Sabtu, 09 September 2017

Pembantai Muslim Rohingya Bukan Biksu Buddha, Tapi Raja Tuyul

pembantai muslim rohingya

BUKAN BIKSU TAPI RAJA TUYUL
Drama pembantaian Muslim Rohingya terus berlangsung, kebiadaban jalan terus, meski hampir seluruh penduduk dunia melakukan protes.

Di Indonesia sebagian besar Ormas, baik Ormas Islam maupun Nasionalis telah beberapa kali melakukan aksi di depan Kedutaan Myanmar. Dan hampir seluruh masyarakat Indonesia yang "otaknya sehat" telah melakukan protes, baik langsung maupun lewat media, terutama media sosial. Tapi pembantaian tetap berlangsung bahkan semakin beringas.

Tapi ada juga sebagian kecil masyarakat yang tidak ikut aksi protes, bahkan menyalahkan masyarakat yngg turun ke jalan. Ada dua alasan mereka menyalahkan pemrotes.

Pertama mereka bilang bahwa pembantaian suku rohingya adalah urusan dalam negeri Myanmar. Kita tidak berhak mencampurinya. Mereka termakan omongan pemerintah Myanmar yang menyatakan bahwa Rohingya adalah urusan dalam negeri Myanmar.

Masih kata pemerintah Myanmar bahwa Suku Rohingnya bukan penduduk asli Myanmar jadi tidak boleh tinggal di negara Myanmar & harus di usir dari Myanmar. Klo itu alasannya bagaimana dengan orang Cina yang tinggal di Indonesia? Apa harus kita.... dari Indonesia ?

Alasan kedua mereka tidak mendukung aksi. Karena mereka menganggap bahwa kasus Rohingnya adalah masalah kemanusiaan bukan masalah agama. Otak kalian sehat gak sih ?!
Mau di bilang masalah agama ataupun masalah kemanusiaan sama saja.

Okelah klo kalian bilang itu masalah kemanusiaan. Lalu apa kalian, dengan alasan Rohingya cuma masalah kemanusiaan, kalian diam saja ketika menyaksikan ada penyiksaan masal, pemerkosaan, pengusiran bahkan pembantaian besar-besaran ?

Padahal selama ini kalian yang paling lantang meneriakan : SAYA PANCASILA !
Klo ini yang kalian lakukan perlu kita cek lagi Pancasilanya. Saya khawatir Pancasila kalian bukan Pancasila asli tapi "Pancasila ABAL-ABAL". Sudah jelas Pancasila sila kedua berbunyi : Kemanusiaan yang adil & beradab. Mestinya jika kalian seorang Pancasiais, kalian bantu mereka atau minimal kalian kutuk tragedi itu.

Tapi yang jelas apapun perdebatannya pada kenyataan orang yang melakukan teror & pembantaian terhadap Muslim ROHINGYA adalah orang yang memakai atribut keagamaan.
Mereka menggunakan pakaian mirip pakaian ihrom tapi warna orange & kepalanya BOTAK. Jelas itu identitas agama BUDHA.

Tapi herannya walaupun telah melakukan teror bahkan GENOSIDA (pembantaian etnis) tidak ada yang memberikan lebel teroris. Beda jika yang melakukan ummat Islam, baru berjenggot setengah senti saja sudah di bilang teroris.

Walaupun demikian saya masih mau berfikir arief & bijaksana. Bahwa yang melakukan pembantaian terhadap Muslim Rohingnya bukanlah Biksu sejati.
Kalau BIKSU sejati saya yakin 1000 % tidak bakal menyakiti orang apalagi sampai membunuh & membantai. Itu tidak sesuai ajaran Buddha.

Mereka itu, para jagal pembantai, adalah para TUYUL penguasa Myanmar yang sedang kalap kekuasaan. TUYUL berseragam itulah yang di jadikan alat oleh penguasa untuk mengusir Muslim Rohingnya dari Myanmar. Para TUYUL menjadi hamba sahayanya pemerintah Myanmar. Mereka menjadi TUYUL raksasa yang sangat sadis & ganas.

Penguasa Myanmar memang bermental komunis. Mereka menggunakan sentimen agama untuk mengusir Muslim Rohingnya. Mereka menggunakan BIKSU bermental TUYUL.
Melihat fakta di atas bahwa pemerintah Myanmar & para TUYUL-TUYULnya adalah musuh bersama ummat manusia bukan hanya musuh ummat Islam.

Jadi siapa Akhsin Wirathu?
Dia adalah biksu jahat yang menjadi RAJA TUYUL !
AYO LAWAN MEREKA !!

Source: FPI FacebookPage

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.