Selasa, 02 Januari 2018

Lebih Baik Pak Djarot Kembali ke Blitar Main Gitar, Daripada Malu Kalah di Sumut

jarot sumut


KENAPA HARUS DJAROT?

Kali ini saya akan menulis pendapat saya tentang rencana majunya, Pak Djarot jadi Calon Gubernur Sumatera Utara.

Sebagai orang Sumut,saya sedikit banyak tentu berkepentingan dengan terpilihnya siapapun yang akan memimpin "Tano Hasorangan" atau tanah kelahiranku itu.

Partai Banteng yang berencana akan mengusung Pak Djarot,bukanlah partai kemarin sore yang akan asal tunjuk orang untuk wilayah sepenting Sumut, walaupun saya tidak akan bilang cukup pintar juga untuk menganalisa perkembangan politik selama ini.
Buktinya kegagalan mereka di Pilgub DKI dan Banten.

Bahkan Partai ini beberapa kali menang pemilu tapi gagal mengantarkan ketua umumnya jadi Presiden. Kalaupun di Pilpres 2014 mereka bisa menempatkan kadernya Pak Jokowi jadi Presiden , tapi menurut saya,keberhasilan mengantarkan Jokowi jadi presiden bukan keberhasilan tunggal PDIP,banyak pemegang saham dan kubu lain yang terlibat.
Karena itu ,wajar saja bila Bu Mega berulang kali menegaskan, Jokowi adalah petugas partainya,untuk mengingatkan kepada para "pemegang saham" dan Khususnya Pak Jokowi sendiri agar selalu ingat, Siapa pemegang saham utama?

Jadi menurut pendapat saya ,rencana penunjukan Djarot kemungkinan besar ; 
Pertama karena bermodalkan suara Ahoker garis keras khususnya yang berasal dari daerah Sekitaran Danau Toba. 
Sayangnya kita semua juga tahu, yang ada di Pilgub DKI adalah Jokower dan Ahoker bukan Djaroter apalagi Kumiser.

Alasan kedua, sekali lagi menurut analisa saya,karena penduduk Sumut suku Jawa hampir 33 persen. Modal suara yang cukup signifikan kalau Djarot bisa memamfaatkan ke-seduluran mereka.
Tentu saja suku terbanyak tetap di pegang suku Batak, cuma sudah menjadi rahasia umum, orang Batak hanya bisa kompak di perantauan,kalau di daerah sendiri malah kami seringkali berselisih hanya gara-gara Kulit Sapi,Daging Kelinci dan Gigi Babi.
Tidak percaya?
Mari kita buktikan di Pilgub Sumut nanti, berapa orang kandidat dari Suku Batak yang akan bertarung jadi BK-1. 
Sebagai pembanding,di Pilgub Sumut 2013 lalu dari 5 Cagub, 4 orang dari suku Batak dan ke empat-empatnya, kalah....

Saya walaupun Suku Batak,tidak mempermasalahkan Suku manapun yang akan memimpin Sumatera Utara kedepan tapi tetap berharap putra-putri daerah setempat.
Kecuali sudah tidak ada putra/putri Sumut yang mampu memimpin Sumut, kalaupun mau mengambil calon Pemimpin dari daerah lain,seharusnya putra/putri terbaik negeri ini.

Tapi kenapa harus Djarot?
Lagipula Djarot itu siapa?
Saya tidak tahu apa prestasi luar biasa Djarot sewaktu menjabat Walikota Blitar maupun ketika jadi Wagub dan Gubernur lungsuran di DKI, berbeda dengan Pak Jokowi sewaktu jadi Walikota Solo menggagas mobil Esemka yang beritanya menggegerkan seluruh dunia walaupun tidak jelas rimbanya.

Terakhir, apakah Pak Djarot tahu?
Kreta yang begitu besar dan panjang bagai ular di Pulau Jawa bagi kami orang Sumut itu artinya cuma sepeda motor?
Sedangkan Motor itu di Sumut beroda empat karena sebutan buat mobil.

Apakah Pak Djarot juga sudah tau kalau Galon itu artinya SPBU?
Jalan Raya kami sebut Pasar sedangkan Pasar tempat jual-beli kami sebut Pajak?

Pusingkan?
Lebih baik Pak Djarot kembali ke Blitar main Gitar, daripada malu tidak terpilih dan kembali melarikan diri....di Acara Pelantikan Pak Edy Rahmayadi.

Sumut membutuhkan Orang Hebat bukan Orang berkumis lebat.

#SalamSumut Marsipature Hutana Be

Oleh: Azwar siregar


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.