Kamis, 08 Februari 2018

Tarekat Muhammadiyah Al-Sanusiyah wal Idrisiyah Sulawesi Selatan ( Part II )


Sebagai mana yang pernah saya kuliahkan bahwa tarekat selalu menjadi issu krusial dan dihujat sebagai sarang bid’ah oleh sesama muslim. Berbagai perspektif bisa saja karena mungkin hanya memberi gambaran satu sisi seperti halnya menggambarkan bentuk gajah. Masing-masing disentuhnya, ada yang mengatakan gajah seperti mahkota, selainnya menyatakan bahwa gajah adalah bagai pipa air, ada pula berkata gajah seperti kipas dan gajah bagai tiang. Benar bahwa gajah seperti mahkota karena yang disentuhnya adalah bagian gadingnya, dikatakan bagai pipa air karena dia fokus pada belalainya atau hidungnya yang panjang. Dikatakan seperti kipas karena daun telinga gajah begitu lebar dan berkibar-kibar, atau dikatakan bagai tiang karena yang disentuhnya adalah sepasang kaki gaja tersebut dll.

Demikianlah tarekat dipersepsikan berbagai macam karena hanya menyentuh sebagian dari seluruh bangunan agama, ada yang hanya pada tahap iman dan islam tanpa ihsan. Sementara ihsan adalah puncaknya sebagai maqam seorang hamba yang dapat bermusyahadah dan berma’rifatullah, an ta’budallah ka’annaka taraah …. dst, wal ihsan huwa husnul khulq… dst, jadi tidak mengherankan jika tarekat sebagai wadah tempahan pengasahan akhlak, yakni prilaku batin yang melahirkan perbuatan/amalan untuk sampai kepada-Nya.

Untuk kepada-Nya, diperlukan metode dan itulah tarekat sebagai mana halnya Nabi saw pra turunnya wahyu selalu berkhalwat di Gua Hira. Khalwat ini sebagai metode dan karena itu jamaah Khalwatiyah lebih mengutamakan metode tersebut sebagai sarana pendekatan kepada Allah berdasarkan tuntunan mursyid. Demikan halnya terekat-tarekat lain dengan berbagai amalannya oleh jamaahnya melalui suluk yang mengutamakan zikir dll seperti di intern tarekat Muhammadiyah, La Ilaha Illaha Illallah Muhammaddur Rasulallah fi kulli lamhatin wa nafasin adada ma wasi’ahu ilmullah 300x (li ahlit tabarruk), atau semampunya 12.000x li ahlil iradti minal muslimin atau bahkan sampai 14.000x li ahlit tajrid min ahlil ‘akifaat.
Doanya antara lain Allahumma inniy uqaddimu ilaika baina yaday kull nafasin walamhatin wa tharafin … dst .. at sebelulumnya sebagai yang pernah saya diajarkan diawali degan membaca al-Qur’an, membaca istigfar 100x menbaca tahlil dan salawat al-ummiy.

Selain itu ada lagi wirid-wirid sebagai mana dalam tarekat yang saya amalkan, Khalwatiyah Syekh Yusuf pada dasarnya sama dengan tarekat-tarekat lain, kalaupun ada perbedaan hanyalah beda tipis antara 11-12. Apalagi mursyid saya (puang Makka) juga sebagai pengamal tarekat Muhammadiyah dan abahnya (puang Ramma) mendapat ijazah langsug dari Syekh Muhammad al-Mahdiy di Mekah sebagaimana AGH Muhammad Nur yang mengijazahkan kemursyidan ke Sayyid Rijal Assaqaf Puang Awing dan selanjutnya sebagaimana kuliah 110 saya kemarin diamanahkannya lagi ke AGH Baharuddin HS.

Jauh sebelumnya guru saya lain yakni AGH Abd. Mutthalib Abdullah juga telah menerima silsilah tarekat tersebut dan mengajarkannya. Dua sang guru ini, telah menorehkan ilmunya ke saya sejak sewaktu saya nyantri di MAPK. Yang pertama silsilahnya saya sebutkan pada kuliah sebelumnya, dan kedua AGH Abd. Mutthalib Abdullah menerima ijazah dari Syekh Abd. Kadir Khalid, dari Syekh Muhammad al-Mahdi, dari Syekh Muhammad al-Sanusi, dari Syekh Ahmad bin Idris, dari Syekh Abd al-Wahhab, dari Syekh al-Dabbag dari Syekh Ahmad al-Khidr sampai ke Nabi saw.

Demikian halnya AGH Rafie Sulaiman Qadhi Bone petta kalie yang sejak umur belasan tahun sudah di Mekkah seperti halnya AGH Puang Aji Sade-As’adiyah Sengkan yang lama di Mekka menerima ijazah tesebut dari Syekh al-Mahdi. Mereka dibaiat di Zawiyah Jabal Abu Qubais.

Amalan-amalan tarekat tesebut diajarkan oleh para mursyid/masyayikh kepada murid-muridnya dan lebih dominan pngajarannya di pesantre-pesantren NU degan beberapa kitab warisan rujukan seprti Mubtadil Juhala karya AGh Syekh Muhammad Bilalu. Belakangan amalan yang sama juga diajarkan dan ditalqinkan GH. Muh Kasim di tinumbu th 1990-an, juga ust Abd. Rahman Kadir yang selama 35 tahun sebagai imam rawatib di nurul muttaqin rampegading yang sesaat sebelum wafatnya menulis nama guru-gurunya. Masih banyak lagi ulama lainnya dari Tarekat Muhammadiyah yang saya tidak sebutkan di sini dan perlu diinformasikan ke saya lebih lanjut untuk kesempurnaan data.

Jamaah atau pengikut tarekat Muhammadiyah memang lebih dominan di kalangan santri atau alumni pondok pesantren karena dari sense sejarah sejak kemursyidan putra Syekh Muhammad bin Ali al-Sanusi Mustaghanim, bermana Sanusi al-mahdi di masanua menjadikan pula pusat tarekatnya di Kufrah, kemudian pindah ke Guro dan kembali lagi ke Kufrah dan oleh ponakannya bernama Syekh Ahmad al-Syarif menyebarkannya ke pondok-pondok dan surau di berbagai wilayah Islam.

Wallahu A’lam.

Sumber: Mahmud Suyuti I ( Dosen Ilmu Hadis UIN Alaudin Makassar )

Sumber foto: Muhammad Rusmin Al-Fajr

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.