Sabtu, 11 Mei 2019

Mustahil Puan Impor Guru Asing, Negara Tak Mampu Bayar Gaji Mereka

puan impor guru

Ribut-ribut Guru Asing

Oleh: Stafanus Rahoyo

Entah berapa tahun lalu, saya bersama dua orang teman iseng-iseng melamar guru bahasa Indonesia di luar negeri. Dua orang teman saya berhasil, saya gagal. Bahasa Inggris saya buruk.

Saya tertarik mengajar di sana, New Zealand, setelah sebelumnya pernah menemani dua turis dari Belanda. Dua orang turis ini bekerja sebagai guru SD. Usianya masih sangat muda, dua puluh lima tahunan. Gila kan... Guru SD bisa jalan-jalan ke luar negeri dengan uang pribadi? Gajinya pasti besar!

Ketika itu saya mengajar di SD swasta di Jakarta. Jangankan untuk jalan-jalan keluar negeri. Untuk bisa pulang kampung ke Magelang saja, saya hanya mampu enam bulan sekali: Desember dan Juni.

Jomplang bener penghasilan saya dan dua turis yang sempat saya temani itu!

Gaji guru sekarang jauh lebih baik daripada waktu itu, tahun 1990-an. Apalagi bagi guru yang mendapatkan sertifikasi. Tetapi saya yakin, segede-gedenya gaji guru di Indonesia, tetap kalah gede dengan gaji guru di luar negeri.

Malaysia, misalnya. Rata-rata gaji guru di sana Rp22 juta lebih per bulan; Brunei Rp24 juta; Filipina Rp10 juta. Jangan tanya Singapore... Gaji rata-rata guru di sana lebih tinggi daripada guru pemula di Amerika.

Berapa gaji guru pemula di Amerika? Konon, sekitar 45 juta rupiah sebulan. Jerman Rp87 juta dan Jepang Rp74 juta.

Apa itu artinya? Kalaupun menteri Puan benar-benar ingin mengimpor guru; emangnya negara berani bayar dengan standar mereka plus fasilitas-fasilitas lain yang pasti diminta? Tidak perlu setiap sekolah ada guru impor. Satu kabupaten/kota satu guru impor saja... Silakan dihitung berapa anggaran negara harus dikeluarkan untuk menggaji mereka.

Taruhlah menteri puan nekad tetap mengajukan anggaran untuk guru impor... Anda yakin DPR setuju? Kecuali menteri puan akan menggaji mereka dengan uang pribadi, lain soal.

Jadi, buat apa guru meributkan guru impor yang nyaris mustahil itu? Jauh lebih produktif kita meningkatkan kemampuan diri dan kalau perlu bertarung jadi guru di luar negeri. Anda nggak ngiler digaji 45 juta sebulan, misalnya...??

Selanjutnya Baca:

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.