Sabtu, 30 September 2017

Pedagang China Tanggapi Aksi 299; Tak Perlu Dijaga Mereka Tak Pernah Rusuh

Pedagang China Tanggapi Aksi 299; Tak Perlu Dijaga Mereka Tak Pernah Rusuh


Saat demo berlangsung kemarin, saya pilih naik mobil menyusuri kawasan kota hingga Mangga Dua, ternyata penjagaan petugas luar biasa di pusat -pusat belanjaan di daerah itu.

Akhirnya saya mampir ke Pusat Belanja Mangga Dua, saya mengobrol dengan kawan -kawan pedagang yang chinese , ternyata mereka justru nggak "nyaman" tempat berjualan mereka dijaga sedemikian rupa seolah terjadi "sesuatu". Mengapa? "Karena kalau sdh dijaga-jaga malah sepi. Sudah sekarang ini sepi , jadi makin nggak ada orang datang, karena orang takut dikira ada apa-apa", kata mereka.

Lalu saya tanya, apakah mereka takut dengan demo-demo yang belakangan sering dilakukan umat. Di luar dugaan mereka menggeleng.
" Awalnya iya, tapi makin ke sini ternyata gak pernah ada kerusuhan. Jadi saya kira kita nggak usah dijaga -jaga juga gak apa-apa, mereka demo tidak pernah merusak atau menyerang kok, " ujar mereka lagi.

Lantas kami pun ngobrol santai soal perekonomian. Kami bisa ngobrol santai karena pedagang Mangga Dua yang biasanya sibuknya bukan main itu pada bengong, karena sepi .
" Saya kalau nonton TV terus ada berita ekonomi membaik yang membaik dimana ya? Dagang barang tiga bulan saja seperti belum ke sentuh ( belum laku)," ujar pedagang baju. " Apakah sampai tahun depan kami masih kuat atau tidak nih, " saut pedagang mainan.

Mereka juga cerita sudah banyak pedagang yang tutup. Dan benar saja ketika saya menyusuri lantai 3,4 dan 5 memang banyak toko yg dulu saya temui sudah tutup, termasuk yang di Jembatan.

Saat saya lapar mau makan di Bakmi Gajah Mada yang ada di lantai 5, ternyata sudah tutup, dan tempatnya diganti oleh adiknya yang berjulan makanan Sunda, namun setali tiga uang juga rumah makannya sepi banget. Saya pun mampir di rumah makan Prasmanan, juga sekarang sangat sepi. "Makin lama makin sepi Bu Mangga Dua. Hari Sabtu -Minggu yg biasanya ramai juga sepi, jadi yg jualan makanan ikut sepi," kata para pelayan di tempat makan itu.

Bahkan seorang pelayan toko pakain yg mengenal saya mengejar sambil meminta -minta saya belanja. " Bu ini jaman kok seperti ini, sekarang semua mahal, padahal gaji tidak baik dan uang makan juga gak naik," ujarnya memelas.

By: Nanik Sudaryati

Baca: Beda Kelas aksi 212 ( Muslim ) dengan Aksi 412 ( Ahokers )

Sekedar perbandingan demo 299 dengan demo kaum yang merasa paling pancasila ( Ahoker, cebonger );


Pakar Neuropsikologi - Nonton Film G30SPKI WAJIB Bagi Anak-Anak Sekarang

Pakar Neuropsikologi - Nonton Film G30SPKI WAJIB Bagi Anak-Anak Sekarang


Oleh: Ihshan Gumilar *)

Berita berhampuran, ribuan kata terlontar, para politisi belingsatan. Hanya untuk satu tujuan, menghentikan nonton bareng (nobar) film G30S/PKI.

Semua orang-orang tua tahu bahwa kekejaman Partai Komunis Indonesia (PKI) itu ada dan membanjiri tanah ini dengan darah segar. Tapi, jika saja anda turun ke bawah bertemu dengan umur yang lebih muda. Tanyalah ke beberapa mahasiswa contohnya, banyak dari mereka yang tidak mengetahui tentang sejarah kelam bangsa ini dengan PKI.

Kejadian itu tepatnya pada tanggal 30 september 1965. Kini 52 tahun kemudian, anak-anak yang tidak mengerti akan sejarah menyakitkan yang pernah dilakukan PKI kepada kakek-nenek dan buyut mereka, akan coba kembali diingatkan tentang tragedi itu.

Tahukan Anda berapa juta anak Indonesia yang tidak mengerti sejarah kelam pembantaian buyut-buyut mereka oleh PKI ? Mereka buta tentang hal itu. Ketika pengetahuan ataupun sejarah (knowledge) tidak ada di dalam memori anak, maka jangan harap anak akan mempunyai sebuah ikatan emosional. Orang hanya akan mempunyai ikatan emosi (dengan negaranya) yang kuat jika ada ingatan di dalam memori.

Bagian otak, hippocampus, yang berfungsi untuk menyimpan memori tidak akan mampu untuk mengaktifkan amygdala, bagian otak yang berfungsi untuk memproses emosi, jika tidak ada informasi yang dimasukan. Inilah yang terjadi pada jutaan anak Indonesia saat ini.

Mereka tidak lagi memiliki ikatan emosi yang kuat terhadap negeri ini karena memori mereka kosong. Tak sedikit anak muda hari ini yang acuh tak acuh terhadap kelakuan PKI pada masa lalu, karena mereka tidak pernah diajarkan akan hal itu.

Pemerintah (menteri pendidikan), Komisi Perlindunga Anak Indonesia (KPAI) dan manusia lainnya telah melarang anak-anak untuk menonton film G30S/PKI. Apakah ini upaya pemerintah untuk mengosongkan memori tentang fakta jahat PKI di Indonesia dari dalam hippocampus anak Indonesia ?

Anda perlu tahu, cara bekerja otak manusia itu saling terkait. Jika hippocampus (bagian memori) dikosongkan. Dalam hal ini anak tidak diberitakan tentang kelakuan bengis PKI. Jika dikemudian hari mereka bertemu akan kebangkitan PKI, sudah barang tentu mereka akan merespon secara tak peduli atau bahkan tidak ada respon sama sekali. Dan itu sudah tampak saat ini !

Mengapa bisa tidak ada ikatan batin ataupun emosi ? Karena di dalam hippocampus-nya tidak ada informasi tentang kekejaman PKI terhadap bangsa Indonesia, termasuk kepada para ulama-ulama Indonesia.

Sesuatu hal yang wajar dan logis dalam dunia neuropsikologi, tidak ada memori maka tidak ada emosi. Jika hippocampus-nya tidak menyimpan data tentang kekejaman PKI bagaimana mungkin anak-anak Indonesia mempunyai ikatan dan sentuhah emosi yang kuat untuk mempertahankan negara dan keagamaan mereka di negeri ini.

Jika KPAI dan Menteri Pendidikan melarang anak-anak untuk menonton film G30S/PKI karena ada konten kekerasan dan pornografi. Maka, sebelum orang-orang ramai untuk membuat nobar film G30S/PKI ini, sudah jauh lebih banyak dan parah konten kekerasan dan pornografi yang beredar di media dan internet hingga masuk ke dalam genggaman anak-anak.

Lalu kenapa KPAI dan Menteri pendidikan tidak melarang itu dengan suara yang lantang, keras dan terus konsisten?  Mungkin bisa disensor pada bagian-bagian tertentu jika anak menonton. Apa jangan-jangan pemerintah sudah disusupi PKI secara tidak sadar?

Apakah memang benar bahwa dengan melihat tindakan kekerasan yang ada di dalam film itu, lalu anak akan melakukan tindakan kekerasan? Saya adalah generasi yang dibesarkan untuk selalu menonton dan tidak melewatkan pemutaran film G30S/PKI di TVRI pada saat itu. Belum pernah saya mendengar satupun dari generasi saya yang menjadi pembunuh seperti PKI karena telah menonton film tersebut.

Mari kita belajar pada negara lain, mereka bahkan membuat lebih dari film. Mereka bangun monumen tentang kekejaman nazi di Auschwitz, Jerman. Yang mana tempat melakukan segala jenis eksekusi pada tahun 1940 - 1945. Anda tahu apa dampaknya secara psikologis?

Jika Anda berbicang-bincang dengan orang Jerman, maka mereka akan merasa bahwa ini adalah hal paling kelam yang ada di dalam sejarah perjalanan negara mereka. Secara psikologis mereka malu ketika diingatkan hal itu. Psikologi orang Jerman dibentuk oleh sejarah yang dibenamkan ke semua hippocampus warganya termasuk melalui kurikulum sekolah dan juga museum-museum seperti tempat konsentrasi Auschwitz.

Sekarang kita pergi ke kota kecil yang eksotik di Belgia, Ghent. Di sana ada sebuah benteng dengan gaya arsitektur gotik yang dikenal dengan nama, Gravensteen. Anak-anak sekolah diajak untuk melakukan wisata untuk berkeliling di dalam benteng tersebut. Mereka diajarkan tentang kekejaman di dalam benteng itu. Termasuk di dalamnya ada semua alat-alat melakukan eksekusi seperti guillotine (pisau besar untuk memenggal kepala). Anak-anak sekolah diajarkan tentang kekerasan yang terjadi di abad 12 di dalam benteng itu.

Apakah mereka berubah menjadi pemenggal kepala ketika dewasa ? Jawabanya, tentu tidak.

Di Asia sendiri, pada 4 september 1975, dibuka sebuah museum yang diberi nama “rumah pameran kejahatan Amerika dan bonekanya“ (Exhibition House for US and Puppet Crimes). Untuk saat ini, nama itu berubah menjadi ”museum sejarah peperangan“ (War remnants museum). Isinya tetap sama, menggambarkan bagaimana kekejaman Amerika melakukan invansi dan penjajahan kepada rakyat vietnam. Ini merupakan bagian pendidikan yang diajarkan kepada generasi meda. Tentunya, hal ini membentuk psikologis masyarakat vietnam sampai hari ini. Mereka mencintai negerinya.

Lalu bagaimana dengan anak-anak kita ?

Jangan biarkan anak-anak kita tidak mengenal dirinya. Psikologi dan mekanisme kerja otak sebuah masyarakat dibentuk oleh pengetahuan yang kerap diturunkan dari generasi ke generasi. Mengajarkan anak-anak tentang masa lalu, sekalipun itu kelam, memberikan pelajaran bahwa jangan sampai sejarah itu berulang dalam kehidupan mereka. Dan yang lebih penting, menanamkan rasa cinta tanah pada tanah kelahiran.

Selamat menikmati tayangan G30S/PKI anak-anakku !

*) Peneliti Neuropsikologi

Sumber: replubika.co.id

Jumat, 29 September 2017

Habib Rizieq Syihab; Beda Jauh Antara PKI dengan DI/TII, PRRI PERMESTA

Habib Rizieq Syihab; Beda Jauh Antara PKI dengan DI/TII, PRRI PERMESTA


Pemberontakan PKI jauh berbeda dengan pemberontakan DI/TII & PRRI. PKI adalah pemberontakan yang ingin menukar ideologi negara, sedangkan DI/TII & PRRI adalah "kritikan" kepada penguasa yang yang sedang bermesraan dengan PKI.

Berikut analisa Habib Rizieq Syihab tentang perbedaan PKI dengan DI/TII, PRRI

1. Pemberontakan DI/TII & PRRI berbeda dengan Pengkhianatan PKI.

2. Pemberontakan DI/TII & PRRI dilakukan oleh para Pejuang Kemerdekaan RI karena kecewa Rezim Orde Lama ditunggangi PKI. Sedang Pengkhianatan PKI dilakukan oleh para Pecundang PKI yang tidak pernah berjasa dalam perjuangan Kemerdekaan RI.

3. Pemberontakan DI/TII & PRRI hanya sebuah pemberontakan para pecinta Bangsa dan Negara RI utk "mengoreksi" Rezim Orde Lama yang dikuasai PKI. Sedang Pengkhianatan PKI merupakan sebuah pemberontakan dengan menunggangi Rezim Orde Lama untuk menjual Bangsa dan Negara RI kepada Negara Komunis Soviet dan China.

4. Pemberontakan DI/TII & PRRI setelah ditaklukan langsung kembali ke pangkuan RI dan membaur dengan seluruh rakyat Indonesia serta tidak pernah menuntut permohonan maaf negara dan tidak lagi mengusung ideologinya. Sedang Pengkhianatan PKI setelah dua kali ditaklukan tahun 1948 dan 1965, tetap tidak mau berbaur dengan rakyat Indonesia dan tetap mengaku benar serta menuntut permohonan maaf negara dan tetap saja mengusung ideologinya.

5. Hampir semua Anak Keturunan DI/TII & PRRI kini melupakan masa lalu dan memandang cerah ke depan sehingga jadi setia kepada Pancasila & NKRI. Sedang kebanyakan Anak Keturunan PKI terus mengorek luka lama dan dendam masa lalu serta terus memandang suram ke belakang sehingga tetap minta bantuan Negara Komunis Rusia dan China untuk kembali khianat kepada Pancasila & NKRI.

6. Pemberontakan DI/TII & PRRI tidak melakukan pembantaian massal kepada warga sipil atau pun menculik dan membunuh para Jenderal atas nama kekuasaan karena mereka rakyat biasa, tapi kontak senjata seimbang denga TNI. Sedang Pengkhianatan PKI melakukan pembantaian massal kepada Ulama dan Santri serta ribuan warga sipil, bahkan menculik dan membunuh para Jenderal atas nama kekuasaan karena mereka mengontrol Penguasa Rezim Orde Lama.

7. Anak Keturunan DI/TII & PRRI mau pun PKI tentu tidak akan dipermasalahkan selama mereka setia kepada Pancasila & NKRI serta berbairdengan semua rakyat Indonesia tanpa membuka lagi luka lama dan tidak lagi berencana melampiaskan dendam masa lalu.

Pendapat Gus Mus dan Wiranto mengenai PKI, DI/TII dan PDRI

AJAKAN GUS MUS RENUNGAN KANG SOBARI
Janganlah mempermasalahkan Ribka Tjiptaning yang anak PKI jadi politisi PDIP karena toh kita tidak pernah mempermasalahkan bahwa Ratna Sarumpaet adalah anaknya Saladin Sarumpaet yang pemberontak PRRI/Permesta.

Kita juga tidak mempermasalahkan Prabowo Subianto, anak Soemitro Djojohadikusumo (sama-sama anggota kabinet di pemerintahan PRRI/Permesta dengan Saladin Sarumpaet), yang mendirikan Gerindra.

Selama ini kan kita juga oke aja dengan PKS bentukan Hilmi Aminuddin yang anaknya Danu Muhammad (mantan panglima DI/TII untuk wilayah Indramayu).
Yang penting ideologi separatis ala PKI/PRRI/DI itu sudah lenyap semua dari bumi.

HASIL RENUNGAN MENKO POLHUKAM RI
Menko Polhukam dalam Siaran Pers tertgl 24 September 2017 telah menyamakan Pengkhianatan PKI dengan Pemberontakan DI/TII & PRRI, bahkan disamakan dengan kasus sekelas Malari.

Jika Film DI/TII, PRRI PERMESTA Dibuat
By: Jefri Nofendi

Kalau Film PKI dibuat , lalu film DI/TII dibuat , lalu film PRRI dibuat , lalu film PERMESTA dibuat maka kalian tahu tidak akan berujung pada kesimpulan apa ?

Akan muncul kesimpulan bahwa setelah indonesia merdeka 1945 ternyata Soekarno gagal menjalankan roda pemerintahannya hingga banyak pemberontakan pemberontakan setelah indonesia merdeka , dimana pemberontak adalah teman teman Soekarno yang dulu sama sama berjuang memerdekakan bangsa ini dari para penjajah ...

Walhasil disinilah akhirnya terkuak semua dan nama baik Soekarno akan dipertaruhkan ...

Silakan saja dibuat film DI/TII , PRRI , PERMESTA , tapi konsekuensi nya adalah yang aku sebutkan diatas ...

Sayang sekali banyak yang terjebak umpan ..Akhirnya malah tergiring untuk membuka sisi kelam pada masa pemerintahan Soekarno ... dari tahun 1945 sampai 1965 masa pemerintahan 20 tahun Soekarno akan dibandingkan dengan 32 tahun masa pemerintahan Soeharto , akhirnya publik akan menilai sendiri mana pemerintahan yang sebenarnya yang jauh lebih baik apakah ORLA atau ORBA. Jika semua pemberontakan pada masa ORLA di Filmkan maka hal itu malah membuka sisi lain pemerintahan ORLA.

NB :Tolong dipertimbangkan lagi dan dikaji kembali usul untuk membuat film pemberontakan pemberontakan pada masa ORLA ... karena nama baik Proklamator kita yang dipertaruhkan nantinya di kancah internasional ..


Larangan Nobar G30SPKI di Kota Padang di Balas Senyuman Wako Mahyeldi

Larangan Nobar G30SPKI di Kota Padang di Balas Senyuman Wako Mahyeldi


Sebelumnya: Pemko Padang Instruksikan SD SMP Untuk Nobar G30SPKI

Ketetapan MPRS Nomor XXV/MPRS/1966 Tentang Pembubaran Partai Komunis Indonesia, Pernyataan Sebagai Organisasi Terlarang Di seluruh Wilayah Negara Republik Indonesia Bagi Partai Komunis Indonesia Dan Larangan Setiap Kegiatan Untuk Menyebarkan Atau Mengembangkan Faham Atau Ajaran Komunis/Marxisme-Leninisme, hingga sekarang masih tetap berlaku.

Namun pemutaran Film Penumpasan Penghianatan Gerakan 30 September (G 30 S) Partai Komunis Indonesia (PKI) yang diapungkan Panglima TNI, Jenderal Gatot Nurmantyo masih saja dijadikan polemik.

Terakhir, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Republik Indonesia (RI) Muhadjir ikut melarang menonton film tersebut dengan melibatkan siswa Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

"Film tersebut bukan konsumsi anak SD dan SMP. Itu sebabnya film tersebut dulunya diputar pukul 10.00 malam," ujarnya usai kegiatan penganugerahan gelar Doktor Honoris Causa (HC) pada Megawati Soekarnoputri di UNP Padang, Rabu (27/9/2017).

Terkait dengan adanya surat edaran (SE) Dinas Pendidikan Kota Padang, tentang diwajibkan siswa SD dan SMP menonton dan membuat resume, Muhadjir menegaskan akan memberikan sanksi jika surat edaran tersebut tidak ditarik.

Menyikapi pernyataan Mendikbud terkait pelarangan tersebut, Walikota Padang, H. Mahyeldi Ansharullah hanya tersenyum. Menurutnya, jika menteri ingin melarang silahkan saja. Itu menurut Mahyeldi sah-sah saja.

Namun, menurut Mahyeldi pelarangan tidak bisa secara lisan atau titah raja semasa zaman kerajaan.
[gamamedianet.com]


Kamis, 28 September 2017

Pak Tuo Syafi'i Maarif di Hajar Karni Ilyas TV One Terkait PKI

Pak Tuo Syafi'i Maarif di Hajar Karni Ilyas TV One Terkait PKI


KARNI ILYAS PERMALUKAN PAK TUO SYAFII MAARIF

Meski terbata-bata saat berbicara, namun kuakui Pak Karni Ilyas, presenter ILC TV One, sangatlah cerdas.

Tatkala Pak Tuo Syafii Maarif dimintai opini terkait PKI, lalu beliau mengatakan;
"Saya sudah bosan bahas-bahas tentang PKI. Bosan! Tiap tahun bahas PKI, padahal kasus PKI udah lama terkubur di masa lampau, ngapain dikorek-korek lagi. Masih banyak permasalahan bangsa ini selain isu PKI, seperti ekonomi, kesenjangan kesejahteraan, dan lain-lain. Ayolah jangan hidup dengan kenangan di masa lalu yang kelam itu."

Ucapan Buya dikuatkan dengan perkataan Ilham Aidit, anak kandung DN Aidit.
"Kenapa harus diulang-ulang peringatan G30S..? Hingga setiap memasuki bulan september, jantung saya berdetak lebih cepat."

Dan inilah jawaban Karni Ilyas,
"Pak, Anda tau...? Di Jerman, setiap tahunnya memperingati kekejaman NAZI. Sama saja sebenarnya. Dan itu tidak salah. Demi mengenang sejarah."

Luar biasa...!!.

Aku baru ngeh, bahkan di Al-Quran 70% isinya adalah sejarah.
Bila sejarah yang dikenang harus selalu sejarah baik, dan sejarah buruk mesti dibuang, dikubur, jangan boleh dituturkan ke anak cucu, ngapain Allah sampai mengabadikan Peristiwa penyerangan pasukan gajah, pimpinan Abrahah terhadap Ka'bah dalam surat Al-Fil..? Atau kekejaman Namrud saat hendak membakar nabi Ibrahim, dalam surat Al-Anbiya'..?

Sejarah kelam bukan untuk dihapus. Tapi untuk dijadikan pelajaran agar tak berulang.
Dan agar tak berulang itulah, setiap tahun mesti dituturkan ulang, kalau ada video diputar ulang.

Sama seperti kekejaman PKI, tak ada salahnya nonton film-nya. Dengan begitu, anak-anak muda jadi tau kalau nanti ada gelagat PKI mau bangkit lagi, mereka jadi waspada dan mengantisipasi.

"Sampai kapan kita gini terus, gak mau bermaaf-maafan..?"
Sebenarnya simpel sih, ikuti aja pepatah populer ini, 
"Forgiven but not Forgotten. Maaf oke, melupakan tidak!"
Karena itulah inti sejarah!

Video Pak Tuo Syafii maarif beropini tentang kebangkitan PKI dan di tampik dengan cerrdas oleh presenter ILC Tv One bang Karni Ilyas



Kenangan Pahit Bersama PKI di Batusangkar, PKI Kejam dan Suka Memutarbalikan Fakta
PKI Itu Nyata Bukan Hantu, Ini Kesaksian Korban Kekejaman PKI
Kiasan Minangkabau yang Cocok Disematkan Kepada Ahok

Rabu, 27 September 2017

Video Megawati Salah Ucap Salallahualaihiwasallam di UNP Padang

Video Megawati Salah Ucap Salallahualaihiwasallam di UNP Padang

Viral di medsos, DR ( HC ) Megawati Soekarnoputri salah ucap lagi menyebut ucapan shalawat yang biasa diucapkan setelah menyebut nama Nabi Muhammad. Lidah doktor ini sempat kelu alias keseleo menyebut salallahu 'alaihiwasallam. 

Ada apa ini, apakah hal ini biasa saja, mungkin beliau grogi atau memang naskah pidatonya yang salah ketik, atau memang Tuhan telah memelintir lidahnya saat menyebut nama Sang Kekasih Tuhan Semesta Alam ini, yang mana agama yang Beliau bawa seringkali "disakiti" oleh mantan presiden RI ini.

Ini video insiden kecil Bu DR. Megawati saat membacakan pidato sambutannya di padang Sumatera Barat saat acara penerimaan gelar kehormatan DR dari UNP .




Baca Juga:
Rakyat; Panglima TNI Harus Berpolitik Jika Situasi Negara Kacau Seperti Ini

Rakyat; Panglima TNI Harus Berpolitik Jika Situasi Negara Kacau Seperti Ini


Kalau Begini Situasinya, Panglima TNI Memang Harus "Berpolitik"
By : Asyari Usman

Kalau gara-gara membongkar pembelian senjata sebegitu banyak, secara ilegal, ada orang yang mengatakan Panglima TNI Jenderal Gatot Nurmantyo berpolitik, memang perlulah dia berpolitik. Atau ketika Panglima (siapa pun orangnya, tidak mesti Jenderal GN) membeberkan tentang ancaman teroris, kemudian dia disebut berpolitik, biar sajalah disebut berpolitik. Saya tidak berkeberatan. Saya yakin juga seluruh rakyat tidak keberatan.

Kalau misalnya gara-gara Panglima TNI berkomentar tentang kemunculan komunisme dan PKI, dia disebut berpolitik, tidak masalah. Biarlah dia berpolitik untuk urusan ini.

Kalau perlu kita nobatkan saja “Partai TNI” yang beranggaran dasar “pencegahan pembelian senjata ilegal, pemberantasan teroris, penjagaan kemanan negara, plus (ini yang teramat penting) pencegahan paham komunis dan kebangkitan PKI”. Buatkan saja UU-nya dengan ketentuan bahwa Partai TNI tidak boleh ikut Pemilu dan tidak boleh campur tangan di luar hal-hal yang disebutkan di atas.

Mungkin bisa ditambahi lagi lingkup politik Panglima TNI supaya mencakup soal pemberantasan narkoba yang tampaknya tak kunjung tuntas. Siapa tahu, kalau Panglima TNI ikut “berpolitik” untuk urusan narkoba, bisa cepat diselesaikan.
Sangat setuju kita Panglima TNI berpolitik untuk masalah-masalah serius seperti ini. Tentu tidaklah ikut dalam urus-urusan lain.

Masa iya Panglima TNI membiarkan kebangkitan komunisme dan PKI? Membiarkan pembelian senjata ribuan atau puluhan ribu pucuk secara ilegal? Membiarkan berkapal-kapal narkoba masuk ke Indonesia?

Masa iya Panglima TNI diam saja melihat itu semua?
No way! Tak mungkin! Biarlah Panglima setiap hari disebut berpolitik ketimbang negara dan bangsa ini hancur berantakan karena mendiamkan rencana-rencana jahat. Biarlah Hendardi (ketua SETARA Institute) dan politisi PDIP berteriak-teriak bahwa Panglima TNI berpolitik dalam hal-hal vital dan fatal seperti disebutkan di atas.

Panglima TNI tidak boleh netral dalam menghadapi ancaman terhadap keamanan negara dan bangsa, baik yang terindikasi datang dari luar maupun dari dalam.

Kalau Panglima TNI netral, berpangku tangan, dalam urusan-urusan yang disebutkan tadi, maka akan ambruklah negara. Akan habislah rakyat dibantai. Akan menjadi zombie-lah generasi muda karena narkoba. Akan muncullah rezim totaliter. Akan tersingkirlah Pancasila.

Jadi, kalau seperti sekarang inilah situasinya, Panglima TNI memang harus “berpolitik”.

(Penulis adalah wartawan senior)

Selasa, 26 September 2017

Kota Payakumbuh Sumbar Akan Adakan Nobar Film G30S/PKI

Kota Payakumbuh Sumbar Akan Adakan Nobar Film G30S/PKI


Gaung nobar ( nonton bareng )  film pengkhianatan dan penumpasan G30S/PKI semakin meluas. Para pemimpin daerah yang sadar sejarah menginstruksikan kepada bawahan dan ASN di lingkungannya untuk melaksanakan nobar film PKI. 


Pemerintah Kota Batiah Payakumbuh juga tidak ketinggalan, Walikota Riza Falepi di disaat menerima panitia nobar diruang kerjanya mengatakan akan mengirimkan selebaran kepada warga Kota Payakumbuh agar melaksanakan nobar G30SPKI kami(dikutip dari sumbartime.com)

Wako mengatakan bahwa beliau sangat mendukung sekali dengan kegiatan nonton bareng ini. Mari kita bersama sama menonton tentang kisah sejarah penghianatan yang terjadi pada bangsa ini,” tutur Riza, dihadapan panitia nonton bareng.

PKI adalah pengkhianat sejati yang saat ini indikasi kemunculan mereka kembali telah diendus oleh TNI. Acara nonton bareng film G30SPKI  ini di gaungkan oleh Panglima ABRI Jendral Gatot Nurmatyo untuk meluruskan sejarah PKI yang mulai dibelokan oleh anak keturunan PKI di Indonesia. 

Jangan sampai sejarah terulang, beritahu anak cucu kita tentang bahwa bangsa ini punya sejarah kelam terpedih yaitu pengkhianatan PKI yang membantai dengan sadis 7 pahlawan revolusi, membantai ulama, kiyai dan santri. Saat ini mereka ingin eksis kembali di bawah bayang-bayang pengusa yang pro dengan mereka. Semoga dengan diputarnya film sejarah G30SPKI ini bisa menyadarkan para generasi sekarang bahwa PKI itu sangat berbahaya


Senin, 25 September 2017

Mengenal Ustadz NU Gadungan Abu Janda Al Boliwudi Lebih Dekat

Mengenal Ustadz NU Gadungan Abu Janda Al Boliwudi Lebih Dekat


Ustadz Sosmed kondang Almaukaram Ustadz Abu Janda Al-Selfy Al-Boliwudi ternyata bukan NU resmi alias NU jadi-jadian. Selfy-Man yang selalu mencatut ormas besar NU dan Banser serta Ansor ini dalam setiap postingan SARAnya ini tidak diakui keberadaannya oleh Internal NU sendiri. Postingan tulisan, video maupun gambarnya selalu menjurus kepada adu domba, mengobok-obok persatuan bangsa, memecah belah kerukunan umat, fitnah sana fitnah sini serta segudang postingan kelas sampah lainnya.

Kasihan sekali Mr Abu ini, sudah poto sana sini pake baju Banser, Ansor dan petinggi NU, catut sana catut sini mengatasnamakan NU, disaat sibuk-sibuknya cari muka tiba-tiba korengnya di buka oleh petinggi Banser NU sendiri bahwa dia itu bukan bagian dari Banser maupun Ansor. Itulah salah satu ciri cebong sejati, Munafik dan tak punya rasa malu sedikitpun.

Ini pengakuan palsu ngustadz Janda dalam halaman facebookya;


Setelah sekian lama meresahkan publik karena tulisan-tulisannya yang kontroversial sembari membawa nama NU, akhirnya akun Abu Janda dibongkar oleh Kepala Satuan Koordinasi Nasional (Kasatkornas) Banser H Alfa Isnaeni.

H Alfa Isnaeni mengatakan, akun Facebook “Abu Janda NU” sama sekali tidak memiliki hubungan dengan Gerakan Pemuda Ansor dan Barisan Ansor Serbaguna (Banser).

Alumni STAI Diponegoro Tulung Agung itu mengaskan, Ansor dan Banser tidak berwatak demikian.

Karenanya, Banser mengajak warga NU dan masyarakat untuk berhati-hati terhadap akun semacam Abu Janda tersebut.

“Dengan nama akun yang tidak jelas, kita mesti berhati-hati dengan akun model Abu Janda ini. Selain tidak jelas profilnya, kita masih meraba motif dan kepentingannya apa,” kata Alfa Isnaini di Jakarta, Ahad (8/1/2017), seperti dikutip situs resmi NU;
http://www.nu.or.id/akun-abu-janda-nu-tidak-berhubungan-dengan-ansor-dan-banser

Seperti diketahui, akun “Abu Janda Al Boliwudi” yang kemudian membuat halaman “Abu Janda NU” cukup lama menimbulkan kontroversi di media sosial. Pasalnya, akun tersebut mengaku sebagai aktivis NU bahkan diidentikkan dengan Ansor.

Pernyataan resmi Kasatkornas Banser tersebut dinilai sangat tepat untuk menegaskan kepada publik bahwa Abu Janda tidak memiliki hubungan dengan Ansor dan Banser.

“Alhamdulillah... akhirnya ada pernyataan resmi juga..,” kata Suryadi.

“NU berlepas diri dari akun Abu Janda Al Boliwodi yang suka bawa-bawa nama NU dengan modal selfy..,” kata Edwin Aljabha.
Sindiran Pedas Prajurit TNI; Sadis Mana Film G30SPKI atau Sinetron Kacangan Indonesia?

Sindiran Pedas Prajurit TNI; Sadis Mana Film G30SPKI atau Sinetron Kacangan Indonesia?

ari adrianto tni

Film G30S/PKI penuh kekerasan? Kalian tidur dimana saat film yang paling banyak kekejamannya seperti "Saving Private Ryan" diputar di bioskop, cinema & di televisi?

Tidak pernah ada di Indonesia yang memblokir film Saving Private Ryan. Film yang berjibun kekerasannya, & ada tentara Yahudi Amrik yang dibunuh dengan pisau komando dan ditusuk jantungnya oleh tentara Jerman pelan-pelan sambil dinyanyiin?

Kalian ada dimana saat semua sinetron kacangan Indonesia pada mengumbar kekerasan verbal di hampir semua stasiun televisi?

Catatan : Pertama yang dimusuhi & dilemahkan adalah umat islam, & sekarang ini semakin banyak fitnah kepada tentara yang dituduh sebagai pelaku penculikan. Isu makar, kudeta pun dihembuskan. Semua keluarga korban, saksi di lubang buaya bilang bahwa pelaku penculikan adalah PKI, Cakrabirawa, dan unsur- unsur PKI lainnya.

Benar-benar ciri-ciri PKI asli, kebiasaan abadi lamanya adalah ; berkata & berlaku bohong, menfitnah umat islam, nasionalis, & TNI dengan tuduhan makar & kudeta.

Bisa di google in : Di Australia ada pembunuh berantai paling terkenal, hingga dibuat tv seri kisah penangkapan si pembunuh terkenal Ivan Milad ini. Semua bukti ditemukan. Cocok, ada satu calon korbannya, turis cowo Inggris lolos (jadi ingat pak Nasution yang lolos juga) mengenali si Ivan Milad. Moyangnya dari Rusia / Eropa Timur si Ivan ini sepertinya. Jadi seperti ulah komunis saja. Si Ivan juga membunuhi sekitar 7 turis, untuk merampas harta mereka.

Ivan Milad ini tidak pernah mengakui semua perbuatannya. Tetap dipenjara seumur hidup sampai saat ini di Australia. Eit ada efek genetiknya; keponakan si Ivan Milad ini jadi pembunuh juga. & si keponakan melakukan pembunuhan dengan bangga. "aku bangga punya darah pembunuh terkenal" . Ada genetik yang sakit begitu ternyata dimana-mana ya? - jadi bikin saya ingat si ratu syiah juga, dll.

@gue nonton film PKI dari kecil. Kaga ngefek, tidak bikin gue jadi kejam. Mpe sekarang gue selalu larang suami bunuh lalat atau kecoa. Harus ditangkap dengan kertas tisu dan dibuang keluar rumah. Dasar agama yang baik yang bikin orang takut berbuat dosa. Bukan karena film yang bersejarah.

Minggu, 24 September 2017

Nasehat KH Shalahuddin Wahid - Jangan Lupakan Sejarah Kekejaman PKI Kepada Kiyai dan Santri

Nasehat KH Shalahuddin Wahid - Jangan Lupakan Sejarah Kekejaman PKI Kepada Kiyai dan Santri



Pengasuh Pondok Pesantren Tebu Ireng Jombang, KH. Shalahuddin Wahid berpesan kepada generasi muda NU jangan melupakan sejarah soal kekejaman komunis pada Kiai dan Santri sejak 1965 ke belakang. Hal ini disampaikan pria yang akrab disapa Gus Sholah ini usai mengisi acara ICMI ‘Sosialisasi Empat Pilar’ di MPR, Sabtu (23/9).

“Anak-anak muda NU yang tidak merasakan suasana yang terjadi pada tahun 1965 ke belakang, jangan melupakan (kekejaman) ini. Kalau (warga Nahdliyin) yang mengalami gak mungkin lupa,” ujarnya.

Karena itu Adik kandung Gus Dur ini menyayangkan bila ada anak muda NU atau generasi muda NU yang memperdebatkan apa yang dilakukan PKI di masa lalu.

Sebab menurutnya sudah jelas PKI bertanggung jawab atas penyiksaan dan penculikan para Kiai dan santri NU di Jawa Timur sejak peristiwa Madiun 1948.

Gus Sholah menjelaskan PKI dan Komunisme menjadi momok sejarah bangsa ini karena bahaya laten ideologis itu masih ada. Hal yang sama dengan pemberontakan DI/TII, yang mereka sudah ditumpas habis hingga 1960-an. Dan pemberontakan Permesta itu soal ketidakadilan ekonomi.

“Tapi yang ideologis itu DI/TII kan sudah tidak ada lagi, sedangkan Komunis ini banyak orang merasakan kemunculannya. Makanya muncul penolakan, walau ada yang menyebutnya ‘hantu’,” terangnya.

Terkait upaya rekonsiliasi kedua belah pihak, menurut Gus Sholah rekonsiliasi ini sebenarnya sudah berjalan. Bahkan NU sejak dahulu juga telah melakukan rekonsiliasi.

Namun yang jadi masalah ada pihak yang ingin mengangkat rekonsiliasi ini ke ranah hukum. “Itu yang tidak mudah,” katanya.

Karena itu Gus Sholah berharap rekonsiliasi tetap berlanjut. Hak-hak mereka yang hilang dari kedua belah pihak baik dari PKI dan korban dari PKI harus diberikan.

Kemudian semua pihak ia mengimbau saling menerima dan memaafkan atas noda sejarah ini.
[ngelmu.id]


Sekarang Saya Baru Sadar Bahayanya PKI Jika Duduk Dipemerintahan

Sekarang Saya Baru Sadar Bahayanya PKI Jika Duduk Dipemerintahan


Masih ingat dulu waktu SMA. ada pelajaran PSPB. Lalu gurunya menyuruh kami membuat drama tentang G30S PKI. Yang ga enaknya saya di jadikan aktor sebagai PKI.

Tapi jadi ada kesempatan menendang kursi di depan guru, pas saat penangkapan para jenderal, dengan galaknya berkata: Keluar Jendral!! Darah itu merah jendral!!
Sambil nendang kursi, gurunya senyum-senyum aja. Mungkin dia berfikir, ini anak cari kesempatan. ha..ha..

Jadi kalau kita dulu memang di berikan pencerahan tentang bagaimana kejamnya PKI, baik itu lewat film maupun lewat drama di sekolah-sekolah.

Anak-anak muda sekarang banyak yang tidak tahu, sehingga merek mudah terkena syubhat PKI. Dulu saya menganggap ijtihad pak Suharto yang melarang keturunan PKI menjadi pegawai negeri kog kejam sekali ya. mereka tidak berdosa, yang salah bapak-bapak atau kakek-kakeknya.

Sekarang saya baru sadar bagaimana bahayanya keturunan-keturunan itu kalau sampai duduk di pemerintahan, mereka masih menyimpan dendam lama, mereka akan meneruskan perjuangan orang tuanya dulu.

Jadi ijtihad pak Suharto dalam masalah ini sudah benar, dan hukuman tidak boleh.menjadi.pegawai negeri bukanlah hukuman yang berat, toh merek bisa jadi pedagang, petani, peternak atau pengusaha.

Oleh: Buya Fairizal Mukhlisinalahuddin