Rabu, 19 September 2018

Surat Menohok Dari Melayu Untuk Yaqut Cholil Banser

Surat Menohok Dari Melayu Untuk Yaqut Cholil Banser



TAMPARAN KERAS BUAT YAKUT..... "Surat dari Melayu"

Menggelikan, sekaligus terdengar menjijikkan, ketika mendengar Tuan ingin berkhutbah tentang kebangsaan, NKRI, atau tentang Pancasila, di kampung kami, Riau.

Tuan mungkin sedang mengidap amnesia sejarah. Baiklah, aku sampaikan lagi, bahwa ketika negeri yang bernama Indonesia ini merdeka tahun 1945, kami masih negara berdaulat, dan lalu kami dengan kesadaran memutuskan untuk bergabung, menjadi Indonesia.

Kami masuk ke Indonesia, bukan dengan tangan kosong seperti Tuan. Kami menyumbang 10 provinsi, 2 daerah jajahan, 39 butir berlian, uang 13 juta gulden, menyumbang minyak, dan memberikan bahasa. Bahkan sampai hari ini, tanah kami, mulai dari blok kangguru, Dumai, dan Pakning, masih menyusukan negeri ini dengan 900 ribu barrel setiap hari. Kami berikan juga hasil hutan, kelapa sawit, hasil laut, dan berbagai komoditas lain.

Sejak eksploitasi stanvac sampai minyak bumi kami mengisi lambung kapal Gage Lund tahun 1955, kami sudah menyumbang ribuan trilyun kepada negeri ini. Kami juga telah memberikan bahasa, agar Tuan petah berkata kata.

Izinkan kami bertanya: Apa yang sudah negeri Tuan sumbangkan kepada Indonesia, sehingga Tuan merasa berhak untuk menceramahi kami soal kebangsaan? Minyak kampung kami juga ikut dalam tol, dalam jalan yang tuan injak di kampung Tuan. Minyak kami sudah membangun gedung gedung di kampung Tuan, bahkan republik ini. Itu sumbangan kami, mana sumbanganmu?

Tuan hanya mencintai negeri ini dengan tagar #nkrihargamati, atau #sayapancasilasayaindonesia, lalu Tuan merasa sudah demikian Indonesia?

Di kampung kami, orang kampung Tuan bisa menjadi apa saja, jadi gubernur, bupati, walikota, pengusaha, pejabat, anggota legislatif, bahkan menjadi bajingan pun boleh. Bisakah hal yang sama terjadi di kampung Tuan?

Di mana adab Tuan? Tuan menikmati kekayaan kami, tapi Tuan tanpa malu, tanpa moral mempersekusi ulama kami dan mempertanyakan keindonesiaannya. Apakah Tuan waras?

Berhentilah melakukan omong kosong, belajarlah untuk memiliki rasa malu. Antara kami dan Tuan tidak layak untuk disandingkan dalam keindonesiaan. Berhentilah meludahi muka sendiri..

@syaukani al karim

Next:

Minggu, 09 September 2018

Mengenal Sayyid Seif Alwi Ba'alawy Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia

Mengenal Sayyid Seif Alwi Ba'alawy Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia


HABIB ALWI BA 'ALAWY
Pimpinan Majelis Ahbaburrosul Indonesia.

Jumat, 07 September 2018

Ustadz Abdul Somad Da'i Yang Terjajah di Negeri Sendiri

Ustadz Abdul Somad Da'i Yang Terjajah di Negeri Sendiri



USTAD ABDUL SOMAD TERJAJAH DI NEGERI SENDIRI, ADA APA DENGAN INDONESIA KINI ?
Oleh: Ustad Maaher At-Thuwailibi

Jumat, 31 Agustus 2018

Keberkahan Berjamaah dalam Pengajian dan Berthareqah

Keberkahan Berjamaah dalam Pengajian dan Berthareqah

keberkahan dalam jamaah
Jamaah Surau Suluk Rabbani, Solok

WEJANGAN MURSYID
Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Al-Qhutub Ar-Rabbani

Rabu, 20 Juni 2018

Kitab Fiqih Kuno Muhammadiyah 1925M Bongkar Ajaran "Menyimpang" Muhammadiyah Jaman Now

Kitab Fiqih Kuno Muhammadiyah 1925M Bongkar Ajaran "Menyimpang" Muhammadiyah Jaman Now


KITAB FIQH KUNO MUHAMMADIYYAH

"Topeng" Ajaran Muhammadiyah jaman now akhirnya terbongkar juga. Muhammadiyah yang dulu ternyata beda dengan yang sekarang, yang mana sebagian besarnya sudah salah jalan keluar dari jalur yang di tetapkan oleh pendirinya KH. Ahmad Dahlan. Kerancuan ajaran modernisasi ala Wahabi Muhammadiyah yang sekarang di bongkar oleh kitab kuno Muhammadiyah " Kitab Fiqih Jilid III " terbitan Taman Poestaka Muhammadiyah (semacam lembaga pers/penerbitan organisasi) edisi 1343 H. (1925 M), Djokjakarta.

Selasa, 12 Juni 2018

Kegetiran Hidup Perumus Pancasila Tak Seperti Mewahnya Hidup "Satpam" Pancasila

Kegetiran Hidup Perumus Pancasila Tak Seperti Mewahnya Hidup "Satpam" Pancasila


HIDUP MELARAT ALA PERUMUS PANCASILA
Oleh: Rizki Lesus

Rumah itu masih berstatus sewa, ketika sang penghuninya, Haji Agus Salim wafat sepenggal November 1954. Salah satu dari 9 perumus Pancasila, anggota dewan Volksraad, diplomat kesohor, Menteri Luar Negeri era revolusi itu wafat dengan – masih – bersatus sebagai ‘kontraktor’ alias pengontrak rumah.

Baru setelah itu, beberapa tahun kemudian, anak-anaknya patungan membeli rumah kontrakannya yang bertempat di Jalan Gereja Theresia (kini Jl. Agus Salim no 72) Jakarta.

Begitu kesederhanaan Haji Agus Salim dikisahkan sang cucu, Agustanzil Sjahroezah dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik (2013: hal.114). Entah berapa kali, tokoh Partai Islam terbesar saat itu hidup nomaden, berpindah-pindah dari satu gang ke gang lainnya di berbagai kota.

Sangat jarang kita dengar, petinggi partai di negeri ini masih mengontrak rumah, pinda-pindah bahkan hampir tiap bulan. Padahal, mungkin di luar sana, seorang ayah tidur dengan anaknya di atas gerobak beratap langit.

Di dalam gang sempit itu, berkelok dari jalan utama, menyelusup gang pada perkampungan di sudut kota, di tempat becek, di kawasan kumuh, di sanalah Agus Salim dan istrinya, Zainatun Nahar mengisi hari-hari mereka.

Di Jakarta, sejoli ini pernah menikmati masa-masa indah di daerah Tanah Abang, Karet, Petamburan, Jatinegara, di gang-gang Kernolong, Tuapekong, gang Listrik dan masih banyak lagi.

Khusus gang listrik, menjadi kenangan tersendiri bagi sejoli ini. Di gang Listrik, justru Haji Agus Salim dan Zainatun Nahar hidup tanpa listrik gara-gara tak sanggup membayar iuran listrik. Anak keempat Salim, Adek, mengingatnya dulu ia harus membersihkan bola lampu setiap sore. (Kustiniyati Mochtar: 1984).

“Rumah kampung dengan meja kursi sangat sederhana,” tambah muridnya yang juga diplomat, Mohammad Roem dalam Bunga Rampai dari Sejarah, mengenang. Pernah pula, kasur gulung, ruang makan, dapur, dan ruang tamu kontrakan Haji Agus Salim bersatu dalam satu ruangan besar.

Jangan tanya ada atau tidak uang belanja, atau sembako di dalam lemari. Nasi goreng kecap mentega menjadi favorit ketika keluarga ini sedang tak ada makanan.

Tak heran, dalam Agus Salim Diplomat Jenaka Penopang Republik, ketua delegasi Belanda dalam perundingan Linggarjati, Willem Schermerhorn bilang,” Ia hanya mempunyai satu kelemahan : selama hidupnya melarat!”

Frasa selama hidupnya melarat ini artinya sangat jelas. Sebelum, saat, hingga pasca menjabat sebagai Menteri, atau jabatan lainnya, ia tetap melarat, dan tetap mengontrak rumah hingga akhir hayatnya.

Bisa dibayangkan kini, ada seorang menteri yang tidak punya rumah? Anggota Dewan yang kekurangan bahan makanan? Seorang yang menolak menjadi ketua partai besar ? Seorang diplomat kelas dunia yang tidak bisa bayar listrik?

Kisah kesederhanaan – atau kemelaratan – ini tak hanya dirasakan Haji Agus Salim. Perumus Pancasila lainnya, Mohammad Hata pun mengalami masa-masa senja yang tak jauh berbeda.

Ramadhan KH dalam Bang Ali, Demi Jakarta 1966 – 1967 mengisahkan bagaimana Ali Sadikin, gubernur legendaris Jakarta ini terenyuh melihat kondisi Bung Hatta yang tak mampu membayar iuran air hingga pajak.

“Begitu sederhananya hidup pemimpin kita pada waktu itu,” kata Bang Ali terharu. Bahkan, hingga akhir hayatnya, keinginan bung Hatta untuk membeli sepatu bally tak juga terpenuhi.

Wakil Presiden Indonesia pertama ini menabung, sampai-sampai beliau menyimpan guntingan iklan yang memuat alamat penjualnya. Namun apadaya, tabungan beliau tak cukup karena kebutuhan rumah tangganya. Sepatu bally tinggallah kenangan.

Perumus Pancasila lainnya, KH Wahid Hasyim merupakan sosok yang sangat bersahaja. Saat orang-orang bertanya ketika dirinya tak lagi menjabat sebagai menteri, ia menjawab:

“Tak usah kecewa! Saya toh bisa duduk di rumah. Saya mempunyai banyak kursi dan bangku panjang, tinggal pilih saja,” katanya mengundang gelak tawa orang –orang di sekitarnya. (Saifudin Zuhri : 2013).

Di saat masyarakat hidup sulit, katanya, tak elok jika para pemimpinnya hidup dengan mewah dan bersenang-senang. Karenanya, ia turut merasakan kesulitan serupa. Suatu kebiasaannya adalah berpuasa sunnah, bahkan dalam kondisi sesibuk apapun di mana pun.

Saifudin Zuhri mencatat, saat mereka menginap di suatu hotel, ia lupa menyiapkan sahur. Di atas meja ada sebutir telur rebus dari sisa santapan sahur kemarin dan segelas teh bagian Saifuddin Zuhri ketika sore.

“Dengan sebutir telur dan segelas teh itulah KH Wahid Hasyim bersahur,” kenang Saifudin Zuhri dalam Berangkat dari Pesantren. Sambil menyelesaikan sebutir telur yang satu-satunya untuk sahur itu KH Wahid Hasyim mengingatkan agar jangan sampai hidup menampakkan kemewahan di saat kondisi masyarakat sedang sulit.

”Kita berlapar-lapar supaya tidak melupakan nasib kaum lapar,”pesannya.

Tokoh perumus Pancasila lainnya, Prof. KH Abdul Kahar Muzakkir, tokoh Muhammadiyah yang pernah juga menjadi anggota Dewan Konstituante bahkan hingga pengujung senjanya, masih tinggal di rumah warisan ayahnya, Haji Muzakkir.

Mitsuo Nakamura mencatat bahwa kendaraan Abdul Kahar Muzakkir hanyalah sebuah skuter bekas pemberian mahasiswanya, yang sering kali mogok. Sebagai alternatif, ia kadang menggenjot sepeda, naik becak atau andong menempuh perjalanan sepanjang lima atau enam kilometer dari rumahnya mengajar di UII atau ke kantor PB Muhammadiyah di Yogyakarta. (Mitsuo Nakamura: 1996).

Ironi memang, tapi itulah mereka, para pendiri bangsa ini. Pantas saja, Ketua Komite Nasional Indonesia Pusat (KNIP) – DPR kini – pertama, Kasman Singodimedjo melihat kondisi gurunya, Haji Agus Salim, dengan lirih berkata, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Memang, mereka bukanlah Pembina, pengarah, atau apapun jabatan yang melekat terkait dasar negara ini. Namun mereka menyusun pondasi bangsa ini dengan penuh ketulusan, mungkin tanpa berpikir-pikir apakah anggaran sekian bisakah kami membina masyarakat?

Mereka membina nilai-nilai kebangsaan dengan keteladanan. Mungkin saja, balasan materi yang diterima saat itu minim, atau bahkan harus merogoh kocek pribadi, “Leiden is lijden,” memimpin itu menderita!

Mereka yang memilih jalan becek dan sunyi, berjalan kaki dengan tongkatnya dibanding gemerlap karpet merah dan mobil –mobil dan rumah mewah, gemerlap jantung kota lainnya.

Kemiskinan tak membuat mereka berhenti berbuat. Kesungguhan mengalahkan keber-ada-an, dan sejarah telah mencatatnya.

Kita tentu rindu sosok seperti mereka, bukan tentang melaratnya mereka, tapi tentang ruang kesederhanaan, kepekaan nurani, yang masa kini mungkin semakin sulit kita ditemukan.

June 4, 2018

– Penulis adalah penulis buku Perjuangan yang Dilupakan, Founder Jejak Islam untuk Bangsa (JIB)

Artikel berikut:

Jumat, 01 Juni 2018

NOL-kan Hatimu InsyaAllah Keyakinan Itu Akan Datang Bersama Pemiliknya

NOL-kan Hatimu InsyaAllah Keyakinan Itu Akan Datang Bersama Pemiliknya


Pernah suatu ketika murid dari Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah ( murid-murid beliau biasa memanggil beliau dengan panggilan Tuangku”) bertanya tentang keyakinan kepada beliau;

” Tuangku, sebenarnya keyakinan itu apa? Apakah keyakinan itu adalah yang ketika kebal dari segala benda tajam atau bisa menguasai hal-hal gaib atau ketika seseorang yakin pada Allah maka ibadahnya menjadi lebih istiqomah? ”

Selasa, 29 Mei 2018

Ulama Bangkai Dunia Penjual Agama Diteras-Teras Politik

Ulama Bangkai Dunia Penjual Agama Diteras-Teras Politik


Bangkai-Bangkai Dunia

Dalam suatu hadist Nabi Muhammad SAW bersabda “Kelak sesudahku benar-benar umatku akan diselimuti oleh fitnah-fitnah yang seakan-akan gelapnya malam, di zaman itu seseorang dipagi hari dalam keadaan mukmin, kemudian di sore harinya ia menjadi kafir, banyak kaum yang menjual agamanya dengan harta duniawi yang sedikit”. Diriwayatkan oleh Hakim melalui Ibnu Umar r.a.

Tidak dapat kita pungkiri kebenaran akan keterangan Baginda Nabi SAW. Pada masa ini memang banyak manusia yang mengaku mukmin, namun sanggup menjual imannya. Bahkan seseorang yang dikatakan ulama lebih mudah menjual agamanya diteras-teras politik. Tentu, layaknya tukang obat yang dagangannya laris manis tanpa pernah berfikir apa-apa yang ia ucapkan, yang penting obat laku, perutnya kenyang.

Sesungguhnya seburuk-buruk zaman bagi umat ini, bila berhadapan dengan sekelompok orang yang mengaku membela dan menjaga agamanya, tetapi dibalik itu mengincar perhiasan-perhiasan dunia, bak singa kelaparan yang sedang mengintai seekor domba. Maka berhati-hatilah kita terhadap pandangannya, seperti isyarat nabi Muhammad SAW kepada kita,” Ulama adalah orang-orang yang dipercaya oleh para rasul selama mereka tidak berdekatan dengan penguasa dan memilih perkara duniawi. Apabila mereka dekat dengan penguasa dan memilih perkara duniawi, maka mereka benar-benar telah berkhianat terhadap para Rasul, karena itu hati-hatilah kalian terhadap mereka”. Diriwayatkan al ‘uqaili melalui Anas r.a.

Seumpama bangkai-bangkai yang menaburkan bau busuk, menularkan penyakit bagi orang-orang yang didekatnya. Maka akan lebih berbahaya bila berkawan dengan orang alim yang mencintai dunia, daripada berkawan dengan orang bodoh yang jauh daripada cinta dunia. Karena dengan kecantikan dunia ini, manusia sanggup saling menjatuhkan dan menjadi pecundang bagi kawan karib sendiri. Dunia ini pejuang mampu berkhianat terhadap perjuangannya sendiri, tanpa disadari ia telah meludah dan kemudian menelannya kembali.

Dimana dan siapapun ulama yang bertebaran dimuka bumi ini, tetaplah mempunyai jiwa, yang jiwa itu sendiri seperti angin. Bila ia melewati bangkai, maka akan terbau bangkai, dan jika ia melewati bunga maka iapun akan terbawa harum. Hingga sepantasnya bagi seorang ulama menempatkan dirinya sesuai dengan yang dikadarkan pada dirinya. Akan tetapi, seorang ulama tetaplah manusia yang penuh dengan segala kekurangan. Dan sebagai manusia, ulama tetaplah membutuhkan dunia dalam ia hidup dan berkeluarga, namun bukan berarti ia harus menjual ayat-ayat Tuhan dalam kepentingan dunianya. Baginda Nabi SAW sendiri, selain sebagai pemimpin umat, beliaupun dikenal sebagai seorang pedagang yang gigih dan jujur.

Berbanggalah umat ini bila disetiap sudut bumi ini menemukan ulama-ulama yang mencintai Ukhrawi daripada duniawinya, dan mencintai umat daripada mencintai penguasanya. Menjadi tempat berteduh umatnya dari panas terik matahari, dan daripada hujan badai gelombang dunia ini. Hingga ketenangan dan kedamaian merayapi setiap dada umat. Segala permasalahan demi permasalahan dapat dipecahkan tanpa salah satu pihak dikecewakan. Serta,  ilmu-ilmu agama kelak semakin berkembang menjadi pengharum jiwa dan penyuluh dalam kegelapan, penerang Hati ketika membedakan yang haq dan yang bathil ditengah-tengah umat.

Oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah
( Rais Mustasyar Dewan Ulama Thareqah Indonesia )

Sumber: https://buyahend.wordpress.com

Artikel terkait:

Minggu, 27 Mei 2018

Inilah Perbedaan Ajaran Syiah dengan Ahalussunnah Waljamaah (ASWAJA)

Inilah Perbedaan Ajaran Syiah dengan Ahalussunnah Waljamaah (ASWAJA)


Ada 17 Perbedaan Mendasar antara Syi’ah Dengan Ahlussunnah Waljamaah.

Banyak orang yang menyangka bahwa perbedaan antara Ahlussunnah Waljamaah dengan Syiah Imamiyah Itsna Asyariyah(Ja’fariyah) dianggap sekedar dalam masalah khilafiyah Furu’iyah, seperti perbedaan antara NU dengan Muhammadiyah, antara Madzhab Syafi’i dengan Madzhab Maliki.

Jumat, 25 Mei 2018

Ust. Abdul Somad Lc MA " Siapa yang Belum Pernah Bersuluk, Ikutlah!"

Ust. Abdul Somad Lc MA " Siapa yang Belum Pernah Bersuluk, Ikutlah!"

Abdul somad, suluk tarekat zikir Allah..Allah
Gambar; kamar suluk Surau Rabbani, Solok

Video Ustadz Abdul Somad bercerita tentang suluk yang pernah dijalaninya, suluk atau riyadhah kaum sufi selama 10 hari 10 malam yang diisi dengan sholat sunat tobat dan zikir Allah..Allah..Allah.

UAS mengatakan bahwa ia pernah menjalani suluk dan menghimbau jamaah terutama yang muda-muda untuk melakukan riyadhah suluk " Siapa yang belum pernah bersuluk, bersuluklah" kata Ustadz Somad. Da'i sejuta umat ini juga melukiskan kenikmatannya dalam melaksanakn riyadhah suluk " Nikmatnya sungguh luar biasa susah diungkapkan dengan kata-kata, siapa yang ingin ikut ikutlah" ajak UAS.

" Banyak orang yang salah sangka, dia sangka suluk itu hanya untuk orang yang sudah tua yang mau mati saja, ini tak betul!" tegas UAS. 

Ustadz Abdul Somad menyindir orang yang selalu mengucapkan zikir di mulut, tapi di hatinya tidak dan selalu memikirkan dunia . Beliau mengungkapkan; 
" Barulah saya tau bahwa didalam suluk itu kita selalu fokus. Barulah saya paham ketika didalam kelambu, lihat kekiri dinding, lihat kekanan dinding, pandang kebelakang dinding, pandang kedepan dinding, pandang keatas tertutup, rupanya saya sedang berada dalam miniatur alam kubur alam barzah. Duduk berzikir Allah..Allah..Allah.

Ustadz Abdul Somad mengatakan dalam videonya bahwa zikir suluk Allah..Allah..dalam suluk di baca terus dalam hati, tidak terputus sehingga terbawa dalam kehidupan sehari-hari, sampai malaikat datang mencabut nyawa insyaAllah mati dalam keadaan husnul khotimah, karena zikir Allah..Allah sudah melekat di jantungnya. Yang mana darah dari jantung menyembur ke otak terus ke panca indra maka insyaAllah akan terhindar dari maksiat.

" Jadi kalau ada orang mengatakan berzikir, bersuluk hanya untuk orang tua saja, itu salah, keliru. Anak-anak muda mestinya juga demikian" Kata UAS.

" Apa dalilnya zikir Allah...Allah...Allah...? "
Ustadz Abdul somad menjawab; "Orang-orang yang berzikir menyebut nama Allah diwaktu tegak waktu duduk, waktu berbaring kau ingat Allah. Sampai pada akhirnya kalau sudah melekat zikir itu dijantungmu, berdegub, berdetak dia tak pernah berhenti Allah...Allah...Allah.

Simak video Ustadz Abdul Somad tentang suluk dan zikir Allah...Allah...Allah"


Artikel terkait:

Rabu, 23 Mei 2018

"Bisikan Untuk Bangsa"  Himbauan Ulama Tarekat Untuk Persatuan Bangsa

"Bisikan Untuk Bangsa" Himbauan Ulama Tarekat Untuk Persatuan Bangsa

Bisikan untuk bangsa

Oleh : Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani.
( Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia )

Wahai saudaraku, bukalah hatimu…,tidaklah elok jika hanya karena SATU kepentingan politik, membuat bangsa ini terpecah menjadi ribuan bahkan jutaan keping. Rajutan darah ratusan tahun para pejuang untuk merekat bangsa begitu mudah terlepas karena begitu mudahnya kita membenci hanya dengan satu perkara yang belum tentu tahu kebenarannya.

Wahai saudaraku, bukalah hatimu…,bangsa kita bukanlah bangsa yang tercipta karena rasa kasihan bangsa lain, namun terlahir dari rasa “kesakitan” yang sama dalam kemajemukkan warna suku dan agama ketika merasa sama sama terjajah dan terbakar semangat untuk hidup bersatu dalam satu negara yang berdaulat atas diri dan cita cita bersama yakni menuju keadilan dan kesejahteraan.

Wahai saudaraku, bukalah hatimu….janganlah kita jadikan suku dan agama menjadi jurang pemisah rasa kebangsaan, bukankah dahulu bangsa ini belajar berjalan karena sebuah keseimbangan dan keserasian diantara perbedaan suku dan agama. Dan apabila suatu hari nanti langkah langkah bangsa ini sudah terseok seok, maka jangan kita saling menyalahkan jika bangsa ini tumbang bukan karena angin kencang tetapi karena kehilangan keseimbangannya sendiri dalam berbangsa dan bernegara.

Wahai saudaraku….bukalah hatimu, sebaiknya jadikanlah nama Tuhan dan nabimu sebagai “panggilan” untuk seruan persatuan untuk saling menjaga dan memelihara keutuhan cita cita bangsa, sebab Nabi Muhammad SAW bukan saja sebagai nabi dan rasul yang paling mulia diantara para nabi, namun beliaupun sebagai pahlawan pemersatu suku dan bangsa yang paling sukses di zamannya dan hal itu diakui oleh seluruh dunia hingga sekarang.

Wahai saudaraku…bukalah hatimu, lihat dan rasakanlah dengan hatimu, setiap bangsa bangsa di dunia pastilah punya kelemahan dan kekurangan, namun justru kesadaran masih banyaknya kekurangan suatu bangsa akan menjadi semangat untuk lahirnya persatuan dengan saling merangkul segala elemen bangsa, bukan saling melempar dan saling menyalahkan apalagi harus saling membenci.

Wahai saudaraku… akhirnya, jika memang perlu sebuah perubahan besar untuk negara dan bangsa maka buatlah perubahan tersebut dengan kearifan dan kebijakan yang lebih besar melebihi dari satu kepentingan dan dari satu golongan.

Baca juga:

Sabtu, 19 Mei 2018

Daftar Mubaligh Kemenag Ditolak Publik dan Mulai Menuai Masalah

Daftar Mubaligh Kemenag Ditolak Publik dan Mulai Menuai Masalah



Sertifikasi penceramah? Ditolak publik dan gagal total. Umat menganggap itu bentuk kontrol dan pembatasan. Para penceramah akan merasa dipantau dan diawasi. Di zaman Orde Baru aja gak sampai begitu, kenapa sekarang diperrketat? Begitulah kira-kira keluhan ulama dan umat Islam.

Gagal mensertifikasi, Kemenag sekarang merilis 200 penceramah. Kriterianya? Punya kompetensi, reputasi baik dan punya komitmen kebangsaan. Berarti, penceramah di luar angka 200 itu tidak kompeten, reputasinya buruk dan tidak memiliki komitmen kebangsaan?

Angka 200 itu sementara, masih bisa nambah. Begitu kira-kira jawaban Kemenag. Publik lalu bertanya: kalau belum selesai didata, kenapa sudah dirilis? Kenapa sudah disebar di media? Kok gak profesional ya?

Lalu, apa maksudnya rilis Kemenag ini? Apakah ingin menegaskan bahwa 200 penceramah tersebut pro pemerintah, yang lain tidak? Apakah yang lain dianggap terlalu kritis kepada pemerintah? Atau dicurigai berbau radikal? Atau sekedar latah, karena ada bom meledak di Surabaya dan Riau? Biar dianggap ikut berperan melawan radikalisme? Opini dan asumsi liar terus bermunculan. Duga-duga terus berkeliaran.

Jika tiga kriteria di atas yang dijadikan standar, tidakkah penceramah-penceramah dari IAIN dan UIN di seluruh pelosok Indonesia memenuhi kriteria? Tidakkah ulama-ulama pesantren yang bertebaran di berbagai wilayah memenuhi kriteria? Apakah lantaran tidak pernah masuk tv dan kurang populer sehingga tidak masuk daftar rilis? Nah, muncul banyak protes

Yang jelas, dari 200 nama tersebut, tak ada nama Dr. Habib Rizieq, ketua FPI Sobri Lubis, ketua AQL Bachtiar Nasir, mantan ketua Muhammadiyah Amin Rais, ketua Wahdah dan ketua ulama se-Asia Tenggara Zaitun Rahmin, ketua MUI Jawa Barat K.H. Athian Ali, ketua MUI Bandung K.H. Miftah Farid, dosen Pasca sarjana UIN Prof. Dr. Nabilah Lubis, ahli hadis dan penceramah TVRI Dr. Lutfi Fathullah dan Dr. Haikal Hasan.

Apakah karena mereka tak punya kompetensi, reputasinya buruk dan tidak memiliki komitmen kebangsaan? Atau karena ceramahnya terlalu kritis terhadap pemerintah? Supaya terkesan diplomatis, Kemenag cukup jawab: belum dimasukkan. Akan dipertimbangkan. Cakep dah...

Ada yang lalu menduga-duga' jangan-jangan ini langkah awal untuk menerbitkan sertifikasi penceramah yang sempat gagal? Dugaan itu wajar muncul mengingat rilis nama-nama 200 penceramah tersebut oleh Kemenag dianggap publik sebagai kejanggalan. Seolah publik ingin bertanya: apa maunya Kemenag sih?

Khawatir akan langkah Kemenag, sejumlah penceramah yang namanya dicantumkan dalam rilis protes, dan meminta namanya dikeluarkan dari daftar list. Diantara penceramah yang melakukan protes adalah K.H Fahmi Salim, LC MA. Disampaikan langsung di Tv One pagi tadi. Kabarnya Ustaz Yusuf Mansur juga menolak namanya dimasukkan dalam list Kemenag tersebut.

Ketika Aa Gym dikonfirmasi soal rilis tersebut, jawabnya malah bingung. Gak tahu menahu. Lah kok?

Kenapa ada protes? Kabarnya, pertama, tidak ada konfirmasi. Asal main comot dan taruh nama. Kedua, mungkin merasa khawatir akan dibatasi gerakan dakwahnya. Ketiga, tidak setuju dengan campur tangan Kemenag melakukan intervensi dakwah para penceramah. Keempat, berpotensi memecah belah penceramah dan umat.

Pasca rilis 200 penceramah versi Kemenag, muncul rilis penceramah versi non-Kemenag. Soal kompetensi, reputasi dan komitmen kebangsaannya, nama-nama tokoh tersebut tak kalah. Ini bukti adanya protes dan penolakan yang kuat dari umat Islam.

Situasi ini justru bisa memecah belah antar ulama dan jama'ah. Jangan sampai Kemenag dianggap sebagai sumber pemecah belah. Dan ini jadi kontraproduktif bagi upaya banyak pihak yang sedang berupaya meredam kegaduhan sosial dan merajut ukhuwah kebangsaan

Langkah Kemenag menjadi blunder karena tidak terkonsolidasi secara baik dengan ormas, lembaga-lembaga Islam dan para ulama. Terutama dengan para ulama yang namanya dicantumkan dalam list. Lalu, muncul curiga, kekhawatiran dan penolakan. Ramai lagi. Gagal maning...gagal maning.

Jangan sampai rilis 200 penceramah tersebut punya kesan politisasi penceramah. Kalau kesan ini menguat, kekhawatiran adanya anggapan bahwa Kemenag ikut berpolitik dan berubah jadi lembaga politik akan mengemuka. Ujungnya, ada petisi ulama, ustaz dan penceramah minta Kemenag dicopot. Akhirnya, senjata makan tuan.

Oleh: Tony Rosyid
(penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, tinggal di Jakarta)