarnya. Tanahnya, rumahnya, harta bendanya, bahkan martabat hidupnya, kalau perlu nyawanya, masa depan hingga anak cucunya – dengan tulus ikhlas diabdikan kepada Guru Besar. Indonesia sudah mengangkat pemimpin ideal untuk mempelopori pengabdian total kepada Guru Besarnya. Mereka sangat beriman kepada Guru Besar itu. Dan menyembahnya sampai nungging-nungging dan mèlèt-mèlèt.

Grobogan, 25 Oktober 2017

Sumber: https://www.caknun.com/2017/menyembah-guru-besar-dari-utara/


Nasehat Ustadz Salafi Untuk Yang Mensucikan Kotoran, Kencing Kucing

Ustadz yahya Badrussalam 
USTAD ABDULLAH SHOLEH AL-HADRAMI ANGKAT BICARA TENTANG KENCING KUCING...

Rabu, 25 Oktober 2017

Meluruskan Dalil Kesucian Kotoran, Kencing Kucing - Ustadz Adi Hidayat LC MA


USTAD ADI HIDAYAT ANGKAT BICARA TENTANG KENCING KUCING.

(Jawaban Cerdas Nan Ilmiah Ustad Adi Hidayat,Lc.MA Ketika Ditanya Tentang Kotoran Kucing Di Majelisnya).

Selasa, 17 Oktober 2017

Kaum PRIMITIF Permasalahkan Kata PRIBUMI Anies Baswedan


Pribumi itu kalau orangnya membumi
Prilangit itu kalau orangnya berasal dari langit
Prikemanusiaan kalau orangnya itu memperlakukan manusia secara manusiawi
Prikeadilan kalau orangnya memutuskan perkara hukum dengan adil
Primesen itu artinya makan gratis di warung ilu mie nasi
Prikitiew itu slogan yang dipopulerkan sule
Prihatin itu ungkapan yang sering dilontarkan mantan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono
Priyadi itu teman FB ku yang bernama lengkap didik priyadi 
Prita itu ibu rumah tangga yang sempat viral karena kasus curhatnya di media elektronik tentang salahsatu rumahsakit
Dan pribadi itu adalah diriku sendiri ...

Sedangkan PRIMITIF adalah orang yang senangnya ribut melulu dan selalu cari cari alasan untuk bersiteru, senang ribut dan bikin tegang suasana dimedia sosial,

Padahal PILKADA telah usai dan GUBERNUR dan wakil GUBERNUR juga sudah dilantik oleh PRESIDEN RI JOKO WIDODO ...

Di MEDIA SOSIAL kebanyakan penggunanya adalah kalangan PRIMITIF dari pada PRIBUMI , ga percaya ? lihat saja akun akun yang senangnya berantem masalah politik mirip sekali dengan PRIMITIF yang rela begaduh untuk berebut makanan dan akan berkelahi hanya untuk mendapatkan makanan ...

PRIBUMI atau non PRIBUMI bagiku tidak masalah anggap saja laksana kaum MUHAJIRIN dan ANSHOR yang bisa saling hidup berdampingan, tapi yang kukhawatirkan adalah orang orang PRIMITIF karena orang PRIMITIF bakal rela berkelahi, begaduh dan berperang hanya untuk berebut PRIUK nasi ...

Tak masalah dirimu PRIBUMI atau bukan PRIBUMI asalkan dirimu bukanlah PRIMITIF ... INDONESIA ini butuh kedamaian bukan butuh pertikaian jadi tolong mikir yang benar ya bro ...

By: Jefri Nofendi



Minggu, 15 Oktober 2017

Ketika Murid Lia Eden Mendatangi Al-Mursyid Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah

Murid lia eden dengan tuangku syaikh muhammad ali hanafiah

Peristiwa ini terjadi pada tahun 2004, Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah di datangi berapa orang utusan Lia Aminudin atau Lia Eden, termasuk diantaranya Muhammad Abdurahman (Imam mahdi versi Lia Eden).

Jumat, 13 Oktober 2017

Spectrum Music Analyzer Untuk Desktop Windows 7, 8, 10 Tanpa Software Tambahan


XMusic Spectrum Analizer untuk desktop tanpa harus menginstal software seperti Rainmeter, Xwidget atau Samurize.

Menampilkan spektrum analizer musik pada desktop tentu akan membuat tampilan layar PC atau laptop akan semakain rame, dan juga akan sedikit menambah kecantikannya, apalagi software spectrum tersebut sangat ringan seperti XMusic Spectrum.

Bagi sobat yang " Gila Musik " apalagi musik cadas sudah barang tentu aplikasi ini menjadi sesuatu yang wajib untuk dimiliki. Kami hanya sedikit berbagi penemuan di internet yang mudah-mudahan berguna bagi yang tak doyan dengan tampilan desktop yang apa adanya.

Download spectrum analizer music pada link dibawah, Oya, tampilan spektrumnya bisa diset sesuai selera, caranya klik ikon tray di samping kana bawah, cari ikon Xspectrum klik kanan, theme config...silahkan di utak-atik sampai puas, apalagi bagi yang rela untuk upgrade ke versi pro tentu lebih memuaskan lagi...



Cara membuat desktop seperti gambar diatas:

Rabu, 11 Oktober 2017

" Sebelum Saya Tobat dari Talafi", Kisah dan Pengalaman Mantan Jama'ah Salafi

sebelum tobat dari talafi

SEBELUM SAYA TAUBAT DARI “TALAFI

Catatan dan Pengalaman.

DULU, sudah lama nian...bahkan sejak saya masih Tsanawiyyah (SMP), sewaktu saya masih awal-awal jadi Talafi, ngaji sana-sini, baca majalah ini itu, baca artikel ini itu, taklim dari masjid ke masjid, belum bisa baca kitab, belum bisa bahasa arab; pokoknya hanya taklim dari majelis satu ke majelis yang lain, mingguan.. kadang ada yang taklim bulanan (kami menyebutnya dengan istilah ‘Dauroh’)

Selasa, 10 Oktober 2017

Menerima Uang "Hadiah" Penguasa Zhalim Akan Mengunci Kebenaran di Mulut Ulama


Menjaga hati dari rayuan penguasa zhalim bukanlah hal yang mudah, apalagi sang penguasa mempunyai banyak uang. Jarang para ulama yang selamat dari bisikan setan yang satu ini. Sudah banyak contoh dan kisah para ulama, ustadz bahkan sufi sekalipun yang hilang kehormatannya hanya karena uang jutaan, miliyaran bahkan sampai triliunan.

Jumat, 06 Oktober 2017

Trik Neo PKI Untuk Hidup Kembali; Citrakan Diri Sebaik Mungkin, Citrakan Islam Sebagai Radikal


Ini Jawaban Ust Felix Perihal Ucapan Jokowi : 'Ancaman Pancasila Bukan PKI Tapi Radikalisme Agama'.

(Semoga ustadz selalu dalam lindungan Allah Swt...Aamiin)

Saya Muslim, Islam ajaran saya, bila ada yang bilang ajaran saya perlu diwaspadai, ya jelas saya tersinggung. Pasti saya akan buat apapun yang saya bisa untuk membela Islam.

Logikanya, bila ada yang tersinggung saat ada gerakan waspadai bangkitnya komunis, melakukan apapun untuk membela komunis, maka siapa dia dan ajarannya? Tebak sendiri.

Bagaimana caranya membela komunisme? Ada dua cara. Satu, buat citranya jadi baik. Kedua, buat citra musuh-musuh anda jadi buruk. Hingga ramai manusia bersimpati.

Lihat saja, bagaimana di tayangan-tayangan kita saksikan bahwa PKI memframing bahwa mereka adalah pendukung pemerintah paling utama, loyalis Soekarno, dan semisalnya.

Di lain sisi, mereka memosisikan diri sebagai korban, sebagai tumbal propaganda orde baru, kaum yang patut dikasihani, padahal mereka brutal, sadis dan bengis.

Saat ini, isu itu berganti bentuk, dengan melabeli semua gerakan yang anti-komunis seolah sebagai gerakan yang menjadikan isu komunis ini jadi alat menggulingkan pemerintah.

Selain itu mereka juga menstigmatisasi Islam dan syariatnya sebagai pemecah bangsa, ulamanya sebagai aktor makar, persis sama dengan cara PKI di masa yang lalu.

Saat PKI dekat dengan penguasa dulu, Masyumi, dibubarkan, HAMKA, Natsir, dan ulama lainnnya dikriminalisasi. Ini lagu lama dengan penyanyi baru, bahanyanya tetap sama.

Khilafah yang merupakan ide Islam dianggap seolah lebih berbahaya daripada ide komunis yang sudah mengakibatkan jutaan nyawa meregang di pelbagai sudut dunia.

Perppu Ormas yang dikeluarkan, amaran yang penguasa berikan, ternyata lebih galak dan menghantam ummat Islam, sementara ide atheis, liberalis, komunis, diberi ruang diskusi.

Sejarah mencatat, adalah komunis yang pernah membantai manusia tanpa ampun di Indonesia, sejarah mencatat pula, Islam dan Muslim yang selalu menyelamatkan negeri ini. Lalu mengapa sampai saat ini, Islam dan Muslim selalu dituduh dengan tuduhan tak pantas? Mengapa semua Aksi Bela Islam selalu dituduh menggoyang kekuasaan?

Bagi kami Muslim, ada banyak hal yang lebih penting dari sekedar berkuasa, yang tak dibawa mati. Ada iman, ada amal salih, ada dakwah, ada jihad, yang lebih kami cintai.

Oleh: Ustadz Felix Siauw


Karena Agama Bukan Warisan, Orang Tua Kristen Ini Ikhlaskan Anaknya Masuk Islam


Ayah kristen... Ibu kristen, dengan yakin anak 8 tahun ini bersikeras untuk masuk islam. 
Kok bisa..??? Ya bisa, karena agama bukan warisan