Rabu, 23 Mei 2018

"Bisikan Untuk Bangsa"  Himbauan Ulama Tarekat Untuk Persatuan Bangsa

"Bisikan Untuk Bangsa" Himbauan Ulama Tarekat Untuk Persatuan Bangsa

Bisikan untuk bangsa

Oleh : Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani.
( Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia )

Wahai saudaraku, bukalah hatimu…,tidaklah elok jika hanya karena SATU kepentingan politik, membuat bangsa ini terpecah menjadi ribuan bahkan jutaan keping. Rajutan darah ratusan tahun para pejuang untuk merekat bangsa begitu mudah terlepas karena begitu mudahnya kita membenci hanya dengan satu perkara yang belum tentu tahu kebenarannya.

Wahai saudaraku, bukalah hatimu…,bangsa kita bukanlah bangsa yang tercipta karena rasa kasihan bangsa lain, namun terlahir dari rasa “kesakitan” yang sama dalam kemajemukkan warna suku dan agama ketika merasa sama sama terjajah dan terbakar semangat untuk hidup bersatu dalam satu negara yang berdaulat atas diri dan cita cita bersama yakni menuju keadilan dan kesejahteraan.

Wahai saudaraku, bukalah hatimu….janganlah kita jadikan suku dan agama menjadi jurang pemisah rasa kebangsaan, bukankah dahulu bangsa ini belajar berjalan karena sebuah keseimbangan dan keserasian diantara perbedaan suku dan agama. Dan apabila suatu hari nanti langkah langkah bangsa ini sudah terseok seok, maka jangan kita saling menyalahkan jika bangsa ini tumbang bukan karena angin kencang tetapi karena kehilangan keseimbangannya sendiri dalam berbangsa dan bernegara.

Wahai saudaraku….bukalah hatimu, sebaiknya jadikanlah nama Tuhan dan nabimu sebagai “panggilan” untuk seruan persatuan untuk saling menjaga dan memelihara keutuhan cita cita bangsa, sebab Nabi Muhammad SAW bukan saja sebagai nabi dan rasul yang paling mulia diantara para nabi, namun beliaupun sebagai pahlawan pemersatu suku dan bangsa yang paling sukses di zamannya dan hal itu diakui oleh seluruh dunia hingga sekarang.

Wahai saudaraku…bukalah hatimu, lihat dan rasakanlah dengan hatimu, setiap bangsa bangsa di dunia pastilah punya kelemahan dan kekurangan, namun justru kesadaran masih banyaknya kekurangan suatu bangsa akan menjadi semangat untuk lahirnya persatuan dengan saling merangkul segala elemen bangsa, bukan saling melempar dan saling menyalahkan apalagi harus saling membenci.

Wahai saudaraku… akhirnya, jika memang perlu sebuah perubahan besar untuk negara dan bangsa maka buatlah perubahan tersebut dengan kearifan dan kebijakan yang lebih besar melebihi dari satu kepentingan dan dari satu golongan.

Baca juga:

Sabtu, 19 Mei 2018

Daftar Mubaligh Kemenag Ditolak Publik dan Mulai Menuai Masalah

Daftar Mubaligh Kemenag Ditolak Publik dan Mulai Menuai Masalah



Sertifikasi penceramah? Ditolak publik dan gagal total. Umat menganggap itu bentuk kontrol dan pembatasan. Para penceramah akan merasa dipantau dan diawasi. Di zaman Orde Baru aja gak sampai begitu, kenapa sekarang diperrketat? Begitulah kira-kira keluhan ulama dan umat Islam.

Gagal mensertifikasi, Kemenag sekarang merilis 200 penceramah. Kriterianya? Punya kompetensi, reputasi baik dan punya komitmen kebangsaan. Berarti, penceramah di luar angka 200 itu tidak kompeten, reputasinya buruk dan tidak memiliki komitmen kebangsaan?

Angka 200 itu sementara, masih bisa nambah. Begitu kira-kira jawaban Kemenag. Publik lalu bertanya: kalau belum selesai didata, kenapa sudah dirilis? Kenapa sudah disebar di media? Kok gak profesional ya?

Lalu, apa maksudnya rilis Kemenag ini? Apakah ingin menegaskan bahwa 200 penceramah tersebut pro pemerintah, yang lain tidak? Apakah yang lain dianggap terlalu kritis kepada pemerintah? Atau dicurigai berbau radikal? Atau sekedar latah, karena ada bom meledak di Surabaya dan Riau? Biar dianggap ikut berperan melawan radikalisme? Opini dan asumsi liar terus bermunculan. Duga-duga terus berkeliaran.

Jika tiga kriteria di atas yang dijadikan standar, tidakkah penceramah-penceramah dari IAIN dan UIN di seluruh pelosok Indonesia memenuhi kriteria? Tidakkah ulama-ulama pesantren yang bertebaran di berbagai wilayah memenuhi kriteria? Apakah lantaran tidak pernah masuk tv dan kurang populer sehingga tidak masuk daftar rilis? Nah, muncul banyak protes

Yang jelas, dari 200 nama tersebut, tak ada nama Dr. Habib Rizieq, ketua FPI Sobri Lubis, ketua AQL Bachtiar Nasir, mantan ketua Muhammadiyah Amin Rais, ketua Wahdah dan ketua ulama se-Asia Tenggara Zaitun Rahmin, ketua MUI Jawa Barat K.H. Athian Ali, ketua MUI Bandung K.H. Miftah Farid, dosen Pasca sarjana UIN Prof. Dr. Nabilah Lubis, ahli hadis dan penceramah TVRI Dr. Lutfi Fathullah dan Dr. Haikal Hasan.

Apakah karena mereka tak punya kompetensi, reputasinya buruk dan tidak memiliki komitmen kebangsaan? Atau karena ceramahnya terlalu kritis terhadap pemerintah? Supaya terkesan diplomatis, Kemenag cukup jawab: belum dimasukkan. Akan dipertimbangkan. Cakep dah...

Ada yang lalu menduga-duga' jangan-jangan ini langkah awal untuk menerbitkan sertifikasi penceramah yang sempat gagal? Dugaan itu wajar muncul mengingat rilis nama-nama 200 penceramah tersebut oleh Kemenag dianggap publik sebagai kejanggalan. Seolah publik ingin bertanya: apa maunya Kemenag sih?

Khawatir akan langkah Kemenag, sejumlah penceramah yang namanya dicantumkan dalam rilis protes, dan meminta namanya dikeluarkan dari daftar list. Diantara penceramah yang melakukan protes adalah K.H Fahmi Salim, LC MA. Disampaikan langsung di Tv One pagi tadi. Kabarnya Ustaz Yusuf Mansur juga menolak namanya dimasukkan dalam list Kemenag tersebut.

Ketika Aa Gym dikonfirmasi soal rilis tersebut, jawabnya malah bingung. Gak tahu menahu. Lah kok?

Kenapa ada protes? Kabarnya, pertama, tidak ada konfirmasi. Asal main comot dan taruh nama. Kedua, mungkin merasa khawatir akan dibatasi gerakan dakwahnya. Ketiga, tidak setuju dengan campur tangan Kemenag melakukan intervensi dakwah para penceramah. Keempat, berpotensi memecah belah penceramah dan umat.

Pasca rilis 200 penceramah versi Kemenag, muncul rilis penceramah versi non-Kemenag. Soal kompetensi, reputasi dan komitmen kebangsaannya, nama-nama tokoh tersebut tak kalah. Ini bukti adanya protes dan penolakan yang kuat dari umat Islam.

Situasi ini justru bisa memecah belah antar ulama dan jama'ah. Jangan sampai Kemenag dianggap sebagai sumber pemecah belah. Dan ini jadi kontraproduktif bagi upaya banyak pihak yang sedang berupaya meredam kegaduhan sosial dan merajut ukhuwah kebangsaan

Langkah Kemenag menjadi blunder karena tidak terkonsolidasi secara baik dengan ormas, lembaga-lembaga Islam dan para ulama. Terutama dengan para ulama yang namanya dicantumkan dalam list. Lalu, muncul curiga, kekhawatiran dan penolakan. Ramai lagi. Gagal maning...gagal maning.

Jangan sampai rilis 200 penceramah tersebut punya kesan politisasi penceramah. Kalau kesan ini menguat, kekhawatiran adanya anggapan bahwa Kemenag ikut berpolitik dan berubah jadi lembaga politik akan mengemuka. Ujungnya, ada petisi ulama, ustaz dan penceramah minta Kemenag dicopot. Akhirnya, senjata makan tuan.

Oleh: Tony Rosyid
(penulis adalah Pengamat Politik dan Pemerhati Bangsa, tinggal di Jakarta)


Tanggapan Resmi Ust. Abdul Somad Tentang 200 Mubaligh Rekomendasi Kemenag yang Tak Mencantumkan Namanya

Tanggapan Resmi Ust. Abdul Somad Tentang 200 Mubaligh Rekomendasi Kemenag yang Tak Mencantumkan Namanya



Setelah heboh daftar 200 nama mubaligh yang dirilis oleh Kemenag pada jum'at kemaren, yang mana pada list tersebut tidak tercantum nama-nama ustadz yang rajin membela umat dan memberikan pencerahan dan selalu memberikan petunjuk jalan yang lurus kepada pemerintahan Jokowi. Seperti Tengku Zulkarnain, Ust. Aldi Hidayat, Ustadz Haikal Hassan, Ust. Yahya Waloni, Ust. Zulkifli M Ali dan juga termasuk Ustadz Abdul Somad.

Dengan tidak masuknya nama da'i pujaan umat Abdul Somad Lc MA membuat kehebohan di jagad maya. Banyak yang menyesali keputusan dari Kemenag tersebut. Cacian dan bullyan bertebaran di medsos menanggapi hal ini.

Bagaimana tanggapan serta komentar UAS terhadap daftar Mubaligh Islam Indonesia yang dirilis kemenag ini. Kami shot dari akun resmi Fans Page Ustadz Abdul Somad tentang jawaban beliau.

Jawaban UAS ketika ditanya oleh seseorang melalui WA dan dijawab oleh UAS dengan bijaksana.

Cek di: https://web.facebook.com/UstadzAbdulSomad/


Jumat, 18 Mei 2018

Ustadz Abdul Somad Tak Masuk Daftar Kemenag Dalam 200 Mubaligh Terekomendasi, Ada Apa..?

Ustadz Abdul Somad Tak Masuk Daftar Kemenag Dalam 200 Mubaligh Terekomendasi, Ada Apa..?


Kementrian Agama RI telah merilis nama dari 200 mubaligh yang direkomendasikan untuk mengisi pengajian dimasjid, musholla, kantor dll. Para mubaligh tersebut menurut Lukman Hakim harus memiliki keilmuan yang tinggi, reputasi yang baik, serta berkomitmen kebangsaan yang tinggi. Para mubaligh itu berasal dari masukan ormas islam, tokoh agama dan tokoh masyarakat.
Kupas Tuntas TERORIS oleh Mantan Intelijen - Konspirasi Asing yang Ingin Hancurkan NKRI Secara Sistematis

Kupas Tuntas TERORIS oleh Mantan Intelijen - Konspirasi Asing yang Ingin Hancurkan NKRI Secara Sistematis


Terorisme
Oleh : Aslam al Atsary
Mantan Anggota BAIS (Badan Intelijen Strategis)

Bismillah,
Berikan waktu untuk saya membuka diri dalam rangka ingin meluruskan isue dan pandangan masyarakat yang sudah jungkir balik terhadap kejadian aksi-aksi teror dimulai dari kerusuhan dan pembunuhan di Rutan Mako Brimob hingga bom di Surabaya yang terakhir ini. Dengan tetap menjaga rahasia sandi Corps Imtelijen.

Saya hamya ingin menceritakan sewaktu masih aktif di BAIS (Badan Intelijen Strategis) milik TNI, saya bergabung dan direkrut sebagai TBO (Team /Tenaga Bantuan Operasi). Hal itu telah menambah saya ilmu dan wawasan tentang seluk beluk intelijen.
Saya bergabung karena diminta bantuannya di dalam tugas dan misi khusus menghadapi kelompok-kelompok yang teridentifikasi Separatisme. Ini sifatnya rahasia selama beberapa tahun.

Semua kita bekerja dan bertugas sesuai dengan data informasi dan aplikasi harus akurat dan benar-benar falid. Dari mulai penangkapan dan sampai "endingnya" saya pernah mengalami semua. Dan itu adalah tugas negara, yang mungkin apabila dilakukan oleh pihak TNI saja mungkin TNI akan terkena pelanggaran HAM. Sehingga didalam tugas kita yang menjalanlan operasi tsb sampai selesai. Kita dalam menjalankan tugas saat move bisa cepat tepat sesuai sasaran dan sesuai dengan misi, tujuan sekenario.

Didalam dunia intelijen kita biasa mendapatkan data dan informasi yang harus akurat dan kredibel terhadap kejadian yang akan terjadi atau belum terjadi. Memang tugas Intelijen diantaranya adalah mempra-kondisikan. Membuat batu lemparan-lemparan ke belakang supaya terlihat dan muncul apa yang terjadi nanti.

Misalnya masalah teror-teror bom besar yang terjadi beberapa waktu tahun yang lalu di indonesia. Masyarakat kita akan mudah sekali termakan berita maka terbentuklah "Allegations of opinion" tuduhan hanya berdasarkan opini. Karena sudah terbiasa termakan berita yang dibuat walaupun itu bersumber dari lembaga institusi negara sekalpun kita tidak boleh langsung mempercayai sepenuhnya. Kami Inteliijen lebih independen dalam hal ini. Sebenarnya kamipun sudah mendapatkan informasinya. Kami pihak Intelijen mendapat informasi bahwa "Team x" akan turunkan "calon pengantin" untuk "action". Istilah Team x dibuat oleh kelompok itu sendiri dan itu bukan merupakan bagian dari institusi corps Intelijen kami dan tidak ada hubungan struktural dengan BIN atau BAIS. Jadi mereka diluar struktural dan pengawasan Badan Intelijen Nasional.
Dan sebetulnya istilah "Calon Pengantin" juga adalah istilah yang di buat-buat oleh intelijen dari Team x itu sendiri yang sengaja dibuat terhadap calon korban "si teroris" yang sudah di siapkan.

Keberadaannya kami akui ada kelompok ini yang bermain yang menamakan dirinya "Team x". Dan kita tidak akan pernah bisa untuk bertemu dan mengetahui siapa saja tokoh dan aktor dibalik itu dan penghimpun dana didalam Team x itu. Yang jelas merupakan konspirasi dengan pihak asing. Biasanya Team x akan turunkan "calon pengantin" nya tepat pada waktu yang tepat biasanya berhubungan kondisi politik dalam negeri atau kondisi yang terjadi di luar negeri. Terjadinya aksi Teror bom pasti ada tujuannya supaya memunculkan stigma dan opini di masyarakat. Aksi bom bunuh diri pasti ada misi tujuan besar dibalik itu dan bukan karena alasan murahan yaitu hanya sebatas "balas dendam", bukan!

Aksi Teror bom bunuh diri akan dimunculkan pasti selalu bersamaan dengan saat negara dalam situasi kondisi tertentu. Atau ada misi campur tangan pihak asing yang memiliki kepentingan di dalam negeri di Indonesia ini. Maka diambilah keputusan dengan pertimbangan alasan yang biasanya mengarah kepada dua alasan :
Pertama, agar dibuat stigma negatif kepada simbol-simbol keagamaan atau golongan tertentu yang sekiranya akan mengganggu.
Kedua, pengalihan isue atau pengalihan fakta agar mereka lupa, terpecah dan tidak fokus lagi dengan masalah yang sebenarnya lebih penting dan lebih utama tujuan mereka.

Maka ini saya bukan ada maksud membocorkan tapi karena saya paham. Saya hanya mantan yang pernah bergabung didalam Corps Badan Intelijen Strategis. Karena penghimpunan informasi data merupakan rangkaian tugas struktural Intelijen.

Saya hanya ingin meluruskan image masyarakat bahwa selama ini yang masyarakat mengira aksi-aksi bom bunuh diri yang dilakukan oleh para pelaku bom bunuh diri adalah dari niat dan rencana mereka sendiri para pelakunya? Itulah opini yang telah berhasil dikembangkan ditengah masyarakat. Padahal sebenarnya tidak..! Apakah masyarakat lupa bahwa semua kejadian-kejadian teror bom besar pasti melibatkan Intelijen asing. Sebenarnya hakikatnya para pelaku bom bunuh diri yang dicap "teroris" itu mereka juga adalah Korban yang di umpankan saja. Saya buka ini semua supaya masyarakat kita terbiasa berpikir secara cerdas dan kontruktif tidak hanya polos mengikuti apa kata berita saja. Supaya di publik muncul stigma, ketakutan dan pengalihan.

Perlu saya jelaskan disini tugas intelijen kita hanya mencari dan mengolah data informasi sebelum peristiwa peledakan terjadi. Maka kita sudah mendapatkan informasi sebelum aksi terjadi, bahwa nanti pada hari H jam J akan terjadi peledakan bom pada hari H dan jam J di lokasi titik poin mana itu sudah ditentukan dan dibuat sekenarionya. Dari mulai Siapa yg dijadikan pelaku atau calon pengantin (yg bakal nanti tertuduh teroris). Itu sudah disiapkan dengan matang. Sehingga kira-kira berapa banyak jumlah korban, dan isue apa nanti yg akan dimunculkan.. Itu semua sudah di design dirancang dan direncanakan secara matang..

Kami pihak intelijen biasa memberikan istilah aksi-aksi bom di tanah air dengan istilah "Aksi Jilid 1" yaitu Bom bali 1. Kemudian "Aksi Jilid 2" yaitu Bom Kuningan. Aksi Jilid 3 yaitu Bom Mariot dan seteruanya.. Dan aksi bom di Surabaya kemarin saya sudah tidak mengikuti lagi itu "Aksi Jilid" yang ke berapa lagi. Karena saya sudah tidak aktif lagi.

Saya dan pihak intelijen hanya mengetahui bahwa yg merencanakan, menseting semua dari mulai merekrut dan action dan membiayai aksi dilapangan adalah ada suatu kelompok Profesional yang terlatih yang kita namakan "Team x" tersebut. Kelompok inilah yang selama ini mendanai aksi-aksi teror bom besar di Indonesia dan memiliki dana yang besar. Kelompok ini berpusat di luar dan telah buka cabang dibentuk di Indonesia. Dibentuk secara rahasia biasanya ini berkonspirasi dengan intelijen asing. Kelompok ini dalam data file di beri nama "team x" dan aksi pendanaan dilakukan oleh "mr. x". Semuanya satu paket sampai telur itu pecah (istilah sandi) telur itu pecah maksudnya berhasil..

Pihak intelijen sebenarnya mengetahui bahwa hampir mayoritas aksi-aksi teror bom yg besar yang terjadi di Indonesia itu bukan dari inisiatif para pelakunya sendiri. Tapi memang pelakunya di rekrut oleh Team x dari orang-orang bekas atau mantan yg terduga teroris sebelumnya. Kadang "Team x" ambil dari istri atau anak-anaknya atau keluarganya pelaku terduga teroris supaya nanti agar mudah di opinikan di publik bahwa ada benang merah dengan jaringan tertentu. Ini bagi orang-orang aktifis atau keluarganya yang pernah terlibat jaringan terduga teroris.

Adapun Team x ini juga biasa melakukan merekrutan dengan saling bertatap muka dari kalangan orang masyarakat awam yang tidak memiliki hubungan kasus teroris. Pertemuan itu biasanya Team x memberi nama "Pengajian". Yaitu mereka sengaja dikumpulkan oleh Team x ini untuk direkrut dan di motivasi dengan di cuci otaknya kemudian diberi tambahan untuk menonton video dokumentasi tentang penindasan dan penganiayaan terhadap kaum muslimin dibelahan negara lain. Sehingga orang yang masih awam akan marah, semangat dan muncul keberaniannya untuk membalas dendam. Memang "penataran" seperti ini diupayakan supaya berhasil dijadikan sebagai "calon pengantin".
Team x dari jauh akan selalu mengarahkan dan memantau para calon pengantin ini demi memuluskan "action"nya.

Ada juga Team x melakukan dengan cara memasukkan atau menyusupkan bahan peledak Bom yang dikiranya adalah barang dagangan yang harus diambilnya dan diantar dimana bom itu telah ditaro didalam barang tsb. Dan disuruh minta diantarkan ke alamat yang bersangkutan. Cara ini memang lebih sadis dari pada cara-cara pengrekrutan. Sebab bila sistem pengrekrutan si calon teroris (calon korban) sudah melakukan hubungan komunikasi dengan Team x. Tapi sistem dengan menyusupkan bom diam-diam ke dalam tas calon korban itu tidak perlunya adanya komunikasi atau pendekatan lebih lanjut atau saling mengenal pernah bertatap muka. Bom yang dimasukkan tas biasanya sudah kendalikan dengan remote control dari jarak jauh. Cara seperti ini memang pekerjaannya Team x tersebut supaya disiapkan segalanya kepada mereka yg akan nanti tertuduh dijadikan sebagai "calon teroris itu". Padahal mereka juga adalah sama-sama korban.
Program ini semua sebenarnya hanya bertujuan supaya muncul image, isue dan stigma negatif terhadap kondisi apa yang sekarang terjadi dalam negeri ini.

Informasi Ini semua kita didapatkan dari mantan anggota "Team x" itu sendiri yang tidak bisa ditemui secara langsung. Dan saya dapat bercerita seperti ini karena ada pengalaman dan data yang dihimpun selama gabung di Intelijen.
Orang-orang di "Team x" atau "mr. x" itu bukan lah dari orang Intelijen atau BIN dan bukan pula dari kalangan salah satu kelompok Islam radikal. Walaupun memang benar ada orang-orang dari kelompok radikal atau "Khowarij" yang tertangkap. Tetapi bukanlah dari mereka perencana dan dalang semua ini. Mereka hanya sebagai "obyek" untuk penguat terhadap aksi tindakan teror bom selama ini. Tapi Team x ini kita akui ada eksistensinya. Sampai saat inipun kita pihak intelijen tidak bisa mengetahui secara pasti siapa person orang dan tokohnya yg terlibat di dalam "team x" itu yang telah membuka cabang di Indonesia ini. Yang pasti jelas melibatkan konspirasi pihak asing yang memiliki kepentingan terhadap negeri ini. Pihak istana atau kepresidenan juga tidak akan mengetahui gerakan kelompok ini walaupun kelompok ini merupakan dalang dari semua aksi teror bom selama ini. Aksi teror ini justeru akan memberikan keuntungan yang besar dan secara tidak langsung membatu rezim yang sedang berkuasa saat ini. Nah itulah tugas intelijen. Yang jelas memang tujuannya adalah :
1. Membiaskan fakta yang sedang terjadi di dalam negri.
2. Pengalihan fakta terhadap kondisi politik dalam negeri agar berkurang.
3. Membuat kecurigaan antar umat beragama bahkan kecurigaan dan ketakutan terhadap sesama seagama.
4. Mempertahankan stigama bahwa Islam radikal adalah kelompok yang tidak menginginkan memisahkan antara urusan politik dengan urusan agama.

Hati-hati dan tetap Waspada dengan kelompok "Team x" ini. Mereka tidak mengenal waktu dan tempat mereka akan terus selalu bekerja mencari korban-korban yang bakal dijadikan umpan "supaya diberi gelar "Teroris" nantinya. Dan mereka bekerja secara silent, secret dan closed (tertutup).
Sekian..

Salam.
Sumber: FB Satya Nugraha Laksana

Selanjutnya:

Kamis, 17 Mei 2018

Jadwal dan Tema Ceramah Ust. Abdul Somad di TV One Selama Ramadhan 1439H/2018M

Jadwal dan Tema Ceramah Ust. Abdul Somad di TV One Selama Ramadhan 1439H/2018M


Selama sebulan penuh Ustadz Sejuta Viewer Abdul Somad Lc MA akan mengisi pengajian atau tausiyah di TV One. Kajian beliau tayang pada saat sahur dengan program Indahnya Ramadhan bersama Ustadz Abdul Somad, dan sebelum berbuka puasa dalam program Jelang Berbuka bersama Ustadz Abdul Somad.

Walaupun ada beberapa pihak yang tak senang dengan dakwah ustadz yang bermahzab Syafii ini yang tampil di layar lebar, namun dakwah sunnah beliau tetap jalan. Oknum yang tak suka dengan kajian-kajian UAS sudah barang tentu terdiri dari orang munafik, Liberal, Syiah dan Komunis.


Inilah jadwal serta judul ceramah UAS yang akan tampil di TV One sebulan penuh di bulan Ramadhan tahun ini 2018M / 1439 H;




Dewan Ulama Thariqah Indonesia | Gerakan Politik Vs Gerakan Nurani

Dewan Ulama Thariqah Indonesia | Gerakan Politik Vs Gerakan Nurani


GERAKAN POLITIK VS GERAKAN NURANI
*Oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani

Semakin hari semakin lebar jurang antar umat di indonesia, dan setiap hari selalu bermunculan bibit kebencian serta perpecahan, seakan menjadi sebuah bacaan novel yang selalu ada sambungannya seperti sinetron sinetron yang memiliki ratusan episode.

Memang negara kita baru belajar demokrasi tapi bukan berarti orang lagi belajar dapat “dibodohi”. Rakyat sudah dapat memilih pemimpin dengan hatinya bukan berdasarkan logika logika bodoh politikus. Tetapi, justru rakyat yang baru belajar memakai hatinya dalam berpolitik, dimanfaatkan dengan kelompok kelompok politik tertentu untuk merengkuh hati rakyat dengan isu isu yang membuat hati tersentuh secara emosional. Sehingga tidak tanggung tanggung menjadikan rakyat terhanyut latah dan melupakan “dosa dosa” politik kelompok tersebut.

Maka sudah sepantasnya kita lebih bijak untuk membedakan antara gerakan politik dan gerakan nurani, isu teroris yang seharusnya menjadikan kita lebih sadar akan perlunya kerjasama antar umara dan ulama dalam meredam “pemahaman pemahaman” menyimpang, malah dipolitisir menjadi isu politik yang seharusnya ditempatkan pada posisi yang tepat sesuai dengan waktu dan kondisi yang sudah ditentukan dalam aturannya masing masing.
Isu teroris semestinya disikapi dengan arif dan bijak, dibutuhkan sebuah pemikiran matang yang masih dapat bekerjasama dengan nuraninya, sehingga dalam mencari solusi tidak harus mencekal sebuah kelompok dengan tudingan tudingan kosong penuh kebencian.

Siapa yang tidak marah dan kesal mendengar apalagi menyaksikan peristiwa peristiwa teror yang memakan korban jiwa seakan nyawa manusia lebih murah daripada harga sembako, namun apakah pernah kita berfikir jika peristiwa peristiwa teror tersebut terjadi bukan disebabkan “manusianya”, namun 100% lebih dikarenakan dari sebuah pemahaman yang salah, dan pemahaman itu tidak akan pernah dikalahkan dengan senjata atau politik saja, tetapi butuh sebuah gerakan nurani bangsa. Dimana gerakan itu adalah gerakan yang harus dimotori oleh umara dan ulama, jika tidak maka tujuh keturunan pun bangsa ini tidak akan pernah lepas dari legenda “teroris”.

Gerakan Nurani Bangsa, merupakan sebuah tindakan harmoni antara umara dan ulama perpaduan antara hati dan tangan yang berangkat dari rasa keadilan sesama manusia, dengan cara mengembalikan nilai nilai agama dan berbangsa kepada poros ketuhanan, sebab suatu bangsa tidak akan pernah berdiri tanpa nilai nilai ketuhanan, dan ketika suatu bangsa lebih mengedepankan politik tanpa menggandeng nilai nilai ke Tuhanan, maka tidak butuh waktu lama Bangsa itu akan hancur. Hancur bukan karena kemiskinan namun hancur karena ketidakseimbangan antara pemikiran dan nurani, ulama dilecehkan dan para pemimpin direndahkan.

Tidak ada kata terlambat bagi Bangsa dan Negara ini untuk bangkit dari segala aspek kehidupannya, yakni dengan mulai belajar untuk memisahkan gerakan politik dan gerakan nurani, sehingga kita dapat melihat peristiwa demi peristiwa dengan kaca mata yang pas serta dapat melahirkan tindakan tegas dan cepat tanpa mesti harus bertabrakan satu sama lain. Keseimbangan “berfikir” dan “merasa” tetap menjadi resep kemesraan dalam ber Bangsa dan ber Negara hingga bangsa ini tetap utuh dan semakin dewasa di mata dunia dan di mata Tuhan.

*Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia ( DUTI )

Selanjutnya:

Senin, 14 Mei 2018

Mantan Kopassus; Tidak Ada Teroris di Indonesia Semua Hanya Fiksi dan Pengalihan Isu

Mantan Kopassus; Tidak Ada Teroris di Indonesia Semua Hanya Fiksi dan Pengalihan Isu


TERORIS DI INDONESIA, FAKTA ATAU FIKSI?

3 tahun lalu saya pernah ngobrol santai dengan Letkol TNI (Purn) Petrus Sunyoto, Kopassus yang pernah meraih penghargaan dari Presiden RI sebagai Prajurit Terberani TNI.

Kamis, 10 Mei 2018

Salah Paham Tentang Riyadhah Tarekat yang Selama Ini Dianggap Ibadah

Salah Paham Tentang Riyadhah Tarekat yang Selama Ini Dianggap Ibadah

Oleh: Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah Ar Rabbani. 
Rais Mustasyar Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI)
Kembalilah Berzikir Keras (Jahar) Setelah Shalat Fardhu, Syaikh Utsaimin; Itu Sunnah Nabi

Kembalilah Berzikir Keras (Jahar) Setelah Shalat Fardhu, Syaikh Utsaimin; Itu Sunnah Nabi


Zikir dengan suara keras selesai sholat fardhu berjamaah itu bid'ah! begitulah suara-suara miring yang saat ini kita dengar dari saudara kita di sebelah. Zikir bersama dengan mengangkat suara tersebut seakan membuat panas telinga mereka. Padahal guru besar, imam besar mereka Syaikh Sholih Utsaimin menfatwakan bahwa mengeraskan suara dzikir adalah pekara sunnah. Bahkan menurut Syaikh Utsaimin mereka yang membi’ahkan Dzikir keras adalah salah.

Adalah tidak beradab jika seorang murid level bawah melawan atau membantah fatwa gurunya yang membolehkan zikir keras setelah shalat fardhu. 

Dalam kitab Majmu Fatawa wa Rasa`il asy-Syaikh Muhammad Shalih al-Utsaimin (kumpulan fatwa-fatwa dan risalah-risalah Syaikh Ibnu Utsaimin) volume 13 halaman 182-184 beliau menuliskan fatwa-fatwanya seputar zikir dengan suara keras selepas shalat fardhu;

إن الجهر بالذكر بعد الصلوات المكتوبة سنة، دل عليها ما رواه البخاري من حديث عبد الله بن عباس – رضي الله عنهما – أن رفع الصوت بالذكر حين ينصرف الناس من المكتوبة كان على عهد النبي صلى الله عليه وسلم قال: “وكنت أعلم إذا انصرفوا بذلك إذا سمعته”. ورواه الإمام أحمد وأبو داود.

وهذا الحديث من أحاديث العمدة، وفي الصحيحين من حديث المغيرة بن شعبة – رضي الله عنه – قال: سمعت النبي صلى الله عليه وسلم يقول إذا قضى الصلاة: “لا إله إلا الله وحده لا شريك له”. الحديث، ولا يسمع القول إلا إذا جهر به القائل. وقد اختار الجهر بذلك شيخـ الإسلام ابن تيميه -رحمه الله- وجماعة من السلف، والخلف، لحديثي ابن عباس، والمغيرة رضي الله عنهم.

والجهر عام في كل ذكر مشروع بعد الصلاة سواء كان تهليلاً، أو تسبيحاً، أو تكبيراً، أو تحميداً لعموم حديث ابن عباس، ولم يرد عن النبي صلى الله عليه وسلم التفريق بين التهليل وغيره بل جاء في حديث ابن عباس أنهم يعرفون انقضاء صلاة النبي صلى الله عليه وسلم بالتكبير، وبهذا يعرف الرد على من قال لا جهر في التسبيح والتحميد والتكبير.

وأما من قال: إن الجهر بذلك بدعة فقد أخطأ فكيف يكون الشيء المعهود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم بدعة؟!… وأما احتجاج منكر الجهر بقوله تعالى: (وَاذْكُرْ رَبَّكَ فِي نَفْسِكَ تَضَرُّعاً وَخِيفَةً وَدُونَ الْجَهْرِ مِنَ الْقَوْلِ بِالْغُدُوِّ وَالْآصَالِ). فنقول له: إن الذي أمر أن يذكر ربه في نفسه تضرعاً وخيفة هو الذي كان يجهر بالذكر خلف المكتوبة، فهل هذا المحتج أعلم بمراد الله من رسوله، أو يعتقد أن الرسول صلى الله عليه وسلم يعلم المراد ولكن خالفه؟!…

وأما احتجاج منكر الجهر أيضاً بقوله صلى الله عليه وسلم: “أيها الناس اربعوا على أنفسكم”. الحديث فإن الذي قال: “أيها الناس أربعوا على أنفسكم” هو الذي كان يجهر بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، فهذا له محل، وذاك له محل، وتمام المتابعة أن تستعمل النصوص كل منها في محله…

أما من قال: إن في ذلك تشويشاً فيقال له: إن أردت أنه يشوش على من لم يكن له عادة بذلك، فإن المؤمن إذا تبين له أن هذا هو السنة زال عنه التشويش، إن أردت أنه يشوش على المصلين، فإن المصلين إن لم يكن فيهم مسبوق يقضي ما فاته فلن يشوش عليهم رفع الصوت كما هو الواقع، لأنهم مشتركون فيه.

وإن كان فيهم مسبوق يقضي فإن كان قريباً منك بحيث تشوش عليه فلا تجهر الجهر الذي يشوش عليه لئلا تلبس عليه صلاته، وإن كان بعيداً منك فلن يحصل عليه تشوش بجهرك.

وبما ذكرنا يتبين أن السنة رفع الصوت بالذكر خلف الصلوات المكتوبة، وأنه لا معارض لذلك لا بنص صحيح ولا بنظر صريح، وأسأل الله تعالى أن يرزقنا جميعاً العلم النافع والعمل الصالح، إنه قريب مجيب، وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين.

Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai shalat wajib adalah sunnah, hal itu telah diterangkan dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari, dari hadisnya Abdullah ibnu Abbas radhiyallahu anhuma (ia mengatakan) “Sesungguhnya mengeraskan zikir saat selesai dari shalat wajib, itu telah ada di masa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam.” Ibnu Abbas juga mengatakan, “Aku tahu selesainya shalat mereka itu, saat kudengar (suara zikir keras berjamaah) itu”. Hadis ini juga diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abu Dawud. Hadis ini termasuk diantara hadis-hadis utama (dalam masalah ini).

Dalam kitab shahihain, dari hadisnya al-Mughirah ibnu Syu’bahradhiyallahu ‘anhu, ia berkata, “Aku pernah mendengar Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam jika selesai shalat (wajib), beliau membaca zikir “lâ ilâha illawlâhu wahdahû lâ syarîka lah…” (al-Hadis). Dan dia tidak akan mendengar bacaan zikir itu kecuali orang yang mengucapkannya mengeraskan suaranya. (Bahkan) Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah dan sekelompok ulama salaf telah memilih pendapat (sunnahnya) mengeraskan zikir, dengan dasar dua hadis, yakni hadisnya Ibnu Abbas dan al-Mughi rahradhiyallahu ‘anhum.

Mengeraskan zikir di sini, berlaku umum untuk semua zikir setelah shalat yang disyariatkan, baik itu berupa tahlil, atau tasbih, atau takbir, atau tahmid. Karena umumnya redaksi hadis Ibnu Abbas. Dan tidak ada keterangan dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang membedakan antara tahlil dan yang lainnya. Bahkan dalam hadisnya Ibnu Abbas dikatakan, bahwa para sahabat dahulu tahu selesainya shalat Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dengan takbir. Keterangan ini, membantah orang yang berpendapat tidak bolehnya mengeraskan suara kecuali pada tasbih, tahmid dan takbir.

Adapun orang yang mengatakan, bahwa mengeraskan (zikir setelah shalat) itu bid’ah, maka sungguh ia salah, karena bagaimana mungkin sesuatu yang ada di zaman Nabishallallahu ‘alaihi wasallam dikatakan bid’ah?!

Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (zikir setelah shalat ini) dengan firman-Nya: “Sebutlah (wahai Muhammad) nama Tuhanmu di dalam dirimu, dengan rendah hati dan suara yang lirih serta tidak mengeraskan suara, ketika pagidan petang. Dan janganlah kamu menjadi orang yang lalai” (QS. al-A’raf[7]: 205). Maka bisa dijawab dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang telah diperintahkan untuk berzikir dalam dirinya dengan rendah hati dan suara lirih (yaitu Rasulullahshallallahu ‘alaihi wa sallam), beliau juga orang yang telah mengeraskan zikir setelah shalat wajib. Lalu apakah orang itu (orang yang mengingkarizikir keras berjamaah) lebih tahu maksud Allah dalam ayat itu melebihi rasul-Nya?! Ataukah ia beranggapan bahwa Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebenarnya tahu maksud ayat itu, tapi beliau sengaja menyelisihinya?!

Adapun orang yang mengingkari amalan mengeraskan (zikir setelah shalat ini) dengan sabda beliaushallallahu ‘alaihi wasallam: “Wahai manusia, sayangilah diri kalian, karena kalian tidaklah berdoa kepada Dzat yang tuli…! (sampai akhir hadis)”. Maka bisa dijawab dengan mengatakan: Sesungguhnya orang yang menyabdakan hal itu, dia jugaorang yang dulunya mengeraskan zikir setelah shalat wajib ini. Itu berarti, tuntunan ini punya tempatnya masing-masing, sedangkan yang itu juga ada tempatnya masing-masing. Dan sempurnanya mengikuti sunnah beliau adalah dengan memakai semua nash yang ada, pada tempatnya masing-masing.

Adapun orang yang mengatakan bahwa amalan itu bisa mengganggu orang lain, maka bisa dijawab dengan mengatakan padanya: Jika maksudmu akan mengganggu orang yang tidak biasa dengan hal itu, maka hal itu akan hilang (dengan sendirinya), ketika ia tahu bahwa amalan itu adalah sunnah.

Jika maksudmu akan mengganggu jama’ah yang lain, maka jika tidak ada ma’mum yang masbuq, tentu hal itu tidak akan mengganggu mereka, sebagaimana fakta di lapangan. Karena mereka sama-sama mengeraskan zikirnya.

Adapun jika ada ma’mum masbuq yang sedang menyelesaikan shalatnya, maka jika ia dekat denganmu hingga kamu bisa mengganggunya dengan (kerasnya) suara zikirmu, maka janganlah kamu meninggikan suara dengan tingkatan suara yang bisa mengganggunya, agar kamu tidak mengganggu shalatnya. Sedang jika ia jauh darimu, maka tentu kerasnya suara (zikir)-mu tidak akan mengganggunya sama sekali.

Dengan keterangan yang kami sebutkan di atas, menjadi jelas bagi kita, bahwa mengeraskan zikir setelah shalat wajib adalah sunnah. Hal itu sama sekali tidak bertentangan dengan nash yang shahih, maupun dengan sisi pendalilan yang jelas.

Aku memohon kepada Allah, semoga Dia memberikan kita semua ilmu yang bermanfaat dan amal shalih, sesungguhnya Dia itu maha dekat lagi maha mengabulkan doa. Semoga Allah s.w.t. senantiasa mencurahkan shalawat dan salamnya kepada nabi kita Muhammad, keluarganya dan sahabatnya semua.” Demikian kata Syaikh Ibnu Utsaimin dalam fatwanya.

Perhatiakan fatwa utsaimin di atas, bahwa mengeraskan suara dzikir adalah pekara sunnah. Bahkan menurut Utsaimin mereka yang membid’ahkan Dzikir keras adalah salah.







Perhatikan lagi dengan seksama fatwa beliau yang diberi warna merah pada gambar;

وأما من قال: إن الجهر بذلك بدعة فقد أخطأ فكيف يكون الشيء المعهود في عهد النبي صلى الله عليه وسلم بدعة؟!

“ADAPUN ORANG YANG MENGATAKAN BAHWA MENGERASKAN (DZIKIR SETELAH SHALAT) ITU BID’AH, MAKA SUNGGUH IA SALAH. KARENA BAGAIMANA MUNGKIN SESUATU YANG ADA DI ZAMAN NABI SAW DIKATAKAN BID’AH!?”

Artikel terkait:

Setelah kita mengetahui hal ini, sebaiknya dimasjid-masjid kita ahlussunnah waljamaah yang kemaren-kemaren sedikit terpengaruh oleh propaganda mereka, sehingga setelah shalat zikir sendiri-sendiri, kembalilah untuk zikir berjamaah dengan suara keras, karena itu sunnah nabi bukan bid'ah apalagi sesat dan ada dalam Shahih Bukhari.

Banyak kita saksikan masjid atau surau yang telah meninggalkan sunnah ini. Untuk itu sesuai dengan fatwa ulama besar Wahabi ini kita tegakan sunnah nabi kembali dan jangan lagi terpengaruh oleh kebiasan jamaah wahabi indonesia yang tak mau mematuhi ajaran guru besar mereka Syaikh Utsaimin.

Baca juga:

Jembatan Penghubung Tanjung Durian - Bidar Alam Solok Selatan Terputus

Jembatan Penghubung Tanjung Durian - Bidar Alam Solok Selatan Terputus

bidar alam tanjung durian

Tanjuang Durian, 10 Mei 2018.
Duka masyarakat Tanjung Durian Nagari Padang Limau Sundai Sangir Jujuan Berdarah Kembali.
Kenapa tidak, satu-satunya jembatan yang bisa menghubungkan transportasi roda 4 ke daerah tersebut telah "mengakhiri hidupnya" dengan tragis. Jembatan yang belum mencapai umur 5 tahun tersebut terputus dan ambruk, padahal tidak ada banjir yang melanda.

Menurut info dari warga setempat yang kami hubungi musibah terjadi sekitar jam 12.00 malam.

Musibah terputusnya jembatan berwarna biru ini berarti akses perekonomian warga sekitar akan kembali terasa agak sulit karena kendaraan roda empat tidak bisa masuk, dan untuk akses roda 2 akan kembali memutar ke arah Sibalabeh yang menempuh waktu yang sedikit lebih lama.

Foto ini di upload oleh salah seorang warga Tanjuang Durian Akri Anto dalam akun Facebooknya.
Dalam foto tersebut juga terlihat sebuah truck pengangkut sawit terjatuh di pinggir jembatan yang untung tidak hanyut yang sedang di tolong warga setempat.

Belum ada konfirmasi dari pihak terkait mengenai musibah ini, apakah terdapat korban jiwa, kerugian serta penyebabnya.

Foto Jembatan Bidar Alam-Tanjung Durian yang ambruk
Kiriman; Yenti Gusnita







Rabu, 09 Mei 2018

Hakikat Bai'at dalam Tarekat - Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

Hakikat Bai'at dalam Tarekat - Tuangku Syaikh Muhammad Ali Hanafiah

hakikat baiat tarekat
Majelis Surau Suluk Rabbani Solok

Berbai’at kepada Mursyid merupakan hal yang mutlak dilakukan berdasarkan hati yang ikhlas tanpa ada unsur paksaan ataupun kepentingan yang lain kecuali berharap ridho Allah SWT.