Kamis, 15 Februari 2018

PANCASILA vs AL-QUR'AN ( Skor 7:1 ) Pancasila Menang Al-Quran Kalah Telak


pancasila vs alquran


PANCASILA VS AL-QURAN (Skor 7 : 1)

Pancasila Menang Mutlak, Al-Quran Kalah Telak !

By Anonim

Pancasila memang sakti. Saking saktinya, negeri ini perlu setiap tahun memperingati Hari Kesaktian Pancasila.

Pancasila sakti. Saking saktinya, cukup teriak, "Saya Indonesia, saya Pancasila," anda tak akan dicap anti Pancasila meski anda koruptor, penjual aset negara, dsb.

Pancasila sakti. Saking saktinya, al-Quran pun berkali-kali dibikin keok. Wuihh! Hebat banget Bro! Gimana ceritanya? Kapan Pancasila vs al-Quran bertarung?!

Ga percaya?! Ini beberapa buktinya:

Pertama: 
Lihat saja hari ini, dimana-mana orang bicara Pancasila. Dimana-mana orang mengukur segala hal dengan Pancasila. Baik-buruk diukur dengan Pancasila. Halal-haram pun ditentukan oleh Pancasila. Dimana-mana orang bicara NKRI dan Pancasila harga mati. Yang bicara ya mulai orang awam, para pejabat, DPR, para menteri, Presiden, para politisi, pengamat politik, kaum intelektual bahkan hingga ulama, termasuk MUI dan banyak organisasi Islam.

Trus, al-Quran ditaruh dimana? Kapan bangsa yang mayoritas umat Islam ini bicara al-Quran? Kapan bangsa Muslim di negeri ini mengukur segala sesuatu dengan al-Quran? Kapan pula negeri yang penduduknya mayoritas umat Islam lantang berkoar-koar "al-Quran harga mati"? Ga ada.

Bahkan ulama pun banyak yang lebih lantang menyuarakan Pancasila daripada meneriakkan kewajiban menerapkan syariah Islam secara kaffah sebagaimana diperintahkan al-Quran. Mereka pun seolah lebih suka mengunakan tolok ukur Pancasila daripada tolok ukur al-Quran. Misalnya untuk menilai "halal-haram"-nya Khilafah, baik-buruknya kelompok yg berjuang menegakkan Khilafah, mereka menggunakan tolok ukur Pancasila, bukan al-Quran. Apa tidak sedih, Bro?!

Banyak pula orang lebih senang menuding pihak yang berseberangan dengan dirinya sebagai anti Pancasila daripada anti al-Quran. Seolah-olah anti Pancasila itu haram, tapi kalau anti al-Quran mah terserah elu! Emang gue pikirin!

Maka skor 1:0 untuk Pancasila alias 0:1 untuk al-Quran.

Kedua: 
Karena Pancasila menjadi satu-satunya standar, maka Islam pun diukur dengan standar Pancasila, bukan sebaliknya. Hebat kan, Bro?! Nah, jadi jangan aneh jika banyak ajaran Islam akan dituding tak sesuai dengan Pancasila. Contohnya ya Khilafah itu. Kok contohnya Khilafah lagi? Bukan apa-apa. Karena kebetulan aja istilah Khilafah lagi naik daun.

Coba Bro perhatikan. Al-Quran bicara Khilafah. Setidaknya itu yang dinyatakan oleh Mufassir terkemuka, Imam al-Qurthubi, saat menafsirkan ayat "Innii jaa'ilun fil ardhi khaliifah" dalam surat al-Baqarah. Dalam as-Sunnah lebih banyak lagi Rasulullah saw. bicara Khilafah. Dalam kitab-kitab para ulama, khususnya ulama Aswaja, lebih banyak lagi Khilafah dibincangkan. Yang luar biasa, kewajiban menegakkan Khilafah telah menjadi Ijmak Ulama (yang mengaku Aswaja, silakan kaji kembali secara jujur kitab-kitab para ulama Aswaja tentang Khilafah) selain menjadi Ijmak Sahabat.

Meski demikian, di dalam UU Ormas yang baru disahkan tiga hari lalu, secara tersirat Khilafah--yang notabene ajaran Islam--dianggap sebagai bertentangan dengan Pancasila. Otomatis para pengusungnya (baca: HTI) dituding anti Pancasila sehingga layak dibubarkan. Jika begitu, ga salah kan jika Islam pun harus keok lagi di bawah Pancasila?!

Maka skor 2:0 untuk Pancasila alias 0:2 untuk al-Quran.

Ketiga: 
Sekarang kita bicara ideologi negara ini. Tentu Pancasila, bukan Islam yang landasannya adalah al-Quran. Sebab, kalau Islam ideologinya, pasti negara ini akan disebut Negara Islam. Faktanya, siapapun menolak jika dikatakan Negara Indonesia adalah Negara Islam. Lucunya, banyak orang kemudian menolak jika Negara Indonesia disebut negara sekular. Kata mereka, "Indonesia bukan Negara Islam, tapi juga bukan negara sekular." (Jadi, negara "bukan-bukan" dong, Bro?!).

Namun, banyak kalangan berdalih: tapi kan Pancasila digali dari nilai-nilai Islam. Ok, jika betul Pancasila digali dari nilai-nilai Islam, lalu mengapa Pancasila sering menuding kelompok-kelompok Islam yang memperjuangkan syariah Islam--termasuk di dalamnya Khilafah--sebagai anti Pancasila? Lho, kok ada ya sebuah ideologi yang digali dari nilai-nilai Islam tapi memusuhi syariah dan Khilafah Islam yang notabene bersumber dari al-Quran?! Lagi-lagi, dalam ranah ideologi, al-Quran keok saat bertanding dengan Pancasila.

Alhasil, skor 3:0 untuk Pancasila alias 0:3 untuk al-Quran. Hidup Pancasila!

Keempat: 
Sekarang, mari kita bicara ekonomi. Di negeri Pancasila ini riba halal. Artinya, Pancasila menghalalkan riba. Bahkan riba menjadi pilar ekonomi negara ini. Buktinya, utang berbasis riba (bunga) menjadi salah satu sumber utama pemasukan APBN kita. APBN kita jelas dong selamanya sesuai dengan Pancasila, tak mungkin bertentangan dengan Pancasila.

Padahal kita tahu, al-Quran secara tegas telah mengharamkan riba. Bahkan riba dinilai sebagai salah satu dosa besar. Kata Nabi saw., "Satu dirham riba sama dosanya dengan 36 kali berzina." Apa ga ngeri, Bro?!

Artinya apa? Artinya, lagi-lagi dalam ranah ekonomi pun Pancasila benar-benar jumawa sehingga mampu membuat al-Quran bertekuk lutut. Pancasila sanggup menghalalkan apa yang telah diharamkan al-Quran.

Maka skor 4:0 untuk Pancasila alias 0:4 untuk al-Quran.

Kelima: 
Sekarang kita bicara moral. Zina pun halal di negeri Pancasila ini (ga ada tuh pasal perzinaan dalam KUHP kita). Artinya, Pancasila menghalalkan zina. Buktinya, tak ada seorang pezina pun di negeri ini yang dihukum atau dipenjarakan. Apalagi jika zina dilakukan di tempat "resmi" seperti Lokalisasi. Yang penting suka sama suka, katanya (He..he..mana ada pasangan berzina salah satu atau dua-duanya benci zina). Makanya angka perzinaan selalu meningkat setiap saat karena banyak orang tak takut dihukum jika berzina (Ya, iyalah, hukumannya kan ga ada, Bro). Yang diharamkan Pancasila adalah perkosaan. Itu pun jika korban mengadukan masalahnya ke Polisi (artinya masuk delik aduan). Jika korban perkosaan merasa "nyaman"--meminjam kata Pa Nganu--ga layak kasusnya diadukan ke Polisi (Ada ya, Bro, wanita diperkosa, trus dia merasa "adem". Hi..hi..).

Padahal jelas, al-Quran telah secara tegas mengharamkan zina. Jangankan berzina, bahkan mendekatinya saja sudah diharamkan oleh al-Quran.

Itu baru zina. Belum termasuk pornografi, pornoaksi, LGBT, dll yang seolah dibiarkan saja keberadaannya di negeri Pancasila ini. Padahal semua itu jelas telah diharamkan al-Quran.

Dengan demikian, dibidang moral pun lagi-lagi al-Quran tidak berdaya di hadapan Pancasila.

Alhasil, skor 5:0 untuk Pancasila alias 0:5 untuk al-Quran.

Keenam: 
Sekarang kita bicara hukum. Al-Quran menegaskan: hukuman bagi pezina dicambuk seratus kali atau dirajam (berdasarkan ketentuan as-sunnah), pencuri dipotong tangan, koruptor bisa dihukum mati, dst.

Faktanya, Pancasila menetapkan hukum yang berbeda dengan ketetapan al-Quran. Pezina tak dihukum, pencuri sekadar dipenjara, para koruptor yang merugikan triliunan uang negara acapkali dihukum ringan, bahkan sering bebas. Lalu kemana ketetapan hukum al-Quran? Tentu dibuang jauh-jauh.

Alhasil, satu poin lagi untuk Pancasila sehingga skor 6:0.

Ketujuh: 
Sekarang kita bicara kedaulatan (hak membuat hukum). Al-Quran tegas menyatakan, "Inil hukmu illaa lilLaah" (Membuat hukum adalah hak Allah). Faktanya, Pancasila menetapkan bahwa hak membuat hukum ada pada kewenangan Pemerintah dan DPR. Itulah demokrasi. Tak pernah sedikitpun Pemerintah dan DPR punya kewajiban merujuk pada al-Quran saat melegislasi hukum. Mereka tak peduli apakah berbagai produk hukumnya nanti bertentangan dengan al-Quran. Bagi mereka, yang penting tidak bertentangan dengan Pancasila. Padahal faktanya, banyak produk hukum--UU Migas, UU Penanaman Modal, UU Listrik, UU Minerba, dan banyak produk hukum lain--bernuansa sangat liberal (Apakah berarti Pancasila mengadopsi liberalisme?) Akibatnya, banyak produk hukum yang menginjak-injak hukum Allah SWT yang telah digariskan dalam al-Quran.

Alhasil, skor 7:0 untuk Pancasila alias 0:7 untuk al-Quran. (Apa ga bikin sedih dan nangis, Bro?!)

Sebetulnya jika diurai lebih jauh, masih banyak fakta yang menunjukkan kemenangan mutlak Pancasila dan sebaliknya kekalahan telak al-Quran.

Pertanyaannya: Lalu dari mana poin satu (dari skor 7:1, sebagaimana dinyatakan dalam anak judul di atas) yang diperoleh al-Quran?

Tidak lain dari ibadah-ibadah ritual (shalat, shaum, zakat, haji, zikir baca al-Quran, dll) umat Islam yang masih merujuk pada al-Quran, tak mungkin merujuk pada butir-butir dari sila-sila Pancasila (Ya kan, Bro?!)

Kekalahan al-Quran vs Pancasila juga mungkin bisa menjadi lebih tipis (skor menjadi 7:2) jika dikaitkan dengan kematian. Maksudnya? Begini. Meski mengklaim paling Pancasila, saat mati, jika dia Muslim, masih dibacakan ayat-ayat al-Quran, bukan dibacakan ayat-ayat konstitusi (meski bagi sebagian orang ayat-ayat konstitusi lebih tinggi dari ayat-ayat suci, katanya).

Semoga pula tak ada seorang Muslim pun (saat mati) yang mengklaim paling Pancasila sekalipun--entah Presiden, menteri, anggota DPR, dll--mau dan rela dibacakan Pancasila di sisi kuburannya. Jika ada, tentu dia adalah orang yang super hebat! Mengapa? Karena dia telah sangat berani menggenapkan skor kekalahan al-Quran vs Pancasila menjadi sangat telak 7:1 !

Udah ya, Bro.

Terakhir, bagi yang mengaku paling Pancasila, mari kita teriakan: "Saya Indonesia, saya Pancasila!"

Jangan lupa, jargon yang sama di atas diteriakkan juga di hadapan Mahkamah Ilahi di Akhirat nanti, jika berani.
Setuju, Bro?!

Video pembacaan PANCASILA saat sa'i ketika umroh oleh seorang bapak yang sangat " Pancasila "



Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.

4 komentar

Rakyat Muslim pancasila juga pelit...
Coba pancasila di bagikan pada Rakyat rohingnya, pasti Aman tentrem karena domisili mereka sudah 7 turunan...
Iya ngga?:-)

Kok.saya merasa kesel melihat bapak dan pengikut.y yg mengikrarkan pancasila di ka'bah... Apakah Umat muslim sekarang ini.sudah separah itu..

1. Kenapa dasar negara pancasila karena tidak semua orang di Indonesia beragama Islam.
2. Menurut saya, pandangan soal alquran biarlah menjadi pedoman dan pegangan masing-masing umat muslim, kenapa harus di paksakan untuk seantero negeri menjalankan?
3. Jika kondisinya umat muslim itu minoritas, dan agama lain (Hindu, budha, kristen, katolik atau konghucu) mayoritas. Apakah adil?
4. Jika tetap di paksakan, bukankah seperti menghapus perjuangan leluhur pejuang pahlawan merebut kemerdekaan di jaman dulu?

Artikelnya lucu, subyektif bgt