Senin, 02 April 2018

Puisi Sukmawati Lecehkan Syariat Islam, Netizen; "Sudahkah Anda Gosok Gigi?"


Bu Sukmawati, Sudahkah Anda Sikat Gigi

Oleh: Azwar Siregar

Saya sudah membaca Puisi curahan hati Sukmawati Sukarno Putri yang berisi kebencian terhadap syariat Islam.
Saya pikir orang ini mempunyai sedikit kelainan, paling tidak mengidap Islamphobia.

Sejak dia melaporkan Habib Rizieq, saya berulangkali mencari tahu,siapa orang ini.
Terakhir saya pernah menonton dia jadi narasumber di ILC, mendengar dia berbicara baru saya paham, kenapa orang ini benci kepada Habib Rizieq.
Saya cuma mengangguk-anggukkan kepala dan memaklumi, seperti anggukan saya kepada anak bungsuku yang memperkenalkan Robot Tobot-nya sebagai penyelamat dunia.

Di puisi-nya Sukmawati menyatakan kalau dia tidak tahu syariat Islam.
Alhamdulillah, paling tidak orang ini bersikap jujur.
Sampai disini sebenarnya masalah sudah selesai, karena tidak ada dosa bagi yang tidak tahu dan tidak ada hukuman bagi yang tidak paham.

Hanya saja menjadi masalah, karena sudah tahu dia tidak tahu tapi masih berusaha nyinyir dengan merendahkan syariat Islam.

Saya tidak tahu apa alasan Sukmawati meyakini tampang jailangkung-nya (maaf, boleh berkata jujurkan ?), yang selalu bersari konde dengan untaian bunga melati lebih cantik dari wanita-wanita muslimah bercadar.
Sukmawati, silahkan aja merasa cantik sendiri, tapi untuk apa membandingkan muka jailamgkung anda dengan muslimah bercadar?
Saya masih waras dan belum pernah gegar otak untuk memahami wajah siapa yang paling bersinar.

Maaf Ibu Sukma, kalau ketelanjangan menurutmu lebih indah, selamat datang didunia hewan.
Biar lebih konsisten, bagaimana kalau ketika tiba waktunya anda menghadap Tuhan, beranikah berwasiat meminta diharamkan kain kafan sebagai penutup badan.

Saya juga heran, kenapa Ibu Sukma begitu benci suara Azan dan menganggapnya tidak semerdu Nyanyian Kidung Ibu Indonesia.
Dan saya tidak paham yang dimaksud Nyanyian Kidung Ibu Indonesia.
Apakah Sinden dari Jawa, Maronang-onang dari Batak Tapsel atau lagu-lagu daerah lainnya.

Terakhir karena Sukmawati mengatakan "azan-mu", saya anggap dia bukan bagian dari golongan kaum muslim/muslimah yang selalu dipanggil azan lima kali setiap hari.

Logika Sukmawati makin aneh dan membingungkan dengan menganggap gemulai gerak tari adalah ibadah.
Ok-lah, saya mulai mengingat film-film India yang para aktor dan aktrisnya seringkali mempersembahkan tarian pemujaan kepada Dewa yang mereka sembah.
Jadi saya anggap Sukmawati Sukarno Putri juga memuja Dewa.

Baca: Akhirnya Sukmawati Minta Maaf Pada Umat Islam, Ini Isi Lengkapnya

Silahkan dan itu hak asasi anda bu Sukma, tapi ijinkan saya bertanya, untuk apa anda mengusik syariat Islam?
Dan satu lagi, Sudahkah anda sikat gigi?
Kalau sudah sikat gigi, jangan lupa cuci kaki.

Terkait:Tanggapan "Pedas" Untuk Puisi SARA Sukmawati; Nenek Konde Dan Darurat Logika


Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

1 komentar so far

Puisi ini sempat memicu perdebatab panjang. Memang memaknai puisi tak semuda memaknai bacotan netijen

Hitung-Hitungan PLTBNT (Pembangkit Listrik Tenaga Bacotan Netijen Twitter) di Indonesia