Selasa, 14 November 2017

Kisah Sapu Lidi Sebagai Lambang Persatuan dan Kesatuan yang Kokoh


Kisah Sapu Lidi

Pernah ada penduduk desa yang baik dan sederhana, yang merupakan ayah dari empat anak laki-laki. Dia menjaga anak-anaknya dengan baik, dan bekerja keras supaya mereka semua bisa hidup baik dan bahagia, dengan berkecukupan untuk makan tiap hari, dan punya rumah yang nyaman untuk tinggal. Anak-anaknya punya hidup yang baik karena ayah mereka yang baik.

Penduduk desa yang baik ini, yang bernama Astina, senang membaca cerita-cerita suci di Bali. Setiap malam setelah pekerjaannya selesai dan semua anak-anaknya telah diberi makan dan diantar tidur, Astina mengambil cerita-ceritanya dan membacanya sampai dia merasa capai dan pergi tidur sendirian. Dia percaya dalam pengajaran dari cerita-cerita suci itu, dan mencoba mengerti dan mengikuti mereka. Supaya dia bisa menjalankan hidup yang lebih baik.

Akan tetapi, keempat anak Astina tidak seperti dia. Mereka tidak mengikuti kelakuan ayahnya yang baik. Setiap hari anak-anaknya bertengkar satu sama lain atau dengan tetangga, dan membuat begitu banyak masalah di dalam desa mereka. Ini menekan Astina berat sekali, dan dia menghabiskan banyak malam berfikir bagaimana mengubah anak-anak laki-lakinya. Dalam malam-malam ini Astina juga membaca lebih banyak buku suci Bali, berharap untuk mempelajari cara untuk mengatasi masalah dan menghentikan anak-anaknya bertengkar dari buku itu.

Suatu malam, keempat anaknya benar-benar sangat nakal, dan Astina harus mendengarkan keluhan-keluhan dari beberapa tetangga dalam perjalanan pulangnya ke rumah setelah seharian kerja keras di ladang.

Astina memutuskan itulah waktu yang tepat untuk memanggil anak-anaknya bersama dan untuk membicarakan secara serius kepada mereka. Astina menyuruh anak-anaknya untuk duduk. Kemudian dia pergi ke dapur dan membawa sapu lidi, yang terbuah dari urat daun kelapa yang kuat.

Astina berkata pada anak-anaknya, “tolong ambil sapu ini dan coba untuk mematahkannya.”

Anak bungsu mencoba dulu, tapi dia tidak bisa mematahkan sapu yang kuat itu, karena lidi diikat dengan sangat kuat bersama. Kemudian anak ke tiga mencoba dan gagal juga. Kemudian anak ke dua dan anak tertua, tapi tidak ada yang bisa mematahkan sapu.

“Sekarang,” kata ayah mereka. “Aku akan menunjukkan kalian sesuatu.”

Dia melepaskan ikatan pada sapu dan lidi jatuh ke lantai. Dia mengambil mereka satu per satu dan mematahkan mereka dengan mudah.

“Lidi-lidi dari sapu ini mudah sekali dipatahkan ketika mereka tidak diikat bersama dalam satu ikat,” ayah yang baik itu memberitahukan anak-anaknya.

“Kita juga sama, anak-anakku. Satu per satu, kita bisa dipatahkan, tapi ketika kita bersama kita kuat. Kalau kita tinggal sebagai satu keluarga, kita akan bahagia. Marilah kita hidup dalam satu kesatuan dan menjadi seperti sapu ini- dekat satu sama lain, kuat dan bahagia.

Baca juga:

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.