Selasa, 30 Mei 2017

Akhir Kehidupan Pemimpin Yang Zhalim Terhadap Ulama - Kisah Hikmah Tabi'in

akhir kehidupan pemimpin zhalim

Kota Kufah waktu itu di bawah kepemimpinan gubernur Hajjaj bin Yusuf Ats-Tsaqafi yang memegang kekuasaan dengan penuh kesombongan. Dia telah membunuh shahabat Abdullah bin Zubair radhiyallahu ‘anhu, menumpas gerakkannya dan menyebarkan rasa takut di seluruh negeri kekuasaannya hingga para penduduk merasa ngeri dan takut akan kekejamannya, seorang penguasa zalim yang berkuasa & menindas di ‘Iraq hingga Hijjaz. Tidak ada yang berani menentang kebijakanya. Al Hajjaj adalah “orang kuat”. Jabatannya Gubernur; tapi para Penguasa Bani ‘Umayyah tak berani mengambil tindakan apapun terhadapnya.

Ditulis Ibn Al Atsir dalam Al Kamil jumlah yang dibunuhnya mencapai 120.000 orang belum termasuk 80.000 yang mati di penjara olehnya. Semua karena kekuasaanya dan keinginannya agar masyarakat tunduk pada kuasa Daulah ‘Umayyah, tidak boleh ada yang bertanya, memberi masukan, nasehat, kritik, dan oposisi.

Diantara Korban keganasannya yang paling masyhur adalah Abdullah ibn Az Zubair Radhiyallahu anhuma dan Sa’id ibn Jubair; seorang yang ‘alim murid kesayangan dari sahabat Rasulullah Shalallahu alaihi wasallam Abdullah Ibn ‘Abbas radiyallahu anhu. Ketika Sa’id ibn Jubair mendapatkan giliran ditangkap, Al Hajjaj langsung bertanya kepada beliau;
“Siapa namamu?” Beliau menjawab; “Sa’id ibn Jubair yang artinya (orang bahagia putra orang perkasa).”
“Tidak”, sergah Al Hajjaj, “Namamu Saqi ibn Kusair artinya (orang celaka anak orang hancur)!” “Ibuku lebih tahu siapa namaku!”, timpal Sa’id.
Kemudian Al Hajjaj bertanya tentang Rasulullah ﷺ dan Khulafaur Rasyidin. Dia berharap Sa’id menjelekkan ‘Ali, tapi beliau muliakan semua.
Ditanya tentang siapa Khalifah Bani ‘Umayyah yang terbaik; jawabnya; “Yang paling diridhai Rabbnya!” “Siapa itu?”, kejar Al Hajjaj.
“Ilmu tentang itu di sisi Allah”; jawab Sa’id mengutip Quran. “Kalau tentang aku?”, tanya Al Hajjaj. “Kau lebih tahu tentang dirimu.”
“Aku ingin tahu pendapatmu!”, desak Al Hajjaj. “Itu akan menyedihkanmu dan mengusir kegembiraanmu”, tukas Sa’id. “Katakan!”, geramnya.
“Kau telah menyelisihi Kitabullah. Kau lakukan hal yang kauharap berwibawa karenanya; tapi ia menghinakan dan menjatuhkanmu ke neraka!”
“Demi Allah aku akan membunuhmu!”, kata Al Hajjaj. “Dengan itu kauhancurkan duniaku dan kuhancurkan akhiratmu”, sahut Sa’id tersenyum.
“Dengan cara apa kau mau dibunuh?”, sergah Al Hajjaj. “Pilihlah untukmu dengan cara yang sama kelak Allah membalasmu!”, jawab Sa’id.
“Apa kau mau kuampuni?”, tanya Al Hajjaj. “Sesungguhnya ampunan hanya dari Allah kau tak punya dan tak berhak atasnya!”, jawab Sa’id.
“Prajurit! Siapkan pedang dan alas!”, perintah Al Hajjaj. Maka Sa’id tersenyum lebar. “Apa yang membuatmu tertawa?”, tanya Al Hajjaj.
“Aku heran atas kelancanganmu kepada Allah dan betapa kasihnya Allah padamu”, kata Sa’id. “Prajurit, penggal dia!”, teriak Al Hajjaj.
Sa’id menghadap kiblat dan membaca {QS6:79}: “Kuhadapkan wajahku pada Yang Mencipta langit dan bumi.” “Palingkan dia!”, ujar Al Hajjaj.
Sa’id pun lalu membaca {QS2:115}: “Ke manapun kamu menghadap; di sanalah wajah Allah.” “Telungkupkan dia ke tanah!”, gusar Al Hajjaj.
Maka Sa’id kemudian membaca {QS20:55}: “Dari bumi (tanah) itulah Kami menjadikan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu..”
“Sembelih dia”, kata Al Hajjaj. “Sungguh tak ada orang yang lebih kuat hafalan Qurannya dari dia!” Maka Sa’id berdoa terakhir kali..
“Ya Allah jangan kuasakan dia atas seorangpun sesudah diriku!” Lalu beliau dibunuh.

Lima belas hari kemudian, Al Hajjaj mulai demam.
Sakit itu mengantarnya pada kematian. Dia terlelap sesaat lalu bangun berulang kali dalam ketakutan; “Sa’id ibn Jubair mencekikku!”
pengawalnya mengadu pada Hasan Al Bashri, memohonnya mendoakan sang majikan. Al Hasan berkata, "Sudah kukatakan padanya, jangan menzhalimi para 'Ulama!"
Jelang sakaratul maut, doa-harapnya menakjubkan; “Ya Allah, orang-orang mengira Kau takkan mengampuniku. Sungguh buruk persangkaan mereka padaMu!”
Al Hajjaj mati setelah 40 hari dia membunuh said bin zubair; ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz dan Hasan Al Bashri sujud syukur berulang kali.
‘Umar dan beberapa ‘Alim lain bermimpi. Bahwa Al Hajjaj dibunuh Allah sebanyak pembunuhan yang dia lakukan; kecuali atas Sa’id ibn Jubair; Allah membalasnya dengan 70 kali.

Benar; sungguh benar; “Hari keadilan bagi orang yang zhalim; lebih berat daripada hari kezhaliman bagi mereka yang teraniaya.” Wallahu A’lam.
Islam adalah agama yang hendak menghapus kezhaliman dari yang mengaku kafir maupun yang mengaku muslim.

Sumber: Shuwaru Min Hayati At-Tabi’in atau “Jejak Para Tabi’in

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.