Rabu, 02 Agustus 2017

Kajian Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah - Berjalanlah Dengan Ruh, Bukan Dengan Tubuh



Bismillaahirrahmaanirrahiim,

وَيَسْأَلُونَكَ عَنِ الرُّوحِ قُلِ الرُّوحُ مِنْ أَمْرِ رَبِّي وَمَا أُوتِيتُم مِّن الْعِلْمِ إِلاَّ قَلِيلاً

"Dan mereka bertanya kepadamu tentang Ruh. Katakanlah, “Ruh itu termasuk urusan Tuhanku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit”. (Al Israa’: 85)

Taushiah oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani

Satu yang tidak pernah hilang atau mati walaupun ribuan kematian yang dihadapi, yakni "ruh." Ruh tidak pernah hancur. Ruh kita adalah bagian daripada Ruh Tuhan.

Jika kita memandang diri hanya sebagai manusia, maka kita akan hidup hanya untuk fisik saja. Ketika ruh dan jasad terpisah maka barulah kita sadar. Barulah kita akan dapat melihat tubuh kita. Kita akan menangis dan meraung ketika melihat tubuh kita. Karena ruh selama ini hanya merasakan tubuh fisiknya saja (yang di depan cermin). Maka berjalanlah kita di muka bumi ini, bekerjalah jangan semata-mata dengan fisik. Akan tetapi bekerjalah dengan ruh.

Inilah perbedaan orang yang kenal Tuhan. Dalam tidur pun ia sadar. Jika tidak sadar ketika tidur, maka tubuhnya lah yang mengendalikan ruh (hewan), bukan ruh yang mengendalikan tubuh (hamba ALLAH).

KEBUTUHAN DAN KEINGINAN
Kebutuhan ada batasan. Akan tetapi keinginan tidak ada batasannya.
Pengendalian diri di dalam hidup adalah dengan membawa ruh di dalam kesadaran akan Tuhannya.
Fisik dijalankan oleh ruh. Ruh diberikan otoritas oleh ALLAH untuk memilih yang baik atau yang buruk.

Hamba yang cerdas adalah hamba yang mengembalikan kendalinya kepada Tuhannya.
Semakin besar ketergantungan hamba kepada ALLAH semakin besar pula pengendalian ALLAH terhadap ruh kita.

Gerak, langkah, dan perbuatan kita akan menjadi kehendak Tuhan.
Kalau kita memandang tubuh kita ini adalah tubuh fisik, maka tidak akan sampai kita ke langit (Hakikatnya sampai kepada ALLAH).

Jadi mulailah kita menggunakan penglihatan dari dalam, bukan dari luar.

RUH YANG TERTEKAN
Lalu, apa indikasinya ruh yang tertekan?
Indikasi ruh tertekan yaitu ketika beribadah tidak asyik lagi (tidak khusyuk).

NIAT
Niat itu adalah kerjanya ruh.
Tubuh kita bisa di setting (ruh yang mengendalikan tubuh). Contohnya ketika kita ingin bangun shalat tahajjud Pk. 03:00, kita pasang niat, maka InsyaALLAH tubuh secara otomatis akan terbangun pada Pk. 03:00.

Jadi, berjalanlah kita di muka bumi ini dengan ruh bukan dengan tubuh.

Sumber: Ridha Putri - Thariqah Qodiriyah Hanafiah

Artikel berikut:

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

2 komentar

Mau tanya kalimat "ruh kita bgn dr ruh Tuhan" setahu sy yg pernah sy dengar lsg dr Tuangku ruh kita bgn dr tiupan Tuhan jd bkn ruh Tuhan. Mohon jk salah.

Ruh Tuhan pada kalimat diatas maksudnya adalah 7 sifat Tuhan yang dititpkan pada manusia, begitulah yang sering dikatakan oleh Tuangku dalam setiap kajiannya