Sabtu, 01 Juli 2017

Imran bin Husein Sahabat Nabi Pencetus Kenduri Setelah Kematian

sahabat nabi imran bin husain

Sewaktu hendak meninggal, ia berwasiat kepada kaum kerabatnya dan para sahabatnya;
"Jika kalian telah kembali dari pemakamanku, maka sembelihlah hewan, adakanlah jamuan, rayakanlah layaknya pesta pernikahan!"

Siapakah gerangan  orang yang berwasiat sedemikian bid'ahnya? Apakah orang itu tidak pernah mendengar kajian youtube ustadz khalid basalamah, ustadz jawas atau ustadz firanda dan ustadz wahabi lainnya yang mengharamkan kenduri setelah kematian? atau mungkin ia tak pernah menyetel TV Rodja atau Surau TV penyebar ajaran " Sunnah " nya Wahabi?

Beliau adalah orang yang dijuluki menyerupai seperti malaikat dimana beliau memiliki kebiasaan mengkhususkan waktu untuk lebih banyak beribadah, berdzikir dan wirid, beliaulah perintis pertama kali yang mempelopori jamuan makan setelah wafatnya seorang muslim. Imran bin Husein adalah salahsatu ahlussuffah dan salah satu sahabatyang Rasulullah sebutkan dalam Hadist diganjar akan ditempatkan di syorganya Allah. Sahabat yang mempelopori kebiasaan mengkhususkan waktu untuk beramal ibadah dan juga pelopor jamuan makan setelah hari kematian. Beliau wafat setelah sepeninggal rasulullah , artinya perilaku Imran bin Husain yakni mengadakan jamuan makan telah ada pada masa para sahabat.

Pada masa pemerintahan Amirul Mukminin Umar bin Khatthab, Imran dikirim oleh khalifah ke Bashrah untuk mengajari penduduk dan membimbing mereka mendalami agama. Demikianlah, di Bashrah ia melabuhkan tirainya, maka ketika dikenal oleh penduduk, mereka pun berdatanganlah mengambil berkah dan meniru teladan ketakwaannya.

Hasan Basri dan Ibnu Sirin berujar, "Tidak seorang pun di antara sahabat-sahabat Rasulullah SAW yang datang ke Bashrah, lebih utama dari Imran bin Husain!"

Dalam beribadah dan berhubungan dengan Allah, Imran tak sudi diganggu oleh apa pun. Ia menghabiskan waktu dan seolah-olah tenggelam dalam ibadah, hingga seakan-akan dirinya bukan lagi penduduk bumi. Seolah-olah ia adalah malaikat, yang hidup di lingkungan malaikat, bergaul dan berbicara dengannya, bertemu muka dan bersalaman dengannya.

Keimanan Imran bin Husain membuktikan hasil gemilang. Ketika ia mengidap suatu penyakit yang selalu menggangu selama 30 tahun, tak pernah ia merasa kecewa atau mengeluh. Bahkan tak henti-hentinya ia beribadah kepada-Nya, baik di waktu berdiri, di waktu duduk dan berbaring.

Silakan cari dan searching di youtube ataupun google dari A sampai Z , siapa ustad salafiwahabi yang pernah ceramah atau dalam kajian daurohnya membahas dan menceritakan salah satu riwayat hidup sahabat yang bernama Imran bin Husein ?
TIDAK ADA !!!

Ustad ustad salafiwahabi satupun tidak pernah menceritakan kisah sahabat yang bernama Imran bin Husein , sebab kalau mereka menceritakan ini kepada jamaahnya, maka pasti mereka akan dilempar batu, sebab ustad ustad mereka yang selama ini mengatakan bahwa jamuan makan setelah kematian tidak ada masa para sahabat dan kebiasaan mengkhususkan waktu untuk beramal ibadah tidak dilakukan oleh salah seorang sahabat pun tapi ternyata sudah lebih dulu dilakukan oleh sahabat Rasulullah yang bernama Imran bin Husein yang dijuluki seperti malaikat.

Silahkan anda buktikan pada pengikut salafiwahabi dimana saja baik didunia nyata dan dunia maya tanya kepada mereka apakah mereka mengenal dan mengetahui riwayat sahabat Rasulullah yang bernama imran bin Husein, maka mereka pasti tidak ada yang menjawab dan tidak tahu sebab para ustad salafiwahabi mereka tidak satupun yang menceritakan tentang sahabt tersebut ... Inilah FAKTANYA !!! Mereka menutupi kebenaran kisah sahabat rasulullah yang seorang ahlussuffah yang memiliki kebiasaan mengkhususkan waktu untuk beramaliyah ibadah dan pelopor jamuan makan setelah wafatnya kematian seorang muslim.



Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

2 komentar

Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.

Assalaamu 'alaikum warahmatullahi wa barakaatuh..
Akhi.. Bisakah di tambah atsar tersebut dimuat dalam kitab apa?
Kemudian apakah ia termasuk disandarkan ke dalam perbuatan Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam atau bukan?

Tentu saja sahabat Imran bin Husaein radhiallahu'anhu tidak pernah menonton dai'-dai' tersebut...

Dan Nabi shallallhu 'alaihi wa sallam saja tidak dijuluki menyerupai malaikat karena ibadahnya.. dan tidak ada yang bisa menandingi Nabi shallalahu 'alaihi wasallam dalam ibadah...

Ingat hadits Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.. menghina muslim adalah kefasikan dan memeranginya adalah kekufuran..

Jadi Ustadz di atas tidak pernah menghina seorang muslim setahu saya..

mereka menyampaikan dalil secara umum.. artinya menyampaikan kebenaran tentang hukum-hukum Islam, tidak mengatakan si A pelaku bid'ah si B begini..

tetapi mereka menyampaikan hukum.. jadi para ustadz di atas menyampaikan hukum/berdakwah ke kita agar kita tahu bukan untuk menghina kita.. sehingga kalau kita merasa melakukan bid'ah misalnya bukan kita yang dihina tetapi kelakukan kita yang ingin diluruskan..

ketika disampaikan Ayat Al qur'an dan Hadits Nabi yang bertentangan dengan perbuatan kita.. kita tidak boleh merasa terhina.. karena itu adalah Hukum Allah.. bukan perkataan Ustadz di atas..

Jadi kalau kita ada perbedaan pendapat tidak perlu menghina pribadi.. tepai kembalikan kepada Allh dan Rasul.. (an Nisa ; 59)...

kalau memang ustadz tadi tidak tahu dengan atsar di atas tolong diberi tahu tentang atsar tersebut..

tidak perlu kita menambah dosa kita dengan menuduh mereka menyembunyikan dalil..

Saya pernah menonton Dialog Ustad Firanda dan Ustad Idrus Ramli.. tidak menyebutkan tentang dalil ini.. jika saya tidak salah..

Jadi tolong akhi..
Tugas kita cuma menyampaikan kebenaran dan itu yang terbaik
Fushshilat [41] : 33)

Tidak perlu kita mencela satu sama lain..

Contohnya..
Kalau kita katakan Tetang Hadits.. pembeda antara muslim dan kafir adalah meninggalkan shalat..

bukan berarti kita menuduh orang yang tidak shalat 'Kafir'

tetapi kita hanya memberitahukan hukumnya..

jadi yang tidak shalat tidak boleh menolak hadits ini karena merasa terhina..

sama dengan masalah kendurian.. ini..


Wassalaamu'alaikuam Warahmatullahi wa barakaatuh