Minggu, 19 Maret 2017

Kitab Sufi Syaikh Fariduddin Al-Attar Musyawarah Burung - Si Penggila Tuhan Dan Khizr

Kisah Hikmah Dalam Kitab Sufi Mantiq Al-Tayr
syaikh fariduddin al attar musyawarah burung

Si Penggila Tuhan dan Khizr

Ada seorang lelaki, gila karena cintanya pada Tuhan. Khizr bertanya padanya;
“O manusia sempurna, maukah kau jadi sahabatku?”
Orang itu menjawab;
“Kau dan aku tak mungkin disatukan, karena kau telah banyak mereguk air kebakaan sehingga kau akan senantiasa hidup, sedang aku ingin menyerahkan hidupku. Aku tak berkawan dan bahkan bagaimana menunjang hidupku sendiri pun aku tak tahu. Sementara kau asyik memelihara hidupmu, aku mengorbankan hidupku setiap hari. Lebih baik aku meninggalkan kau, bagai burung menghindari jerat, jadi, selamat tinggal.”

Guru dan Murid

Seorang murid bertanya pada Gurunya,;
“Mengapa Adam harus meninggalkan sorga?”
Sang Guru menjawab;
“Ketika Adam, yang termulia dari segala makhluk, masuk sorga, didengarnya suara
yang bergema dari dunia yang tak tampak, ‘O kau yang terikat pada sorga duniawi dengan
seratus ikatan, ketahuilah bahwa siapa pun di kedua dunia itu dikenal karena apa yang terjadi
antara dia dengan Aku, Kupisahkan dari segala yang ada, agar ia hanya terikat padaKu saja,
kawannya sejati.’ Bagi seorang pencinta, seratus ribu kehidupan pun tiada artinya tanpa yang dikasihinya. Ia yang hidup untuk sesuatu yang lain dari Dia, biar Adam sendirilah itu, telah
terusir. Para penghuni sorga tahu bahwa yang pertama mesti mereka serahkan ialah hati mereka.”

Mahmud dan Orang Alim

Seorang yang salih, yang ada di Jalan yang benar, melihat Sultan Mahmud dalam mimpi dan
berkata padanya,
“O Raja yang bahagia, bagaimana keadaan dalam Kerajaan Baka?”
Sultanmenjawab,
“Pukul badanku jika kau mau, tetapi jangan ganggu jiwaku. Jangan berkata apa pun,
pergilah, karena di sini tak akan disebut-sebut tentang jabatan raja. Kekuasaanku hanya riya,
kemegahan diri, kesombongan dan kesesatan semata. Dapatkah kekuasaan mengagungkan
segenggam tanah? Kekuasaan milik Tuhan, Penguasa Alam Semesta. Kini setelah kuketahui
kelemahan dan kedaifanku, aku pun malu pada kedudukanku sebagai raja. Bila kau ingin
memberiku gelar, berilah aku gelar “si malang”. Tuhan Raja Alam ini, maka jangan sebut aku
raja. Kerajaan milik Tuhan; dan aku senang kini menjadi seorang darwis biasa di dunia.
Semogalah Tuhan menyediakan seratus sumur untuk memurukkan diriku hingga aku tak usah
menjadi raja. Lebih baiklah sekiranya aku menjadi pemungut sisa-sisa panenan di ladang-ladang
gandum. Sebut Mahmud hamba-sahaya. Sampaikan restuku pada putraku Masud, dan katakan
padanya, ‘Jika kau ingin menjadi arif, perhatikan peringatan dari ihwal bapamu.’ Semoga layulah
sayap dan bulu-bulu Humay itu, yang menaungkan bayang-bayangnya padaku!”


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.