Selasa, 11 Juni 2019

ASN Mengkritik Pemerintah, Apa Salahnya?

asn mengkritik pemerintah

Menjawab Pernyataan Ketum Dewan Pengurus KORPRI yang menyuruh ASN/PNS mengundurkan diri jika masih mengkritik pemerintah.

KRITIK ITU MEMBANGUN BUKAN "ENEMY"

"Pemerintah boleh berganti-ganti, presidennya bisa berganti-ganti tapi PNS-nya ya tetap kita-kita ini. Makanya kita tidak boleh menjelek-jelekkan pemerintah. Masak iya sih kita jelek-jelekan diri kita sendiri?," sindir Prof. Zudan yang juga Ketua Umum Dewan Pengurus Korpri Nasional itu."

"Zudan menegaskan, bagi ASN yang masih suka menjelek-jelekkan pemerintah, sikap terbaik adalah keluar dari PNS. Keluar dulu dari PNS baru setelah itu silakan jelek-jelekkan. Jangan ambil gajinya, ambil THR-nya tapi memaki pemerintah, itu tidak bijaksana."

Komentar saya:

1. Apakah beliau lupa ketika kuliah doktor dahulu, bahwa ilmu itu harus bisa difalsifikasi, DIKRITIK bahkan dijelek-jelekkan. Mungkin sakit dikoreksi dan dikritik, namun itulah cara yang terbaik menuju kepada perubahan. Apakah kalau sudah menjadi pejabat dan ASN itu ilmu yang dulu diperoleh harus dikubur dalam-dalam? Lalu orang jadi alergi kritik dan mengkritik?

2. Kita harus paham betul, yang menggaji ASN itu bukan menggunakan uang pemerintah yang berkuasa melainkan uang rakyat. Justru pemerintah yang berkuasa itu pun juga digaji oleh rakyat tiap bulan. Sadar nggak sih? Kenapa pola pikirnya jadi kebalik-balik seperti itu?

3. ASN menerima gaji, THR atau apa pun namanya itu HAK, karena sudah melaksanakan PRESTASI KERJA. Jadi bukan karena WELAS ASIH pemerintah yang berkuasa? Seperti kuli-kuli yang kerja pada majikannya. Bedanya majikan ASN itu RAKYAT yang juga menjadi majikan pemerintah yang berkuasa. Katanya KEDAULATAN di tangan RAKYAT? Kok mikirnya kebalik-balik ya?

4. Jadi, jadi ASN itu boleh mengkritik pemerintah termasuk dirinya sendiri, itu yang disebut AUTOCRITIC. Ibaratnya begini, dalam rumah tangga boleh nggak istri mengkritik kebijakan suaminya? Meski kita sadar bahwa kritik seringkali dimaknai peyoratif "menjelek-jelekan". Apakah kalau mengkritik suami atau pemerintah itu lalu dianggap tidak setia? Sulitkah memahami hal sederhana begini?

5. Jadi janganlah alergi kritik yang kadang terkesan selalu dianggap "menjelek-jelekkan", terbukalah dan rangkulah serta tampunglah kritik itu, meski terasa pedas dan tidak nyaman. Tapi ingatlah, itu adalah salah satu kepedulian majikanmu, rakyat untuk berpatisipasi membangun bahtera negeri ini bersama. Kiritik adalah sarana turut membangun, bukan dianggap musuh (enemy).

6. Ajaklah ngopi darat (copdar) pengkritik, mereka akan menjadi sahabat setia, maksudnya setia mengkritik. Bersedihlahlah ketika di dunia ini minim kritikus yg seringkali dimaknai "menjelek-jelekkan". Bila itu terjadi, maka bahtera negerimu pun secara tidak sadar akan terjerumus di jurang kenistaan. Mau begitu?

7. Sengit aku ketika ngerti "himbauan" keluar dari ASN hanya karena mengkritik pemerintah. Sengit tenan! Kok kayak negara ini punya kakek nenek moyang sendiri.

8. Ngeritik itu ya tidak asal bicara, butuh energi, butuh kepintaran tertentu dan stok ilmu juga. Jadi jangan meminta kepada yang berpuasa untuk mengHORMATI yang tidak puasa, tapi HORMATI juga kritikus.

By: John Suteki

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.