Jumat, 02 Februari 2018

Sejarah Tarekat Muhammadiyah al- Sanusiyah al-Idrisiyah Sulawesi Selatan (Part I)


Tarekat Muhammadiyah tergolong muktabarah, diakui, sahih, sah dan sebagai bagian integral jam’iyah Ahlit Thariqah al-Muktabarah al-nahdliyah Nahdlatul Ulama (Jatman-NU). Tarekat ini, oleh kalangan tertentu menamakannya Haqiqatul Muhammadiyah, Muhammadiyah al-Sanusiyah, dan al-Idrisiyah.

Dinamakan tarekat Muhammadiyah karena dinisbatkan langsung kepada Nabi Muhammad saw atau ada yang menamakannya Tarekat Ahmadiyah karena dinisbatkan kepada Ahmad sebagai nama lain dari Nabi Muhammad saw. Data lain jika disebut Amadiyah karena dinisbatkan kepada Ahmad bin Idris (1173 – 1253 H / 1760 - 1837 M) Salah seorang mursyid tarekat tersebut yang menerima ijazah dari gurunya, Abd. Al-Wahhab al-Tazi (w. 1099 H) dari gurunya Syekh Abd. Aziz al-Dabbag (w. 1131 H) sebagai mursyid yang memiliki kasysyaf luar biasa karena dapat menembus apa saja yang ada dibalik dinding dan tembok besar dengan penglihatan hati yang tajam.

Kesucian batin sehingga penglihatannya bisa menembus apa yang terlihat, sesuatu yang lazim bagi para mursyid tarekat dalam posisinya sebagai ulama pewaris nabi plus waliullah. QS. Yunus:62-64 disebutkan bahwa sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula sedih. Merek adalah oran-orang yang beriman dan menjaga ketakwaannya. Mereka dalam keadaan senang di dunia dan akhirat.

Demikian sakralnya kasysyaf yang dimiliki Syekh Abd. Aziz al-Dabbag seperti yang disebutkan di atas, maka beberapa kali bertemu melalui mimpi dengan Rasulullah saw. Al-Dabbag ini menerima ijazah dan ilmu, wirid, doa-doa dari gurunya Ahmad al-Hidri yang dalam kitab-kitab tarekat disebutkan bahwa gurunya ini dikenal degan Nabi Khedir as.

Melalui tawassul dan silsilah sanad tarekat Muhammadiyah dari guru ke guru yang disebutkan tadi yakni dari Ahmad bin Idris dari Abd. Al-Wahhab al-Tazi dr Syekh Abd. Aziz al-Dabbag dari Ahmad al-Khdri seterusnya sampai kepada Rasulullah saw. Ahmad bin Idris yang setelah mengijzahkan tarekat tersebut kepada murid-muridnya maka mengalami perkembangan bahkan perspektif lain disebut sebagai tarekat Ahmadiyah dan tarekat Idrisiyah, dan setelah Ahmad bin Idris mengijazahkan kepada muridnya bernama Syekh Muhammad Imam al-Sanusiy (w.1276 H/1858 W) yang oleh pengikutnya kemudian mengatas namakan sebagai tarekat al-Sanusiyah.

Kemapanan tarekat ini lebih jelas dan nampak masyhur saat al-Sanusi sebagai turunan biologis Idris yang juga cucu nabi saw, membangun Zawiyah Jabal Abu Qubais. Di sinilah al-Sanusi mengijazahkan tarekatnya ke Syekh Muhammad al-Mahdi tahun 1900-an dan oleh al-Allamah Nashir al-Sunnah AGH Muhammad Nur saat menetap di Mekkah selama sebelas tahun (1947-1958) kepadanya diijazahkan tarekat kemursyidan dari sang guru Syekh Muhammad al-Mahdi.
Demikian halnya Syekh Sayyid Jamaluddin Assegaf Puang Ramma juga menerima ijazah tarekat kemusryidan dari guru yang sama, Syekh Muhammad al-Mahdi pd tahun 1954 di Mekah.

Puang Ramma (lahir 21/06/1919) adalah salah seorang pendiri NU Sulsel dan sampai akhir hayatnya (wafat 15 sya’ban 1427 bertepatan 08/09/2006) menjabat sebagai mustasyar PWNU. Sepeninggal Puang Ramma, AGH Muhammad Nur (lahir 07/12/1932) mewarisi posisi terhormat dan tertinggi di PWNU sebagai mustasyar sampai akhir hayatnya (wafat 29/06/2011).

Selain kedua tokoh tarekat, ulama dan skaligus mursyid tarekat yang disebutkan di atas masih banyak lagi murid yg menerima ijazah ketarekahan dari al-Mahdi, namun saya belum menemukan data yang jelas siapa-siapa mereka yang diangkat sebagai mursyid karena syarat-syarat kemursyidan sangat ketat dn setelah melalui suluk yang panjang.

Ada catatan yang saya temukan di Jatman bahwa Puang Ramma dan AGH Muhammad Nur sbelum wafatnya, mengijazahkan kemusryidan tarekat Muhammadiyah kepada antara lain AGH. Muhammad Harisah (lahir 31/12/1946 & wafat 20/05/2013) dan kepada Syekh Sayyid Muhammad Rijal Assegaf Puang Awing (lahir 28/02/1955). Puang Ramma mengijahkannya ke Puang Awing tarekat tersebut pada malam jumat/26 shafar 1417 bertepatan 11 Juli 1996. Demikian halnya AGH Muhammad Nur mengijazahkan ke menantunya yang tiada lain adalah Puang Awing. Dengan demikian, Puang Awing memiliki dua silsilah jalur kemursyidan Tarekat Muhammadiyah, yakni silsilah diterimanya dari Puang Ramma dan yang diterima dari mendiang mertuanya, AGH. Muhammad Nur.

Puang Awing selain mursyid tarekat Muhammadiyah, juga sebagai mursyid tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf yang diterima dari mendiang ayahnya Sayyid Abd. Muththalib Assegaf Puang Lallo sebagaimana halnya Syekh Sayyid A. Rahim Assegaf Puang Makka menerima ijazah tarekat Muhammadiyah dari mendiang sang ayah, Puang Ramma, yg setahun sebelum Puang Ramma wafat mengijazahkan pula kemursyidan tarekat Khalwatiyah Syekh Yusuf ke anaknya, Puang Makka.

tarekat Muhammadiyah banyak diterima dn diijazahkan kpd ulama2/kiai pondok pesantren saat ke tanah suci terutama dlm kurun wkt 1950-an. Mereka menerima langsung ijazah tarekat tsb dr Syekh Muhammad al-Mahdi di Mekah.

Seiring waktu terus berjalan tarekat Muhammadiyah diminati banyak kalangan bagai air mengalir deras yang karena itu mereka yg telah baiat mursyid di Mekah saat kembali ke Indonesia mengajarkan tarekat ini, beberapa di antara merek diangkat sebagai khalifah dan sdikit dari mereka mendapat baiat kemursyidan, selebihhnya lagi kebanyakan adalah sebagai pengamal sesuai silsilah tarekat yang merek dapat dari mursyid masing-masing.

Catatan:
Perlu diketahui bahwa yang berhak membaiat adalah mursyid. Khusus yg mendapat ijazah sebagai khalifah hanya berhak mengajarkannya. Selain itu adalah jamaah atau pengikut tarekat yang mereka ini mendapat ijazah berhak mengamalkan amalan tarekat sesuai ketentuan namun tidak berhak membaiat.

Seprti yang telah disebutkn tadi sesuai data dan catatan dari Jatman NU bahwa tarekat Muhammadiyah banyak diterima dan diijazahkan kepada ulama-ulama/kiai pondok pesantren. Karena itu ulama sekaligus pimpinan pesantren yang membaiat guru-guru dan atau santri-santrinya praktis ulama yang membaiat tersebut adalah sebagai mursyid.

Mursyid juga berhak mengangkat mursyid selainnya melalui proses baiat dan menetapkan khalifahnya ataukah badal khalifah dan kepada mereka ditalqilkan silsilah sanad tarekat skaligus amalan-amalan ketarekahan.

Lafaz mubaya’ah sesuai yang saya dengar sendiri untuk prosesi baiat saat saya bebeapa kali sebagai saksi umtuk itu adalah, .... ajjaztuka thariqat al-Muhammadiyah ma’malan, wakhalifatan wa mursyidan kama ajjazni syaikhiy ....dst..

Dengan lafaz tersebut maka ijazah yang diterima bagi yang dibaiat mencakup tiga skaligus.
(1) ma’malan sebagai pengamal tarekat
(2) khalifatan juga diangkat sebagai khalifah
(3) mursyidan diposisikan sebagai mursyid tarekat Muhammadiyah yang berhak juga membaiat

antara lain guru saya sebagai pemegang silsilah tarekat Muhammadiyah di Makassar adl AGH Abdul Mutthalib pimpinan pesantren MDIA Bontoala. Saat saya nyantri di pesantren Kementerian Agama tahun 1990, guru saya ini AGH Abdul Muthalib mengajarku kitab tarikh tasyri’.

Demikian halnya AGH Baharuddin HS mengajarku di MAPK ilmu tafsir, kitab Mabahis Ulum al-Qur’an li Manna’ al-Qaththan. Guru sy yg terakhir disebutkan ini, menerima baiat sebagai khalifatan wa mursyidan dari Puang Awing dengan silsilah sanad melalui jalur AGH Puang Ramma dan AGH Muhammad Nur, dari Syekh Muhammmad al-Mahdi dr Syekh Muhammad al-Sanusi dari Ahmad bin Idris dari Abdul Wahab al-Tazi dari Abdul Aziz al-Dabbag dari Ahmad al-khidri seterusnya sampai ke al-Mustafa nabi Muhammad saw.

Selain kedua guru saya tersebut, masih ada lagi guru lain yang menerima silsilah tarekat Muhammadiyah namun di sini saya tidak sempat menyebutkan nama-nama mereka satu persatu.

Wallahul muwaffiq.

Oleh: Mahmud Suyuti I ( Kepala Laboratorium Hadits Universitas Islam Makassar )

Sumber foto: Muhammad Rusmin Al-Fajr

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

1 komentar so far

Di pontianak kalbar ada penerusnya tarekat Muhammaddiyah