Rabu, 31 Oktober 2018

Islam Nusantara dalam Pandangan Dewan Ulama Tarekat Indonesia

Islam Nusantara dalam Pandangan Dewan Ulama Tarekat Indonesia


ISLAM NUSANTARA DALAM PANDANGAN DEWAN ULAMA THAREQAH INDONESIA (DUTI)

Oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani
(Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia)

Minggu, 28 Oktober 2018

Dewan Ulama Thareqah Minta Stop Semua Aktivitas Fethullah Gulen di Indonesia

Dewan Ulama Thareqah Minta Stop Semua Aktivitas Fethullah Gulen di Indonesia

ulama tarekat minta fethullah gulen dihentikan

Dewan Ulama Thoriqoh Indonesia (DUTI) meminta pemerintah Indonesia menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen.

Lembaga yang beranggotakan para ulama dan guru besar ini telah mengeluarkan fatwa yang memutuskan gerakan Gulen melakukan penyimpangan ayat-ayat Alquran dan merusak akidah.

“Ya [fatwa] sudah dirlis resmi,” ujar Sekretaris Jenderal DUTI Zubair Ahmad saat dihubungi Anadolu Agency pada Selasa.

Zubair juga menegaskan pemimpin tertinggi DUTI Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani sedang melakukan pertemuan dengan pemimipin-pemimpin tarekat di Turki.

Dalam fatwanya, DUTI mengaku telah melakukan investigasi dan penelitian soal Fethulleh Gulen semenjak terjadinya kudeta gagal di Turki yang menyebabkan 258 orang meninggal dunia.

“Fethullah Gulen dengan segala tindakan dan pemikirannya terhadap Islam, khususnya tentang sufi adalah kesesatan yang akan merusak nilai-nilai sufi itu sendiri,” tulis Fatwa DUTI yang langsung ditandatangani Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani.

DUTI menilai awalnya Fethullah Gulen menyebarkan ajarannya menggunakan nama besar ulama Turki Bediuzzaman Said Nursi.

Namun setelah diteliti dan dipelajari, ajaran Gulen telah menyimpang dari ajaran Bediuzzaman Said Nursi itu sendiri.

“Nama Said Nursi hanya digunakan untuk menarik simpati Umat Islam khususnya di kalangan para pemuda dan aktivis kampus,” tulis fatwa DUTI.

Selain itu, DUTI menilai kelompok Gulen mengarah kepada organisasi teroris yang bersembunyi di balik gerakan sosial dan agama.

“Meminta kepada Presiden Indonesia dan seluruh pemimpin negara beserta para Ulama dapat bersatu dan bersama-sama menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen di negaranya masing-masing,” terang Fatwa DUTI.

DUTI dikukuhkan pada Januari 2016 melalui pertemuan para ulama tarekat yang berlangsung di Solok, Sumatera Barat.

Source: https://www.aa.com.tr

Kunjungan Dewan Ulama Thareqah Indonesia ke Istanbul Turki

Kunjungan Dewan Ulama Thareqah Indonesia ke Istanbul Turki

Tuangku Syaikh M. Ali Hanafiah dan Walikota Mevlut Uysal

Pimpinan ( Rais Mustasyar) Dewan Ulama Thareqah Indonesi/ASEAN Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani dan delegasi berkunjung ke kota Istanbul Turki bertemu dengan juru bicara partai AK Omer Sahan. Sebagaimana diketahui Partai AK adalah partai pendukung Presiden Erdogan. Di istanbul Tuangku dan rombongan bertemu dengan walikota Mevlut Uysal.

Minggu, 21 Oktober 2018

Arti dan Makna Gerbang Monumen 9 Pilar Balun Solok Selatan

Arti dan Makna Gerbang Monumen 9 Pilar Balun Solok Selatan


REKAAN ARTI MONUMEN 9 PILAR di BALUN.
Oleh: Hasmurdi Hasan

Senin, 08 Oktober 2018

MIRIS..!! Pesta Mewah IMF Bali Ditengah Luka dan Duka Palu

MIRIS..!! Pesta Mewah IMF Bali Ditengah Luka dan Duka Palu


KAUM OTAK DIKIT MABUK DAUN BAWANG...

Pernah dengar orang mabuk daun bawang?, tentu saja anda tidak akan pernah mendengar apalagi mengalaminya kecuali anda bagian dari spesies makhluk mutan paling ajaib abad-21 ini, KECEBONG...!

Para kumpulan kecebong ini sangat unik, mereka memakai semua jurus mabuk termasuk mabuk daun bawang yang secara logika pasti ditertawakan semua orang.

Makan Nasi Goreng bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Sop bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Bakso kabur karena ada daun bawangnya, eh maaf, karena ogah bayar rupanya...SIALAN!!!

Sekarang junjungan mereka diserang karena mengadakan pesta mewah bersama Tukang Kredit Internasional, biasa disingkat IMF, ditengah derita Masyarakat Palu dan Donggala. Mereka mau cuci tangan memakai jurus Mabuk Bawang dengan menyalahkan Rezim SBY.

Benar, acara pertemuan itu diusulkan jaman Pak SBY. Tapi keputusan Indonesia menjadi tuan rumah tahun 2015, jadi anggaran serta perencanaan mewah tidaknya acara itu ada ditangan rezim berkuasa sekarang.

Lagipula poin sesungguhnya bukan di masalah Indonesia yang menjadi Tuan Rumah Pertemuan Tahunan Tukang Kredit Internasional dan Bank Dunia tersebut.
Tapi ada musibah mendadak yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala.

Seharusnya kalau Rezim sekarang punya nurani, kalaupun tidak bisa lagi dibatalkan, ayo kurangi semua kemewahan pesta sebagai bentuk keprihatinan karena "anak-anak" Tuan Rumah penyelenggara pesta sedang ditimpa musibah.

Bila perlu suguhkan "menu prihatin" misalnya Bakso cukup pakai daun bawang kepada ribuan tamu dan saya yakin Dunia Internasional akan memahaminya. Sisa anggaran misalnya setengah Triliun salurkan ke Masyarakat Palu dan Donggala agar mereka bisa ikut tersenyum.

Bukan malah ikut arahan Menko Oppung yang menginstruksikan agar pesta tersebut akan dibuat menjadi pesta terbesar sepanjang sejarah hanya demi tujuan agar Dunia meyakini Indonesia baik-baik saja.
Kawan, Indonesia kita memang sedang berduka.
Lombok dan Palu-Donggala sedang ditimpa musibah dan Pemerintah kekurangan dana untuk merehabilitasi dan rekonstruksi secara maksimal wilayah-wilayah yang ditimpa bencana.

Andai saja tidak ada musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala, saya pikir tidak ada yang protes dengan besarnya anggaran demi kemewahan acara tersebut.
Bahkan kita tidak akan perduli kalau Rezim berkuasa sekarang mau mengadakan acara khusus buat mereka, misalnya Pertemuan dan Pesta Planga-Plongo Sedunia.
Bila perlu sekalian buat dan resmikan patung idola kalian dan si Parhat Kibus sebesar Tugu Monas.

Kami hanya bersuara karena nurani kami tidak terima ada pesta mewah sementara di Palu-Donggala masih ada mayat-mayat saudara kita dibawah reruntuhan rumah-rumah mereka.
Kami hanya protes karena jiwa kami menangis karena melihat video masyarakat disana yang berebutan makanan dan minuman yang dilempar dari Helikopter Bantuan, sementara tamu-tamu anda dilayani dengan sempurna ditempat-tempat megah, semua itu memakai uang rakyat !!!

Terakhir saya bukan pendukung apalagi Kader Partai Demokrat. Tapi menyalahkan Pak SBY disetiap blunder dan kegagapan rezim ini adalah bentuk mabuk bawang yang menghina logika.
Kita akui saja, Pak SBY seribu kali lebih mampu memimpin negeri ini.
Tolong jangan durhaka dan lagi-lagi menista logika dengan mengatakan tidak ada pembangunan di jaman beliau.
Bandara Internasional Kuala Namu-Medan, Sepinggan Balikpapan, Sultan Hasanuddin Makassar dan puluhan Bandara-bandara megah dipersembahkan beliau untuk rakyat Indonesia.
Tol Bali Mandara dibangun tanpa sesen pun uang dari APBN karena kondisi ekonomi yang lumayan baik dijaman SBY dan BUMN-BUMN kita tertata dengan baik dan profesional.
Jadi stop menyalahkan Pak SBY diatas kegagalan dan ketidakmampuan idola kalian, wahai kaum berotak dikit dengan logika kirik.....

By: Azwar Siregar

Rabu, 19 September 2018

Surat Menohok Dari Melayu Untuk Yaqut Cholil Banser

Surat Menohok Dari Melayu Untuk Yaqut Cholil Banser



TAMPARAN KERAS BUAT YAKUT..... "Surat dari Melayu"

Menggelikan, sekaligus terdengar menjijikkan, ketika mendengar Tuan ingin berkhutbah tentang kebangsaan, NKRI, atau tentang Pancasila, di kampung kami, Riau.

Tuan mungkin sedang mengidap amnesia sejarah. Baiklah, aku sampaikan lagi, bahwa ketika negeri yang bernama Indonesia ini merdeka tahun 1945, kami masih negara berdaulat, dan lalu kami dengan kesadaran memutuskan untuk bergabung, menjadi Indonesia.

Kami masuk ke Indonesia, bukan dengan tangan kosong seperti Tuan. Kami menyumbang 10 provinsi, 2 daerah jajahan, 39 butir berlian, uang 13 juta gulden, menyumbang minyak, dan memberikan bahasa. Bahkan sampai hari ini, tanah kami, mulai dari blok kangguru, Dumai, dan Pakning, masih menyusukan negeri ini dengan 900 ribu barrel setiap hari. Kami berikan juga hasil hutan, kelapa sawit, hasil laut, dan berbagai komoditas lain.

Sejak eksploitasi stanvac sampai minyak bumi kami mengisi lambung kapal Gage Lund tahun 1955, kami sudah menyumbang ribuan trilyun kepada negeri ini. Kami juga telah memberikan bahasa, agar Tuan petah berkata kata.

Izinkan kami bertanya: Apa yang sudah negeri Tuan sumbangkan kepada Indonesia, sehingga Tuan merasa berhak untuk menceramahi kami soal kebangsaan? Minyak kampung kami juga ikut dalam tol, dalam jalan yang tuan injak di kampung Tuan. Minyak kami sudah membangun gedung gedung di kampung Tuan, bahkan republik ini. Itu sumbangan kami, mana sumbanganmu?

Tuan hanya mencintai negeri ini dengan tagar #nkrihargamati, atau #sayapancasilasayaindonesia, lalu Tuan merasa sudah demikian Indonesia?

Di kampung kami, orang kampung Tuan bisa menjadi apa saja, jadi gubernur, bupati, walikota, pengusaha, pejabat, anggota legislatif, bahkan menjadi bajingan pun boleh. Bisakah hal yang sama terjadi di kampung Tuan?

Di mana adab Tuan? Tuan menikmati kekayaan kami, tapi Tuan tanpa malu, tanpa moral mempersekusi ulama kami dan mempertanyakan keindonesiaannya. Apakah Tuan waras?

Berhentilah melakukan omong kosong, belajarlah untuk memiliki rasa malu. Antara kami dan Tuan tidak layak untuk disandingkan dalam keindonesiaan. Berhentilah meludahi muka sendiri..

@syaukani al karim

Next:

Minggu, 09 September 2018

Mengenal Sayyid Seif Alwi Ba'alawy Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia

Mengenal Sayyid Seif Alwi Ba'alawy Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia


HABIB ALWI BA 'ALAWY
Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia.

Jumat, 07 September 2018

Ustadz Abdul Somad Da'i Yang Terjajah di Negeri Sendiri

Ustadz Abdul Somad Da'i Yang Terjajah di Negeri Sendiri



USTAD ABDUL SOMAD TERJAJAH DI NEGERI SENDIRI, ADA APA DENGAN INDONESIA KINI ?
Oleh: Ustad Maaher At-Thuwailibi

Jumat, 31 Agustus 2018

Keberkahan Berjamaah dalam Pengajian dan Berthareqah

Keberkahan Berjamaah dalam Pengajian dan Berthareqah

keberkahan dalam jamaah
Jamaah Surau Suluk Rabbani, Solok

WEJANGAN MURSYID
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Al-Qhutub Ar-Rabbani

Rabu, 20 Juni 2018

Kitab Fiqih Kuno Muhammadiyah 1925M Bongkar Ajaran "Menyimpang" Muhammadiyah Jaman Now

Kitab Fiqih Kuno Muhammadiyah 1925M Bongkar Ajaran "Menyimpang" Muhammadiyah Jaman Now


KITAB FIQH KUNO MUHAMMADIYYAH

"Topeng" Ajaran Muhammadiyah jaman now akhirnya terbongkar juga. Muhammadiyah yang dulu ternyata beda dengan yang sekarang, yang mana sebagian besarnya sudah salah jalan keluar dari jalur yang di tetapkan oleh pendirinya KH. Ahmad Dahlan. Kerancuan ajaran modernisasi ala Wahabi Muhammadiyah yang sekarang di bongkar oleh kitab kuno Muhammadiyah " Kitab Fiqih Jilid III " terbitan Taman Poestaka Muhammadiyah (semacam lembaga pers/penerbitan organisasi) edisi 1343 H. (1925 M), Djokjakarta.

Selasa, 12 Juni 2018

Kegetiran Hidup Perumus Pancasila Tak Seperti Mewahnya Hidup "Satpam" Pancasila

Kegetiran Hidup Perumus Pancasila Tak Seperti Mewahnya Hidup "Satpam" Pancasila


HIDUP MELARAT ALA PERUMUS PANCASILA
Oleh: Rizki Lesus

Rumah itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Begitu kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013: hal.114). Entah berapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Sangat jarang kita dengar, petinggi partai di negeri ini masih mengontrak rumah, pinda-pindah bahkan hampir tiap bulan. Padahal, mungkin di luar sana, seorang ayah tidur dengan anaknya di atas gerobak beratap langit.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar mengisi hari-hari mereka.

Di Jakarta, sejoli ini pernah menikmati masa-masa indah di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Khusus gang listrik, menjadi kenangan tersendiri bagi sejoli ini. Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. Anak keempat Salim, Adek, mengingatnya dulu ia harus membersihkan bola lampu setiap sore. (Kustiniyati Mochtar: 1984).

“Rumah kampung dengan meja kursi sangat sederhana,” tambah muridnya yang juga diplomat, Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, mengenang. Pernah pula, kasur gulung, ruang makan, dapur, dan ruang tamu kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar.

Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit ketika keluarga ini sedang tak ada makanan.

Tak heran, dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn bilang,” Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat!”

Frasa selama hidupnya melarat ini artinya sangat jelas. Sebelum, saat, hingga pasca menjabat sebagai Menteri, atau jabatan lainnya, ia tetap melarat, dan tetap mengontrak rumah hingga akhir hayatnya.

Bisa dibayangkan kini, ada seorang menteri yang tidak punya rumah? Anggota Dewan yang kekurangan bahan makanan? Seorang yang menolak menjadi ketua partai besar ? Seorang diplomat kelas dunia yang tidak bisa bayar listrik?

Kisah kesederhanaan – atau kemelaratan – ini tak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hata pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966 – 1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur legendaris Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan bung Hatta untuk membeli sepatu bally tak juga terpenuhi.

Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun apadaya, tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally tinggallah kenangan.

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat bersahaja. Saat orang-orang bertanya ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai menteri, ia menjawab:

“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Di saat masyarakat hidup sulit, katanya, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Karenanya, ia turut merasakan kesulitan serupa. Suatu kebiasaannya adalah berpuasa sunnah, bahkan dalam kondisi sesibuk apapun di mana pun.

Saifudin Zuhri mencatat, saat mereka menginap di suatu hotel, ia lupa menyiapkan sahur. Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian Saifuddin Zuhri ketika sore.

“Dengan sebutir telur dan segelas teh itulah KH Wahid Hasyim bersahur,” kenang Saifudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren. Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”pesannya.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan hingga pengujung senjanya, masih tinggal di rumah warisan ayahnya, Haji Muzakkir.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakkir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya, yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, ia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta. (Mitsuo Nakamura: 1996).

Ironi memang, tapi itulah mereka, para pendiri bangsa ini. Pantas saja, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) – DPR kini – pertama, Kasman Singodimedjo melihat kondisi gurunya, Haji Agus Salim, dengan lirih berkata, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Memang, mereka bukanlah Pembina, pengarah, atau apapun jabatan yang melekat terkait dasar negara ini. Namun mereka menyusun pondasi bangsa ini dengan penuh ketulusan, mungkin tanpa berpikir-pikir apakah anggaran sekian bisakah kami membina masyarakat?

Mereka membina nilai-nilai kebangsaan dengan keteladanan. Mungkin saja, balasan materi yang diterima saat itu minim, atau bahkan harus merogoh kocek pribadi, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Mereka yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil –mobil dan rumah mewah, gemerlap jantung kota lainnya.

Kemiskinan tak membuat mereka berhenti berbuat. Kesungguhan mengalahkan keber-ada-an, dan sejarah telah mencatatnya.

Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan, kepekaan nurani, yang masa kini mungkin semakin sulit kita ditemukan.

June 4, 2018

– Penulis adalah penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, Founder Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Artikel berikut:

Jumat, 01 Juni 2018

NOL-kan Hatimu InsyaAllah Keyakinan Itu Akan Datang Bersama Pemiliknya

NOL-kan Hatimu InsyaAllah Keyakinan Itu Akan Datang Bersama Pemiliknya


Pernah suatu ketika murid dari Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah ( murid-murid beliau biasa memanggil beliau dengan panggilan Tuangku”) bertanya tentang keyakinan kepada beliau;

” Tuangku, sebenarnya keyakinan itu apa? Apakah keyakinan itu adalah yang ketika kebal dari segala benda tajam atau bisa menguasai hal-hal gaib atau ketika seseorang yakin pada Allah maka ibadahnya menjadi lebih istiqomah? ”