Selasa, 20 Juni 2017

Mengapa Susah Sekali Untuk " Memandang Allah "

Dekat Tapi Tak Bisa Memandang
memandang Allah
Image by; Isa Rabbani
Kajian Tasawuf oleh Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabbani
Di majelis pertemuan Ulama Thareqah se-Sumatera Barat  2016.

Rasa dekat dengan Allah adalah batu loncatan untuk memandang Allah, rasa dekat mustahil terbit dari akal apalagi hawa nafsu, tapi rasa dekat datangnya daripada Allah, Allah sendiri yang memberikan rasa tersebut.

Ketika rasa dekat itu muncul, yakinlah bahwasanya di balik rasa dekat itu tidak ada yang lain. Tidak ada satu zatpun yang sanggup memberikan rasa dekat kepada Allah melainkan Allah sendiri.

Banyak kita yang sudah mengetahui hal ini, tapi mengapa masih berat untuk dapat menyaksikan Allah, masih belum bisa membuka tirai itu. Belum mampu untuk menyaksikan bahwa dibalik rasa dekat itu " Engkau ya Allah ". Ilmu sudah sampai, pengamalan sudah di lakukan, tapi mengapa masih ada hijab?

Penghalang Bagi Hati Untuk Menyaksikan Allah

Banyak orang bertareqat, tapi masih hubbuddunya ( cinta dunia ).
Hati itu tidak bisa di duakan, selagi masih ada selain daripada Allah di dalam hati walau sebesar debu sekalipun, hati itu akan tetap buta selamanya. Memang ilmu pengetahuan kita sudah sampai, setelah zikir kita melahirkan rasa, setelah rasa dekat sudah muncul dan kita yakin bahwa di balik rasa dekat itu " Engkau ya Allah ". Yakin sekali kita di sana. Tapi mengapa susah sekali kita untuk meyaksikan-Nya? Ada apa?

Yang menyaksikan Allah adalah hati. Apabila hati buta maka tidak akan bisa menyaksikan.
Kenapa hati itu buta?
Karena Hubbuddunya", masih menyimpan cinta terhadap dunia.

Apa Itu Cinta Dunia?

Apakah kita tidak boleh memiliki dunia, harta benda dan sebagainya? jawabanya boleh. Silahkan memilki harta, rumah, mobil, kebun, ladang dan sebagainya. Tidak ada tasawuf yang mengajarkan kita untuk miskin.

Cinta itu melahirkan rasa memiliki yang sangat tinggi, maka kalau cinta dunia munculah rasa memiliki yang sangat kuat terhadap dunia itu sekalipun secuil, dan yang di minta oleh Allah adalah rasa memiliki itu yang harus di hilangkan. Memiliki dunia boleh, tapi rasa memilki yang harus di cabut. Kelebihan para Nabi dan Para Auliya itu adalah kalau memilki harta tidak merasa memilki.

Tingkatan-tingkatan dalam dunia sufi itu bukan dilihat dari banyaknya zikir, tapi barometernya adalah di lihat dari semakin hilangnya rasa kepemilikan terhadap dunia. Bahkan terhadap kepemilikan terhadap dirinya sendiri. inilah yang membuat kita yang sudah dari awal bercita-cita meraih cinta kepada Allah melalui tareqah-tareqah yang ada, namun di tengah jalan patah arang lantaran kita tidak sadar bahwa untuk sampai kepada Allah itu bukan dengan ilmu, tapi dengan " nol ", dengan mengembalikan segala sesuatu yang kita anggap selama ini sebagai milik kita sendiri kepada Allah.

Kembali ke titik nol dalam diri kita. Dengan ketidakadaan kita, dengan kenol-an kita itulah Allah yang menarik kita. Karena kita tak punya kemampuan untuk menjumpai Allah, apalagi mencintai Allah. Siapa kita? Allah Maha Suci, kita siapa? Ingin mencoba mencintai Allah, sedangkan mendekati saja kita tak layak. jika bukan Allah yang menarik kita mustahil kita akan berjumpa dengan Allah.


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

1 komentar so far

Dekat tidak bersatu, jauh tidak berantara; Allah lebih dekat dari urat leher; kemana engkau memandang, disitu terdapat wajah Allah; setelah Aku tiupkan ruhKu .....merupakan titik tolak pengkajian siapa kita; bgmn hubungan kita dengan Allah.