Rabu, 11 Oktober 2017

" Sebelum Saya Tobat dari Talafi", Kisah dan Pengalaman Mantan Jama'ah Salafi

sebelum tobat dari talafi

SEBELUM SAYA TAUBAT DARI “TALAFI

Catatan dan Pengalaman.

DULU, sudah lama nian...bahkan sejak saya masih Tsanawiyyah (SMP), sewaktu saya masih awal-awal jadi Talafi, ngaji sana-sini, baca majalah ini itu, baca artikel ini itu, taklim dari masjid ke masjid, belum bisa baca kitab, belum bisa bahasa arab; pokoknya hanya taklim dari majelis satu ke majelis yang lain, mingguan.. kadang ada yang taklim bulanan (kami menyebutnya dengan istilah ‘Dauroh’)

Nah kebiasaan saya waktu itu adalah: menyebut setiap orang muslim yang tidak sama dengan saya dalam hal ibadah dan amaliyyah dengan sebutan “AHLI BID’AH”. bagi yang tidak merasa, ya tidak perlu ‘baper’. saya kan menceritakan pengalaman pribadi.

NAH, orang yang berbeda dengan kelompok kami saya anggap AHLI BID'AH, SESAT, CALON NERAKA, dll. Modal saya hanya satu: hafal hadits “Kullu bid’atin dholalah wa kullu dholalatin fin naar” (setiap bid’ah itu sesat dan setiap yang sesat tempatnya dalam neraka). Haditsnya benar, tidak salah. tapi otak saya ini lah yang kala itu sedang konslet bahkan error dalam memahami nash Hadits secara tekstual tanpa kaidah ushul yang benar.

Dengan bermodalkan hafal hadits itu, semua orang saya anggap sesat (termasuk orang tua, keluarga, dan karib kerabat). Padahal, kalau kita belajar ilmu ushul, BID’AH itu sendiri terbagi-bagi dan bermacam-macam. sehingga status bid’ahnya pun bertingkat-tingkat. Ada bid’ah lughowiyyah & ada bid’ah syar’iyyah. Ada bid’ah ma’qulul ma'na dan ada bid’ah ghairu ma’qulil ma’na. Ada bid’ah mukaffiroh & ada bid’ah ghairu mukaffiroh. ada bid’ah yang di sepakati (ijma’) dan ada bid’ah yang tidak di sepakati (khilaf).

Bahkan konon Imam Syafi’i sendiri membagi bid’ah menjadi dua; bid’ah mahmudah (bid’ah yang terpuji) dan bid’ah madzmumah (bid’ah yang tercela). Bisa jadi masalah ini belum final, sehingga tidak ada salahnya jika kita tetap mengkajinya lebih dalam dan mendiskusikannya secara ilmiah.

Contoh misal Bid'ah yang tidak disepakati (alias di perselisihkan oleh para Ulama) adalah:
Meng-azankan bayi yang baru lahir di telinga kanan & meng-iqomahkannya di telinga kiri. ini bid’ah menurut Imam Malik. tapi Sunnah menurut Imam Hasan Al-Bashri, Umar Bin Abdil Aziz, Imam Syafi'i dan Imam Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah.

Maka saya heran dan tercengang ketika melihat seorang artis tenar yang baru taubat lalu belajar agama lewat sebuah radio/TV dakwah kemudian ia dengan gampangnya menyatakan bahwa BID'AH hukumnya meng-azankan bayi yang baru lahir. Pantas jika pernyataannya menimbulkan kontroversi ditengah masyarakat.

Uniknya, Talafiyyin ini picik dan standar ganda. Kalau kita yang bertahun-tahun menggali ilmu agama lalu terjun ke lapangan; dakwah dan ngajar, mereka akan katakan kita “ustad dadakan” , “ustad gadungan”, “hizbiyyah”, “manhaj ngga jelas”, dst. Tapi kalau SI ARTIS yang baru taubat lalu masuk aliran/kelompok mereka, kemudian “nyerocos” atau “ngacaprak” sana-sini, mereka diam seribu bahasa. intinya, yang berhak ceramah, yang berhak mengajar, yang berhak berkhutbah dan jadi ustad, hanya USTAD DARI KELOMPOK DIA. anda tidak percaya? Silahkan buktikan di lapangan. kalau anda tidak menemukan fakta semacam ini di lapangan, maka saya ucapkan alhamdulillah..itulah yang kita harapkan.

Bid’ah lain yang tidak disepakati adalah SHALAT TASBIH. Shalat tasbih di anggap bid’ah dengan alasan bahwa hadits tentang shalat tasbih adalah dha’if (lemah) bahkan maudhu’ (palsu). Padahal, hadits tentang Shalat tasbih ini di shahihkan banyak Ulama termasuk Syaikh Al-Albani sendiri menshahihkannya dalam kitab At-Targhib Wa Tarhib; sehingga mereka menyatakan hukumnya Sunnah bukan bid’ah. Ulama yang menganggap shalat tasbih adalah Sunnah diantaranya: Imam Ibnul Mubarak, Imam An-Nawawi dalam kitab al-adzkar, Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani, dan Imam Ibnu Qudamah dalam kitab Minhajul Qashidin.

INTINYA, jangan bermudah-mudahan mengklaim satu amaliyyah sebagai bid’ah dengan merasa diri kita yang paling ahlus sunnah dan paling berhak masuk surga. karena, apa yang di ketahui oleh orang lain bisa jadi tidak kita ketahui. segala puji bagi Allah, saya kini saya sudah meninggalkan ajaran carut-marut ini, ajaran yang isinya propaganda, adu domba, manipulasi dalil agama, dan monopoli SURGA. Allah masih sayang kepada saya sehingga Dia menyapa saya dengan Hidayah.

Wallahu A’lam.

By: Maaher At-Thuwailibi.

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

1 komentar so far

Antum mungkin baru 0,1% ngaji di salafi, masih banyak yg harus Antum dipelajari. makanya sering2lah berdiskusi, tanya. Kalau selama ini Antum ngaji hanya diam dan dengar ya begini mungkin hasilnya, afwan.