Kamis, 11 Mei 2017

Memahami Sikap Polisi Yang " Mengistimewakan " Demo Ahoker

sikap polisi terhadap demo ahoker

PAK POLISI SELONJORAN
Suatu ketika Imam Abu Hanifah yang sedang santai duduk selonjoran, Kedatangan seseorang yang kelihatannya alim dan berilmu tinggi

Menghormati kewibawaan sang tamu yang terpancar dari gerak-geriknya, Imam Abu Hanifah menarik kaki beliau dan bersikap serius.

Sang tamu kemudian bertanya suatu masalah, Yaitu "Kapan seseorang boleh berbuka puasa ?"
Imam Abu Hanifah langsung menjawab "Ketika matahari tenggelam"
Tamunya bertanya lagi "Gimana kalau sampai tengah malam matahari ga kunjung tenggelam ?"
Mendengar pertanyaan terakhir tadi, Imam Abu Hanifah spontan berucap "Kini aku bisa menyelonjorkan kaki lagi kembali duduk bersantai"

Tamunya entah bahlul, Entah ngetes, Entah becanda dan main-main, Yang jelas rupanya beliau ga mutu banget di mata Imam Abu Hanifah. Lha piye ceritane ada tengah malam tapi mataharinya ga tenggelam ?

Nah, Sepertinya pak polisi di depan Cipinang malem ini juga lagi selonjoran, Duduk santai menghadapi para demonstran.

Jadi biar aja, Kita yang nyimak dari fesbuk gausah marahin pak polisinya, Nuduh ga adil dsb. Lain lubuk lain ladang lain belalang. Lain demonstran lain pula penanganannya.

Rangkaian 411, 212, 55 dst itu memang harus diwaspadai. Ratusan ribu bahkan jutaan orang yang bergerak atas dasar ideologi, Lalu sedia berkorban harta benda bahkan nyawa, Memang ga bisa dihadapi dengan selonjoran. Beda lah sama yang nasi bungkus pun masih rebutan
( Fathi Nasrullah )


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.