Indonesia memang beda dari kebanyakan negara lain dalam banyak hal, termasuk masalah pemilihan umum untuk tahun 2019. Mahkamah konstitusi memberikan izin kepada orang gila untuk menggunakan hak pilihnya pada 2019 nanti. Untuk merealisasikan hal itu Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan pendataan dan perekaman identitas pemilih disabilitas mental yang menurut data ada sekitar 14 juta suara untuk pengidap gangguan jiwa di Indonesia.
Home
All posts
Minggu, 25 November 2018
Ustadz Abdul Somad; " Aneh Orang Gila Bisa Nyoblos "
Indonesia memang beda dari kebanyakan negara lain dalam banyak hal, termasuk masalah pemilihan umum untuk tahun 2019. Mahkamah konstitusi memberikan izin kepada orang gila untuk menggunakan hak pilihnya pada 2019 nanti. Untuk merealisasikan hal itu Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) meminta Komisi Pemilihan Umum (KPU) melakukan pendataan dan perekaman identitas pemilih disabilitas mental yang menurut data ada sekitar 14 juta suara untuk pengidap gangguan jiwa di Indonesia.
Sabtu, 24 November 2018
Rumah Gadang Panjang Abai Solsel Situs Sejarah Terpopuler di Indonesia 2018
Setelah tahun lalu memperoleh Penghargaan sebagai Juara I sebagai Kampung Adat Terpopuler tahun ini di kompetisi yang sama, Rumah Gadang Panjang, Abai, Solok Selatan, juga keluar sebagai juara I pada malam puncak Anugrah Pesona Indonesia (API) tahun 2018 kategori Situs Sejarah Terpopuler setelah mendapat vote tertinggi sebesar 63,1 persen.
Hidup Sekedar Tiupan Fatamorgana - Tuangku Syeikh Muhammad Ali Hanafiah Arrabbani
Rabu, 21 November 2018
Alumni 212 Reuni 2018 Said Aqil Larang Warga NU Ikut Diabaikan Kiyai dan Santri NU
KH. Said Aqil Siraj Larang NU ikut Reuni 212 2018
Ketua Umum Pengurus Besar Nadhlatul Ulama (PBNU), KH Said Aqil Siraj mengimbau agar warga NU tidak ikut terlibat dalam aksi reuni 212.
Dia meminta warga NU untuk fokus terlibat menyukseskan pemilu 2019 yang akan datang.
“NU mari kita sukseskan pemilu yang akan datang, aman damai, luberjurdil. Nggak ada urusan kita 212,” kata Said saat ditanyakan soal rencana aksi reuni alumni 212 yang dimotori Persaudaraan Alumni (PA) 212, di Gedung LPOI, Jalan Kramat VI, Jakarta Pusat, Sabtu (17/11/2018).
Meski begitu, Said mempersilakan rencana pelaksanaan aksi reuni alumni 212 tersebut. Asal tidak memiliki tendensi politik.
Tendensi politik yang dimaksud Said adalah upaya melengserkan Presiden Jokowi di tengah jalan.
Said mengaku tak mempermasalahkan digelarnya reuni 212 tersebut.
“Sebatas dia mensiarkan reuni ya terserah, asal tidak ada tendensius politik, boleh-boleh saja,” ujar Said.
Baca:
Sementara itu..
Rabu, 31 Oktober 2018
Minggu, 28 Oktober 2018
Dewan Ulama Thareqah Minta Stop Semua Aktivitas Fethullah Gulen di Indonesia
Dewan Ulama Thoriqoh Indonesia (DUTI) meminta pemerintah Indonesia menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen.
Lembaga yang beranggotakan para ulama dan guru besar ini telah mengeluarkan fatwa yang memutuskan gerakan Gulen melakukan penyimpangan ayat-ayat Alquran dan merusak akidah.
“Ya [fatwa] sudah dirlis resmi,” ujar Sekretaris Jenderal DUTI Zubair Ahmad saat dihubungi Anadolu Agency pada Selasa.
Zubair juga menegaskan pemimpin tertinggi DUTI Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani sedang melakukan pertemuan dengan pemimipin-pemimpin tarekat di Turki.
Dalam fatwanya, DUTI mengaku telah melakukan investigasi dan penelitian soal Fethulleh Gulen semenjak terjadinya kudeta gagal di Turki yang menyebabkan 258 orang meninggal dunia.
“Fethullah Gulen dengan segala tindakan dan pemikirannya terhadap Islam, khususnya tentang sufi adalah kesesatan yang akan merusak nilai-nilai sufi itu sendiri,” tulis Fatwa DUTI yang langsung ditandatangani Muhammad Ali Hanafiah Ar-Rabani.
DUTI menilai awalnya Fethullah Gulen menyebarkan ajarannya menggunakan nama besar ulama Turki Bediuzzaman Said Nursi.
Namun setelah diteliti dan dipelajari, ajaran Gulen telah menyimpang dari ajaran Bediuzzaman Said Nursi itu sendiri.
“Nama Said Nursi hanya digunakan untuk menarik simpati Umat Islam khususnya di kalangan para pemuda dan aktivis kampus,” tulis fatwa DUTI.
Selain itu, DUTI menilai kelompok Gulen mengarah kepada organisasi teroris yang bersembunyi di balik gerakan sosial dan agama.
“Meminta kepada Presiden Indonesia dan seluruh pemimpin negara beserta para Ulama dapat bersatu dan bersama-sama menghentikan segala bentuk kegiatan Fethullah Gulen di negaranya masing-masing,” terang Fatwa DUTI.
DUTI dikukuhkan pada Januari 2016 melalui pertemuan para ulama tarekat yang berlangsung di Solok, Sumatera Barat.
Source: https://www.aa.com.tr
Kunjungan Dewan Ulama Thareqah Indonesia ke Istanbul Turki
![]() |
| Tuangku Syaikh M. Ali Hanafiah dan Walikota Mevlut Uysal |
Minggu, 21 Oktober 2018
Senin, 08 Oktober 2018
MIRIS..!! Pesta Mewah IMF Bali Ditengah Luka dan Duka Palu
KAUM OTAK DIKIT MABUK DAUN BAWANG...
Pernah dengar orang mabuk daun bawang?, tentu saja anda tidak akan pernah mendengar apalagi mengalaminya kecuali anda bagian dari spesies makhluk mutan paling ajaib abad-21 ini, KECEBONG...!
Para kumpulan kecebong ini sangat unik, mereka memakai semua jurus mabuk termasuk mabuk daun bawang yang secara logika pasti ditertawakan semua orang.
Makan Nasi Goreng bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Sop bisa mabuk karena ada daun bawangnya.
Makan Bakso kabur karena ada daun bawangnya, eh maaf, karena ogah bayar rupanya...SIALAN!!!
Sekarang junjungan mereka diserang karena mengadakan pesta mewah bersama Tukang Kredit Internasional, biasa disingkat IMF, ditengah derita Masyarakat Palu dan Donggala. Mereka mau cuci tangan memakai jurus Mabuk Bawang dengan menyalahkan Rezim SBY.
Benar, acara pertemuan itu diusulkan jaman Pak SBY. Tapi keputusan Indonesia menjadi tuan rumah tahun 2015, jadi anggaran serta perencanaan mewah tidaknya acara itu ada ditangan rezim berkuasa sekarang.
Lagipula poin sesungguhnya bukan di masalah Indonesia yang menjadi Tuan Rumah Pertemuan Tahunan Tukang Kredit Internasional dan Bank Dunia tersebut.
Tapi ada musibah mendadak yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala.
Seharusnya kalau Rezim sekarang punya nurani, kalaupun tidak bisa lagi dibatalkan, ayo kurangi semua kemewahan pesta sebagai bentuk keprihatinan karena "anak-anak" Tuan Rumah penyelenggara pesta sedang ditimpa musibah.
Bila perlu suguhkan "menu prihatin" misalnya Bakso cukup pakai daun bawang kepada ribuan tamu dan saya yakin Dunia Internasional akan memahaminya. Sisa anggaran misalnya setengah Triliun salurkan ke Masyarakat Palu dan Donggala agar mereka bisa ikut tersenyum.
Bukan malah ikut arahan Menko Oppung yang menginstruksikan agar pesta tersebut akan dibuat menjadi pesta terbesar sepanjang sejarah hanya demi tujuan agar Dunia meyakini Indonesia baik-baik saja.
Kawan, Indonesia kita memang sedang berduka.
Lombok dan Palu-Donggala sedang ditimpa musibah dan Pemerintah kekurangan dana untuk merehabilitasi dan rekonstruksi secara maksimal wilayah-wilayah yang ditimpa bencana.
Andai saja tidak ada musibah yang menimpa saudara-saudara kita di Palu-Donggala, saya pikir tidak ada yang protes dengan besarnya anggaran demi kemewahan acara tersebut.
Bahkan kita tidak akan perduli kalau Rezim berkuasa sekarang mau mengadakan acara khusus buat mereka, misalnya Pertemuan dan Pesta Planga-Plongo Sedunia.
Bila perlu sekalian buat dan resmikan patung idola kalian dan si Parhat Kibus sebesar Tugu Monas.
Kami hanya bersuara karena nurani kami tidak terima ada pesta mewah sementara di Palu-Donggala masih ada mayat-mayat saudara kita dibawah reruntuhan rumah-rumah mereka.
Kami hanya protes karena jiwa kami menangis karena melihat video masyarakat disana yang berebutan makanan dan minuman yang dilempar dari Helikopter Bantuan, sementara tamu-tamu anda dilayani dengan sempurna ditempat-tempat megah, semua itu memakai uang rakyat !!!
Terakhir saya bukan pendukung apalagi Kader Partai Demokrat. Tapi menyalahkan Pak SBY disetiap blunder dan kegagapan rezim ini adalah bentuk mabuk bawang yang menghina logika.
Kita akui saja, Pak SBY seribu kali lebih mampu memimpin negeri ini.
Tolong jangan durhaka dan lagi-lagi menista logika dengan mengatakan tidak ada pembangunan di jaman beliau.
Bandara Internasional Kuala Namu-Medan, Sepinggan Balikpapan, Sultan Hasanuddin Makassar dan puluhan Bandara-bandara megah dipersembahkan beliau untuk rakyat Indonesia.
Tol Bali Mandara dibangun tanpa sesen pun uang dari APBN karena kondisi ekonomi yang lumayan baik dijaman SBY dan BUMN-BUMN kita tertata dengan baik dan profesional.
Jadi stop menyalahkan Pak SBY diatas kegagalan dan ketidakmampuan idola kalian, wahai kaum berotak dikit dengan logika kirik.....
By: Azwar Siregar
Rabu, 19 September 2018
Surat Menohok Dari Melayu Untuk Yaqut Cholil Banser

TAMPARAN KERAS BUAT YAKUT..... "Surat dari Melayu"
Menggelikan, sekaligus terdengar menjijikkan, ketika mendengar Tuan ingin berkhutbah tentang kebangsaan, NKRI, atau tentang Pancasila, di kampung kami, Riau.
Tuan mungkin sedang mengidap amnesia sejarah. Baiklah, aku sampaikan lagi, bahwa ketika negeri yang bernama Indonesia ini merdeka tahun 1945, kami masih negara berdaulat, dan lalu kami dengan kesadaran memutuskan untuk bergabung, menjadi Indonesia.
Kami masuk ke Indonesia, bukan dengan tangan kosong seperti Tuan. Kami menyumbang 10 provinsi, 2 daerah jajahan, 39 butir berlian, uang 13 juta gulden, menyumbang minyak, dan memberikan bahasa. Bahkan sampai hari ini, tanah kami, mulai dari blok kangguru, Dumai, dan Pakning, masih menyusukan negeri ini dengan 900 ribu barrel setiap hari. Kami berikan juga hasil hutan, kelapa sawit, hasil laut, dan berbagai komoditas lain.
Sejak eksploitasi stanvac sampai minyak bumi kami mengisi lambung kapal Gage Lund tahun 1955, kami sudah menyumbang ribuan trilyun kepada negeri ini. Kami juga telah memberikan bahasa, agar Tuan petah berkata kata.
Izinkan kami bertanya: Apa yang sudah negeri Tuan sumbangkan kepada Indonesia, sehingga Tuan merasa berhak untuk menceramahi kami soal kebangsaan? Minyak kampung kami juga ikut dalam tol, dalam jalan yang tuan injak di kampung Tuan. Minyak kami sudah membangun gedung gedung di kampung Tuan, bahkan republik ini. Itu sumbangan kami, mana sumbanganmu?
Tuan hanya mencintai negeri ini dengan tagar #nkrihargamati, atau #sayapancasilasayaindonesia, lalu Tuan merasa sudah demikian Indonesia?
Di kampung kami, orang kampung Tuan bisa menjadi apa saja, jadi gubernur, bupati, walikota, pengusaha, pejabat, anggota legislatif, bahkan menjadi bajingan pun boleh. Bisakah hal yang sama terjadi di kampung Tuan?
Di mana adab Tuan? Tuan menikmati kekayaan kami, tapi Tuan tanpa malu, tanpa moral mempersekusi ulama kami dan mempertanyakan keindonesiaannya. Apakah Tuan waras?
Berhentilah melakukan omong kosong, belajarlah untuk memiliki rasa malu. Antara kami dan Tuan tidak layak untuk disandingkan dalam keindonesiaan. Berhentilah meludahi muka sendiri..
@syaukani al karim
Next:
- KH. Tengku Zulkarnain; " Takut Rezim? Tidur Saja! "
- Ustadz Abdul Somad Da'i Yang Terjajah Di Negeri Sendiri
- Humor Abu Janda Al Boliwudi "Karena Sama Bahlulnya"
Minggu, 09 September 2018
Jumat, 07 September 2018
Langganan:
Postingan (Atom)










