Sabtu, 23 Desember 2017

Menjalin Ukhuwah Dewan Ulama Thareqah ASEAN ( DUTA ) Persatuan Ulama Tarekat Asia Tenggara

dewan ulama thareqah asean

Kedah, 21 Desember 2017

Melalui undangan Syekh H. Drahman bin Muhammad Amin, selaku Penasihat DUTA dari Malaysia, sejumlah ulama Thariqah se-ASEAN hadir dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad Saw  bertempat di Pondok Madrasah Taqribul Ikhwan fi Futuhir Rahman (MATIF), Kedah Malaysia (21/12/2017). Hadir dalam kegiatan ini, selain Syekh H. Drahman bin Muhammad Amin dari Negeri Serawak Malaysia, juga antara lain:
1. Baba Ismail Sepanjang Al Fatani dari Thailand
2. Syekh Dr. Khalil Ismail Ilyas, Malaysia
3. Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, pimpinan Pondok MATIF
4. Buya Zulkifli Sukma, Khalifah TQH ( Tarekat Qodiriyah Hanafiah )  Indonesia
5. Buya Mahyuzil Khalifah TQH,  Indonesia
6. Buya Dr. Zubair Ahmad, Sekjen DUTI sekaligus Khalifah TQH  Indonesia,
7. Habib Abdurrahman bin Janas, wakil khusus TQH untuk urusan hubungan dalam dan luar negeri.

Penasihat DUTA Malaysia menekankan pentingnya menjalin hubungan persatuan bagi seluruh umat Islam di Nusantara ini (Malaysia, Singapura, Thailand, Indonesia, Brunei, dan Piliphina) demi bangkitnya Islam. “Kita orang-orang Melayu ini adalah umat akhir zaman yang disebut-sebut  dan dibangga-banggakan oleh Rasulullah Saw, padahal mereka belum pernah jumpa dan mendengar suara beliau” katanya.  Sementara itu Buya Zulkifli Sukma mewakili Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah Al Quthub ar Rabbani dan menyampaikan salam beliau kepada hadirin, sekaligus menjelaskan cita-cita bersama mewujudkan umat Islam kembali kepada jadi dirinya yang sebenarnya, cinta Allah dan Rasulullah.

Selaku Sekjen DUTI, Dr. Zubair Ahmad menguraikan sejarah, visi, misi, dan tujuan dari Dewan Ulama Thariqah Indonesia (DUTI) dan Dewan Ulama Thariqah ASEAN (DUTA). Ia juga menyampaikan pesan Rais Mustasyar DUTI/DUTA tentang perlunya menguatkan ukhuwah Islamiyah bagi pengamal Thariqah di ASEAN. Ukhuwah ini tidak hanya dalam pembinaan ilmu agama, tetapi juga dalam semua bidang terutama di bidang ekonomi karena umat Islam saat ini telah dikuasai oleh orang kafir. Sementara itu, Buya Mahyuzil berfokus pada penanaman rasa rindu kepada Rasulullah saw dan rasa cinta kepada Allah. Hal itu dilakukan dengan mengajak para jamaah untuk berpikir dan bersalawat. Selain itu, Habib Abdurrahman memecah suasana dengan lantunan zikir munajat dan lagu berjudul ‘Insan Rabbani’. Acara ditutup dengan hiburan nasyid dan qasidah dari para santri.


Madrasah Taqribul Ikhwan fi Futuhir Rahman

Madrasah yang populer dengan Pondok Bukit Birut ini memang posisinya di atas bukit di tengah hutan karet sekitar 2 km dari jalan raya.  Ia berada di wilayah Kuala Pegang,  Baling,  Kedah,  Malaysia. Pondok ini sangat unik karena hanya belajar ilmu  agama Islam saja, dan tidak memiliki jenjang pendidikan sebagaimana sekolah formal. Usia tidak menjadi syarat untuk menjadi santri, sehingga santainya ada yang masih anak-anak, remaja dan dewasa. Keistimewaan lainnya adalah bahwa semua santri tidak dipungut bayaran. Menurut Pak Ngah, selaku pengelola pondok yang mendampingi Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, pondok ini dibangun sekitar 5 tahun lalu dan saat ini mendidik santri sekitar 200 orang, separuh warga Kamboja dan sisanya warga Malaysia. “Orang menyebut kita sebagai orang gila karena membangun pondok di tengah hutan di atas bukit dengan fasilitas seadanya,” kata Pak Ngah.

Pondok MATIF ini mirip dengan Pondok Pesantren Tasawuf Rabbani yang dipimpin oleh Tuangku Syekh Muhammad Ali Hanafiah al Quthub Ar Rabbani di Kasiak, Sumani, Solok, Sumatera Barat, Indonesia. Awalnya hanya gubuk sederhana, bahkan pimpinannya sampai saat ini masih tinggal di gubuk kecil dan sangat sederhana.

Menurut Tuan Guru Ustadz Badrol Azhar Bakar, dengan adanya kegiatan Silaturahim Ulama Thariqah se-ASEAN ini, kiranya kita dapat bersama-sama membangun umat dan membela negara masing-masing dari pengaruh dan cengkraman orang kafir asing. “Mohon doanya agar pondok ini selanjutnya terus berkembang dan bisa menyiapkan generasi penerus perjuangan Rasulullah Saw,” pintanya kepada semua pihak yang hadir.

Sumber: http://dewanulamathariqah.org

Jadilah peran dalam suatu perjuangan umat dan jangan hanya jadi penonton. Sungguh rugi diakhirnya nanti.