Rabu, 31 Oktober 2018

Islam Nusantara dalam Pandangan Dewan Ulama Tarekat Indonesia


ISLAM NUSANTARA DALAM PANDANGAN DEWAN ULAMA THAREQAH INDONESIA (DUTI)

Oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani
(Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia)

Selasa, 30 Oktober 2018

Fatwa Dewan Ulama Thariqah Indonesia DUTI Hebohkan Turki

fatwa dewan ulama tarekat hebohkan turki
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah dengan Syeikh Fatih Nurullah di Turki

Pada tanggal 5 Oktober 2018 kemaren Dewan Ulama Thariqah Indonesia/ASEAN (DUTI/DUTA) menerbitkan fatwa yang mengharamkan semua bentuk kegiatan organisasi teroris pimpinan Fethullah Gulen. Sebagaimana diketahui pada Juli 2016 silam FETO pimpinan Fethullah Gulen melancarkan aksi kudeta berdarah terhadap pemerintahan sah Turki yang menewaskan hampir 300 orang.

Minggu, 28 Oktober 2018

Dewan Ulama Thareqah Minta Stop Semua Aktivitas Fethullah Gulen di Indonesia

ulama tarekat minta fethullah gulen dihentikan

Dewan Ulama Thoriqoh Indonesia (DUTI) meminta pemerintah Indonesia menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen.

Lembaga yang beranggotakan para ulama dan guru besar ini telah mengeluarkan fatwa yang memutuskan gerakan Gulen melakukan penyimpangan ayat-ayat Alquran dan merusak akidah.

“Ya [fatwa] sudah dirlis resmi,” ujar Sekretaris Jenderal DUTI Zubair Ahmad saat dihubungi Anadolu Agency pada Selasa.

Zubair juga menegaskan pemimpin tertinggi DUTI Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani sedang melakukan pertemuan dengan pemimipin-pemimpin tarekat di Turki.

Dalam fatwanya, DUTI mengaku telah melakukan investigasi dan penelitian soal Fethulleh Gulen semenjak terjadinya kudeta gagal di Turki yang menyebabkan 258 orang meninggal dunia.

“Fethullah Gulen dengan segala tindakan dan pemikirannya terhadap Islam, khususnya tentang sufi adalah kesesatan yang akan merusak nilai-nilai sufi itu sendiri,” tulis Fatwa DUTI yang langsung ditandatangani Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani.

DUTI menilai awalnya Fethullah Gulen menyebarkan ajarannya menggunakan nama besar ulama Turki Bediuzzaman Said Nursi.

Namun setelah diteliti dan dipelajari, ajaran Gulen telah menyimpang dari ajaran Bediuzzaman Said Nursi itu sendiri.

“Nama Said Nursi hanya digunakan untuk menarik simpati Umat Islam khususnya di kalangan para pemuda dan aktivis kampus,” tulis fatwa DUTI.

Selain itu, DUTI menilai kelompok Gulen mengarah kepada organisasi teroris yang bersembunyi di balik gerakan sosial dan agama.

“Meminta kepada Presiden Indonesia dan seluruh pemimpin negara beserta para Ulama dapat bersatu dan bersama-sama menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen di negaranya masing-masing,” terang Fatwa DUTI.

DUTI dikukuhkan pada Januari 2016 melalui pertemuan para ulama tarekat yang berlangsung di Solok, Sumatera Barat.

Source: https://www.aa.com.tr

Kunjungan Dewan Ulama Thareqah Indonesia ke Istanbul Turki

Tuangku Syaikh M. Ali Hanafiah dan Walikota Mevlut Uysal

Pimpinan ( Rais Mustasyar) Dewan Ulama Thareqah Indonesi/ASEAN Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani dan delegasi berkunjung ke kota Istanbul Turki bertemu dengan juru bicara partai AK Omer Sahan. Sebagaimana diketahui Partai AK adalah partai pendukung Presiden Erdogan. Di istanbul Tuangku dan rombongan bertemu dengan walikota Mevlut Uysal.

Minggu, 21 Oktober 2018

Arti dan Makna Gerbang Monumen 9 Pilar Balun Solok Selatan


REKAAN ARTI MONUMEN 9 PILAR di BALUN.
Oleh: Hasmurdi Hasan

Senin, 08 Oktober 2018

MIRIS..!! Pesta Mewah IMF Bali Ditengah Luka dan Duka Palu


KAUM OTAK DIKIT MABUK DAUN BAWANG...

Pernah dengar orang mabuk daun bawang?, tentu saja anda tidak akan pernah mendengar apalagi mengalaminya kecuali anda bagian dari spesies makhluk mutan paling ajaib abad-21 ini, KECEBONG...!

Para kumpulan kecebong ini sangat unik, mereka memakai semua jurus mabuk termasuk mabuk daun bawang yang secara logika pasti ditertawakan semua orang.

Makan Nasi Goreng bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Sop bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Bakso kabur karena ada daun bawangnya, eh maaf, karena ogah bayar rupanya...SIALAN!!!

Sekarang junjungan mereka diserang karena mengadakan pesta mewah bersama Tukang Kredit Internasional, biasa disingkat IMF, ditengah derita Masyarakat Palu dan Donggala. Mereka mau cuci tangan memakai jurus Mabuk Bawang dengan menyalahkan Rezim SBY.

Benar, acara pertemuan itu diusulkan jaman Pak SBY. Tapi keputusan Indonesia menjadi tuan rumah tahun 2015, jadi anggaran serta perencanaan mewah tidaknya acara itu ada ditangan rezim berkuasa sekarang.

Lagipula poin sesungguhnya bukan di masalah Indonesia yang menjadi Tuan Rumah Pertemuan Tahunan Tukang Kredit Internasional dan Bank Dunia tersebut.
Tapi ada musibah mendadak yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala.

Seharusnya kalau Rezim sekarang punya nurani, kalaupun tidak bisa lagi dibatalkan, ayo kurangi semua kemewahan pesta sebagai bentuk keprihatinan karena "anak-anak" Tuan Rumah penyelenggara pesta sedang ditimpa musibah.

Bila perlu suguhkan "menu prihatin" misalnya Bakso cukup pakai daun bawang kepada ribuan tamu dan saya yakin Dunia Internasional akan memahaminya. Sisa anggaran misalnya setengah Triliun salurkan ke Masyarakat Palu dan Donggala agar mereka bisa ikut tersenyum.

Bukan malah ikut arahan Menko Oppung yang menginstruksikan agar pesta tersebut akan dibuat menjadi pesta terbesar sepanjang sejarah hanya demi tujuan agar Dunia meyakini Indonesia baik-baik saja.
Kawan, Indonesia kita memang sedang berduka.
Lombok dan Palu-Donggala sedang ditimpa musibah dan Pemerintah kekurangan dana untuk merehabilitasi dan rekonstruksi secara maksimal wilayah-wilayah yang ditimpa bencana.

Andai saja tidak ada musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala, saya pikir tidak ada yang protes dengan besarnya anggaran demi kemewahan acara tersebut.
Bahkan kita tidak akan perduli kalau Rezim berkuasa sekarang mau mengadakan acara khusus buat mereka, misalnya Pertemuan dan Pesta Planga-Plongo Sedunia.
Bila perlu sekalian buat dan resmikan patung idola kalian dan si Parhat Kibus sebesar Tugu Monas.

Kami hanya bersuara karena nurani kami tidak terima ada pesta mewah sementara di Palu-Donggala masih ada mayat-mayat saudara kita dibawah reruntuhan rumah-rumah mereka.
Kami hanya protes karena jiwa kami menangis karena melihat video masyarakat disana yang berebutan makanan dan minuman yang dilempar dari Helikopter Bantuan, sementara tamu-tamu anda dilayani dengan sempurna ditempat-tempat megah, semua itu memakai uang rakyat !!!

Terakhir saya bukan pendukung apalagi Kader Partai Demokrat. Tapi menyalahkan Pak SBY disetiap blunder dan kegagapan rezim ini adalah bentuk mabuk bawang yang menghina logika.
Kita akui saja, Pak SBY seribu kali lebih mampu memimpin negeri ini.
Tolong jangan durhaka dan lagi-lagi menista logika dengan mengatakan tidak ada pembangunan di jaman beliau.
Bandara Internasional Kuala Namu-Medan, Sepinggan Balikpapan, Sultan Hasanuddin Makassar dan puluhan Bandara-bandara megah dipersembahkan beliau untuk rakyat Indonesia.
Tol Bali Mandara dibangun tanpa sesen pun uang dari APBN karena kondisi ekonomi yang lumayan baik dijaman SBY dan BUMN-BUMN kita tertata dengan baik dan profesional.
Jadi stop menyalahkan Pak SBY diatas kegagalan dan ketidakmampuan idola kalian, wahai kaum berotak dikit dengan logika kirik.....

By: Azwar Siregar

Sabtu, 06 Oktober 2018

Keulamaan KH. Ma'ruf Amin Perlahan Mulai Luntur Sejak Dekat Dengan Jokowi


Oleh Moeflich H. Hart

Kalau kita perhatikan dan amati, KH. Ma’ruf Amin, sejak nyawapres sudah mulai luntur ciri-ciri keulamaannya:

1. Sejak bersedia jadi cawapres, beliau menurunkan marwah keulamaannya dengan menjadi wakil dari seorang yang dari usia, pengalaman, wibawa, ilmu agama, kapasitas dll jauh di bawah beliau sendiri sebagai ulama sepuh, dihormati, berwibawa yang ketua Ulama Indonesia dll. Bayangkan ketua para ulama berbagai ormas!! Yang mengkoordinir dan mengomando para ulama se Indonesia untuk membimbing pemerintah dan umat dan memberikan tuntunan dan pegangan kepada umat sebagaimana sebelumnya saat beliau masih ketua MUI. Ini posisinya terbalik, harusnya KH. Ma’ruf capres, Mas Jokowi cawapres. Itu baru bermartabat.

2. Jadi politisi tentu saja derajat dan wibawanya lebih rendah dan menurun drastis dari seorang ulama apalagi dari ketua organisasi ulama dari sebuah bangsa yang besar.

3. Kyai Maruf mulai mengatakan banyak yang dipaksakan dalam dirinya seperti akan mempromosikan dan mengembangkan Islam Nusantara. Itu bukan ucapan ulama. Ulama itu harusnya akan menjaga Islam dan ajaran Rasulullah SAW karena ulama adalah jelas-jelas gelar dan tugasnya sbg waratsatul anbiya, pelanjut perjuangan para nabi. Islam Nusantara sebagai ciri khas wilayah kebudayaan, itu urusan dunia, tak perlu diperjuangkan. Itu khazanah kebudayaan saja. Yang harus didakwahkan oleh ulama itu Islam ajaran nabi, bukan Islam karakeristik wilayah apalagi kalau karakteristik wilayah itu banyak yang tak sejalannya dengan ajaran Islam.

Akan mempromosikan Islam Nusantara kepada dunia? Ya gak akan diterima di wilayah bangsa lain karena selain karakteristik wilayahnya berbeda, juga ramah, toleran dan damai itu sudah ada dalam ajaran Islam yang ada di berbagai wilayah dan negara. Sedangkan tidak toleran dan tidak damai bukan masalah agama, yang merusaknya adalah situasi politik di wilayah masing-masing.

4. Kyai Ma’ruf juga memaksakan diri menegaskan anti khilafah demi meraih suara. Jangan-jangan itu menjual sikap anti-Islam pada pemilih sekuler untuk meraih simpati mereka. Kan bahaya ulama begitu. Gak pantas ulama anti khilafah dan syariat islam. Ulama gak pantas anti dakwah Islam untuk memajukan Islam atau menegakkan syariat-Nya. Kalaupun khilafah belum bisa diterima di Indonesia, jelaskan secara bijak kepada yang memperjuangkannya, tuntun dan tenangkan mereka, bukan memusuhi apalagi melawannya. Hargai niat tulus dan semangat keagamaan mereka. Allah itu menghargai semangat dakwah, masa ulama malah mematahkannya. Ulama harusnya tidak begitu. Ulama itu lilin dalam kegelapan yang memberikan cahaya kepada berbagai kelompok umat. Anti khilafah itu biarkan Banser, Ansor dan non Muslim saja sebagai penyeimbang wacana sehingga masyarakat bisa menilai mana yang lebih baik sikap dan ide-idenya.

5. Kyai Mar’uf juga mulai menyerang-nyerang kelompok Prabowo yang didukung oleh Ijtima Ulama dengan mengatakan ulama pendukung Prabowo itu bukan ulama sebenarnya. Ini kan aneh bin ironis, dan bisa jadi kejumawaan tanpa sadar. Kyai Ma’ruf mulai kotor oleh politik.

6. Sejak bersedia jadi cawapres, kyai Ma’ruf jadi nampak ambisi jabatan. Ambisi jabatan bukan sifat dan karakter ulama apalagi ulama senior. Bandingkan dengan UAS, ulama muda tapi sanggup menolak tawaran jabatan yang mentereng sebagai cawapres. Tak heran kalau UAS jadi ulama idola, dia istiqamah.

7. Sejak nyawapres alias terjun ke dunia politik praktis yang kotor, kalau kita ikuti ribuan komentar2 tentang beliau di internet dan medsos dari masyarakat yang tak mendukung dia, ya ampuuun … nama Kyai Ma’ruf jadi hancuuur. Banyak celaan, pelecehan, hujatan dan hinaan yang tak pantas dilemparkan pada sosok ulama sepuh itu. Tentu saja dalam perang dukungan politik, segala disorot terutama oleh anak2 muda. Sasaran pada usia dan fisik sudah pasti. Saya sedih sekali ulama diperlakukan begitu, tapi itu resiko yang harus diterima akibat beliau menceburkan diri. Kita gak bisa mengatur pikiran dan emosi orang. Psy-war di medsos dan perang dukungan memang dunia liar.

Kita mencintai ulama. Sayangi Kyai Ma’ruf. Selamatkan dan jaga marwahnya sebelum jauh lebih rusak dalam persaingan politik. Saya yakin dengan menjadi wapres tidak akan membuat beliau lebih baik kecuali karir dunia saja. Yakinlah, beliau tidak akan berperan banyak. Lihatlah usia dan fisiknya. Wapres Yusuf Kalla saja yang berpengalaman jadi wapres apa perannya selama ini? Bukankah lebih berperan Megawati sebagai ketua partai pada Jokowi sebagai petugas partai? KH. Zainuddin Mz juga pernah mengungkapkan dia tak kuat di politik padahal dia ulama yang masih muda.

Selamatkanlah ulama yang tadinya lurus jadi kemungkinan bengkok. Satu-satunya cara: Tak memilihnya!!! Tak memilihnya berarti menyelamatkan dan mencintainya. Ini tentu saja tak enak mendengarnya, tapi demi menjaga mawah ulama, harus dikatakan. “Qulil haqqa walau kana murran.” Katakanlah kebenaran walaupun pahit. Wallahu a’lam.***

Moeflich H. Hart, Dosen UIN Sunan Gunung Djati, Bandung.

Next:

Ajaran Fethullah Gulen Menyimpang, DUTI Keluarkan Fatwa Haram

fatwa haram duti

FATWA DEWAN ULAMA THARIQAH INDONESIA/ASEAN
Nomor : 01/ Kep/F – DUTI-A/ X, 2018
Tentang FETHULLAH GULEN