Rabu, 14 Maret 2018

Kepanikan Penguasa Dibalik Registrasi SIM Card dan Ciloteh Mentri Luhut


NEGERI, REGISTRASI DAN ATRAKSI SANG MENTRI Nyari KTP dan KK untuk Pemilu?

Hari ini, saya ganti kartu sim, pake AT&T. Gk pake ribet masukin data pribadi, gak pake no KTP / passport apalagi KK. Padahal saya hanya numpeng cari makan di negeri Paman Sam.

Jadi senyum sendiri melihat permainan rezim dinegeri sendiri. Semakin keliatan perpaduan antara kekalutan, ketakutan dan blingsatan. Resak dan takut kalah oleh kebenaran.
Pake pola fikir sederhana saja. Wacana registrasi ulang kartu prabayar itu, sudah bergulir lama. Malahan dengan penekanan konsekwensi konsekwensi tertentu ( dalam bahasa lain bisa disebut ancaman ) bila tidak melakukan registrasi. Bahkan ada jaminan data pelanggan aman!
Setelah Sekian banyak data pelanggan masuk ( mungkin menurut bandar sudah mencukupi kebutuhan ), maka.... sekali lagi makaaaa.... keluarlah statement dari sang mentri kalau data yg sudah masuk bisa beresiko disalah gunakan oleh pihak - pihak tertentu.

Wealahhh.. pa paaaa.... koq baru sekarang ngomongnya?? Padahal polemik ini sudah berkembang beberapa bulan kebelakang. Kenapa tidak melakukan Jurus preventive, mengkaji dulu, kemudian mengeluarkan statement iya atau tidak. Lha sekarang datanya udah ada ditangan orang + data ektp...
Trus sekarang cuci tangan??? Aiihh manisnya...
Trus kami salah kalau semakin curiga kalau rezim ini adalah rezim abal abal?? Rezim tanpa planning. Rezim tanpa koordinasi....

Itu soal data kartu prabayar...

Yang satunya mengeluarkan statement kalau kemampuan anak bangsa belum bisa diandalkan untuk menggarap proyek multy millions dollars. Jadi, disinyalir dibutuhkan tenaga "luar" untuk menggarap proyek - proyek tersebut.

Ah, Menteri,...
Jangankan menggarap proyek didalam negeri pak. Yang jadi top management di negeri orang juga banyak.
Dan Ingat lho pak Presiden RI ke 3 itu, Putra Indonesia, jenus ke 3 didunia. Prestasi dan kemampuanya diakui dunia. Bapak tahu diperusahaan industri pesawat terbang dunia, anak bangsa banyak menempati posisi yg prestisius?

Sakit hati saya, mendengar anak bangsa di underestimate sama bangsanya sendiri. Padahal kami yg ada di luar negeri berusaha menunjukan kalau kami bisa dan mampu berdiri sejajar dengan masyarakat dunia lainya. Kami berusaha untuk bisa mengangkat dagu dan berdiri tegak dengan mengatakan " I'm Indonesian"....

Oowwhh... Saya sadar sekarang, kenapa bapak bilang anak bangsa belum bisa diandalkan, karena bapa mengukurnya dari kemampuan bapa sendiri yang abal abal. Jangan disamakan begitu pa, sakit hati saya mendengar anak bangsa dilecehkan. Maaf pak, kalau bapa mau hidup dibawah ketiak bangsa lain, silahkan.... jangan ajak ajak kami.

Kami bangga jadi anak bangsa ini pa, yang sudah sanggup membangun barobudur, disaat orang Amerika masih tidur dan sibuk menggusur.

Kalau alasan bapak mengatakan anak bangsa belum mampu, sehingga bapa mendatangkan wadya balad bapa dari negeri panda, kami sudah tahu kemana arahnya. Kan sang presiden pun sudah menghimbau agar izin buat TKA dipermudah. Jadi skenarionya dan stage nya sama. Uang dan Kekuasaan....

Kami mungkin miskin, tapi tidak bodoh. Kami mungkin bukan priyayi tapi kami masih cinta ibu pertiwi.
Oh, iya pa kalau bapa bilang anak bangsa belum mampu atau siap untuk proyek multy millions dollar....
Maka kami pun berhak menilai bapa Belum Mampu untuk jadi Menteri atau menjadi pemimpin negeri.

Jadi saatnya kami mencari pengganti. Anak Negeri yang cinta Bumi Pertiwi, untuk menjadi Bapak Bangsa dan Pemimpin Kami.

Terimaksih atas pencerahanya, kami semakin yakin, kalau ini saatnya mencari pemimpin sejati. Dan yang pasti.... Itu bukan kalian lagi.

Long Beach California
Hari kesembilan dibulan maret.

Sumber : Sahabat Weka


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.